
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Baru saja Getara Cinta, Tirana, Putri Sri Rahayu dan Helai Sejengkal berjalan naik di sore hari itu, terdengar suara kuda berhenti di kaki bukit.
Mereka berempat segera berpaling melihat ke bawah. Ada seekor kuda dengan seorang pemuda sebagai penunggangnya. Pemuda tampan berwajah matang itu mengenakan pakaian biru bersabuk kain putih. Agak lama ia memandang ke punggung bukit, memandangi keempat gadis cantik yang juga memandanginya, seolah ada empat bidadari yang menunggu kedatangannya, meski satu di antaranya berwajah buruk.
Pemuda berikat kepala putih itu jadi tersenyum sendiri. Ia lalu turun dari kuda dan menambatkan tunggangannya.
“Ada yang kenal dengannya?” tanya Getara Cinta kepada gadis yang lainnya.
“Aku,” jawab Helai Sejengkal sambil tetap memandang ke bawah.
“Siapa dia?” tanya Getara Cinta lagi.
“Jaga Manta, Ketua Perguruan Tiga Tapak,” jawab Helai Sejengkal, masih tanpa menoleh kepada Getara Cinta yang bertanya.
“Ayo kita naik, semakin senja!” ajak Tirana.
“Eh, aku ditinggal?” tanya Helai Sejengkal. Kali ini ia menengok kepada Tirana dan Getara Cinta.
Tirana tersenyum kepada Helai Sejengkal, lalu katanya, “Untuk apa kami menunggunya, kami tidak mengenalnya?”
“Tapi….” Helai Sejengkal menggantung ucapannya, bingung. Meski ia senang bertemu dengan pemuda berusia lebih tiga puluh tahun itu, tapi jika seorang diri tanpa teman, ia bisa jadi berdebar parah. Bukan karena takut, tetapi karena tidak kuat mengontrol sikap.
Getara Cinta, Tirana dan Putri Sri Rahayu sudah naik mendaki. Memendam kesal dalam hati, Helai Sejengkal segera menyusul ketiga wanita yang lebih sakti darinya itu. Ia yakin, toh pemuda bernama Jaga Manta itu pasti akan menyusul juga.
“Loh, kok pergi? Aku pikir akan menyambut kedatanganku…” membatin Jaga Manta saat melihat keempat bidadari itu pergi naik.
Ia memutuskan untuk berkelebat naik menyusul. Tidak ada salahnya, pikirnya, sebab ia sepertinya mengenal satu gadis di antara mereka.
“Para Bidadari Bukit, tunggu sejenak!” seru Jaga Manta sambil berkelebat sekali dua kali. Ia pun berhasil menghadang keempat gadis itu.
“Apakah Kisanak ada perlu dengan kami atau hanya kepada Helai Sejengkal?” tanya Getara Cinta yang memiliki usia lebih tua dari pemuda itu.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Jaga Manta jadi salah tingkah. “Ternyata untuk mencari keindahan di kala senja, tidak selalu harus memandang ufuk barat. Tidak aku sangka, di bukit ini pun banyak bertebaran keindahan yang luar biasa.”
“Hei, Jaga Manta!” hardik Putri Sri Rahayu. “Jika kau ingin memuji kecantikan Ratu Getara dan Tirana, jangan di depanku. Kau lihat, aku tidak secantik mereka!”
“Oh!” kejut Jaga Manta karena ternyata ia berbicara di depan seorang ratu. Ia buru-buru menjura hormat dan berucap, “Hormat hamba, Yang Mulia Ratu. Perkenalkan, nama hamba Jaga Manta, Ketua Perguruan Tiga Tapak.”
Ingin tertawa Tirana melihat sikap Jaga Manta saat tahu bahwa Getara Cinta adalah seorang ratu. Namun, ia tahan tawanya untuk membiarkan Jaga Manta tidak bersikap tebar pesona. Putri Sri Rahayu hanya memandang dingin.
Sementara Helai Sejengkal hanya tersenyum-senyum gembira ria.
“Aku sudah tahu. Dayang baruku sudah memberitahukan aku siapa adanya kau. Bangunlah!” kata Getara Cinta berwibawa.
Mendelik Helai Sejengkal disebut “dayang baru”.
“Jika kau tidak ada urusan dengan kami, maka minggirlah! Kami harus segera tiba di atas!” tandas Getara Cinta.
“Oh, maaf, Yang Mulia Ratu!” ucap Jaga Manta seolah baru tersadar bahwa ia menghadang rombongan sang ratu.
