Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
32. Penegasan Tirana


__ADS_3

Jadi, kau tetap akan berangkat besok pagi?” tanya Nyi Lampingiwa.


“Benar. Besok pagi kita berangkat. Aku menemukan cara sendiri untuk bisa membawa kaliang semua pergi ke Rimba Berbatu besok pagi,” tandas Joko.


“Tolong bawa keduanya ke ruang dalam, aku akan sedikit meringankan luka mereka agar bisa bertahan lebih lama!” kata Nyi Lampingiwa. Lalu katanya dengan menghadapkan wajahnya kepada Joko, “Terserah kalian mau tidur di mana, buatlah nyaman diri kalian.”


“Terima kasih atas berita penting yang kau berikan kepada kami, Nek,” ucap Joko.


“Hihihi!” tawa Nyi Lampingiwa sambil beranjak masuk ke dalam rumah.


Hujabayat dan Tirana lalu bergerak untuk memindahkan tubuh Ginari dan Kembang Buangi ke dalam rumah.


Joko Tenang memilih pergi turun ke aliran air di bawah jembatan bambu. Ia tanggalkan capingnya di bebatuan. Ia gulung lengan bajunya hingga tinggi. Ia kemudian membasuh wajahnya dengan air sejuk itu. Sebagian kedua lengannya pun ia basahi, bahkan ia susupkan telapaknya ke balik pakaian untuk merasakan sejuknya mata air perbukitan.


Joko yang sedang menikmati sejuknya air, berhenti bergerak ketika ia mendapati Tirana duduk santai di sebuah batu tidak jauh darinya, tapi masih dalam jarak aman.


“Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Joko.


“Menjaga calon suamiku,” jawab Tirana enteng seraya tersenyum cantik, cahaya petang masih menyinari wajah bersihnya. Dalam hati ia menikmati ketampanan Joko yang baru kali ini dilihatnya langsung. “Aku harus selalu memastikan pangeranku dan calon suamiku berada dalam kondisi yang aman. Aku tidak mau samapai lalai dalam tugas pokokku.”


“Sepertinya kita berdua harus bicara serius,” kata Joko Tenang seraya bangkit lalu melompat kecil sambil menenteng capingnya.

__ADS_1


Tirana turut berdiri dan mengikuti tuannya. Joko melangkah dan pergi duduk ke sebuah tunggul kayu yang cukup besar. Pangkal pohon itu terpotong rapi hingga nyaman untuk diduduki oleh satu tubuh. Mantan pohon itu seolah ditebang tidak menggunakan kapak atau golok. Berseberangan dengan itu, ada pula sebuah pokok kayu yang mirip, hanya lebih kecil ukurannya. Jaraknya empat langkah, masih aman bagi Joko jika Tirana duduk di sana.


Keduanya duduk bersila berhadapan, saling berpandangan. Joko membiarkan wajahnya terbuka dan meletakkan capingnya di sisinya. Kondisi itu membuat Tirana merasa lebih bahagia dan nyaman. Ketampanan Joko yang tinggi menjadi keberuntungan baginya sebagai seorang wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Berbeda dengan Joko, ia tipe pemuda yang tidak terobsesi oleh kecantikan wajah dan fisik wanita. Karenanya, posisi saling tatap seperti itu tidak begitu mempengaruhi pikiran dan perasaannya.


“Sebelumnya aku minta maaf kepadamu, Tirana, sebab aku masih menganggap semua ceritamu adalah kelakar yang entah dikarang oleh siapa,” kata Joko.


Tirana kusyuk mendengarkan.


“Bagaimana bisa aku dengan mudahnya mempercayaimu? Sejauh ini aku tidak pernah mengetahui bahwa ayahku adalah seorang raja dan aku memiliki sebuah kerajaan bernama Sanggana. Kau yang tidak pernah aku kenal dan temui sebelumnya, tiba-tiba muncul sebagai hambaku, bahkan sebagai calon istriku. Sedangkan orang yang begitu mengenalku, yaitu guruku Ki Ageng Kunsa Pari, tidak pernah mengabarkan tentang raja dan calon istri. Terlebih hubungan suami dan istri aku rasa tidak semudah mencocokkan antara lauk dan minuman. Hubungan dewasa seperti ini adalah urusan suka, kasih sayang, cinta dan kecocokan sifat dua raga yang berbeda. Bisa kau jelaskan dan membuatku yakin bahwa kau tidak sedang membodohiku?” ujar Joko.


