Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
45. Melawan Bidadari Seruling Kubur


__ADS_3

Di medan tarung, Joko Tenang merasakan hal yang aneh ketika ia dan Nintari saling tatap kembali. Tiba-tiba Joko melihat wajah Nintari yang seperti gadis usia 15 tahun itu terlihat begitu menarik. Muncul rasa ingin menyentuh dan memiliki wajah itu dalam pelukan tangan. Kondisi itu tidak sama ketika mereka sedang dalam perbincangan ringan.


Namun, Joko segera sadar bahwa Nintari sedang mengerahkan ilmu pemikatnya. Joko yang terlihat terpukau menatap Nintari, berubah tersenyum kepadanya. Senyum itu membuat Nintari sadar dan tahu bahwa Joko tidak berhasil ia taklukkan dengan ilmu Pancaran Purnama Surga.


Wuss! Wess! Bdar!


Joko melepaskan angin pukulan biasa untuk memecah serangan pemikat Nintari. Dengan mudahnya Nintari mengibaskan lengan kanannya menepis angin pukulan itu hingga berbelok ke samping dan sedikit memecahkan batu. Saat itu pula, pengaruh Pancaran Purnama Surga Nintari lenyap.


Perasaan Joko kembali normal ketika menatap Nintari.


“Kita mulai!” seru Nintari lalu melesat maju menyerang Joko.


Namun, Joko Tenang melesat mundur dan berhenti di atas sebuah tonggok batu. Nintari cepat melesat lagi, memburu Joko. Kembali Joko memilih melesat menjauhi Nintari yang terus memburu lagi. Joko masih melesat menjauhi Nintari.


Akhirnya Nintari berhenti.


“Apa yang kau lakukan, Joko?” tanya Nintari agak membentak.


“Aku hanya tidak ingin dekat-dekat denganmu,” jawab Joko seraya tersenyum.


Nintari lalu melompat bersalto beberapa putaran di udara lalu turun menjejak ke bumi.


Begg! Wezz!


Ketika sepasang kaki Nintari menjejak lantai batu. Dua aliran sinar hijau menjalar cepat di atas permukaan batu menuju posisi berdiri Joko.


Wuss! Blar blar!


Joko Tenang cepat melesat mundur sambil mengibaskan lengan kanannya mengirim angin Langit Membakar Bumi.


Angin deras nan panas menderu keras membakar medan batu yang dilaluinya dan meledakkan dua aliran sinar hijau Nintari yang bernama Jalar Kematian.


Angin pukulan yang luas dan panas membakar itu mengejutkan Nintari. Ia tidak mau rusak oleh api. Karenanya ia berkelebat sejauh mungkin menghindari angin Langit Membakar Bumi.


Seketika sebagian area tarung itu berubah dikobari api.


“Kurang ajar!” maki Nintari terkejut saat masih di udara, karena tahu-tahu Joko Tenang sudah datang kepadanya dengan satu tendangan.


Dak!


Nintari tidak siap. Ia hanya bisa menangkis dengan dua batang tangannya yang bertenaga seadanya. Akibatnya, tubuh mungilnya meluncur deras ke bawah. Namun, Nintari masih mampu mendarat dengan dua kaki dan dua tangannya.


Nintari tidak menyangka, karena ketika ia menghindari angin panas yang menyerang, posisi Joko berada sangat jauh. Bagaimana mungkin ia tahu-tahu muncul menyerang ke dekatnya. Pada faktanya, memang tidak ada yang melihat kapan Joko bergerak menyerang Nintari di udara.


Kini Joko berdiri jauh di atas batu yang menjulang. Nintari bangkit berdiri menatapnya. Sementara itu medan api sudah padam menyisakan batu-batu yang menghitam.


“Joko tidak bisa dihadapi dengan cara yang biasa,” membatin Nintari.


Wezzz!