Getara Cinta mengulurkan tangan kirinya kepada Helai Sejengkal.
Jaga Manta membiarkan keempat gadis itu berlalu. Setelah memunggungi Jaga Manta, barulah Tirana tersenyum lebar. Sementara Putri Sri Rahayu hanya tersenyum kecil.
Lain halnya dengan Helai Sejengkal. Status barunya sebagai dayang “Ratu” Getara Cinta membuatnya tidak bebas untuk menyapa Jaga Manta, terlebih sikap Getara Cinta dan dua lainnya begitu dingin kepada Jaga Manta.
Jaga Manta segera berjalan tidak jauh di belakang Helai Sejengkal yang dikenalnya.
“Helai, sejak kapan kau menjadi dayang?” tanya Jaga Manta setengah berbisik.
“Kau jangan mengusik dayangku, Jaga Manta!” hardik Getara Cinta datar.
Wess!
Jaga Manta terkejut karena ada segelombang tenaga dalam yang dilepaskan oleh Getara Cinta tanpa terlihat gerakan serangnya.
__ADS_1
Buru-buru Jaga Manta melompat naik ke udara, membuat tenaga dalam itu lolos ke udara lepas.
Clap!
Terkejut Jaga Manta saat melihat Getara Cinta, Tirana, dan Putri Sri Rahayu tahu-tahu menghilang dari tempatnya. Helai Sejengkal juga terkejut, karena tahu-tahu ia ditinggal seorang diri, seorang diri sebagai wanita dan berdua diri sebagai manusia.
“Apa yang terjadi, Helai?” tanya Jaga Manta cepat setelah ia kembali menginjak bumi.
“Eee… mereka pergi, Kakang,” jawab Helai Sejengkal, mulai salah tingkah dan salah sikap.
“Aku juga tahu mereka pergi. Tapi kenapa mereka meninggalkanmu?” tandas Jaga Manta.
“Sebenarnya… aku bukan dayang ratu,” kata Helai Sejengkal sambil menunduk setengah-setengah, sebab sesekali ia merasa wajib memandang pemuda yang usianya cukup jauh lebih tua darinya itu.
“Lalu, kenapa…?” tanya Jaga Manta masih bingung.
“Emm… lebih baik kita ke atas. Mungkin mereka sudah tiba di atas,” kata Helai Sejengkal tidak tenang. Karena terlalu berdebarnya jantung dan bergetarnya urat nadi, sampai-sampai kakinya pakai acara terpeleset di tanah bukit yang miring. “Aw!”
“Hati-hati!” seru Jaga Manta sigap menyambar pinggang Helai Sejengkal agar tidak jatuh terpeleset lebih ke bawah.
Helai Sejengkal memang berhasil diselamatkan, tetapi tanpa sengaja kini ia berada di dalam pelukan satu tangan Jaga Manta. Dan, wajah mereka berdekatan dengan titik fokus pandangan saling bertemu dan ada kontak yang menyengat syaraf hati keduanya.
Memerahmalulah wajah putih Helai Sejengkal. Buru-buru ia buang wajahnya ke samping seraya tersenyum malu.
“Oh, maaf, maafkan aku, Helai. Aku tidak bermaksud berbuat kurang pantas terhadapmu,” ucap Jaga Manta lalu buru-buru mendorong tubuh gadis itu agar berdiri dengan posisi tubuh yang tegak.
“Aku yang seharusnya berterima kasih. Aku yang terlalu bodoh, pendekar tapi bisa terpeleset,” ucap Helai Sejengkal benar-benar merasa malu, bukan malu yang direkayasa.
“Lebih baik kita segera menyusul ke atas,” kata Jaga Manta. Ia mengulurkan tangannya kepada Helai, seolah mereka berjalan di jalan yang terjal saja, “Mari!”
Melebar lingkar mata Helai Sejengkal mendapat tawaran tangan perkasa dari Jaga Manta, sang ketua perguruan. Melihat keraguan dari Helai Sejengkal, Jaga Manta hanya tersenyum.
Akhirnya, tanpa ragu Helai Sejengkal menyambut uluran tangan Jaga Manta. Meski wajahnya menunjukkan malu-malu daun putri malu, tetapi di dalam hatinya ruhnya jingkrak-jingkrak tidak karuan.
__ADS_1
Tidak putus-putus rasa desiran melanda alam perasaan Helai Sejengkal selama tangannya terus dipegang hingga mereka tiba di atas. Mereka bisa melihat keberadaan sebuah pondok.
Di pondok itu telah ada Getara Cinta, Tirana dan Putri Sri Rahayu. (HR)