
*Pendekar Gila Mabuk (PGM)*
“Di mana ini?” tanya Kusuma Dewi di dalam hati sambil melihat ke sekelilingnya.
Didapati dirinya berada di sebuah ruangan lebar berpapan yang menyatu dengan dapur. Ada beberapa dian yang dinyalakan di beberapa sudut di ruangan itu. Ia melihat keberadaan seorang wanita separuh baya sedang merebus sesuatu. Wanita itu tidak lain adalah Nini Rukiah.
Kusuma Dewi memperhatikan kondisinya. Ia masih mengenakan pakaian yang sama. Hanya saja pada bagian pinggang bajunya rusak hangus. Ia melihat pada bagian pinggangnya ada balutan kain warna putih yang menutupi lukanya.
Ia tahu bahwa ia terluka di bagian pinggang oleh tendangan seorang kakek mabuk yang membantu lawannya, Rara Sutri.
Saat pertarungan sebelumnya, Rara Sutri terdesak hebat karena dikeroyok oleh Kusuma Dewi dan kesepuluh anak buahnya. Tiba-tiba muncullah gurunya membantu, membuat Kusuma Dewi terluka parah dan kesepuluh anak buahnya tewas.
Namun, kini Kusuma Dewi merasakan kondisinya jauh lebih baik. Namun, ia masih merasakan sakit pada bagian pinggangnya.
Dilihatnya pedang samurai miliknya tergeletak tanpa warangka di sisinya.
“Kau sudah sadar, Nisanak!” tegur Nini Rukiah yang melihat Kusuma Dewi sudah terduduk di ranjang.
“Siapa kau, Ni?” tanya Kusuma Dewi.
“Aku Nini Rukiah. Kau sedang berada di Padepokan Hati Putih. Lanang Jagad yang membawamu ke mari,” jawab Nini Rukiah dengan lengkap.
Terdiam Kusuma Dewi, padahal dalam hati ia terkejut bukan main.
“Aku berada di dalam sarang musuh. Bagaimana bisa aku sampai ke tempat yang begitu jauh dari tempatku terluka?” pikir Kusuma Dewi.
“Siapa kau sebenarnya, Cah Ayu?” tanya Nini Rukiah sambil duduk di sisi ranjang kayu.
“Namaku Kusuma Dewi, Ni,” jawab Kusuma Dewi.
“Bagaimana bisa kau terluka parah?” tanya Nini Rukiah.
“Aku bertarung dengan seorang pendekar wanita. Ketika lawanku terdesak, muncullah seorang kakek mabuk dan dia melukaiku,” jawab Kusuma Dewi apa adanya. “Apakah aku boleh pergi, Ni?”
“Sebaiknya kau bermalam dulu. Hari sudah mulai gelap. Lebih baik kau bertemu dengan Lanang Jagad, sebab dia yang membawamu. Kau pun sebaiknya bertemu dengan Resi Tambak Boyo. Dialah yang mengobatimu hingga sebaik ini,” kata Nini Rukiah.
“Gadis Kuda Biru pasti sudah menyerang ke kadipaten. Sepertinya aku memang tidak mungkin bergerak gelap-gelap. Tapi, bukankah ada Setan Empat Penjuru yang berjaga di Gerbang Hati Putih? Lalu bagaimana aku bisa dibawa masuk ke padepokan ini? Ataukah ada jalan lain?” batin Kusuma Dewi.
Di saat Kusuma Dewi terdiam berpikir, dari luar masuk seorang pemuda tampan berpakaian serba putih.
“Nini, ada…!” Kata-kata pemuda itu terhenti ketika melihat Kusuma Dewi sudah terduduk di ranjang menatapnya.
Pemuda yang tidak lain adalah Lanang Jagad itu jadi tersenyum lebar kepada Kusuma Dewi yang memandangnya tanpa senyum.
“Syukurlah kau sudah siuman, Nisanak,” tegur Lanang Jagad lalu melangkah mendekat ke tempat pembaringan. “Bagaimana keadaanmu?”
