
*Cincin Darah Suci*
Jie Moi adalah salah satu dari tiga murid Penebar Mimpi Buruk. Ia seorang yang gagah dan tampan. Putra bangsawan dari Negeri Lor We.
Saat ini Jie Moi sedang berdiri di balik tiang. Ia mengintip aktivitas seorang wanita cantik berpakaian hijau muda. Wanita yang diintipnya itu sedang duduk bersila. Kedua tangannya melakukan gerakan-gerakan berulang mengandung tenaga dalam.
“Kakak Jie!”
Tiba-tiba ada panggilan suara wanita di belakang si pemuda, seiring ada tepukan pelan di bahunya dari belakang.
Jie Moi menggeragap terkejut dan cepat berpaling ke belakang. Ia mendapati Tu Xie Yua telah berdiri sangat dekat dengannya.
“Yuk!” ajak gadis cantik berpakaian merah itu sambil memegang tangan Jie Moi dan menariknya berlari kecil.
Jie Moi terkejut, tetapi ia menurut mengikuti tarikan Xie Yua, menjauhi tempat latihan.
“Adik Xie, apa yang kau lakukan? Kau mau membawaku ke mana?” tanya Jie Moi, tapi tetap ikut berlari.
Xie Yua hanya tertawa-tawa tanpa menjawab pertanyaan Jie Moi.
Akhirnya Xie Yua berhenti di bawah sebuah pohon rindang yang tumbuh di taman belakang. Xie Yua tersenyum-senyum menghadap Jie Moi. Tangannya tetap memegangi pergelangan tangan kanan pemuda berpakaian hitam itu.
“Adik Xie, mengapa kau membawaku ke sini?” tanya Jie Moi.
“Kakak Jie, ada hal penting yang ingin aku beri tahukan kepadamu,” ujar Xie Yua. Ia tersenyum-senyum malu.
“Hal apa?” tanya Jie Moi dengan tatapan agak curiga.
“Kakak Jie, kita sudah lima tahun bersama-sama di Lembah Keheningan ini,” kata Xie Yua.
“Benar,” ucap Jie Moi.
“Apakah selama ini Kakak Jie tidak merasakan sesuatu terhadap diriku?” tanya gadis itu seraya menatap lekat wajah tampan pemuda di hadapannya itu.
“Aku, aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu, Adik Xie,” kata Jie Moi agak tergagap. Dalam hati, ia merasa kecurigaannya benar.
Mendengar perkataan pemuda itu, Xie Yua agak kesal. Ia menarik ke dalam kedua sudut bibirnya, menunjukkan kekesalannya kepada pemuda itu. Sementara tangannya masih memegangi tangan Jie Moi.
“Kakak Jie, apakah Kakak selama lima tahun ini tidak membaca perhatianku kepada Kakak? Aku... aku mencintai Kakak Jie selama ini,” ujar Xie Yua lirih dan agak terbata. Ia harus mengungkapkannya, meski ia adalah seorang wanita. Ia sudah tidak bisa bersabar untuk menunggu Jie Moi yang menyatakan cinta kepadanya.
Meski kecurigaan Jie Moi akhirnya benar, tetap saja ia terkejut. Cepat dia menarik lepas tangannya dari tangan Xie Yua. Wajahnya berubah datar.
__ADS_1
“Ma... maafkan aku, Adik Xie,” ucap Jie Moi tergagap. “Maaf, aku tidak bisa.”
“Kenapa, Kakak Jie? Selama ini hubungan kita akrab, hubungan kita baik-baik saja. Apakah kita berdua tidak bisa bersama?” tanya Xie Yua agak berteriak, ia ingin menangis.
“Maaf, Adik Xie,” ucap Jie Moi pelan. Ia lalu berbalik dan melangkah hendak meninggalkan Xie Yua.
Namun, tiba-tiba Xie Yua menyambar tangan Jie Moi hingga memaksa pemuda itu berbalik. Saat pemuda itu berbalik, Xie Yua langsung bergerak menubruk tubuh Jie Moi. Xie Yua memeluk erat pinggang pemuda itu dan ia menyandarkan sisi kepalanya ke dada bidang Jie Moi.
“Aku begitu mencintai Kakak,” ucap Xie Yua sembari menangis dalam memeluk Jie Moi.
