
*Petualangan Permaisuri Pertama (Petperma)*
Desa ini bernama Stormeggland. Lokasinya tidak jauh di barat kaki Gunung Stormpole. Penduduk warga Kampung Stormeggland dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan ciri-ciri fisiknya.
Pertama, orang-orang yang memiliki fisik besar tinggi berambut kuning dan berhidung besar mancung, kulitnya pun berwarna putih kemerahan. Kelompok ini sebenarnya warga pendatang yang memilih tinggal di desa itu. Mereka disebut oleh warga lokal dengan sebutan Rambut Emas.
Kedua, orang-orang yang bertubuh kecil atau sedang berkulit hitam berambut hitam, dengan rata-rata lebar dan berhidung cukup mancung, tapi tidak semancung kelompok pertama. Kaum lelakinya suka tidak pakai baju, hanya mengenakan sarung yang dijadikan seperti celana. Warga kelompok ini umumnya warga kalangan bawah atau miskin. Rata-rata mereka adalah nelayan atau pekerja kebun. Mereka diberi sebutan Kaum Garam.
Ketiga, orang-orang yang bertubuh kecil dan sedang, tetapi memiliki kulit putih bersih dan bermata agak sipit. Kaum wanitanya suka memakai bedak tebal pada kedua pipinya saja. Baik kaum lelaki dan wanitanya berpakaian bagus dan selalu memiliki hiasan pada anggota tubuhnya. Mereka selalu memakai turban dan bersarung. Mereka dikenal sebagai Kaum Naga, keluarga besar dari pejabat, hartawan, pengusaha hingga pemilik tanah dan lainnya, yang bisa diidentikkan bahwa mereka kalangan berharta dan beruang.
Mereka memiliki rumah-rumah yang terbuat dari batu. Sejak kedatangan orang-orang Rambut Emas, rumah-rumah kayu mereka diubah menjadi rumah batu. Hal itu dilakukan karena daerah itu sering dilanda badai. Namun, masih ada beberapa bangunan kayu yang dipertahankan agar mereka tidak lupa terhadap budaya dan adatnya. Rumah tetua suku masih orisinil dari kayu dan dibangun kokoh.
Setelah badai besar selama setengah hari, warga kembali keluar rumah dan beraktivitas kembali. Hanya, lingkungan mereka menjadi becek berlumpur karena guyuran hujan yang lebat. Parit yang desa itu miliki bahkan meluap, menimbulkan banjir di area sekitar parit.
“Kan Lwin, pergilah periksa kondisi desa!” perintah seorang lelaki separuh abad berkulit putih. Ia mengenakan baju putih dan bersarung merah gelap. Turbannya juga berwarna putih. Lelaki bermata sipit itu bernama Kodawgyi Arkar Denpo. Nama Kodawgyi menunjukkan bahwa ia adalah seorang pangeran kerajaan yang lahir dari istri raja yang paling muda.
Di belakangnya berdiri seorang pemuda berpakaian hitam yang terkesan sebagai seorang prajurit, meski ia pun bersarung dan berturban hitam. Ia memegang sebuah senjata khas daerah itu yang bernama senjata dha iwe, pedang panjang bermata satu melengkung yang mirip katana milik Permaisuri Kusuma Dewi.
“Baik, Kodawgyi,” ucap pemuda bernama Kan Lwin. Ia pemuda tampan yang bertubuh gagah.
Setelah menghormat kepada Ketua Desa, Kan Lwin lalu bergegas pergi turun dari rumah kayu itu. Ia pergi untuk mengecek kondisi desa setelah dilanda badai.
Waktu pun berlalu hingga kegelapan malam menutupi alam. Cahaya dian terlihat menyala di setiap rumah-rumah.
Namun, di saat tengah malam. Di saat penduduk Desa Stormeggland terlelap dalam keheningan, tiba-tiba….
Kaaak!
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Kodawgyi Arkar Denpo dalam tidurnya. Sontak ia terbangun duduk dari tidurnya karna suara teriakan yang sangat keras. Istrinya juga cepat terbangun dengan wajah mengerenyit ketakutan.
“Suara apa itu, Kodawgyi?” tanya istrinya, Mya Aye Daw.
“Entahlah,” jawab Kodawgyi.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
Tiba-tiba suara sangat keras yang adalah koakan burung rajawali raksasa itu terdengar lagi sebanyak tiga kali bersusulan, memberi nuansa horor yang menegangkan.
