Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
55. Syarat Berat Ratu Getara


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Kini menghadaplah Joko Tenang, Tirana, Sulasih dan Nintari di hadapan kebesaran singgasana Ratu Getara Cinta.


Ratu Getara Cinta duduk penuh keanggunan di tahtanya yang megah berbalut emas dengan gemerlap perhiasan yang indah. Tampak begitu cantik parasnya dalam riasan seorang ratu. Kepalanya ditenggeri sebuah tiara bertahtakan permata merah. Kali ini ia mengenakan pakaian yang didominasi warna putih yang dihiasi warna merah dengan sulaman emas.


Di sisi kanan dan kiri duduk bersimpuh lima dayang tidak jauh dari kaki tahta. Sementara di sisi bawa duduk Panglima Besar Jagaraya yang berseberangan dengan Panglima Perang Sugeti Harum. Ada sepuluh pejabat lainnya yang duduk menghadap singgasana.


Hadir pula di ruangan persidangan itu Ragatos, seorang pendekar tinggi besar dan berotot padat. Ia duduk tidak jauh dari Sugeti Harum.


Sementara ketiga pendekar yang bertamu berdiri diapit formasi para pejabat Kerajaan Tabir Angin. Di sisi belakang para pejabat, berdiri para prajurit berpakaian serba hitam bersenjatakan pedang di pinggang kiri. Deretan prajurit juga berbaris hingga ke pintu besar. Enam prajurit pun berjaga di empat pintu lainnya yang terbuka lebar.


Pandangan Ratu Getara Cinta lebih banyak terpusat kepada sosok Joko.


“Kalian berdua yang membuatku pulang dengan kepala tertunduk dari Sumur Juara. Alasan apa yang harus aku jadikan dalih untuk menolongmu, Joko?” kata Ratu Getara Cinta.


“Kemurahan hati dan kebesaran jiwa,” jawab Joko.


Terdiam sejenak Ratu Getara Cinta mendengar jawaban Joko yang di luar perkiraannya.


“Aku memang pendekar bodoh yang mudah percaya dengan kata-kata dusta Ratu Aswa Tara, sehingga kami bisa diperbudak untuk bertarung di Sumur Juara. Kedua gadisku dalam kondisi kritis dan berada dalam sanderanya, jadi terpaksa aku berlawan dengan Yang Mulia Ratu, padahal kaulah yang aku butuhkan,” ujar Joko berkilah.


“Dari mana kau tahu bahwa aku memiliki Arak Kahyangan sedangkan kau berasal dari wilayah barat nun jauh?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Dari Nyi Lampingiwa, guru sahabatku yang bernama Hujabayat. Saat ini Hujabayat masih berada dalam tahanan Hutan Kabut. Aku terpaksa mempertaruhkan keselamatannya demi membawa kedua gadisku kepadamu,” kata Joko.


“Nyi Lampingiwa,” ucap Ratu Getara Cinta seraya terus menatap Joko, tetapi pikirannya mencoba menggali memori tentang nama yang Joko sebutkan itu.


“Lampingiwa pernah berada di sini pada lebih sepuluh tahun yang lalu, Yang Mulia Ratu,” kata Panglima Jagaraya ketika melihat junjungannya seolah berpikir.

__ADS_1


Perkataan Jagaraya itu membuat sang ratu segera alihkan pandangannya kepada panglima besarnya.


“Bisa kau mengingatkanku tentang orang itu?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Lampingiwa berada setengah tahun di kerajaan ini sebelum Yang Mulia Ratu menduduki tahta Tabir Angin. Ia yang membunuh Raja Gertak Semesta,” ungkap Jagaraya.


“Oh.” Ratu Getara Cinta manggut-manggut. Ia sudah memiliki gambaran tentang siapa adanya Nyi Lampingiwa. “Perubahan besar kekuasaan di Rimba Berbatu terjadi karena perbuatannya.”


“Apakah kalian tahu apa sebenarnya Arak Kahyangan itu?” tanya Ratu Getara kembali beralih kepada Joko Tenang dan Tirana.


“Kami hanya tahu bahwa Arak Kahyangan itu adalah obat bagi racun yang tidak memiliki penawar. Aku sangat bertanggung jawab atas keselamatan nyawa kedua gadisku. Mungkin terlintas di pikiranku untuk menempuh segala cara agar aku bisa mendapatkannya. Namun, jika masih ada jalan yang baik tanpa menimbulkan jatuhnya nyawa, aku akan pilih jalan baik itu,” jawab Joko.


“Benar bahwa Arak Kahyangan adalah obat segala racun. Namun yang harus kalian tahu pula, benda itu adalah pusaka turun temurun penguasa Rimba Barbatu. Kini pusaka itu ada padaku. Tidak mungkin aku memberikannya dengan mudah kepada orang asing seperti kalian, meskipun ada banyak nyawa yang sedang menunggu untuk diselamatkan. Aku adalah penguasa Kerajaan Tabir Angin, bukan seorang dewi juru selamat yang penuh belas kasih. Aku tidak akan menangisi kematian seratus orang prajuritku. Bahkan jika Panglima Besar Jagaraya mati, aku pun tidak akan menangisinya. Bagaimana mungkin aku harus berbelas kasih kepada kalian?” tandas Ratu Getara Cinta.


