Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
106. Berbagi Pengeroyokan


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Berdasarkan kesepakatan berenam, jika Hongli Ho gagal membunuh Putri Yuo Kai, maka selanjutnya adalah kesempatan bagi Yelu Yong untuk maju.


“Yelu Yong!” panggil lelaki yang berdiri di atas atap rumah di sisi kiri. Ia lelaki berkepala gundul, tetapi ada tato mata burung di sana. Ia mengenakan baju kulit berwarna hitam berpadu mantel berbulu warna abu-abu. Celananya juga berwarna hitam. Ia berbekal kipas berwarna hitam yang sedang terlipat di tangan kanannya. Ia bernama Chen Ho. Usianya masih 40 tahun.


“Ada apa?!” tanya Yelu Yong dari seberang parit. Ia harus mengerahkan tenaga dalam agar suaranya sampai kepada Chen Ho.


“Putri Yuo Kai saja terlalu kuat, jika kita mengikuti kesepakatan kita sebelumnya, itu sama saja kita bunuh diri, terlebih dia dibantu oleh orang asing itu!” seru Chen Ho yang sangat jelas didengar oleh Putri Yuo Kai dan Joko Tenang, termasuk keempat anggota yang belum berbicara.


Chen Ho lalu berteriak kepada rekan-rekannya.


“Kita batalkan kesepekatan kita sebelumnya. Gurita Besar dan pengawalnya ini harus segera kita bunuh dengan cara serang bersama! Bagaimana?”


Disebut “Gurita Besar” lagi membuat Putri Yuo Kai kembali terpancing untuk marah, tetapi ia tahan sejenak.


“Benar!” sahut salah seorang wanita berpakaian merah yang berdiri di atas sebuah bangunan di sisi kanan parit. Ia bernama Li Wei usia 37 tahun. Ia berparas cantik dengan sepasang mata yang terlalu sipit. Rambut panjangnya disanggul indah dengan tiga tusuk konde berwarna merah menancap kuat. Ia tidak berbekal senjata apa pun.


Berbeda dengan Lien Hua yang berdiri di samping Li Wei. Gadis 30 tahun itu membawa piringan logam tipis sebesar piring makan di tangan kirinya. Kedua wanita ini adalah sahabat akrab di dunia persilatan.


“Lupakan undian itu. Sebentar lagi tempat ini akan dipenuhi oleh pasukan Jang. Putri Yuo Kai harus segera kita bunuh!” kata Lien Hua yang juga mengandung tenaga dalam agar terdengar jelas oleh rekan-rekannya yang lain.


“Aku memilih lelaki berbibir merah itu!” seru lelaki berbaju putih bermantel hijau yang masih berdiri di perahu. Namanya Limo Shin. Usianya 35 tahun. Rambutnya yang panjang digelung rapi dengan pita merah berbahan dasar sutra. Di pinggang kirinya yang tertutupi oleh mantel ada selingkaran cemeti yang terbuat dari anyaman tali yang berwarna-warni.


“Aku juga. Aku ingin membalaskan untuk Hongli Ho!” sahut Chen Ho di atas atap.


“Kami berdua sepakat melawan Gurita Besar!” seru Lien Hua yang diangguki oleh Li Wei.


Di saat para musuh itu sibuk bersepakat memilih lawan. Putri Yuo Kai berkelebat dan mendarat dua langkah di sisi Joko.

__ADS_1


“Jangan mendekatiku!” seru Joko Tenang terkejut sambil cepat melompat kecil ke belakang menjauhi Putri Yuo Kai. “Yang Mulia Ratu, ini bukan waktunya bermain-main denganku!”


“Baik, aku tidak bermaksud mendekatimu. Aku ingin memberitahumu, dia dan dia....” Putri Yuo Kai lalu menunjuk Chen Ho di atap dan Limo Shin di perahu, kemudian mengadu pelan dua tinjunya lalu menunjuk Joko. “Memilih bertarung denganmu.”


Joko Tenang manggut-manggut tanda mengerti.


“Baik. Apa yang akan kau hadiahkan padaku jika aku menang?” tanya Joko, seolah-olah wanita yang ditanyanya itu mengerti dengan bahasanya.


“Kita berdua akan dikubur bersama di parit ini!” jawab Putri Yuo Kai yang menyangka Joko bertanya apa jadinya jika mereka berdua kalah dari para penjahat itu.