Si pemuda bingung harus berbuat apa. Jika ia memaksa melepaskan pelukan Xie Yua, tentunya itu akan terlalu jahat bagi wanita yang dianggapnya tidak lebih sebagai adik seperguruannya itu. Akhirnya, Jie Moi membiarkan Xie Yua memeluknya dan menangis di dalam pelukan itu.
Tanpa keduanya ketahui, seorang wanita cantik nan anggun berpakaian hijau muda lewat di pagar taman, menyaksikan adegan pelukan sepihak yang cukup lama itu. Wanita cantik itu tidak lain adalah Putri Tutsi Yuo Kai.
Ketiganya adalah murid tokoh sakti ternama bernama Penebar Mimpi Buruk.
Putri Yuo Kai tidak memiliki ekspresi saat melihat adegan itu. Ia tidak peduli dan memang ia hanya sekedar lewat di pinggir taman belakang perguruan tersebut.
Seperginya Putri Yuo Kai, Jie Moi dengan lembut mencoba mendorong bahu Xie Yua. Gadis itu pun melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya.
Tanpa kata, Jie Moi berbalik dan melangkah pergi. Xie Yua diam, ia menatap dengan sedih.
Jie Moi berhenti sejenak mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian, dia melanjutkan langkahnya meninggalkan taman belakang itu.
Meski Jie Moi tidak menjawab, tetapi Xie Yua sangat yakin bahwa dugaannya benar.
“Mengapa selalu Putri Yuo Kai yang mendapatkan segalanya?” tanya Xie Yua lirih pada dirinya sendiri. Memikirkan kemalangannya, ia kembali menangis seorang diri di bawah pohon itu.
Kenyataan pahit itu membuat Xie Yua semakin menaruh rasa dengki kepada Putri Yuo Kai. Namun, kedengkian itu tidak pernah ia tampakkan kepada sang putri. Dalam keseharian di perguruan, Xie Yua tetap akrab dan menjadi sahabat dekat sang putri yang memiliki karakter dingin.
“Putri Yuo Kai, aku sudah lama mencintaimu,” ujar Jie Moi suatu hari, saat ia memutuskan untuk menyampaikan perasaannya kepada sang putri. Ia sudah lama memupuk keberanian untuk menyampaikan hal itu.
“Maafkan aku, Kakak Jie. Aku datang ke Lembah Keheningan hanya untuk berguru, bukan untuk mencari pasangan hati,” kata Putri Yuo Kai menolak dengan halus. “Terlebih kau adalah orang yang sangat Xie Yua cintai.”
Maka patahlah hati Jie Moi. Namun, itu tidak membuatnya patah semangat.
Waktu pun berlalu. Hingga suatu hari kemudian, Penebar Mimpi Buruk telah mengizinkan Putri Yuo Kai kembali ke Istana Negeri Jang. Putri Yuo Kai telah mewarisi semua ilmu yang dimiliki oleh Penebar Mimpi Buruk, meski tingkatnya masih di bawah gurunya.
Saat Putri Yuo Kai hendak pergi, Jie Moi memutuskan untuk mengungkapkan kembali rasa cintanya kepada sang putri, karena akan sulit bisa bertemu lagi jika sang putri sudah berada di Istana. Namun, Putri Yuo Kai memberikan alasan yang sama dalam menolak cinta Jie Moi.
“Meskipun seandainya, Xie Yua bukan wanita yang mencintai Kakak, aku tetap tidak bisa menerima cinta Kakak Jie!”
__ADS_1
Itulah kalimat tambahan untuk Jie Moi.
Xie Yua yang mengetahui bahwa Jie Moi ditolak, merasa memiliki peluang besar untuk membuat Jie Moi mencintainya.
Setelah kepulangan Putri Yuo Kai, murid yang masih berguru tinggal Jie Moi dan Xie Yua. Gadis itu terus menjalin keakraban dengan Jie Moi.
Hingga suatu hari, Xie Yua kembali menyatakan cintanya kepada Jie Moi, bahkan menyatakan bahwa dia siap mengorbankan kesuciannya sebagai bukti besar cintanya kepada pemuda asal Negeri Lor We itu.
