Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
130. Takluk di Lapangan Kaisar


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Putri Yuo Kai menyeka darah yang muncul di sudut bibirnya. Itu menunjukkan bahwa ia telah terluka dalam, tetapi belum parah.


Joko Tenang yang saat ini unggul, berkelebat ke tengah Lapangan Kaisar.


“Aku bisa menyembuhkanmu jika kau terluka, meski parah!” seru Joko kepada Putri Yuo Kai.


Putri Yuo Kai hanya tersenyum kepada Joko sambil berjalan ke tengah lapangan pula.


“Oh, aku lupa,” ucap Joko yang tersadar bahwa Putri Yuo Kai tidak mengerti perkataannya. Ia lalu memandang ke atas tribun, mencari keberadaan penerjemahnya.


Joko akhirnya menemukan Su Mai yang berdiri di sisi Pangeran Han Tsun.


“Nona Su Mai! Katakan kepada Yang Mulia Putri, aku bisa mengobati lukanya meski parah!” teriak Joko kepada Su Mai.


“Yang Mulia Putri! Pendekar Joko bisa mengobati lukamu meski parah!” teriak Su Mai dari pinggir tribun kepada Putri Yuo Kai.


“Jika begitu, aku tidak akan sungkan-sungkan!” seru Putri Yuo Kai.


“Yang Mulia Putri mengatakan, dia tidak akan sungkan!” teriak Su Mai lagi dalam bahasa yang dimengerti Joko.


Joko Tenang jadi tersenyum manis kepada Putri Yuo Kai yang balas tersenyum manis. Desiran indah menyerang hati kedua orang sakti itu. Beberapa detik, hanya mata mereka yang saling berbicara tanpa bahasa. Keterdiaman itu justru membuat Kaisar Long Tsaw dan penonton lainnya menunggu.


Sebenarnya bagi Joko, ia merasa bisa memenangkan pertarungan itu dengan mudah. Ia bisa melakukan cara seperti yang ia perbuat terhadap Pengawal Angsa Merah. Cukup dengan perpaduan jurus Bayang-Bayang Malaikat dan Cubitan Seribu Geli, tetapi Joko tidak ingin mempermalukan sang putri dimuka umum.


Atau, bisa saja Joko mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad atau Langit Membakar Bumi dengan tenaga penuh atau Badai Malam Dari Selatan. Namun, penggunaan ilmu itu sangat berisiko kepada kematian bagi lawan.


Kini Putri Yuo Kai merentangkan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka menghadap ke langit. Selanjutnya muncul dua bola sinar biru bercokol di telapak tangan itu. Angin dari tenaga yang tercipta bertiup berputar di sekitar tubuh sang putri, membuat pakaiannya berkibar-kibar.


“Yang Mulia Putri akan mengeluarkan Bulan Biru,” kata Bo Fei tegang. Ia tahu bahwa ilmu itu adalah salah satu ilmu tertinggi sang putri.


Secara perlahan, kedua tangan sang putri naik ke atas. Bola sinar birunya ikut seolah menempel di telapak tangan. Dua bola sinar lalu bertemu menyatu menjadi satu bola sinar biru yang lebih besar. Bola sinar itu menjadi sebesar dua kali kepala orang dewasa.


Sinar itu kemudian naik ke udara, lepas dari tangan sang putri. Pada ketinggian tertentu, sinar itu berhenti mengambang, hanya berputar-putar pada porosnya.


Semua yang menonton menjadi semakin tegang. Baru kali ini mereka melihat Putri Yuo Kai menunjukkan banyak kesaktiannya. Wajar saja jika Kaisar sendiri menaruh takut kepada putrinya sendiri. Putri Yuo Kai bukan sekedar seorang wanita yang anggun dan cantik, tapi juga wanita yang sangat berbahaya.


Sementara itu, Joko Tenang memilih menunggu kelanjutan dari proses ilmu kesaktian Putri Yuo Kai.


“Hiat!” pekik sang putri akhirnya sambil mengayunkan kedua tangannya ke depan, seperti melempar bola dengan dua tangan.