“Aku suka itu!” seru Joko Tenang seraya tertawa pelan.


“Serang!” seru Li Wei, lalu bersamaan dengan Lien Hua keduanya melompat turun ke tanah. Selanjutnya, keduanya melesat ke arah posisi Putri Yuo Kai.


Melihat dua wanita itu sudah bergerak menyerang, Joko Tenang justru berinisiatif berkelebat turun dan mendarat di perahu tempat Limo Shin berdiri. Joko dan Limo Shin kini saling berhadapan tanpa terganggu guncangan air parit yang jadi beriak.


Li Wei dan Lien Hua memberi kejutan karena baru saja mereka melesat, tiba-tiba mereka hilang dari pandangan.


Zesss! Bduar!


Ternyata dugaan Putri Yuo Kai meleset. Tidak ada siapa-siapa di depan sana sehingga sinar putih yang terlihat samar melesat cepat menghancurkan bangunan milik warga setempat.


Entah ke mana perginya Li Wei dan Lien Hua. Namun, tidak sampai dua hitungan, mereka telah muncul kembali, beberapa tombak di belakang Putri Yuo Kai.


Seet! Blet blet blet!


Dari dalam lengan pakaian Li Wei melesat pita-pita merah begitu cepat, melilit dua kaki Putri Yuo Kai, termasuk kedua tangannya dan satu lehernya. Serangan yang datang tiba-tiba dari belakang itu memang sulit dihindari.


Li Wei berdiri kuat dengan kuda-kudanya. Tangannya membetot kuat kelima pita yang sudah menjerat Putri Yuo Kai.

__ADS_1


Siiing!


Seiring itu, Lien Hua melesatkan piringan besinya untuk memenggal leher Putri Yuo Kai yang tercekik.


Tass!


Putri Yuo Kai jelas tidak mau mati. Ia kerahkan tenaga dalamnya untuk bisa melawan betotan pita-pita Li Wei. Dengan gerakan yang memaksa, ia meliuk gesit dan memasang pita yang menjerat leher sehingga diputus oleh piringan milik Lien Hua. Leher Putri Yuo Kai selamat.


Namun, ketika piringan melesat lolos dan berputar balik, Lien Hua merangsek maju dengan berbekal sepuluh jari yang berwarna keputihan seperti warna kapas.


Putri Yuo Kai memilih membetot dua pita di tangannya dengan tenaga dalam tinggi, memaksa tubuh Li Wei tertarik ke depan, menjadikan tubuh Li Wei sebagai tameng menghadapi serangan jari-jari Lien Hua.


Lien Hua terpaksa menahan serangannya karena ia tidak ingin serangannya justru mengenai sahabat sendiri.


Tas tas!


Seiring datangnya kembali piringan milik Lien Hua, Putri Yuo Kai menggunakannya untuk memutus pita-pita yang menjeratnya. Piringan itu kembali melesat los gagal menemukan sasaran.


Akibat tarik-tarikan itu, Li Wei sempat kehilangan keseimbangan.


Bak bak! Clap!


Akibatnya, Putri Yuo Kai mampu mendaratkan dua pukulan kerasnya ke dada Li Wei. Namun, ketika pukulan ketiga siap mengakhiri musuh, Li Wei tiba-tiba lenyap begitu saja dari pandangan. Putri Yuo Kai langsung bersiaga sambil meladeni serangan-serangan berjari maut Lien Hua.


Sreeetr!


Gemericik suara lesatan rantai mendadak datang dari belakang di saat Putri Yuo Kai sibuk meladeni jurus maut Lien Hua. Sang putri tahu siapa adanya pemilik rantai.


“Matilah!” pekik Li Wei juga yang tahu-tahu muncul dari sisi kiri Putri Yuo Kai sambil melesatkan sekumpulan pita-pita merah yang siap mengunci mati pergerakan sang putri.

__ADS_1


Putri Yuo Kai menghadapi empat serangan sekaligus, yakni jurus cakaran Lien Hua, rantai dari Yelu Yong dan pita-pita dari Li Wei. Ditambah piringan milik Lien Hua yang bisa melesat terus dan berbalik sendiri kembali menargetkan sang putri. Apa yang akan Putri Yuo Kai lakukan? (RH)


__ADS_2