Koakan yang dilakukan oleh Gimba di tengah malam itu membangunkan semua warga Desa Stormeggland. Koakan itu bahkan menusuk telinga. Pada sejumlah rumah warga, terdengar suara bayi menangis kencang.
Sejumlah lelaki segera keluar dari rumah-rumah mereka dengan membawa obor bambu. Mereka segera saling berkumpul dan saling bertanya, yang tidak bisa mereka jawab.
Kodawgyi segera keluar dari kamarnya dengan pakaian lengkap. Ia membawa pedang dha iwe yang biasanya dibawakan oleh pengawal pribadinya.
“Jangan khawatir, itu hanya suara,” kata Kodawgyi Arkar Denpo, lalu melangkah menuju ke luar.
Anak ibu itu segera megikuti ayah mereka.
Ketika Kodawgyi Arkar Denpo membuka pintu depan, ternyata di teras sudah berdiri Ariz Win, si pengawal pribadi. Kodawgyi Arkar Denpo lalu memberikan pedangnya untuk dibawa oleh Ariz Win. Di dekat tangga ada dua lelaki bersenjata dha iwe yang berdiri berjaga.
Dari beberapa arah, berdatangan warga yang masing-masing membawa obor. Mereka segera berkumpul di halaman rumah Ketua Desa. Wajah-wajah mereka menunjukkan ketegangan.
Untuk saat itu, suara koakan Gimba yang ada di Gunung Stormpole sudah tidak terdengar lagi.
“Suaranya berasal dari gunung, Kodawgyi!” seru seorang lelaki berambut kuning dan berjenggot kuning. Lelaki bersarung yang berusia separuh abad itu bernama Ducken Pert. Dialah pemimpin dari orang-orang Rambut Emas.
“Apakah kalian akan pergi ke gunung dalam kondisi gelap seperti ini?” tanya Kodawgyi Arkar Denpo.
__ADS_1
“Jika itu hanya suara, lebih baik kita menunggu besok pagi untuk melihatnya!” kata Kan Lwin. “Aku khawatir jika kita memaksakan diri naik, itu justru akan membahayakan.”
“Aku curiga!” sahut seorang lelaki hitam tanpa berbaju dan hanya bersarung. Ia bertubuh besar dengan kedua lengan besar dan perut gendut tapi bergaris kekar. Wajah hitamnya nyaris tidak jelas terlihat jika tidak ada cahaya api. Mata lebarnya bermodel melotot, memberi kesan sangar dengan kumis tebal yang melintang. Ia bernama Abhoy Danu.
“Apa maksudmu, Abhoy?” tanya Kodawgyi Arkar Denpo.
“Aku curiga orang-orang Rambut Emas tahu suara apa itu,” jawab Abhoy Danu.
Perkataan Abhoy Danu membuat para lelaki berambut kuning mendelik menunjukkan wajah tersinggung.
“Jelaskan maksud perkataanmu itu, Abhoy!” teriak Ducken Pert marah.
“Bukankah kalian memiliki gua rahasia di atas sana. Kita semua tidak tahu, apa yang kalian lakukan dan apa yang kalian miliki di atas sana,” kata Abhoy Danu.
“Kodawgyi Arkar Denpo sudah pernah melihat dan tahu apa yang kami lakukan di gua kami!” tandas Ducken Pert.
Kaaak! Kaaak! Kaaak!
Tiba-tiba kembali terdengar suara koakan Gimba yang keras dan menusuk gendang telinga. Mereka semua mengerenyit karena begitu kencangnya suara itu. Setelah suara koakan tiga kali itu berhenti, mereka semua memandang jauh ke arah gunung, padahal yang mereka lihat hanyalah kegelapan.
“Bukankan itu seperti suara burung gagak?” kata San San Htay kepada ayahnya.
“Lihat itu!” teriak seorang di antara mereka sambil menunjuk ke langit gelap di atas gunung.
“Hah!”
Terkejutlah mereka semua saat melihat kemunculan benda kecil menyala dari langit. Benda itu melesat cepat menuju ke gunung. Kecilnya benda itu dan gelapnya malam membuat benda asing itu hanya terlihat seperti titik bara api.
Kemunculan benda dari langit itu membuat suasana makin tegang. Mereka semua menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang terjadi di gunung. (RH)
__ADS_1