Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
98. Percakapan Gambar


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Sun Ming adalah seorang lelaki kurus berusia 50-an tahun. Ia adalah juru lukis kerajaan. Saat ini dia mengenakan pakaian warna merah dengan dalam warna kuning. Ia sudah berada di antara Putri Yuo Kai dan Joko Tenang.


Mereka berdiri mengelilingi sebuah meja yang di atasnya sudah tersedia dua tumpukan kertas lebar, satu di depan Sun Ming dan satunya di depan Joko Tenang. Di setiap sisi kanan tumpukan kertas tersedia mangkok kayu khusus untuk tinta warna hitam dan sebuah kuas.


Joko Tenang sendiri sudah memperkenalkan dirinya bernama “Joko Tenang”. Sedangkan Joko mengenal Putri Yuo Kai sebagai “Ratu Yuo Kai”.


“Tanyakan, apakah dia dewa!” perintah Putri Yuo Kai kepada Sun Ming.


Sun Ming mengambil kuas lalu dicelupkan ke tinta, kemudian dengan cekatan kuasnya menari di atas lembaran kertas. Sun Ming melukis hamparan tanah dan beberapa orang di atasnya, juga melukis langit dan dua orang lelaki di atasnya dengan pakaian bagus dan bermahkota. Meski hanya berwarna hitam, tetapi Sun Ming bisa membuat lukisan yang jelas bagi mata yang melihatnya. Gambar dua orang di atas langit kemudian Sun Ming lingkarkan.


“Ini adalah dewa di atas langit,” kata Sun Ming kepada Joko yang berseberangan meja dengannya. Ia lalu menunjuk Joko dan bertanya, “Apakah Tuan adalah dewa?”


Joko Tenang manggut-manggut tanda mengerti maksud pertanyaan Sun Ming. Joko lalu meraih kuas yang kemudian ujungnya ia celupkan sedikit ke tinta. Joko tidak menggambar di kertas untuknya, tetapi berjalan memutari meja dan berhenti di sisi Sun Ming. Ia lalu menyoret silang gambar orang di atas langit dan melingkari orang di atas bumi. Setelah itu, Joko kembali ke tempatnya semula.


Jawaban Joko itu membuat Putri Yuo Kai agak kerutkan alis.


“Tanyakan, kenapa dia jatuh dari langit dan menimpa istanaku!” perintah Putri Yuo Kai lagi.


Sun Ming pun kembali menggambar dengan lincah di kertas yang baru. Dalam waktu singkat, lukisannya pun kembali jadi. Ia melukis langit, seorang lelaki jatuh dari langit dan sebuah atap istana.


Sun Ming melingkari gambar lelaki yang meluncur jatuh dari langit ke atas atap istana.


“Jika Tuan Joko bukan dewa, lalu kenapa jatuh dari langit ke Istana Haram tempat Putri Yuo Kai tinggal?” tanya Sun Ming sambil menunjuk Joko dengan tunjukan yang santun.


“Hah! Aku jatuh dari langit?” tanya Joko dengan mimik bertanya kepada Putri Yuo Kai sambil menunjuk ke atas.


“Ya, kau jatuh dari langit dan menghancurkan Istana Haram-ku,” tandas Putri Yuo Kai.


“Aku tidak tahu,” jawab Joko sambil geleng-geleng. “Aku tidak tahu jika aku jatuh dari langit.”


“Jika dia tidak mengaku jatuh dari langit, katakan, banyak orang yang melihatnya jatuh dari langit!” kata Putri Yuo Kai kepada Sun Ming.


Sun Ming lalu menambahkan gambar dari lukisannya tadi, yaitu gambar kumpulan orang banyak yang sedang mendongak melihat ke arah gambar lelaki yang jatuh dari langit.


“Banyak orang yang melihat Tuan Joko jatuh dari langit,” kata Sun Ming.


“Tapi aku tidak tahu kenapa bisa jatuh dari langit,” kata Joko sambil menggeleng beberapa kali. “Aku tidak sadarkan diri.”


Joko menggambar di kertasnya yang masih kosong dari coretan. Dengan coretan yang buruk Joko mencoba menggambar seorang lelaki yang sedang tertidur. Hasilnya.....


Putri Yuo Kai tersenyum samar melihat hasil gambar Joko. Gambar Joko jauh dari gambar seorang lelaki yang tidur, justru lebih seperti batang kayu tergeletak lurus di tanah.


“Aku pingsan,” tandas Joko lalu berdiri diam sambil pejamkan matanya sejenak.


Putri Yuo Kai hanya memandangi wajah Joko, yang justru membuat perasaannya mendadak berdebar.


“Ada apa denganku?” membatin Putri Yuo Kai, dalam hati ia terkejut dengan munculnya debaran itu.


“Maksud Tuan Joko, Tuan sudah mati?” tanya Sun Ming.


“Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu sedangkan jelas dia masih hidup?” hardik Putri Yuo Kai.

__ADS_1


“Maafkan hamba, Yang Mulia Putri!” ucap Sun Ming sambil cepat berlutut.


“Bangunlah. Lanjutkan pekerjaanmu!” perintah Putri Yuo Kai.


Sun Ming pun segera berdiri.


“Tanyakan, kenapa dia tidak mati jatuh dari langit!” perintah Putri Yuo Kai.


Sun Ming lalu menggambar sebuah kuburan, masih di kertas yang sama.


“Mengapa Tuan Joko, jatuh dari langit, tetapi tidak mati?” tanya Sun Ming kepada Joko sambil menunjuk gambar satu per satu, yang terakhir gambar kuburan.


Joko Tenang menjawab dengan gelengan kepala.


“Membingungkan!” rutuk Putri Yuo Kai. Lalu perintahnya, “Tanyakan, dia berasal dari negeri mana. Agar aku bisa mencarikan penerjemah untuknya!”


Sun Ming membuka lembaran kertas baru. Kembali ia sibuk melukis. Hasilnya, Sun Ming melukis sebuah kota berlingkar benteng kokoh. Lalu ia menggambar sosok lelaki yang sama di luar benteng. Lelaki itu membawa tongkat dan buntalan kain.


“Aku, Sun Ming, Bo Fei, dan lainnya berada di sini, Negeri Jang,” kata Putri Yuo Kai sambil menunjuk gambar kota berbenteng dengan penekatanan intonasi suara pada nama “Jang”. “Lalu kau berasal dari negeri mana, Joko?”


“Jang,” sebut ulang Joko yang membuat Putri Yuo Kai agak kesal.


“Tolong Tuan Joko perhatikan. Kami semua berasal dari Negeri Jang. Kami ada di Jang. Tuan Joko sendiri berasal dari negeri mana?” Sun Ming menjelaskan ulang kepada Joko saat ia melihat Putri Yuo Kai menunjukkan ekspresi kesal.


“Jang?” sebut ulang Joko bertanya, sambil menunjuk ke bawah dengan memandang Putri Yuo Kai.


“Benar, benar, benar,” ucap Sun Ming berulang sambil manggut-manggut.


Joko lalu mulai menggambar lagi. Ia menggambar pantai dengan satu pohon kelapa.


“Jawa,” sebut Joko sambil menunjuk gambar pantai atau daratan. “Ada di wilayah selatan menyeberangi lautan.”


Joko Tenang kembali menggambar. Joko menggambar gunung yang puncaknya lancip, lalu sedikit di belakang gunung ada separuh bulatan yang diberi garis-garis seolah-olah bersinar. Itu gambar matahari terbit dari balik gunung. Di posisi yang berlawanan, Joko menguas tanda anak panah. Di sisi atas kertas juga ia beri anak panah yang menghadap ke atas. Di sisi bawah kertas juga ia buat anak panah menghadap ke bawah.


“Timur!” kata Joko sambil menunjuk gambar matahari terbit. Lalu menunjuk anak panah di sisi yang berlawanan. “Barat!”


Joko melengkapi sisi anak panah yang disebutnya “barat” dengan gambar gelombang laut dan setengah matahari terbenam.


“Timur, barat!” sebut Joko sambil menunjuk ulang gunung dan laut bergantian. Selanjutnya ia menunjuk panah di sisi atas kertas dan menyebut, “Utara, Jang. Utara, Jang!”


Putri Yuo Kai mengangguk pelan tanda mengerti. Joko lalu menarik turun tunjukan kuasnya ke anak panah yang bawah.


“Selatan, asal Joko Tenang. Joko di sini!” tandas Joko seraya menunjuk berulang titik selatan. Joko kemudian tersenyum lebar, seolah penjelasannya sudah selesai.


“Tuan Sun, tugasmu telah selesai. Rahasiakan keberadaan Joko di sini dan tentangnya,” kata Putri Yuo Kai kepada Sun Ming.


“Baik, Yang Mulia Putri. Hamba mohon undur diri,” ucap Sun Ming lalu membungkuk hormat kemudian mundur beberapa langkah dan berbalik pergi.


“Bo Fei!” panggil Putri Yuo Kai.


“Hamba, Yang Mulia Putri!” sahut Bo Fei yang selalu berdiri di tempatnya.


“Kirim pesan ke Ular Buta. Cari tahu tentang negeri Jawa di selatan, jauh di seberang lautan. Cari tahu pula, siapa yang pernah ke sana dan mengerti bahasa di sana. Jika ada orangnya, aku akan membayarnya mahal!” perintah Putri Yuo Kai.

__ADS_1


“Baik, Yang Mulia. Tapi, bagaimana dengannya?” tanya Bo Fei seraya memandang Joko yang berdiri memandangi mereka.