__ADS_1
“Sudah lebih baik,” jawab Kusuma Dewi. “Terima kasih sudah menolongku, Kisanak.”
“Namaku Lanang Jagad. Julukanku Si Tampan Sakti!” kata Lanang Jagad bersemangat sambil tersenyum-senyum. “Nama Nisanak siapa?”
“Kusuma Dewi,” jawab Nini Rukiah.
“Oh, nama yang cantik, seindah parasnya,” puji Lanang Jagad.
“Gurumu tidak mengajarkanmu pandai menggoda wanita, Lanang,” hardik Nini Rukiah.
“Hahaha!” tawa Lanang Jagad mendengar perkataan Nini Rukiah.
“Oh ya, bagaimana bisa kau terluka dan tidak sadarkan diri di hutan sana?” tanya Lanang Jagad.
“Kusuma bertarung melawan Pangeran Mabuk,” jawab Nini Rukiah lagi.
“Berarti benar dugaan Guru Resi, lukamu berasal dari tendangan Kaki Pemabuk. Jika kau bertarung melawan Pangeran Pemabuk, berarti kau…” ucap Lanang Jagad sambil berpikir.
“Aku anggota Gerombolan Kuda Biru, aku orang jahat!” timpal Kusuma Dewi blak-blakan. Ia tidak mau berpura-pura hanya karena berada di Padepokan Hati Putih.
“Apa?!” kejut Nini Rukiah dan Lanang Jagad bersamaan. Sampai-sampai Nini Rukiah bangkit berdiri dari duduknya di pinggiran ranjang.
“Kau membawa musuh masuk ke mari, Lanang!” kata Nini Rukiah kepada pemuda tampan itu.
“Tidak, Ni. Menolong nyawa itu tidak pandang asal dan kelompok. Guru mengajarkan, menolong seseorang harus berdasarkan bahwa dia adalah manusia, tidak boleh disusupi rasa sayang atau benci,” bantah Lanang Jagad.
“Siapa yang menjamin kau tidak akan membunuh seseorang pun di padepokan ini?” tanya Nini Rukiah dengan pandangan yang kini berubah tidak suka.
“Aku yang menjaminnya, Ni!” tandas Lanang Jagad. “Jika sampai Kusuma Dewi melakukan tindakan jahat, maka aku yang akan bertanggung jawab!”
“Kau berkata seperti itu karena kau terpikat oleh kecantikannya!” tukas Nini Rukiah lalu berbalik kembali ke dapur.
Mendengar perkataan Nini Rukiah, Lanang Jagad hanya memandang Kusuma Dewi dan menaikkan kedua alisnya. Kusuma Dewi hanya terdiam dingin.
“Kenapa kau mencariku, Lanang?” tanya Nini Rukiah.
“Ada tamu penting, Ni,” jawab Lanang Jagad yang kembali ingat dengan tujuannya ke ruangan itu. Ia pergi menghampiri Nini Rukiah.
“Siapa yang datang menjelang malam seperti ini? Bukankah orang-orang Gerombolan Kuda Biru menguasai Gerbang Hati Putih?” tanya Nini Rukiah. Dia sudah tahu maksud dari laporan Lanang Jagad yang memintanya untuk menyiapkan jamuan dan tempat untuk bermalam.
“Aku belum sempat bertemu dengan tamu itu, tetapi kata Sukirat, seorang pemuda berbibir merah dan ketiga istrinya,” kata Lanang Jagad.
Terkejutlah Kusuma Dewi mendengar kata “pemuda berbibir merah”.
“Joko Tenang,” ucap Kusuma Dewi lirih, yang hanya didengar olehnya sendiri.
__ADS_1
“Katanya, mereka berhasil membunuh orang-orang Gerombolan Kuda Biru,” kata Lanang Jagad. Karena dia menyebut nama kelompok itu, Lanang Jagad berpaling sejenak kepada Kusuma Dewi.
Lanang Jagad terkejut saat sosok Kusuma Dewi sudah tidak ada di pembaringan.
