
*Desa Wongawet (Dewo)*
Sess! Blaar!
Menghindarnya Sudarka dari serangan sinar merah gelap lelaki bertopeng kucing, membuat serangan itu langsung mengarah kepada Joko Tenang.
Namun, ternyata Joko sudah memperhitungkan berbagai kemungkinan. Ketika Sudarka yang ada di depannya menghindar, Joko Tenang langsung melesatkan ilmu Pukulan Pisau Neraka. Sinar hijau berbentuk pisau melesat keluar dari telapak tangan kanan Joko dan langsung meledakkan sinar merah.
Joko Tenang terjajar setindak, tetapi lelaki bertopeng kucing harus terjengkang.
“Uhuk!”
Terdengar lelaki bertopeng itu terbatuk sekali. Ketika dua pengejarnya mendekat, dia cepat melepaskan segelombang angin pukulan.
Wuss!
Kedua pemuda pengejar itu buru-buru melompat menghindar. Sementara lelaki bertopeng cepat berkelebat ke area sisi kiri yang merupakan lingkungan kaum wanita desa.
“Kejaaar!” teriak Sudarka cepat.
Kedua pengejar tadi cepat mengejar masuk ke daerah wanita. Beberapa pemuda lain dari area lelaki segera berkelebat menyeberangi jalan dan masuk ke lingkungan wanita.
“Biarkan saja, Joko. Si Kucing Merah memang sering menyusup masuk dan membuat onar. Mari kita ke rumah Kepala Desa,” kata Sudarka.
Joko Tenang hanya mengangguk, lalu mengikuti Sudarka.
Joko Tenang diam-diam melirik sekilas kepada wanita berbaju merah. Gadis itu masih berdiri bersama tampinya, ia masih mencuri-curi pandang kepada Joko.
“Sepertinya warga di desa ini tidak merasa terganggu oleh penyusup bertopeng itu,” kata Tirana yang secara tidak langsung mengandung pertanyaan.
“Itu karena Si Kucing Merah sudah sering menyusup dan membuat onar di sini. Jadi, warga di sini sudah terbiasa jika dia tiba-tiba muncul dan dikejar,” jelas Sudarka.
“Jika berulang, berarti usahanya selalu gagal?” tanya Tirana lagi menerka.
Pertanyaan itu dijadikan alasan bagi Sudarka untuk menengok memandang wajah Tirana sejenak. Lalu jawabnya, “Benar. Sejauh ini tidak ada orang yang dia bunuh dan tidak ada harta yang hilang. Jadi aku pun tidak begitu khawatir jika dia muncul dan membuat onar.”
“Semua warga terlihat muda. Aku belum melihat seorang pun yang tua,” kata Joko.
“Itulah keistimewaan kami. Karenanya desa ini namanya Wongawet. Semuanya muda,” kata Sudarka.
“Tidak ada anak kecil juga?” tanya Joko.
“Iya. Tidak ada anak kecil, karena hubungan badan lelaki dengan wanita adalah perkara terlarang di desa ini.”
“Oh ya? Lalu bagaimana cara pertumbuhan warga desa ini?” tanya Joko jadi benar-benar penasaran.
“Hahaha!” tawa Sudarka. “Aku suka jika ada orang asing yang benar-benar tertarik dengan keunikan desa kami ini.”
Mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah cukup besar karena fisiknya lebih lebar dibandingkan dengan rumah-rumah yang lain. Letaknya tepat di pinggir jalan besar itu dan tepat di tengah-tengah desa.
Meski posisi rumah ada di sebelah kanan jalan, tetapi di rumah itu terlihat ada dua wanita muda lagi cantik.
“Ini rumah Ki Daraki, Kepala Desa Wongawet. Nanti saya jelaskan segala aturan di desa ini di atas,” kata Sudarka. Ia lalu menaiki rumah yang tingginya hanya dua anak tangga saja.
Di bagian depan rumah itu adalah ruang terbuka tanpa dinding depan, sehingga orang yang duduk di ruang depan itu, bisa leluasa melihat ke luar dan jalan utama.
__ADS_1
“Ini adalah Karani,” kata Sudarka seraya menunjuk gadis cantik berwajah putih bertipe lebar.
Gadis berbaju jingga itu tersenyum ramah seraya mengangguk kepada Joko dan Tirana. Ia segera bangun berdiri sambil tetap memegangi pekerjaan sulamannya. Joko dan Tirana juga tersenyum kepada mereka.
“Dan ini bernama Kemuning,” kata Sudarka memperkenalkan gadis berbaju putih, bertubuh dan berwajah mungil. “Keduanya adalah kekasih Kepala Desa.”
“Siapa mereka, Sudarka?” tanya Kemuning seraya tetap tersenyum ramah.
“Pendekar Joko Tenang dan Tirana. Mereka akan melewati desa ini, jadi akan bermalam tiga hari di sini. Jadi tolong nanti sampaikan kepada Ki Daraki jika sudah selesai semadinya,” kata Sudarka.
“Silakan duduk, Joko, Tirana!” ucap Karani.
Mereka berlima pun duduk membentuk satu lingkaran. Namun, Joko Tenang duduknya agak menjauh.
“Kenapa kau duduk terlalu jauh, Joko?” tanya Sudarka.
“Kakang Joko memiliki masalah jika berdekatan dengan wanita, amarahnya bisa tidak terkendali jika berdekatan dengan wanita kurang dari empat langkah. Itu dampak buruk dari ilmu saktinya,” kata Tirana berdusta.