__ADS_1


Nintari bertolak maju dan melesatkan sinar biru bulat pipih sebesar piring makan. Lesatan sinar itu mengandung kekuatan tinggi dan suara deruannya mendesis kencang, memberi hawa kengerian bagi yang melihat dan mendengarnya, terlebih bagi orang yang diserang. Namun, tidak demikian yang dirasakan oleh seorang Joko. Ia membiarkan sinar biru bernama Sepiring Kemusnahan itu datang kepadanya.


Melihat sikap Joko dalam menghadapi Sepiring Kemusnahan, membuat Nintari teringat dengan Senggala, seorang pemuda tampan dan sakti yang pernah mengalahkannya tujuh tahun yang lalu. Pemuda itu tidak lain adalah Raja Anjas Perjana Langit, ayah Joko Tenang. Kala itu ia mengaku bernama Senggala dan Joko remaja yang saat itu bersamanya tidak mengetahui bahwa dia adalah ayahnya.


Sep!


Joko Tenang berbalik. Sinar biru bulat pipih yang menyeramkan itu masuk lenyap ke dalam rompi merah Joko. Tidak ada hal apa pun yang terjadi. Nintari hanya bisa terbelalak. Kehebatan Sepiring Kemusnahan yang menakutkan tidak berarti apa-apa bagi Joko.


Nintari lebih terkejut ketika ia melihat Joko masih berdiri di atas batu yang tinggi, ada serangan cepat datang dari arah belakang si gadis.


Respek Nintari membungkuk mengelaki tendangan yang mengibas dari belakang.


Tuk!


Meski Nintari sanggup mengelaki kibasan kaki yang membokong, tetapi satu tusukan jari yang begitu cepat menusuk ke leher Nintari membuat gadis itu tidak berdaya. Setelah itu, sosok yang tidak lain adalah Joko tersebut segera menjauh dari Nintari.


Kini Nintari yang berdiri miring diam karena dikunci oleh totokan, tidak habis pikir. Padahal Joko Tenang jelas masih berdiri di atas batu sana dan baru menerima serangan Sepiring Kemusnahan, tetapi kenapa tiba-tiba Joko yang lain muncul dari belakang.


Joko yang berdiri di atas batu yang tinggi telah tidak terlihat, yang ada adalah Joko yang berdiri tidak jauh dari Nintari.


“Kau bertarung dengan cara yang curang, Joko!” tukas Nintari tanpa bisa berbuat apa.


“Baiklah. Aku beri satu kesempatan,” kata Joko Tenang lalu melesat maju membebaskan totokan Nintari dan langsung melesat mundur lagi mengambil jarak.


Nintari sudah bisa bergerak. Ia langsung mencabut seruling kayunya.


Joko tahu, senjata seperti itu pastinya akan menyerang pendengaran dan pikiran.


Suara seruling merdu mengalun indah di dengar oleh semua orang yang ada di sumur raksasa itu. Namun, alunan seruling yang bernama Desahan Alam Kubur itu hanya berdampak buruk bagi Joko.


Joko langsung merasakan sepasang gendang telinganya seperti ditusuk-tusuk frekuensi suara yang tidak indah. Apa yang ia dengar berbeda dengan yang didengar oleh orang lain. Nintari memang sengaja mengarahkan serangan irama serulingnya kepada Joko.


Joko segera mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan suara itu sebelum terjadi apa-apa dengan gendang telinganya. Dan jadinya, Joko dapat melindungi pendengaran dan pikirannya dari pengaruh seruling Nintari. Dibutuhkan tenaga dalam yang tinggi untuk bisa memblokir suara seruling Nintari.


Melihat Joko hanya berdiri diam tidak menunjukkan reaksi kesakitan, Nintari tahu bahwa alunan serulingnya tidak berhasil.


Nintari mengubah permainan seruling kayunya. Kali ini ia mengerahkan ilmu seruling tertingginya.


Irama seruling Nintari terdengar cepat tapi merdu. Seruling kayu itu tiba-tiba bersinar merah. Lalu dari lubang-lubang seruling keluar sinar-sinar seperti uraian benang yang panjang melambai-lambai. Ribuan benang sinar meliuk-liuk di udara lalu melesat serentak menyerang ke arah Joko.


Wuss!