Mendengar kata-kata Ratu Getara Cinta, ada gejolak kegeraman yang muncul di dalam dada Tirana. Ingin rasanya ia berbicara, tetapi ia tidak mau melangkahi wewenang junjungannya, Pangeran Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang.


“Kami memang tidak layak mendapatkan pemberian yang begitu berharga dari kuasamu, Yang Mulia. Tapi, bukankah kerajaanmu membutuhkan kemenangan di Sumur Juara nanti?” kata Joko mencoba bernegosiasi.


“Benar. Namun, nilai kemenangan di Sumur Juara tidak sebanding dengan nilai Arak Kahyangan,” kata Ratu Getara Cinta menutup jalan peluang Joko.


“Ternyata sulit juga ya,” ucap Joko seraya memandang ke lantai, ia berpikir untuk menemukan jalan. Tidak lama kemudian dia kembali memandang sang ratu. Lalu katanya, “Aku beri kau kemenangan di Sumur Juara dan kau boleh minta apa pun dariku, asalkan kau beri kedua gadisku obat itu.”


“Kakang,” sebut Tirana merasa keberatan dengan tawaran Joko yang mahal. Bisa saja Ratu Getara Cinta meminta satu hal yang sangat berat.


“Apakah kata-katamu bisa dipegang, Joko?” tanya Ratu Getara Cinta seraya menegakkan punggungnya dari sandaran empuknya. Tampaknya ia tertarik dengan tawaran Joko Tenang.


“Jika pun maut harus ku tempuh demi kesembuhan kedua gadisku, akan aku jalani permintaanmu!” tandas Joko.


“Baik!” ucap Ratu Getara Cinta agak keras, seolah kemenangan telah berada di tangannya dalam hal tawar-menawar itu.

__ADS_1


Sejenak Ratu Getara diam menatap Joko Tenang. Keduanya saling menatap. Ketegangan melanda Tirana, sementara yang lainnya penasaran dan ingin segera mengetahui permintaan apa yang akan disyaratkan kepada Joko Tenang.


“Joko, jika kau ingin mendapatkan setetes Arak Kahyangan, aku ingin kau membunuh Aswa Tara!” kata Ratu Getara Cinta dengan tegas.


Terkejutlah para pejabat Kerajaan Tabir Angin, terutama Panglima Jagaraya. Reaksi berbeda ditunjukkan oleh Joko dan ketiga wanita yang bersamanya. Mereka menyikapi biasa-biasa saja.


“Maafkan hamba, Yang Mulia Ratu. Tolong Yang Mulia pikirkan lagi syarat itu,” kata Panglima Jagaraya yang didahului penghormatan.


“Aku tahu apa yang membuat kalian tidak setuju dengan perintah itu, tetapi Joko harus melakukan itu jika ingin kedua wanitanya selamat,” kata Ratu Getara Cinta. Lalu tanyanya kepada Joko, “Aku rasa kau akan sangat muda melakukan syarat itu. Bagaimana, apakah kau sanggup membunuh Aswa Tara, Joko?”


“Aku tidak punya alasan kuat untuk membunuh Ratu Aswa Tara. Aku tidak ingin menyelamatkan satu nyawa dengan membuang nyawa orang lain. Aku tidak akan melakukannya!” tolak Joko Tenang.


“Jika kau tidak mau melakukannya, maka bawalah kedua gadismu dari istana ini dan biarkan mereka mati dalam pelukanmu,” kata sang ratu.


“Kakang, aku bisa melakukannya, asalkan Ginari dan Kembang Buangi selamat,” kata Tirana.


“Aku pun bisa melakukannya untukmu, Joko. Kau tidak perlu membayarku untuk urusan ini,” kata Nintari pula.


“Tidak, aku tidak akan menyelamatkan nyawa seseorang dengan membunuh orang yang tidak bersalah bagiku,” tandas Joko.


“Ratu Aswa Tara kejam. Dia memperbudak kaum lelaki dengan memaksa mereka bekerja seperti binatang. Anak laki-laki yang mereka lahirkan dipaksa bekerja di Lembah Gelap,” kata Tirana mencoba meyakinkan Joko. Tirana tidak ingin Joko tidak mendapatkan obat bagi kesembuhan Ginari dan Kembang Buangi.


“Jika karena alasan dia kejam sehingga harus dibunuh, aku bisa melumpuhkannya tanpa harus membunuhnya. Aku bisa melenyapkan semua kesaktiannya,” kilah Joko.


“Aku memberi syarat untuk membunuh Aswa Tara bukan karena aku benci kepadanya atau aku menghendaki kematiannya, tetapi karena kau memang harus membunuhnya untuk bisa mendapatkan Arak Kahyangan. Selama Aswa Tara tidak mati, kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Arak Kahyangan sebagai obat,” tandas Ratu Getara Cinta.


“Aku belum begitu paham dengan penjelasan Yang Mulia Ratu. Jika kau tidak menghendaki kematian Ratu Aswa Tara, lalu mengapa kau memberi syarat itu?” kata Joko.


“Baiklah, akan aku jelaskan,” kata Ratu Getara Cinta. Lalu serunya cukup keras, “Tinggalkan aku dan Joko!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2