Zwersss...!


Yang terjadi adalah seiring bola sinar biru itu melesat ke depan, bola sinar itu pecah menjadi ratusan butir yang langsung menghujani posisi Joko Tenang.


Joko Tenang tidak mungkin membakar semua sinar itu dengan angin Langit Membakar Bumi, sebab akan membahayakan sang putri. Jalan terbaik adalah naik ke atas.

__ADS_1


Duar dar dar dar...!


Ratusan ledakan tercipta di tengah-tengah lapangan, mengejutkan Kaisar dan semua penonton menyaksikan hal yang sangat dahsyat.


Zesss!


Meski ledakan menimbulkan pusat perhatian, Putri Yuo Kai tidak terpaku. Melihat Joko bisa lolos dari maut dengan naik ke angkasa seperti pada bagian awal, Putri Yuo Kai kembali mencoba peruntungannya dengan mengirimkan sinar putih Bidikan Mata Langit ke atas.


Hasilnya memang sama, sinar itu hilang tanpa bekas dan efek saat mengenai Rompi Api Emas milik Joko. Namun kali ini, Putri Yuo Kai ikut melesat naik menyambut tubuh Joko yang bergerak turun.


Joko harus melakukan sesuatu demi menghindari pertemuan fisik dengan Putri Yuo Kai di udara.


Bak!


“Hokh!”


Demi mencegah Putri Yuo Kai sampai kepadanya, Joko terpaksa menggunakan Pukulan Tapak kucing, tetapi dengan kandungan tenaga seperlima dari kekuatan sebenarnya.


Putri Yuo Kai yang melesat naik mengeluh saat tahu-tahu dadanya terhantam satu tenaga tidak tampak, bersamaan dengan muncratan darah kental dari dalam mulutnya.


Terkejut Joko Tenang saat melihat Putri Yuo Kai langsung menyemburkan darah. Perhitungannya ternyata salah. Jika Putri Yuo Kai dalam kondisi fit, mungkin pukulan Tapak Kucing bertenaga seperlima itu tidak begitu berbahaya. Namun, sebelumnya Putri Yuo Kai sudah memendam luka dan ia baru saja menghabiskan tenaga dalam yang besar untuk ilmu Bulan Biru.


Hantaman Pukulan Tapak Kucing di dada Putri Yuo Kai membuat tubuh sang putri langsung meluncur deras ke bawah. Naasnya, tubuhnya jatuh lurus dengan kepala lebih dulu.


“Kai’er!” teriak Kaisar Long Tsaw terkejut.


“Yang Mulia Putri!” seru Bo Fei, Mai Cui, Yi Liun dan ke-12 Pengawal Angsa Merah. Serentak mereka berkelebat menuju ke tengah lapangan, kecuali Mai Cui dan Yi Liun.


Jenderal Wae Yie selaku wasit, juga langsung bertindak dengan melesat secepat mungkin. Namun, jika dihitung dari kecepatan jatuh tubuh Putri Yuo Kai dengan jarak yang jauh dari tribun atau pinggir lapangan, maka dapat dipastikan kepala sang putri akan lebih dulu menghantam lantai lapangan.


Di waktu kritis itulah, Joko Tenang yang juga sedang meluncur turun dan posisinya lebih tinggi dari tubuh Putri Yuo Kai, memutuskan kembali menggunakan ilmu Langkah Dewa Gaib.


Joko Tenang hilang begitu saja di udara dan tahu-tahu sudah muncul berdiri di bawah luncuran tubuh Putri Yuo Kai.


Pluk!


Begitu sempurna. Tubuh Putri Yuo Kai jatuh di kedua tangan kekar Joko Tenang. Sang putri pun terhindar dari benturan ke lantai lapangan. Sang putri hanya bisa terkejut, tapi bahagia. Itu untuk pertama kalinya ada seorang lelaki yang menggendong tubuhnya secara utuh.


Sedetik kemudian, tibalah Jenderal Wae Yie, Bo Fei, dan ke-12 Pengawal Angsa Merah.


Joko Tenang pun tidak berdaya. Ia pasrah.


