
*Cincin Darah Suci*
Joko Tenang dan Limo Shin berdiri berhadapan di atas salah satu perahu kecil yang banyak ditambatkan di parit lebar itu.
Sementara Putri Yuo Kai sibuk menghadapi serangan dua wanita lainnya di atas jembatan yang sudah hancur.
Joko Tenang sunggingkan senyum yang justru bagi Limo Shin dianggap menyinggung.
Dak!
Satu kaki Joko menjejak lantai ujung perahu dengan bermodal tenaga dalam, membuat ujung perahu yang dipijaknya melesak masuk ke air lebih dalam dan ujung yang dipijak oleh lawan terangkat lebih tinggi, melempar naik tubuh Limo Shin ke udara.
Joko pun bertolak naik ke udara memberi serangan percobaan kepada Limo Shin. Mereka bertemu di udara. Sepuluh pukulan dalam dua detik Joko lancarkan, semuanya bisa ditangkis oleh Limo Shin hingga keduanya turun kembali ke lantai perahu yang sama.
Joko Tenang mundur lagi ke ujung perahu. Demikian pula Limo Shin.
Ses! Ctaar!
Terkejut Chen Ho yang masih berdiri di atap rumah sana. Joko Tenang yang sedang asik berhadapan dengan Limo Shin di perahu, tiba-tiba tanpa menengok mengirimkan satu sinar merah berbentuk pisau ke arah tempat berpijak Chen Ho.
Sinar merah dari Pukulan Pisau Neraka yang sifatnya menghancurkan atau meledakkan, memaksa Chen Ho melompat dan berkelebat turun, meninggalkan atap rumah yang hancur sepeninggalnya.
Sers! Blar!
Dalam kelebatannya di udara, Chen Ho melesatkan sebola sinar kuning sebesar genggaman kepada Joko yang sekaligus menghancurledakkan perahu yang dipijak.
Serangan tiba-tiba Joko tadi memang bertujuan memancing Chen Ho melakukan serangan balasan. Sesuai perkiraan, maka pastinya Joko dan Limo Sin akan melompat pergi dari perahu yang kemudian hancur pecah.
Jika Limo Shin melompat dari perahu bertujuan menyelamatkan diri, maka berbeda dengan lompatan Joko Tenang yang sudah terencana. Lompatan Joko bermaksud menyerang Limo Shin di udara. Karenanya, ketika melompat, tubuh Joko langsung melesat cepat kepada Limo Shin yang justru tidak siap.
Bababak!
Jburr!
Serangan Joko yang datang kepadanya terlalu cepat. Tendangan beruntun yang disarangkan Joko pun dua kali lipat lebih cepat dari serangan percobaan tadi.
Maka tiga tendangan keras dalam setengah detik menghajar dada Limo Shin yang membuatnya meluncur deras ke dalam air.
Setelah serangannya itu, Joko mendarat di perahu lain. Sementara Chen Ho yang baru saja menghancurkan satu perahu, juga telah berdiri di perahu yang lain.
Sementara itu di atas jembatan, posisi Putri Yuo Kai tampaknya terdesak. Ia menghadapi empat serangan sekaligus.
Jurus cakaran Lien Hua yang mengandung racun ganas mengancam sang putri dalam pertarungan jarak dekat, ditambah piringan tajamnya yang berbalik melesat kembali menargetkan sang putri. Sementara Li Wei muncul tiba-tiba dan melesatkan sekumpulan pita merah penjerat. Di sisi lain, dari ujung jembatan Yelu Yong melesatkan ujung rantai besarnya.
Meski memiliki ilmu perisai dan tenaga dalam tinggi, tetapi Putri Yuo Kai merasa akan sangat berisiko jika mencoba menahan empat serangan maut itu. Satu-satunya jalan adalah dengan cara naik ke atas.
Maka meluncurluruslah Putri Yuo Kai naik ke angkasa seperti roket.
__ADS_1
Ctar!
Akibatnya, ujung rantai Yelu Yong menghantam piringan Lien Hua hingga hancur. Pita-pita Li Wei mengikat ruang kosong dan Lien Hua sendiri cepat melindungi dirinya dengan tenaga dalam perisai dari salah sasaran.
