Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
54. Menuju Tabir Angin


__ADS_3

*Arak Kahyangan*


Ketika Joko Tenang telah tertidur lebih dulu, Nintari masih berbaring menyamping memandangi sosok pemuda berompi merah itu. Ada keheranan di dalam benaknya, Joko seolah tidak khawatir terancam tidur tidak jauh dari seorang wanita yang tidak segan membunuh.


“Mengapa Joko begitu percaya denganku? Apakah dia tidak takut jika aku menyimpan niat buruk kepadanya? Ah, aku rasa ia selalu siaga meski di saat mata terpejam seperti itu,” kata Nintari di dalam hati seraya terus memandangi pemuda yang tadi siang mengalahkannya.


Namun pada faktanya, Nintari memang tidak memiliki rencana atau niat buruk kepada Joko Tenang. Memang ia harus mengakui kepada dirinya sendiri bahwa ada rasa tidak mau menyakiti Joko, bukan karena mungkin dia memang tidak mampu untuk menyakiti pemuda itu. Obrolan santai banyak tawa dan suasana yang tercipta di malam itu, antara ia dan Joko, adalah suasana yang sulit ia dapat selama karirnya sebagai seorang pendekar bayaran. Keseganan para pendekar lain terhadapnya justru terkesan mereka memendam rasa takut kepadanya.


Pada akhirnya, Nintari pun tertidur dalam kehangatan api unggun yang ketika menjelang fajar telah padam.


Nintari terbangun. Ia melalui malam dengan damai. Tidurnya nyenyak. Dilihatnya Joko Tenang sedang duduk bersila seraya menggerakkan sepasang lengannya dengan perlahan dan bertenaga. Tampaknya ia sedang mengolah tenaga dalamnya. Nintari hanya memandangi punggung pemuda itu. Ia tidak tahu kapan Joko terbangun dari tidurnya. Pastinya, jika Joko bangun lebih dulu darinya, pasti pemuda itu punya waktu luang untuk menikmati Nintari saat masih tertidur dengan pandangannya. Namun Nintari tepis dugaan seperti itu, ia tidak mau jadi besar hati.


Nintari membiarkan Joko dengan aktifitasnya. Ia memilih bangun dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya hingga dadanya membusung menantang. Nintari melakukan hal itu beberapa kali seraya memejamkan mata menikmati segarnya alam pagi Rimba Berbatu.


“Tidurmu pulas, Bidadari?” tanya Joko tiba-tiba.


Nintari terkejut mendengar pertanyaan itu. Buru-buru ia hempaskan napas dan mengendurkan busungan dadanya. Ia khawatir Joko jadi bernafsu kepadanya hanyak gara-gara hal itu.


“Ya, tidurku seperti orang mati,” jawab Nintari agak salah tingkah, tetapi segera ia netralkan bahasa tubuhnya. “Kau?”


“Tidurku nyenyak tapi pendek, semata-mata untuk berjaga-jaga di tempat asing,” kata Joko. “Bagaimana? Kau sudah siap mengantar ke Tabir Angin?”


“Makan bersama, minum bersama, hingga tidur bersama sudah kita lalui. Apakah kau tidak berniat untuk mandi bersama terlebih dahulu?” tanya Nintari bermaksud menggoda.


Joko Tenang tersenyum. Ia tahu bahwa wanita yang ia kenal sebagai Bidadari Seruling Kubur itu hanya menggodanya.


“Jika Ratu Getara Cinta bersedia meminjamkan ruang mandinya, kita mandi bersama. Kau di ruang sebelah dan aku di ruang lainnya,” kata Joko membalas godaan Nintari.


Nintari pun tertawa renyah.


“Ayo kita berangkat!” ajak Nintari.

__ADS_1


Nintari berkelebat pergi dari satu batu ke batu lainnya. Dalam perjalannya ia tersenyum-senyum sendiri. Kejadian barusan menjadi begitu lekat dan membekas dalam ingatannya. Hingga-hingga ia sejenak memegang dadanya sendiri seraya tersenyum malu.


Sementara itu, Joko mengikutinya di belakang. Mereka menuju Lorong Hitam yang ditunjukkan oleh Puspa kepada Joko.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di depan mulut Lorong Hitam yang seperti gua. Yang tampak di dalam hanyalah ruang gelap karena cahaya tidak masuk ke dalam. Cahaya hanya masuk di sekitar mulut gua.