Joko kemudian berjalan menuju pintu keluar. Tindakan Joko itu mengejutkan Bo Fei. Tanpa diperintah, Bo Fei bergerak cepat menghadang langkah Joko, mengejutkan pemuda itu. Refleks Joko melompat mundur dengan layangan tubuh yang lembut. Kakinya yang mendarat di lantai papan pun tanpa suara sedikit pun, seolah Joko tidak memiliki berat badan.


Melihat cara Joko yang menjauh dari Bo Fei dengan tidak biasa, membuat Putri Yuo Kai menyimpulkan Joko memang bukan orang biasa. Ketidakbiasaan Joko jelas harus membuat Putri Yuo Kai dan para pengawalnya waspada.


“Jangan mendekatiku kurang dari tiga langkah!” seru Joko sambil menunjukkan tiga jari tangannya kepada Bo Fei dan Putri Yuo Kai.


“Jangan pergi, Tuan Joko tahanan di sini!” seru Bo Fei kepada Joko, tanpa memberi bahasa isyarat. Ia tidak menanggapi perkataan Joko karena ia dan Putri pun tidak mengerti.


Set! Tep!


Putri Yuo Kai yang berdiri di dekat meja tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya. Kuas yang tergeletak melesat tanpa disentuh, menyerang wajah Joko. Namun, sebelum menancap di wajah tampannya, dua jari tangan Joko lebih dulu menangkap batang kuas di depan wajahnya.


“Kenapa kalian menyerangku?” tanya Joko, lalu melempar kembali kuas di tangannya ke atas meja di depan Putri Yuo Kai.


Seset! Tetep!


Putri Yuo Kai kembali mengibaskan tangannya, lebih bertenaga. Tanpa disentuh, dua kuas di atas meja melesat lebih cepat dari sebelumnya. Menyerang Joko.


Tanpa harus bergeser dari berdirinya, jari-jari kedua tangan Joko menangkap lagi kedua kuas itu dengan tenang. Setelah itu, Joko kembali melemparnya ke meja, seolah membiarkan Putri Yuo Kai jika mau mengulanginya lagi.


Joko Tenang tersenyum kepada sang putri. Hal itu membuat Putri Yuo Kai merasa diremehkan, tetapi senyum itu juga kembali membuat hati sang putri berdesir indah.


“Orang ini begitu tampan, tapi sangat berbahaya,” membatin Putri Yuo Kai. Lalu perintahnya kepada Bo Fei, “Serang dia dengan pedang, jangan sungkan mencederainya!”


“Baik, Yang Mulia!” sahut Bo Fei seraya mengangguk.


Sing!


Bo Fei loloskan pedangnya. Putri Yuo Kau dan kedua pelayannya, Mai Cui dan Yi Liun, siap jadi penonton.


“Tunggu tunggu tunggu!” seru Joko sambil mengangkat tangannya agar prajurit wanita itu tidak menyerang.


Namun, Bo Fei hanya patuh pada perintah tuan putrinya. Sekali tolakkan kaki, Bo Fei telah melesat maju dengan satu tusukan pedang. Itu adalah serangan pembuka yang mematikan. Jika hanya menyerang seorang prajurit biasa, pasti sulit mengelak.


Joko Tenang menghindar dengan melompat mundur menjauh.


“Jangan mendekatiku tiga langkah!” seru Joko kepada Bo Fei dengan menunjukkan tiga jarinya yang berdiri tegak, tetapi ekspresi wajahnya tetap tenang.


Bo Fei tidak menggubrisnya. Ia langsung memburu Joko ke posisinya. Joko membiarkan sabetan pedang Bo Fei datang. Satu hindaran yang cepat, kemudian Joko kembali melesat menjauh di dalam ruangan yang besar itu.


Akhirnya pertarungan itu terjadi kucing-kucingan. Semua serangan pedang Bo Fei hanya menemui ruang kosong dan terus mengejar. Joko hanya melakukan dua hal, yakni mengelak sekali dan melesat menjauh seperti burung merpati.


“Kenapa Joko tidak mau bertarung, padahal Bo Fei bukan tandingannya? Wajahnya begitu tenang, seperti tidak memiliki kemarahan meskipun telah aku serang. Orang seperti apa sebenarnya Joko ini?” membatin Putri Yuo Kai.


Gagal serangan demi serangan, Bo Fei pun mencoba mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ia berhenti sejenak, pedang di tangannya ia lempar ke atas. Pedang yang telah lepas dari tangan itu tidak jatuh ke bawah setelah naik ke udara, tetapi mengambang di atas kepala.


“Bo Fei memainkan Tarian Pedang Gurun,” ucap Yi Liun.


“Aku yakin Joko bisa mengatasinya,” kata Putri Yuo Kai.


Bo Fei melakukan serangkaian gerakan tangan kosong di saat pedangnya mengambang di udara. Joko Tenang menunggu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2