Bluk!


Joko Tenang jatuh dan membiarkan tubuh putri cantik yang digendongnya menimpanya.


Ketika Joko menangkap tubuh Putri Yuo Kai, penyakitnya pun bereaksi cepat. Tenaga kakinya menghilang, tenaga tangannya menghilang, dan semua tenaganya akhirnya menghilang dengan cepat. Ia pun tidak mampu menahan berat tubuh sang putri hingga harus pasrah jatuh dalam kondisi tanpa bertenaga lagi, walau sedikit pun.

__ADS_1


“Joko!” sebut Putri Yuo Kai yang berubah panik.


Putri Yuo Kai segera bangun dari atas tubuh Joko dan memandangi pemuda berbibir merah itu. Tampak wajah Joko putih pucat dengan butir-butir keringat bermunculan di wajahnya. Matanya menjadi sayu, seperti orang yang mau tutup usia. Kedua tangannya pun terkulai tidak berdaya.


“Joko, apa yang terjadi?” tanya Putri Yuo Kai panik.


Sementara Bo Fei dan Pengawal Angsa Merah berdiri mengerumuni dalam jarak yang dekat, satu hingga tiga langkah.


Joko Tenang tersenyum lemah kepada Putri Yuo Kai, seolah menunjukkan kondisinya tidak apa-apa. Ia ingin menyuruh mereka pergi menjauh, tetapi akan percuma, karena mereka tidak akan mengerti.


Melihat kondisi Joko yang memang sangat lemah, Jenderal Wae Yie lalu berinisiatif karena pertandingan itu harus diakhiri.


“Pemenang pertarungan ini adalah Yang Mulia Putri Yuo Kai!” teriak Jenderal Wae Yie keras.


Keputusan wasit itu mengejutkan Putri Yuo Kai. Spontan ia menatap tajam kepada sang jenderal.


Namun di tribun, Kaisar Long Tsaw, keluarga Istana dan para pejabat yang menonton terdengar ramai gembira menyambut kemenangan Putri Yuo Kai.


“Jenderal Wae Yie!” panggil Putri Yuo Kai lantang, sampai-sampai darah di dalam mulutnya termuncrat keluar. “Kenapa kau memutuskan aku yang menang?!”


“Hamba, eee... tapi, Yang Mulia,” ucap Jenderal Wae Yie kebingungan. Ia tidak menyangka jika keputusannya akan membuat Putri Yuo Kai marah besar.


“Uhuk uhuk!” Putri Yuo Kai terbatuk mengeluarkan darah. Kondisinya juga lemah dan sakit.


“Yang Mulia harus diobati,” kata Bo Fei.


Kaisar Long Tsaw dan para istrinya segera turun ke lapangan untuk melihat kondisi kedua petarung.


“Cepat panggil tabib istana!” perintah Kaisar Long Tsaw kepada Kasim Yo Gou.


“Baik, Yang Mulia,” ucap Kasim Yo Gou lalu pergi ke lain arah dengan langkah yang cepat.


Sementara itu, di sudut tribun.


“Kau berutang hadiah kepadaku, Yang Mulia,” kata Su Mai kepada Pangeran Han Tsun.


“Baik. Tapi, apakah kau tetap mau makan berdua denganku, Nona Su?” tanya Pangeran Han Tsun kepada Su Mai yang sudah berjalan hendak pergi ke tengah lapangan.


“Ambilkan tandu!” perintah Kaisar Long Tsaw saat melihat jelas kondisi Putri Yuo Kai.


“Kai’er, apakah lukamu parah?” tanya Permaisuri Fouwai cemas.


“Tidak begitu parah, Ibunda Permaisuri,” kata Putri Yuo Kai seraya tersenyum kepada ibunya.


“Pendekar Joko!” sebut Su Mai yang tiba dan segera melihat kondisi Joko Tenang.


“Su Mai,” sebut Joko pelan. Lalu dengan termegap-megap ia berkata lagi, “To... long, jauhkan se... mua wanita dari de... katku.” (RH)

__ADS_1


__ADS_2