Tanpa ragu Nintari melangkah masuk ke dalam. Joko mengikutinya. Meski gelap, tetapi kedua pendekar ini memiliki daya pandang yang tajam. Gelap tidak menjadi masalah bagi pergerakan mereka. Di ujung lorong gua pun tidak terlihat ada bias cahaya sedikit pun.


“Apakah ini satu-satunya jalan untuk sampai ke Tabir Angin?” tanya Joko.


“Mungkin. Setahuku hanya Lorong Hitam ini. Ini adalah pintu memasuki wilayah Tabir Angin. Ada pasukan yang ditempatkan di ujung lorong,” kata Nintari.


Pola lorong yang berbelok sebanyak dua kali memang membuat orang yang memasukinya tidak bisa langsung melihat cahaya di ujung lorong.


Ketika pada akhirnya mereka melihat cahaya di ujung sana, mereka melihat bayangan pagar manusia yang membelakangi cahaya.


“Itu prajurit Tabir Angin,” kata Nintari.


Sebanyak enam prajurit berpakaian hitam bersenjatakan tameng dan tombak berdiri berjejer menutup jalan keluar. Kepala mereka diikat dengan pita merah. Tampak satu orang lelaki tidak bersenjata berdiri paling depan, menunjukkan bahwa ialah pemimpin di antara mereka.


Joko Tenang dan Nintari pun berhenti.


“Aku dan Pendekar Joko ada janji untuk bertemu dengan Yang Mulia Ratu,” ujar Nintari.


“Baik. Kami pun mendapat perintah untuk mengawal Pendekar Joko sampai ke istana,” kata Songgor Bayak.


“Ternyata sudah ada prajurit yang akan mengantarmu, cukupkah aku sampai di sini bersamamu, Joko?” tanya Nintari kepada Joko.


“Sayang sekali jika kau terlalu cepat pergi. Bukankah kau tidak memiliki urusan mendesak?” kata Joko dengan tetap menjaga jarak dari Nintari.


“Baiklah, aku akan menemani sampai ke istana,” kata Nintari mengalah, tetapi dalam hati ia senang. Lalu tanyanya dalam hati, “Apakah Joko menyukaiku?”

__ADS_1


“Mari, Pendekar!” kata Songgor.


Kelima prajurit yang menutup jalan segera membuka diri. Songgor memimpin jalan.


Sekeluarnya dari lorong, ternyata di area itu ada sekumpulan prajurit yang jumlahnya lebih banyak. Di situ pun disediakan beberapa ekor kuda.


Sebanyak tujuh ekor kuda segera meninggalkan Lorong Hitam. Joko Tenang dan Nintari dikawal oleh Songgor dan empat prajurit berkuda lainnya. Mereka menempuh jalan berhutan yang tidak lebat. Sudah ada jalan yang tercipta untuk pengendara kuda di hutan tersebut.


Di tengah perjalanan, mereka berhenti. Seorang gadis cantik nan jelita menghadang di tengah jalan. Gadis itu tersenyum. Ia tidak lain adalah Tirana, Gadis Penjaga.


“Aku begitu khawatir memikirkan Kakang tidak kunjung tiba!” seru Tirana.


Giliran Joko Tenang yang tersenyum. Ia turun dari kudanya dan menghampiri Tirana dalam jarak yang terbatas.


“Bagaimana kondisi Ginari dan Kembang Buangi?” tanya Joko.


“Masih sekarat. Ratu Getara Cinta tidak mau menemuiku. Ia baru akan bertemu jika Kakang sudah tiba,” jawab Tirana.


“Naiklah ke kuda!” perintah Joko kepada calon istrinya itu.


“Tidak, biar aku yang berlari!” bantah Tirana.


“Kau membantahku?” tanya Joko dengan pandangan lebih dalam kepada mata bening Tirana.


“Baiklah,” ucap Tirana mengalah seraya tersenyum bahagia.


Tirana pun bergerak menaiki kuda.


“Aku akan berlari, Tuan Prajurit. Kita lanjutkan perjalanan!” kata Joko kepada Songgor.


“Seandainya kau sudi, aku bersedia berbagi punggung kuda denganmu, Joko!” kata Nintari.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Joko seraya tersenyum kepada Nintari tanpa bergerak menerima tawaran gadis remaja berusia matang itu.


“Ayo!” seru Songgor lalu menggebah kudanya. Kuda yang lain pun segera bergerak. Joko memilih berlari di belakang dengan ilmu peringan tubuhnya. (RH)


__ADS_2