Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Pusesa 29: Setan Empat Penjuru


__ADS_3

*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*


Pagi harinya, setelah semuanya segar diri karena usai mandi, Joko Tenang dan rombongannya menuruni bukit.


Nyi Lampingiwa ikut. Dengan telaten Getara Cinta menuntun Nyi Lampingiwa. Seuntai pesan telah ditinggalkan di dalam pondok. Jika Hujabayat pulang dari perjalanannya bersama Kembang Buangi, pemuda itu bisa mengetahui ke mana perginya sang guru.


Untuk sementara, kedelapan orang itu masih dalam satu rombongan. Mereka belum berpisah. Jaga Manta, Kerling Sukma, Getara Cinta, Helai Sejengkal, dan Nyi Lampingiwa akan berangkat menuju Perguruan Tiga Tapak. Tirana tetap harus menjadi penjaga bagi Joko Tenang. Putri Sri Rahayu pun masih enggan untuk berpisah dengan Joko.


Pada musyawarah tadi malam, mereka memutuskan bahwa Putri Sri Rahayu belum berstatus sebagai calon istri Joko Tenang, hal itu disebabkan perlu adanya restu dari kedua orangrtua sang putri. Meski merasa sedih, tetapi Putri Sri Rahayu harus menerima.


Namun, Joko Tenang telah memberi janjinya teruntuk Putri Sri Rahayu.


“Meski aku nanti telah kehilangan seluruh kesaktianku, aku berjanji, setelah pernikahan ini, aku akan datang kepada kedua orangtuamu untuk melamarmu.”


Itulah janji Joko Tenang kepada Putri Sri Rahayu, membuat gadis buruk rupa itu merasa bahagia dan bisa menggantungkan harapan. Itu artinya, setelah pernikahan, Joko Tenang akan melakukan perjalan ke timur untuk sampai ke Kerajaan Siluman.


“Lebih baik kita berpisah di sini, Joko,” kata Jaga Manta kepada Joko Tenang yang berjalan di sisinya. Sementara ia sambil menarik tali kekang kudanya.


Namun, belum lagi Joko Tenang menanggapi perkataan Jaga Manta, tiba-tiba alam yang terang berubah gelap secara drastis. Hingga sepuluh hitungan ke depan, suasana alam telah berubah menjadi seperti malam hari. Gelap. Bila matahari hanya tertutup awan, tidak mungkin sampai segelap itu.


“Apa yang terjadi?” tanya Jaga Manta tanpa ada yang bisa menjawab.


“Ada orang sakti yang melakukan ini,” kata Getara Cinta.


“Mereka ada di empat penjuru,” kata Joko Tenang yang bisa merasakan keberadaan empat orang lain selain mereka.


“Kita sudah terkurung oleh kesaktian mereka. Jalan satu-satunya adalah menghadapi segala serangan mereka,” kata Putri Sri Rahayu.


“Kita dikurung pagar gaib!” kata Kerling Sukma pula.


“Bersiaplah!” kata Tirana memperingatkan.


“Hati-hati dengan adanya pembokong,” ucap Nyi Lampingiwa.


“Awas!” teriak Jaga Manta sambil menyambar tubuh Helai Sejengkal.


Sesss! Swezzz! Bluar! Bdaar!


Saat itu juga dari arah atas sebelah barat dan selatan melesat cepat bola sinar merah dan biru. Serangan itu mengincar Helai Sejengkal dan Nyi Lampingiwa.


Jika Jaga Manta memilih menyelamatkan Helai Sejengkal, Nyi Lampingiwa diselamatkan oleh Getara Cinta dengan membawa pindah beberapa tombak si nenek buta.

__ADS_1


Putri Sri Rahayu dan Kerling Sukma harus melompat pula guna menghindari efek ledak dua sinar itu yang menghancurkan tanah kosong.


Zess! Wezzz! Blarr! Bduarr!


Baru saja mereka yang menghindar menginjak tanah dalam gelapnya alam sekitar, dari sisi atas utara dan timur melesat sinar lonjong berwarna ungu dan hijau. Sangat cepat, membuat mereka semua harus melompat bersalto di udara, seiring hancurnya tanah yang menjadi berlubang-lubang besar.


Blap!


Tiba-tiba dari dalam tanah melesat cepat lurus ke atas sebuah dinding sinar merah yang diameternya luas, cukup untuk mengurung kedelapan orang itu. Tabung sinar merah raksasa itu berhenti naik setelah mencapai ketinggian lebih dari sepuluh tombak. Tidak ada jalan selain ke atas yang berwarna gelap.


“Ini adalah Alam Maut dari Empat Setan Penjuru!” seru Helai Sejengkal yang akhirnya mengenali ilmu perangkap itu. Ia masih dalam pelukan satu tangan Jaga Manta.


Semua mata memandang kepada keduanya tanpa merespon perkataan Helai Sejengkal. Setelah melihat cara pandang yang lainnya tertuju hanya kepadanya, Jaga Manta segera tersadar. Buru-buru ia melepaskan pinggang Helai Sejengkal dari rangkulannya.


Keduanya hanya bisa tersenyum malu. Untuk menutupi rasa malunya, Helai Sejengkal cepat melakukan sesuatu.


Zeez! Bluar!