“Kusuma!” panggil Lanang Jagad sambil cepat berlari ke ambang pintu mencari keberadaan gadis cantik itu.
“Cepat cari, Lanang! Jangan sampai dia membuat masalah!” teriak Nini Rukiah.
“Akan aku cari, Ni!” sahut Lanang Jagad sambil buru-buru terus berlari ke luar.
Kusuma Dewi berlari kecil di luaran. Suasana alam mulai menggelap. Langit memang masih terlihat putih, tetapi matahari sudah sepenuhnya tenggelam di barat. Sambil berlari-lari kecil, ia menengok ke sana dan ke sini, pandangannya mencari-cari.
Murid-murid padepokan yang berpapasan dengannya hanya memandanginya sekilas, karena mereka tidak mengenal siapa adanya Kusuma Dewi. Terlebih gadis itu membawa sebuah pedang yang terhunus. Bahkan beberapa murid di bawah umur segera menyingkir menjauh ketika berpapasan.
Kusuma Dewi akhirnya berhenti melangkah. Ia memandang ke arah sebuah pendapa kecil tanpa dinding yang memiliki penerangan beberapa obor, membuat siapa yang ada di dalamnya terlihat jelas.
Di pendapa yang biasa dipakai untuk kegiatan menuntut ilmu para murid padepokan, tampak Resi Tambak Boyo sedang duduk berhadapan dengan keempat orang tamunya, yaitu Joko Tenang dan ketiga istrinya.
Kusuma Dewi belum yakin bahwa pria yang dilihatnya itu adalah Joko Tenang, cinta pertamanya, sebab ia melihat dari samping.
Saat itu, jantung Kusuma Dewi berdetak cukup cepat. Ada kekhawatiran di dalam hatinya saat melihat ketiga wanita cantik yang ada di sana. Ia sangat berharap itu bukanlah Joko Tenang yang sudah beristri tiga. Namun, setahu dia, terakhir kali dia bertemu dengan Joko Tenang tujuh tahun yang lalu, pemuda belia yang dia cintai itu memakai rompi merah juga.
“Bagaimanapun juga, aku harus memastikan apakah orang itu adalah Joko Tenang atau bukan,” membatin Kusuma Dewi.
Kusuma Dewi kemudian memutuskan melangkah lebih mendekat ke pendapa.
“Kusuma!”
Tiba-tiba satu panggilan seorang lelaki membuat Kusuma Dewi menghentikan niatnya untuk mendekati pendapa.
Lanang Jagad datang dengan berlari kecil.
Panggilan Lanang Jagad itu juga terdengar oleh Resi Tambak Boyo, Joko Tenang dan ketiga istrinya. Mereka semua menengok memandang ke sisi samping pendapa, tempat Kusuma Dewi dan Lanang Jagad berada.
Dengan gerakan yang samar, Kusuma Dewi buru-buru merubah hadap tubuhnya jadi menyampingi pendapa. Namun, ia sempat melihat wajah Joko Tenang sekilas. Ia melihat wajah tampan dan bibir merah Joko Tenang sekilas.
Seketika itu, mendidihlah hati Kusuma Dewi. Rasa marah dan sedih mengaduk satu menciptakan perasaan dan pikiran yang bingung. Ada perasaan sakit yang menusuk hatinya. Akhirnya ia memutuskan pergi buru-buru untuk kembali ke ruang pengobatan.
Lanang Jagad segera mengiringi Kusuma Dewi.
“Apa yang kau lakukan, Kusuma? Kau bisa membuat takut murid-murid padepokan dengan pedang terhunus seperti itu,” kata Lanang Jagad, tanpa maksud memarahi.
“Maafkan aku,” ucap Kusuma Dewi lemah. Ia berjalan menunduk tanpa bicara lagi.
Sementara itu di pendapa.
__ADS_1
“Itu tadi muridku, namanya Lanang Jagad. Ia baru saja menolong seorang wanita yang terluka parah,” kata Resi Tambak Boyo kepada Joko Tenang.
Joko Tenang hanya manggut-manggut seraya tersenyum. (RH)