“Cinta dan hatiku tetap untuk Putri Yuo Kai. Jika Putri Yuo Kai menolakku, maka hatiku tidak akan aku berikan kepada wanita mana pun!” tegas Jie Moi kepada Xie Yua.
Hati Xie Yua bukan lagi patah, tetapi hancur saat itu. Ia kembali menyalahkan Putri Yuo Kai. Sejak itulah, Xie Yua menaruh dendam kepada Putri Yuo Kai.
Namun, hingga lebih sepuluh tahun lamanya, Xie Yua bisa menyembunyikan rasa dendam cinta dan dengkinya terhadap Putri Yuo Kai. Statusnya tetap sebagai sahabat Putri Yuo Kai dan saudara satu guru.
Status sosial yang sangat berbeda dari Putri Yuo Kai, membuat Xie Yua kemudian bekerja membangun modal kekuatan. Ketika kemudian ayahnya diangkat sebagai Menteri Kehakiman, ia pun memanfaatkan peluang dengan membangun jaringan.
Salah satunya adalah berkenalan dengan pemimpin Kelompok Hutan Timur yang dianggap telah musnah. Sebagai sahabat sang putri, dia tahu bahwa Putri Yuo Kai lah orang dibalik pembasmian Kelompok Hutan Timur sepuluh tahun yang lalu. Didorong oleh rasa dendam yang lama terpendam, Xie Yua kemudian membantu Ushang La menghidupkan kembali Kelompok Hutan Timur.
Setelah tiba di perbatasan timur Negeri Jang, tepatnya di kota Wuyung, Putri Yuo Kai yang memimpin pasukan sebanyak lebih 60.000 prajurit, tidak mendapati ada pasukan Negeri Ci Cin atau pasukan musuh lainnya yang datang menyerang.
Putri Yuo Kai justru kedatangan seorang utusan dari Kaisar Negeri Lor We. Utusan itu menyampaikan sejumlah kabar bahwa pasukan Ci Cin hanya sampai di dekat perbatasan kota Mago. Dari titik itu, pasukan Ci Cin mundur karena mereka kehilangan pemimpin.
Pasukan Lor We melakukan pengejaran terhadap pasukan Ci Cin. Meskipun jumlah pasukan Ci Cin masih lebih banyak, tetapi mereka telah kehilangan mental berperang. Pasukan Ci Cin terpaksa meninggalkan harta bawaan mereka demi bisa lolos dari pengejaran. Pasukan Lor We mendulang banyak harta rampasan perang. Mereka pun kembali bisa membebaskan kota-kota dan daerah yang sebelumnya ditaklukkan oleh Pangeran Baijin.
Utusan Negeri Lor We itu juga menyampaikan kabar bahwa Pangeran Baijin telah tewas di tangan tiga pendekar asing. Tiga pendekar asing itu terdiri dari satu lelaki dan dua wanita. Diceritakan pula bahwa ketiganya pergi dengan menaiki seekor burung raksasa.
Putri Yuo Kai hanya tersenyum mendengar kisah itu. Itu artinya, suaminyalah yang mengalahkan Pangeran Baijin dan pasukannya.
Setelah urusan perang dan perbatasan selesai, Putri Yuo Kai kembali ke Ibu Kota lalu memfokuskan diri untuk memburu buronan nomor satu, yaitu Xie Yua, sahabatnya sendiri.
Setelah mendapat informasi intelijen, Putri Yuo Kai memimpin langsung penangkapan Xie Yua yang bersembunyi di luar Ibu Kota.
Adalah hal yang sangat menyakitkan bagi Putri Yuo Kai harus menangkap sahabatnya sendiri. Akhirnya, Xie Yua pula yang menceritakan motif dibalik pengkhianatannya terhadap Negeri Jang.
Usainya pemberontak diberantas, Putri Yuo Kai kemudian memfokuskan diri melakukan persiapan untuk menyusul suaminya ke Tanah Jawi. Ia menjalani kursus kilat bahasa kepada Su Mai sebelum mengatur perjalanannya. (RH)
******
TERIMA KASIH kepada seluruh READERS yang sudah setia dan AUTHORS sahabat yang sudah mendukung karya OM RUDI.
Season "Cincin Darah Suci" telah berakhir dan masuk ke dalam perjalanan season "DESA WONGAWET" yang akan disingkat "Dewo".
__ADS_1