Perkataan Tirana membuat Joko jadi meliriknya.
“Tidak apa-apa, Kakang. Aku khawatir jika mereka tidak tahu, nanti terjadi salah paham,” jelas Tirana. Sebenarnya Tirana khawatir, jika Sudarka mengetahui penyakit Joko terhadap wanita, itu bisa dimanfaatkan jika Sudarka memiliki rasa permusuhan kepada mereka nanti.
“Aku baru kali ini mendengar ada penyakit seperti itu,” kata Sudarka.
“Karena memang ilmu yang aku pelajari juga aneh,” kata Joko untuk memperkuat cerita karangan Tirana.
“Ooh,” ucap Sudarka. “Baiklah, aku akan menjelaskan sejumlah aturan desa ini.”
“Silakan,” kata Joko.
“Maaf, aku tidak bisa berpisah dengan suamiku,” kata Tirana menyela.
“Maafkan kami, peraturan itu tidak boleh dilanggar.” Kali ini yang bicara adalah Kemuning.
Tirana memandang Joko yang membalas dengan anggukan. Sekali kehilangan Joko saat mencari Permata Darah Suci membuat Tirana tidak ingin kehilangan calon suaminya untuk kedua kali.
“Baiklah, kami terima,” kata Tirana.
“Tamu dilarang bercampur dan bersentuhan dengan lawan jenis dari warga desa ini, terlebih sampai jatuh cinta,” kata Sudarka.
“Bagaimana jika itu dilanggar?” tanya Joko.
“Tamu akan kami usir dan tidak bisa melewati Jalan Lubang Cahaya,” jawab Kemuning.
“Apakah kami belum bisa tahu, apa syaratnya agar kami tidak perlu menunggu tiga hari untuk bisa melewati desa ini?” tanya Joko.
“Hanya Kepala Desa yang memiliki wewenang untuk memberitahukan itu,” tandas Sudarka.
“Benar. Kami pun sebagai kekasih Kepala Desa tidak berhak untuk memberitahukan,” kata Kemuning seraya tersenyum manis.
Mereka berhenti bercakap-cakap ketika perhatian mereka tertuju pada kedatangan dua pemuda yang tadi mengejar penyusup bertopeng.
Kedua pemuda yang berkeringat itu berhenti di depan rumah, tidak jauh dari tangga.
“Lapor, Sudarka. Si Kucing Merah lolos lagi!” lapor salah satu dari keduanya, namanya Tudurya.
__ADS_1
“Sudah aku duga,” ucap Sudarka.
“Sepertinya dia punya jalan rahasia di daerah wanita. Kami benar-benar kehilangan jejak di sana,” kata Tudurya lagi.
“Baik, nanti aku sampaikan kepada Ki Daraki tentang kecurigaan kalian itu,” kata Sudarka. Lalu katanya lagi, “Tudurya, kau antar Joko Tenang ke tempat menginapnya!”
“Baik,” ucap Tudurya patuh.
“Biar aku yang mengantar Tirana ke lingkungan wanita,” kata Kemuning sambil lebih dulu bangkit berdiri.
Serempak yang lainnya juga berdiri. Itu menunjukkan bahwa percakapan mereka tentang aturan di desa itu telah selesai.
“Jika kau merasa ada yang ingin ditanyakan, kau bisa menanyakannya kepada Tudurya,” kata Sudarka kepada Joko.
“Baik,” ucap Joko lalu melangkah pergi menuruni tangga.
“Mari, Pendekar,” kata Tudurya, lalu pergi meninggalkan temannya yang tetap berdiri di tempatnya.
Joko mengikuti Tudurya meninggalkan Tirana dan rumah itu.
“Mari, Tirana. Ikut aku!” ajak Kemuning kepada Tirana.
Tirana pun mengikuti Kemuning turun dari rumah dan pergi bersama menyeberangi jalan ke daerah perempuan.
“Satikwa!” panggil Sudarka kepada teman Tudurya.
“Ya?” sahut pemuda bernama Satikwa.
“Sampaikan perintahku kepada Tungkur Wagi, awasi selalu tamu kita itu. Kesaktiannya tinggi,” perintah Sudarka.
“Baik,” jawab Satikwa lalu berbalik dan pergi.
Sudarka lalu berkata kepada Karani, “Tirana juga harus kalian awasi dengan ketat.”
“Iya,” jawab Karani singkat.
Sudarka lalu turun dari rumah itu dan melangkah pergi.
Sementara itu, Tudurya membawa Joko lebih ke dalam desa itu.
“Aaa...!”
Tiba-tiba Joko Tenang mendengar satu jeritan panjang suara wanita. Asal suaranya terdengar jauh, tapi dia tidak bisa menerka arahnya. Suara jeritan itu membuat langkahnya terhenti.
“Kenapa, Joko?” tanya Tudurya karena melihat Joko berhenti berjalan.
“Apakah kau mendengar suara wanita?” tanya Joko.
“Suara wanita? Suara wanita seperti apa? Aku tidak mendengar apa-apa,” kata Tudurya.
“Apakah hanya aku yang mendengar?” membatin Joko. Lalu cepat ia berkata kepada Tudurya, “Mungkin aku mendengar suara daun pohon ditiup angin, suaranya hampir sama.”
“Oh,” desah Tudurya. Ia kembali berjalan yang diikuti oleh Joko. (RH)
__ADS_1