“Rasakan kehebatan Gurita Besar!” teriak Putri Yuo Kai di puncak luncurannya sambil menusukkan dua tangannya yang menyatu lurus ke bawah.
Zesss! Bduaar!
Sinar putih samar melesat sekilas dari atas ke bawah dan langsung menghancurledakkan sisa-sisa jembatan. Air parit melompat dahsyat seolah ingin mengudara setinggi-tingginya. Daya ledaknya langsung mementalkan tubuh Li Wei dan Lien Hua.
Beruntung Lien Hua yang sudah membentengi diri, dia hanya terlempar ke dalam air. Sementara Li Wei harus terpental lebih jauh dan menghantam dinding tanggul lalu jatuh ke air.
Di saat yang sama, si gendut Yelu Yong berdiri perkuat kuda-kudanya sambil mempertahankan diri dari hantaman serpihan kayu jembatan yang bermentalan hebat bersama bebatuannya.
Tubuh Putri Yuo Kai melayang turun laksana bidadari pagi yang memukau banyak mata, termasuk mata Joko Tenang. Ia mendarat seperti jatuhnya kapas ke atas sebuah perahu di pinggiran tanggul, tidak begitu jauh dari Joko Tenang dan Chen Ho.
Pertarungan jeda sejenak untuk mengambil napas.
“Pengawal Angsa Merah datang!”
Teriakan 12 suara perempuan yang bersamaan dan mengandung tenaga dalam, mengejutkan semua orang, hingga memaksa bulu roma merinding. Hanya sang putri yang tetap terlihat tenang karena ia sudah memperkirakan kedatangan dari pasukan elitnya itu.
Joko, kelima pendekar, dan warga sekitar yang ada, seketika itu juga memandang ke arah kiri parit.
Sedetik kemudian, dari balik bangunan-bangunan sebelah kiri muncul berterbangan perempuan-perempuan berparas cantik-cantik berpakaian merah. Mereka semua mendarat dan berbaris di atas tanggul sisi kiri, tidak jauh dari posisi Putri Yuo Kai.
“Pengawal Angsa Merah memberi hormat kepada Yang Mulia Putri! Melindungi sampai nyawa terpisah!” seru mereka serentak yang mempengaruhi nyali para musuh.
“Kepuuung!” teriak seseorang tiba-tiba.
Breg! Breg! Breg...!
Dari dalam beberapa jalan di sisi kiri muncul sekelompok pasukan berseragam hitam-hitam dengan jumlah yang banyak, ada ratusan orang. Mereka berlari rapi segera membentuk formasi. Pasukan panah segera ambil posisi yang bagus untuk bisa membidik dengan baik.
“Kepuuung!”
Breg! Breg! Breg...!
Tiba-tiba terdengar pula teriakan komando dari wilayah kanan parit. Ratusan prajurit berseragam hitam-hitam dengan berbagai jenis senjata muncul dalam formasi barisan yang rapi dan teratur. Mereka pun langsung mengambil posisi.
Dari kanan parit muncul satu kuda yang ditunggangi oleh Komandan Naga Merah Tengah Bu Ruong. Sehubungan Komandan Naga Merah Selatan Ram Pok dan pasukannya tidak sanggup mengatasi masalah keamanan, maka Komandan Bu Ruong diperintahkan membantu.
Sementara di kiri parit muncul dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Pangeran Tutsi Han Tsun yang tampil dalam pakaian perangnya, lengkap dengan zirahnya yang berwarna hijau terang, tetapi dia tidak mengenakan helm pelindung. Sebuah pedang bagus terpasang di pelana kudanya.
Kuda yang bersama Pangeran Han Tsun ditunggangi oleh Tan Ma, pengawal pribadi sang pangeran. Ia hanya memakai seragam perang yang secukupnya, tidak selengkap junjungannya.
“Munduuur!” teriak Chen Ho tiba-tiba, panik melihat situasi itu.
__ADS_1
Chen Ho yang berdiri di atas perahu, segera berkelebat pergi berniat kabur. Namun....
