Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
74. Duel Putri dan Pangeran


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


"Baiklah. Aku beri Pangeran satu kemudahan,” kata Putri Kai kepada Pangeran Baijin. “Meski aku sudah menolak, tapi Pangeran aku beri kesempatan untuk pulang dengan tetap merasa terhormat. Satu hal yang menjadi syarat utamaku adalah, lelaki yang melamarku harus bisa mengalahkanku dengan cara bertarung.”


“Apa?!” kejut Pangeran Baijin, lalu ia berubah tertawa kecil terkesan meremehkan. “Bagaimana mungkin aku adu tarung dengan Yang Mulia Putri di hadapan Yang Mulia Kaisar?”


“Bagaimana, Pangeran?” Yang bertanya adalah Kaisar Tsaw. Tidak terlihat ada kegelisahan di wajahnya jika putrinya harus bertarung dengan Pangeran Baijin yang memiliki perawakan lebih besar dari Putri Kai yang langsing dan lebih kecil.


Demikian pula wajah Permaisuri sebagai ibu kandung Putri Kai, atau wajah-wajah dua selir Kaisar. Mereka tidak menunjukkan raut keberatan jika pertarungan itu memang terjadi.


“Kehormatanku bisa lebih hancur jika kabar bahwa aku bertarung melawan Putri Kai tersiar ke dunia luar,” kata Pangeran Baijin.


“Tapi itulah syarat utama yang selalu diajukan oleh kakakku kepada lelaki yang mau menjadikannya istri!” sahut Pangeran Tsun, turut ambil bagian dalam ketegangan itu.


Pangeran Baijin terdiam. Ia sedang menimbang untuk mengambil keputusan. Ketika ia memandang kepada adiknya, Pangeran Bairin mengangguk samar.


“Baik, aku terima syarat dari Putri Kai!” jawab Pangeran Baijin akhirnya.


“Jika Pangeran menang dariku, maka Pangeran bisa pulang dengan membawa satu kemenangan. Namun jika kalah, Pangeran harus pulang dengan kekalahan total,” kata Putri Kai sambil berjalan ke tengah dan berhenti tidak jauh dari Pangeran Baijin. “Pangeran bisa menggunakan pedang.”


“Tidak. Aku akan menaklukkan Tuan Putri dengan tangan kosong,” kata Pangeran Baijin, lalu melemparkan pedangnya kepada Sala A Jin.


Crak!


Tangan kanan Sala A Jin menangkap badan pedang hijau itu.


“Silakan, pertarungan dimulai!” seru Kaisar Tsaw dengan wajah serius.


Pangeran Baijin mengatur posisinya untuk berhadapan sempurna dengan Putri Kai yang berdiri tanpa memasang kuda-kuda untuk bertarung. Ia berpikir, Putri Kai akan mengalami kesulitan dikarenakan pakaiannya yang rumit.


Pangeran Tsun, Pangeran Bairin, dan Perdana Menteri La Gonho kembali duduk.


“Tentunya Pangeran Baijin pernah mendengar kabar bahwa Putri Negeri Jang adalah seorang penyihir,” kata Putri Kai.


“Ya, aku mendengarnya, tetapi aku tidak percaya,” kata Pangeran Baijin yang kini yakin bahwa Putri Kai ahli seni bela diri. Karenanya ia merasa perlu bertarung dengan serius. “Maafkan aku jika tidak bersikap sungkan!”


Pangeran Baijin bergerak maju beberapa langkah dengan gerakan tangan mencoba mencengkeram bahu kiri sang putri. Namun, sebelum serangan Pangeran Baiji sampai, kaki kanan Putri Kai maju setindak dengan sedikit menghentak.


“Ahh!” keluh Pangeran Baijin terkejut dengan tubuh terlempar ke belakang lalu jatuh terjengkang di lantai istana.

__ADS_1


Pangeran Bairin dan Sala A Jin mendelik terperangah melihat tubuh besar Putra Mahkota terlempar tanpa disentuh oleh gerakan Putri Kai. Namun bagi keluarga kerajaan dan para perwiranya, kejadian seperti itu sudah beberapa kali mereka saksikan.


Dengan tatapan heran tapi tajam kepada sang putri, Pangeran Baijin bangkit berdiri. Ia melihat Putri Kai berdiri dengan tenang, seolah menunggu serangan berikutnya.


“Ternyata Putri Kai memiliki tenaga dalam yang tinggi,” membatin Pangeran Baijin. “Aku tidak bisa meremehkannya.”


Sadar akan apa yang dihadapinya, Pangeran Baijin lalu memasang kuda-kuda. Kemudian dia melakukan sejumlah gerakan untuk membangun tenaga dalam yang juga dimilikinya.


“Hiaaat!” pekik Pangeran Baijin sambil maju cepat beberapa langkah, selanjutnya dia melompat tinggi lalu menukik dengan tinju mengarah ke kepala Putri Kai.


Bung!


Terdengar gema yang menggetarkan perasaan orang yang mendengarnya, ketika Putri Kai menaruh punggung tangan kirinya di kepala. Tinju Pangeran dan telapak tangan Putri tidak bertemu kulit, tetapi saling bertemu tenaga dalam yang kuat tapi kasat mata. Seiring itu, dua jari tangan kanan Putri Kai menusuk ke atas.


“Akh!” pekik Pangeran Baijin dengan tubuh terlempar keras lalu jatuh lebih jauh menghantam lantai istana.