“Hekh!” keluh Helai Sejengkal setelah sinar kuning berekornya menghantam dinding kurungan raksasa itu. Sinarnya meledak tanpa membuat dinding sinar merah berubah.


“Helai!” sebut Jaga Manta cemas sambil buru-buru menahan punggung Helai Sejengkal yang terdorong keras nyaris terjengkang.


Sesszz!


Akan cukup sulit untuk bisa menghindari hujan sinar merah ini. Kecuali Nyi Lampingiwa, semuanya telah bersiap dengan ilmu masing-masing dalam menghadapi hujan maut itu.


Namun, ternyata cukup dengan ilmu dari Kerling Sukma. Ia menghentakkan talapak tangan kirinya lurus ke atas. Tiba-tiba satu tombak di atas kepala mereka muncul lapisan sinar merah pula, tipis tapi datar dan luas. Sinar merah dari ilmu Payung Kebajikan menaungi mereka semua.


Ces ces ces…!


Hasilnya, semua bola sinar merah masuk lebur ke dalam sinar merah Payung Kebajikan. Hingga kemudian hujan itu telah berhenti. Seiring Kerling Sukma menurunkan tangannya, lapisan sinar merah juga hilang.


Sesss! Bleezzz!


Rupanya serangan tidak berhenti sampai di situ. Di langit gelap, dari empat penjuru berlesatan sinar biru berpijar, kemudian bertemu di satu titik lalu langsung melesat lurus ke bawah.


“Biar aku yang urus!” seru Putri Sri Rahayu.


Ses! Bluar!


Press! Bluarr!

__ADS_1


Putri Sri Rahayu menyentilkan kelingkingnya. Seberkas sinar putih sebesar biji sawo melesat lurus ke atas nyaris tidak terlihat. Tahu-tahu sinar biru besar yang datang dari atas meledak dahsyat di udara.


Di saat yang bersaman sinar hijau menyilaukan mata dari ilmu Surya Langit Jagad, Joko Tenang hantamkan ke dinding kurungan sinar merah. Ledakan dahsyat juga terjadi yang seketika melenyapkan kurungan sinar raksasa.


Mereka semua harus melindungi tubuh agar tidak berdampak buruk akibat dua ledakan dahsyat yang terjadi.


Dua detik kemudian, keadaan alam kembali terang benderang.


Seolah sudah janjian dan sepakat, Putri Sri Rahayu melesat ke selatan, Kerling Sukma melesat ke timur, Tirana melesat ke utara, dan Getara Cinta melesat ke barat bersamaan.


Namun, keempat gadis itu tidak menemukan seorang pun di tempat yang mereka tuju. Mereka hanya menemukan genangan dara kental di tanah yang masih berasap tipis dan bercak-bercak darah.


Keempatnya kompak melesat pulang kepada calon suami mereka.


“Mereka berhasil pergi, tetapi kondisinya terluka serius,” lapor Putri Sri Rahayu kepada Joko dan lainnya.


“Sama, aku pun tidak menemukan penyerang itu, kecuali bekas darahnya,” kata Kerling Sukma.


“Kau mengenal mereka, Helai?” tanya Joko Tenang.


“Mereka adalah Empat Setan Penjuru, abdi setia Nenek Haus Jantung. Setahuku mereka telah menghilang selama empat tahun. Kenapa tiba-tiba muncul dan menyergap kita?” kata Helai Sejengkal heran.


“Mereka berilmu tinggi. Seharusnya mereka sudah tewas beradu tenaga dengan ilmu Bibit Kematian-ku, tapi mereka bisa bertahan,” kata Putri Sri Rahayu.


“Ilmu Surya Langit Jagad juga seharusnya bisa membuat mereka langsung mati,” timpal Tirana.


“Berangkatlah kalian, keadaan sudah aman!” kata Joko Tenang.


“Aku berangkat, Kakang!” pamit Getara Cinta.


“Berhati-hatilah, Sayang,” ucap Joko.


Cup!


Getara Cinta tahu-tahu telah berpindah tempat ke sisi Joko Tenang. Cepat ia mencium pipi kiri Joko Tenang lalu langsung pergi. Joko Tenang hanya terkejut mendelik.


Melihat apa yang diperbuat Getara Cinta, Kerling Sukma mendelik. Maka ia pun melakukan tindakan yang sama. Berpindah tempat seperti menghilang dan tahu-tahu telah muncul mencium pipi kanan Joko Tenang. Setelah itu menghilang dan sudah berjalan santai di sisi Getara Cinta yang menuntun Nyi Lampingiwa.


Tirana hanya tertawa melihat kelakuan kedua calon madunya itu.


“Aku menunggumu dengan selaut harapan dan selangit kerinduan, Kakang!” teriak Kerling Sukma sambil berjalan mundur menghadap kepada Joko Tenang yang ia tinggalkan. Ia melambaikan tangan dengan gembira.

__ADS_1


Joko Tenang, Tirana dan Putri Sri Rahayu hanya tersenyum memandangi kepergian mereka. Joko Tenang membalas lambaian tangan Kerling Sukma.


Setelah agak jauh, Kerling Sukma akhirnya berbalik dan berjalan manja dengan memeluk lengan tangan kiri Getara Cinta. Mantan ratu itu hanya tersenyum melihat tingkah Kerling Sukma yang menurut usia, sepantasnya menjadi anak gadisnya. (RH)


__ADS_2