“Sebelumnya aku mohon maaf jika kemunculanku membuat Kakang Joko resah dan bingung. Aku benar bernama Tirana. Aku juga dinamai Gadis Penjaga. Sejak lahir hingga dewasa aku tumbuh besar di Hutan Urat Dewa. Ini adalah kali kedua aku keluar dari wilayah Hutan Urat Dewa. Tujuanku tidak lain semata-mata hanya untuk melayani, menjaga dan menemani hidup Kakang Joko. Tujuan ini semata-mata karena aku melaksanakan perintah Gusti Mulia Raja Anjas, ayah dari Yang Mulia Pangeran. Aku adalah gadis yang dipilih. Bagiku adalah suatu kemuliaan dan kehormatan yang tinggi untuk bisa melaksanakan tugas dari Gusti Mulia Raja Anjas. Dari tugas inilah, aku dibekali pengetahuan tentang diri Yang Mulia Pangeran, kesaktian-kesaktian dan penyakit Sifat Luluh Jantan Yang Mulia Pangeran,” ujar Tirana hingga kalimatnya dipotong oleh pertanyaan Joko.


“Dengan diutusnya kau sebagai pelayan, penjaga hingga nanti sebagai teman hidupku, berarti menurut ayahku, kondisiku dalam ancaman?” tanya Joko.


“Itu semua terjadi karena aku memiliki penyakit yang kau sebut bernama Sifat Luluh Jantan itu?” tanya Joko lagi.


“Benar. Kakang Joko bisa melihat sendiri buktinya di saat pertama aku datang. Kesaktianku membuat Kakang Joko tidak berdaya. Seandainya saat itu aku adalah musuh, maka selesai sudah. Kondisi seperti itulah yang sangat dikhawatirkan oleh Gusti Mulia Raja Anjas terhadap putranya. Karenanya aku diutus sebagai obat penyembuh.”


“Bagaimana caranya kau bisa menyembuhkan penyakit itu?” tanya Joko.


“Itu adalah penyakit warisan dari leluhur Kakang Joko. Membiarkan tetap mengidap penyakit itu adalah kondisi yang sangat berbahaya. Sifat Luluh Jantan adalah penyakit yang diidap oleh pewaris ilmu Delapan Dewi Bunga. Jadi untuk memunculkan kesaktian itu, diperlukan delapan dewi. Dewi yang dimaksud adalah istri. Jadi, diperlukan adanya delapan istri. Dalam proses menuju ke sana, Kakang Joko mau tidak mau harus menikahi wanita. Sejak hubungan badan pertama dengan istri pertama, maka total kesaktian Kakang Joko akan lumpuh sementara hingga Delapan Dewi Bunga terpenuhi semua. Penyakit Sifat Luluh Jantan akan sirna dan sebagai gantinya, Kakang Joko akan menjadi pria normal biasa tanpa memiliki kesaktian dan tenaga dalam sedikit pun.”

__ADS_1


“Apa? Jadi seluruh kesaktianku yang kupupuk sejak bayi akan musnah?” tanya Joko terkejut.


“Tidak musnah, hanya tidak bisa digunakan selama masa menuju pembentukan Delapan Dewi Bunga. Karena itulah, istri pertama Kakang Joko harus yang berkesaktian tinggi untuk jadi penjaga dan berkepatuhan tinggi sebagai pelayan hidup,” jelas Tirana.


“Oh dunia,” ucap Joko dengan ekspresi tidak bersemangat. Lalu tanyanya lagi, “Berarti aku tinggal mengumpulkan delapan wanita lalu semuanya aku nikahi dan selesai?”


“Benar. Namun, untuk mewujudkan kesaktian Delapan Dewi Bunga bukan sekedar Kakang Joko beristri delapan wanita, tapi antara Kakang Joko dengan kedelapan dewi harus memiliki hubungan cinta dan kasih yang tulus, termasuk hubungan antara dewi yang satu dengan dewi yang lainnya.”


“Bagaimana jika aku memilih tidak mau mengikuti alur cerita Delapan Dewi Bunga dan memilih tidak menikah?” tanya Joko Tenang lagi.


“Maka selamanya aku harus menjaga Yang Mulia Pangeran tetap aman dari kondisi berbahaya,” jawab Tirana.


“Jadi kau akan mengikutiku dan bersamaku selamanya?” tanya Joko.


“Benar, Yang Mulia Pangeran. Meski itu sebagai istri atau sebagai penjaga saja,” jawab Tirana.


Joko lalu bergerak bangkit dari duduknya.


“Aku mau membuat api, bicara lama-lama menatap wajahmu membuatku mulai berpikir aneh-aneh. Wajahmu terlalu indah,” kata Joko kepada Tirana sambil berlalu ke arah tumpukan kayu yang ada di samping rumah bambu.


Mendengar perkataan akhir Joko, Tirana tersenyum bahagia. Namun ia yakin, Pangeran Dira tidak akan mudah menuruti ceritanya.

__ADS_1


“Tunggulah, Joko. Aku akan mengambil ubi dan mencari buruan malam,” kata Hujabayat yang sejak tadi hanya memperhatikan perbincangan serius Joko dan Tirana dari balai-balai.


“Ya, seharusnya kau menyiapkan suguhan malam yang enak untuk tamu-tamu besarmu ini,” kata Joko lalu tertawa ringan. (RH)


__ADS_2