Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
118. Siasat Cinta Pangeran Han Tsun


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Yang Mulia Pangeran Han Tsun tiba!” teriak prajurit penjaga pintu Paviliun Hijau.


Baru saja Joko merebahkan tubuhnya di kasur empuk guna memanjakan dirinya sejenak. Meski ia tidak mengerti arti teriakan prajurit penjaga di luar, tetapi itu memaksanya untuk bengun kembali.


Sementara Su Mai yang sedang membaca sebuah buku di kursi, segera meletakkan bukunya di meja dan bangkit berdiri pula.


Dari luar melangkah masuk Pangeran Tutsi Han Tsun yang dikawal oleh Tan Ma. Pangeran Han Tsun berpakaian putih bersih dan Tan Ma berpakaian biru. Pangeran Han Tsun membawa selipat kipas berwarna merah dan Tan Ma membawa sesarung pedang bagus.


“Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap Su Mai, orang pertama yang menyambut kedatangan sang pangeran.


Wajah Pangeran Han Tsun langsung sumringah dengan senyuman yang lebar kala melihat wajah cantik Su Mai yang dalam setengah hari ini mengusik pikirannya.


“Hormatku, Pangeran,” ucap Joko yang menghormat secukupnya pada posisi agak jauh dari Su Mai. Di belakangnya ada kasim Lo Yoh yang menghormat dengan berlutut.


“Bangkitlah!” kata Pangeran Han Tsun.


Joko, Su Mai dan Lo Yoh kembali berdiri tegak.


“Ada hal apa sehingga Pangeran merepotkan diri datang sendiri menemuiku?” tanya Joko.


Su Mai tanpa diperintah lagi segera menerjemah perkataan Joko Tenang.


“Begini, Nona Su Mai. Eh, maksudku, Pendekar Joko,” kata sang pangeran agak salah fokus. Dari memandang kepada Su Mai, jadi memandang kepada Joko. “Aku ingin mengajakmu minum dan berjalan-jalan di Ibu Kota.”


Su Mai menerjemahkan perkataan sang pangeran. Ketika Su Mai berbicara, Pangeran Han Tsun begitu konsen menatap wajah Su Mai. Bahkan porsi menatap wajah gadis cantik itu lebih banyak dibandingkan memandang wajah cantik Joko Tenang.


Joko Tenang mulai menangkap gelagat samar sang pangeran. Su Mai pun segera menyadari bahwa pandangan Pangeran Han Tsun lebih banyak kepadanya, durasi pandangan yang tidak wajar.


“Sepertinya Pangeran menaruh hati kepada Nona Su Mai,” terka Joko Tenang.


Perkataan Joko itu membuat Su Mai agak terbelalak. Sementara Pangeran Han Tsun masih tetap tersenyum.


Su Mai tidak segera menerjemahkan perkataan Joko. Ia ragu.


“Kenapa tidak diterjemahkan?” tanya Pangeran Han Tsun.


“Terjemahkan, Nona Su Mai!” perintah Joko Tenang seraya tersenyum manis kepada Pangeran Han Tsun.

__ADS_1


“Ee... kata Pendekar Joko, sepertinya Yang Mulia Pangeran menaruh hati kepadaku,” kata Su Mai dengan nada yang mengandung kekhawatiran.


Terbelalaklah Pangeran Han Tsun mendengar terjemahan itu. Ia langsung memandang lekat-lekat kepada Joko Tenang yang hanya tersenyum.


“Ah, tidak seperti itu,” kata Pangeran Han Tsun agak salah tingkah. Lalu katanya cepat yang ditutup dengan tawa terpaksa, “Pendekar Joko telah salah paham. Hahaha!”


Su Mai pun menerjemahkan dengan jujur.


“Ya, seperti itu!” seru Pangeran Su Mai menunjuk setelah Su Mai selesai menerjemahkan perkataannya.


Sementara di belakang, pengawal Tan Ma tersenyum-senyum melihat tuannya salah tingkah.


“Tidak apa-apa jika memang terkaanku salah. Kalaupun memang benar, aku sedikit pun tidak mempermasalahkan,” kata Joko.


Dengan berat hati, Su Mai pun menerjemahkan perkataan Joko yang kemudian membuat Pangeran Han Tsun tertawa, tanpa jelas maksudnya.


“Ah, lupakan. Jangan terpengaruh oleh terkaan Pendekar Joko,” kata Pangeran Han Tsun khusus kepada Su Mai.


Su Mai tidak berkomentar selain hanya tersenyum mengangguk patuh.


“Kembali kepada ajakanku, Pendekar Joko.” Pangeran Han Tsun kembali beralih kepada Joko Tenang. “Bagaimana, apakah Pendekar bersedia ikut?”


Su Mai kembali menerjemahkan.


Pangeran Han Tsun lalu berbalik dan melangkah ke luar lebih dahulu yang dikawal oleh Tan Ma. Selanjutnya Joko Tenang mengiringi sang pangeran. Lain halnya Su Mai, gadis cantik itu berjalan empat langkah di belakang Joko, mengikuti protokol dari sang pendekar. Sementara kasim Lo Yoh tidak ikut.