“Kakak!” seru Pangeran Bairin cemas. Ia cepat bergerak mendapati kakaknya yang mulutnya mengeluarkan darah.


Meski dua jari Putri Kai tidak menyentuh perut Pangeran Baijin, tetapi tenaga dalam tinggi yang ada di depan jari itu kuat menusuk perut dan mendorong tubuh Pangeran Baijin.


Pangeran Baijin yang sudah terluka dalam, bergerak berusaha berdiri dengan dibantu Pangeran Bairin.


Semua mata pun tertuju kepada Kaisar Tsaw. Putri Yuo Kai mengendurkan dirinya dan beralih menghadap kepada ayahnya.


Pangeran Baijin terpaksa meredam dan memendam kemarahannya yang kian memuncak. Tubuhnya terasa sangat sakit, tetapi ia berusaha untuk menahannya. Pengawal Sala A Jin sudah berada di sisinya dan memapahnya.


“Hasilnya telah jelas. Aku selaku Kaisar Negeri Jang, memutuskan bahwa putriku belum bisa menerima Putra Mahkota Negeri Ci Cin sebagai calon suami. Jika Pangeran Baijin berkenan, pulihkan dulu luka yang Pangeran alami di bawah pengobatan tabib kekaisaran, sebab kami memiliki tabib yang sangat baik ilmu pengobatannya,” kata Kaisar.


“Terima kasih atas tawaran Yang Mulia.” Yang berkata kali ini adalah Pangeran Bairin. “Kami sudah merasa dihinakan dan kami akan pulang dengan membawa kegagalan total. Tentunya akan lebih malu kami jika harus berlama-lama di negeri ini.”


“Keberhasilan dan kegagalan adalah hal yang biasa ada dalam hidup ini. Aku berharap, kalian tidak menyimpan begitu dalam di hati atas peristiwa hari ini,” kata Kaisar Tsaw.


“Seperti yang tadi aku katakan, Yang Mulia. Jika aku gagal dan kalah, maka aku akan mundur untuk datang kali kedua demi kemenangan!” kata Pangeran Baijin dengan wajah meringis menahan sakit.


“Aku akan menunggu kedatangan keduamu, Yang Mulia Pangeran,” sahut Putri Yuo Kai dingin.


Pangeran Baijin menatap tajam paras cantik Putri Yuo Kai. Lalu ia menjura hormat kepada Kaisar Tsaw.


“Kami pamit diri, Yang Mulia!” ucap Pangeran Baijin.

__ADS_1


Pangeran Bairin dan Pengawal Salah A Jin pun menjura hormat. Kaisar Tsaw mengangguk.


“Silakan,” kata Kaisar.


Ketiga pria itu pun berbalik dan berjalan pergi membawa perasaan yang hancur dan kemarahan yang tidak bisa mereka lampiaskan.


“Putri Kai kakakku tersayang, jika caramu terus seperti ini, bisa-bisa kau akan menua tanpa rasa cinta,” kata Pangeran Tsun sambil berjalan menghampiri kakaknya.


Tek! Duk!


Putri Kai menghentakkan telunjuknya ke arah adiknya itu sebelum sampai mendekat kepadanya. Satu kekuatan tidak terlihat melesat dan menusuk paha kanan Pangeran Tsun. Pemuda tampan itu terkejut karena tiba-tiba paha kanannya sakit dan membuatnya langsung jatuh berlutut.  Setelahnya ia tidak bisa bergerak sedikit pun, apalagi bangkit berdiri.


“Kakak!” pekik Pangeran Tsun panik.


Kejadian itu juga membuat Permaisuri Fouwai, Selir Ni dan Selir Yim agak panik, terlihat dari keterkejutan mereka.


“Kakak, lepaskan aku!” teriak Pangeran Tsun.


Namun, Putri Kai tidak mengindahkan adiknya. Ia menghadap kepada ayahnya.


“Tamu telah pergi, acara telah selesai. Izinkan hamba untuk mohon diri,” kata Putri Kai.


“Silakan, putriku,” ucap Kaisar Tsaw dengan senyum kecilnya, meskipun ia tahu bahwa tindakan putrinya itu berisiko menimbulkan permusuhan dengan Negeri Ci Cin. Namun, siapa yang bisa mengendalikan putrinya itu? Sejauh ini belum ada yang mampu menundukkan keangkuhan dan kesaktian Putri Yuo Kai. Ia masih bersyukur, putrinya masih menjunjung tinggi rasa hormat kepadanya selama ia tidak menerapkan paksaan terhadap anak sulungnya itu.


Putri Kai lalu menjura hormat kepada ayah dan ibunya. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi.


“Kakak! Lepaskan aku!” teriak Pangeran Tsun panik, ia tidak mau ditinggalkan dalam kondisi seperti itu.


Sambil berjalan di sisi Pangeran Tsun, tangan kanan Putri Kai menepuk belakang kepala adiknya itu.


Bluk!


“Ak!” pekik Pangeran Tsun karena tubuhnya terdorong ke depan, memaksanya jatuh dengan wajah lebih dahulu.


Semua yang melihat insiden itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


Namun, setelah jatuhnya itu, Pangeran Tsun bisa bergerak dan bangun kembali. Pengawal Tan Ma segera membantu tuannya untuk berdiri.


Putri Kai terus berjalan pergi. Pengawal dan dua pelayannya segera datang berjalan mengiringi di belakangnya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2