Menghadapi serbuan benang-benang sinar itu, Joko kembali mengerahkan angin Langit Membakar Bumi. Kali ini Joko mengibaskan kedua tangannya. Maka angin yang muncul lebih kencang, lebih panas dan lebih menderu.


Medan batu yang dilalui angin itu kembali terbakar seketika. Benang-benang sinar yang bernama Serat Seribu Derita itu lenyap tersapu angin panas yang juga langsung menyerang posisi Nintari.


Nintari kembali memili untuk menghindar sejauh-jauhnya dari angin berbahaya itu. Namun, Nintari harus terkejut ketika ia menjulang tinggi di udara. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu tubuh Joko Tenang sudah tepat melayang di atas tubuhnya di udara.


Presss!

__ADS_1


Tangan kanan Joko yang terangkat tinggi, menyala putih menyilaukan mata. Itu adalah ilmu Surya Langit Jagad, salah satu ilmu pamungkas Joko yang memiliki daya penghancur yang dahsyat.


“Mati aku,” ucap Nintari dalam hati. Ia pasrah karena memang tidak bisa mengelak lagi.


Dak!


Namun, Joko Tenang tidak melepaskan sinar putih di tangannya ke tubuh Nintari yang ada dekat di bawahnya. Joko hanya menjejakkan kaki kirinya ke perut Nintari, membuat gadis itu meluncur deras ke bawah menuju bebatuan besar yang dikobari api.


Tap!


Satu hal lagi yang membuat Nintari terkejut. Seorang lelaki telah menangkap jatuh tubuhnya hingga tidak menghantam batu. Pemuda tampan yang tidak lain adalah Joko sendiri itu, segera menurunkan tubuh Nintari lalu cepat melompat menjauh.


“Cepat sekali perpindahan raganya,” membatin Nintari seraya menatap Joko tanpa berkedip. “Kenapa tadi Joko tidak jadi membunuhku? Padahal dia sudah mengeluarkan pukulan Surya Langit Jagad.”


“Bagaimana, Bidadari?” tanya Joko.


“Aku kalah,” kata Nintari lalu tersenyum manis.


“Joko!” panggil Ratu Aswa Tara tiba-tiba.


Nintari dan Joko Tenang beralih memandang ke atas tribun selatan. Demikian pula dengan kubu Ratu Getara Cinta. Tampak Ratu Aswa Tara berdiri marah di bibir tribun.


“Bunuh dia!” perintah Ratu Aswa Tara.


“Tidak. Tugasku memenangkan pertarungan, bukan membunuh!” tandas Joko Tenang kepada Ratu Aswa Tara.


“Huh!” dengus Ratu Aswa Tara lalu berbalik pergi dengan kekesalan.


Ratu Getara Cinta juga telah beranjak dari duduknya dan pergi menuju lorong besar yang ada di dinding utara.


“Sampaikan kepada Ratu Getara Cinta, aku akan datang kepadanya,” kata Joko kepada Nintari.


“Baik,” jawab Nintari. “Joko!”


“Ya?” tanya Joko dengan tersenyum.


“Mengapa kau tidak membunuhku?” tanya Nintari.


“Terlalu jahat jika aku harus menyakitimu,” jawab Joko seraya tersenyum manis, membuat Nintari mulai jatuh hati.


“Mungkin aku yang terlalu jahat yang tidak segan membunuh siapa pun,” kata Nintari.


“Kalian saling kenal, Kakang?” tanya Tirana yang sudah muncul tidak jauh di sisi Joko.


“Iya, kami teman lama,” jawab Joko.


“Tampaknya Kakang tidak tega melukainya. Apakah Kakang akan menjadikannya juga calon istri?” tanya Tirana.


“Hahaha!” Joko tertawa rendah. “Terlalu banyak calon istri di daerah ini, tetapi seperti katamu, sulit mencari wanita yang bisa menjagaku.”

__ADS_1


Joko Tenang lalu berbalik pergi. Tirana tersenyum kepada Nintari lalu turut pergi menyusul Joko.


Para prajurit kedua kubu pun bergerak bubar. (RH)


__ADS_2