Saat berjalan di koridor istana, Pangeran Han Tsun mendadak berhenti karena ia tidak melihat keberadaan Su Mai. Ketika menengok ke belakang, barulah ia melihat keberadaan wanita yang ditaksirnya itu.


“Kenapa Nona Su begitu jauh di belakang?” tanya Pangeran Han Tsun.


“Itu syarat dari Pendekar Joko,” jawab Su Mai.


“Katakan kepadanya bahwa aku memintamu berjalan dekat di belakang seperti Tan Ma!” perintah Pangeran Han Tsun.


“Tuan, Yang Mulia Pangeran meminta supaya saya diizin berjalan lebih dekat di belakang,” kata Su Mai kepada Joko Tenang.


“Katakan kepadanya, jika Pangeran ingin berjalan dekat denganmu, lebih baik aku kembali ke peristirahatan. Jika ingin berjalan bersamaku, maka biarkanlah kau berjalan dalam posisi seperti itu. Dan katakan kepadanya, aku tidak bisa didekati oleh wanita,” ujar Joko.


Maka Su Mai menyampaikan semua yang dikatakan oleh Joko kepada Pangeran Han Tsun.

__ADS_1


“Oh,” desah Pangeran Han Tsun. Ia jadi terdiam sejenak, seolah sedang berpikir. Lalu akhirnya dia berkata, “Baiklah. Mari kita jalan, Joko.”


Tanpa perlu diterjemahkan, Joko mengerti maksud Pangeran Han Tsun yang mempersilakan melanjutkan langkah. Sambil tersenyum, Joko melanjutkan langkahnya mengiringi Pangeran Han Tsun. Sementara Su Mai tetap pada posisinya, berjalan dalam jarak terukur dari posisi Joko Tenang.


“Tsun’er!” sapa seorang wanita tiba-tiba dari sisi samping, tepat di samping Joko yang sedang berjalan.


Alangkah terkejutnya Joko Tenang. Sontak ia refleks melompat ke samping, bahkan sampai melewati atas kepala sang pangeran. Joko menghindari keberadaan Permaisuri Fouwai yang muncul tiba-tiba dari balik dinding bersama sebelas pelayannya yang berbaris di belakangnya.


Saat itu, rombongan Pangeran Han Tsun melewati pertigaan koridor. Di sisi kiri adalah dinding bangunan. Kedatangan rombongan Permaisuri Fouwai hanya terdengar langkah tanpa terlihat wujudnya di balik dinding. Jadi, ketika dua rombongan itu bertemu di pertigaan koridor, posisi Permaisuri dan para pelayannya, berjarak kurang dari tiga langkah dengan posisi Joko.


Tindakah Joko Tenang itu mengejutkan Permaisuri Fouwai dan Pangeran Han Tsun.


“Lancang kau, Joko! Apa yang kau lakukan di depan Permaisuri!” bentak Pangeran Han Tsun kepada Joko.


Joko Tenang tidak mengerti perkataan Pangeran Han Tsun, tetapi ia menduga bahwa pemuda tampan itu sedang marah kepadanya. Karenanya, Joko memandang kepada Su Mai yang sudah berlutut menghormat bersama Tan Ma.


“Kenapa Pangeran marah kepadaku?” balas Joko kepada Pangeran Han Tsun, tanpa menunggu Su Mai.


Akhirnya kedua pemuda itu tidak saling mengerti.


“Nona Su, tolong terjemahkan perkataan Joko!” perintah Pangeran Han Tsun.


“Bangunlah!” perintah Permaisuri Fouwai.


Su Mai dan Tan Ma segera bangun berdiri.


“Terjemahkanlah, Nona Su!” perintah Permaisuri Fouwai pula.


“Pendekar Joko bertanya, kenapa Yang Mulia Pangeran marah kepadanya,” kata Su Mai.


“Karena dia bersikap lancang di hadapan Yang Mulia Permaisuri!” jawab Pangeran Han Tsun gusar.


Su Mai kembali menerjemahkan perkataan Pangeran Han Tsun untuk Joko Tenang.


“Maafkan aku, Yang Mulia Permaisuri,” ucap Joko Tenang seraya menghormat secukupnya kepada Permaisuri dari sisi luar koridor. “Aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya terkejut. Bukankah tadi sudah aku jelaskan kepada Pangeran, aku tidak bisa didekati oleh wanita.”


Su Mai lalu menerjemahkan dalih Joko Tenang.


“Tapi tidak seperti itu caranya kau menghindari Ibu Permaisuri,” kata Pangeran Han Tsun, bernada masih marah meski intonasinya sudah menurun.

__ADS_1


“Sudah, sudah! Aku rasa Pendekar Joko memang memiliki masalah jika berdekatan dengan wanita. Tidak usah dipermasalahkan,” kata Permaisuri Fouwai mencoba bijak.


Dari arah yang berlawanan dengan arah perjalanan rombongan Pangeran Han Tsun, berjalan rombongan wanita yang dipimpin oleh Putri Yuo Kai. Sang putri berjalan dikawal oleh Bo Fei, Mai Cui, Yi Liun, dan enam orang Pengawal Angsa Merah. (RH)


__ADS_2