“Kalian harus bertanggung jawab!” seru Joko Tenang yang bisa melihat gelagat Chen Ho.
Joko Tenang menghilang dari perahu tempat ia berdiri. Tahu-tahu muncul di udara menghadang lesatan tubuh Chen Ho.
Dak!
“Hukh!” keluh Chen Ho yang hanya bisa terkejut dengan cara munculnya Joko, yang setengah detik kemudian, kaki Joko sudah membabat perutnya dengan begitu ganas.
Broakr!
Tubuh Chen Ho meluncur deras menghantam perahu hingga patah dua. Ia pun meluncur masuk ke air menuju dasar parit.
“Bunuh!” teriak Putri Yuo Kai memberi perintah kepada Pengawal Angsa Merah.
“Siap!” teriak Pengawal Angsa Merah serentak.
Maka, tanpa diatur lagi, tiga orang personel Pengawal Angsa Merah langsung berkelebat menyerang Li Wei yang sudah naik dari dalam air. Tiga orang juga melesat pergi menyerang Lien Hua yang kuyup di atas sebuah perahu. Tiga orang menyerang Limo Sin dan tiga orang lagi menyerang Yelu Yong.
Meski tidak ada kesempatan untuk kabur atau istilah halusnya untuk mundur, Li Wei dan teman-temannya juga tidak mau menyerah. Seperti yang dilakukan oleh Yelu Yong, ia justru lebih dulu menyerang kedatangan tiga personel Pengawal Angsa Merah dengan permainan rantainya yang membara biru. Itu artinya, rantai itu tidak boleh disentuh atau rantai itu menyentuh, kecuali bagi orang yang memiliki ilmu pelindung yang tinggi.
Namun, Pengawal Angsa Merah memiliki kecepatan gerak yang sulit diikuti. Senjata rantai dengan mudah mereka elaki dan jauhi. Rantai itu justru menjadi kelemahan Yelu Yong karena tangannya hanya fokus memainkan rantai. Sedangkan tiga wanita berpakaian merah menyerang bergantian dalam ritme yang sangat cepat. Bukan hanya cepat, tetapi juga tenaganya tidak main-main.
Pak!
“Hugk!” keluh Yelu Yong saat dia terpaksa mengadu telapak tangan dengan seorang lawannya.
Pertemuan tapak tangan yang lembut dengan tangan besar Yelu Yong menciptakan benturan tenaga yang hebat, membuat lelaki besar itu terjajar setindak.
Ketika Yelu Yong merasakan ada serangan datang dari belakangnya, ia menghentakkan sedikit pegangan tangan kanannya pada rantai, membuat ujung rantai langsung meliuk menyerang lawan yang datang dari belakang. Demi menghindari ujung rantai, penyerang dari belakang terpaksa menahan serangannya.
Tsep!
“Aaakhrr!”
Pada saat yang bersamaan serangan dari depan juga datang berupa tusukan lima jari. Dengan tangan kirinya, Yelu Yong berusaha memangkas serangan itu dengan tinju tangan kirinya.
Namun, lima jari yang datang menusuk itu tiba-tiba meliuk gesit dan masuk menusuk dada Yelu Yong. Lelaki gendut itu pun meraung. Yang tidak diketahui banyak orang, termasuk oleh Yelu Yong, Pengawal Angsa Merah memiliki tangan yang setajam pedang.
Maka, lima jari yang menusuk, masuk seperti benda tajam ke dalam dada Yelu Yong.
Crass!
Sekejap selanjutnya, satu Pengawal Angsa Merah datang terbang menangkap kepala Yelu Yong dari belakang dan menyembelih leher gemuk itu menggunakan jari-jarinya. Darah pun seketika bermancuran dari leher Yelu Yong.
Meski sepasang kaki Yelu Yong masih kuat berdiri, tetapi tusukan pada dada dan leher yang disembelih membuatnya harus menyerah.
__ADS_1
Crek! Blugk!
Rantai panjang dan besarnya jatuh lepas dari tangannya. Selanjutnya, tubuh besarnya yang tumbang seperti batang kayu ke tanah dengan tubuh bersimbah darah. (RH)