
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
“Tidak aku sangka kau akan berkhianat, Reksa Dipa!” seru Terakak dengan tatapan yang tajam kepada sahabatnya yang kini jelas menjadi musuh.
“Kau mengenalku dengan baik, Terakak. Jika aku sudah pindah pengabdian, maka itu artinya kehancuran bagi pemimpin lama. Tidak mungkin aku mengabdi pada orang yang lebih lemah dari sebelumnya!” tandas Reksa Dipa.
“Kau lihat sendiri dengan jelas, jumlah kalian sangat jauh. Akan aku pastikan bahwa keyakinanmu itu kali ini sangat salah. Aku bujuk kau sekali lagi, Reksa. Kembalilah bersama Gerombolan Kuda Biru!” bujuk Terakak.
“Ayo bertarung!” ucap Reksa Dipa.
“Pengkhianat busuk!” maki Terakak, lalu mundur dua langkah dan kemudian memasang kuda-kuda.
Wus wus wus!
Debat perwakilan Gerombolan Kuda Biru dengan blok Pangeran Dira pun berakhir, ditandai oleh serangan tiga bayangan diri Reksa Dipa. Tiga bayangan itu berlari cepat menyerang Terakak. Sementara sosok Reksa Dipa yang asli melompat tinggi ke udara, ke atas kepala Terakak.
Bwuss!
Zess! Bruss!
Terakak cukup menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka. Melepaskan satu tenaga pukulan jarak jauh bertenagada dalam tinggi. Tenaga pukulan itu langsung menembus tiga sosok palsu Reksa Dipa yang buyar seketika.
Namun, pada saat yang sama, dari sisi atas, Reksa Dipa melesatkan dua sinar merah sekaligus kepada Terakak. Pemuda yang diserang cepat membungkuk, membuat cangkang kura-kurangnya menghadap ke atas untuk melindunginya. Dan memang, kedua sinar merah Reksa Dipa tidak berarti apa-apa bagi Terakak.
Ketika kaki Reksa Dipa baru saja menjejak tanah, Terakak langsung merangsek menyerang dengan kecepatan tinggi. Tempurung kura-kura di punggungnya seolah tidak menjadi beban baginya sedikit pun dalam bergerak.
Di pertarungan utama, Joko Tenang dan Getara Cinta berduet kembali, laksana duet raja dan ratu dangdut. Tubuh mereka yang bersinar hijau menyilaukan, hanya sebentar terjadi. Ketika sinar itu lenyap, Renggong Walu dan kedelapan rekannya kompak melakukan serangan serentak.
Kesembilan orang itu saling melesatkan ilmu ajian masing-masing yang beraneka ragam, sesuai selera masing-masing. Sinar hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru.
Tik! Swiit!
Bduar! Ctar ctar blar boom…!
Getara Cinta menjentikkan jarinya di atas kepala. Sekubah sinar hitam langsung mengurung posisi Getara Cinta dan Joko Tenang. Namun, sinar hitam tidak terlihat oleh para pengeroyok. Yang mereka lihat hanyalah bahwa kedua orang yang mereka serang beramai-ramai itu menghilang begitu saja.
Tahu-tahu rupa-rupa sinar ajian mereka berledakan di udara, menghantam dinding yang tidak terlihat. Berbagai ledakan warna tenaga sakti membuat wujud dinding perisai ilmu Selubung Alam sedikit terwujud sekejap.
Kesembilan pendekar itu hanya bisa terkejut.
Zerzz!
Aurgkk!
Seiring munculnya sosok Joko Tenang dan Getara Cinta, langsung disertai dengan lesatan lima garis listrik warna hijau dan sinar merah berwujud macan.
Ilmu Lima Jerat Terakhir langsung menyergap seorang pendekar pengeroyok. Pendekar itu terkejang-kejang dalam jeratan listrik hijau yang mengangkatnya naik ke udara.
Sementara macan sinar merah yang keluar dari Cincin Macan Penakluk melompat cepat menerkam seorang pendekar terdekat.
“Aaakh!” jerit kedua pendekar tersebut.
__ADS_1
Sementara pendekar yang lain dibuat terkejut oleh serangan itu.
“Heaat!” pekik seorang pendekar lain sambil datang dengan tusukan tombak besinya dari sisi samping Joko Tenang.
Zress!
Dengan menggunakan tinju sinar hijaunya, Getara Cinta menyambut mata tombak besi itu dengan tinjunya. Sedemikian dahsyatnya kekuatan tinju sinar hijau Getara Cinta, tombak yang berbahan besi itu seketika meleleh dengan cepat, seperti api membakar daun kering.
Melihat itu, pendekar bertubuh kekar itu terkejut dan memilih melepas tombaknya lalu buru-buru melompat mundur mencari aman.
Sementara itu, pendekar yang disengat ilmu Lima Jerat Terakhir, jatuh ke tanah dalam kondisi kulit berwarna hitam gelap, mengepulkan asap dan bau sangit. Sementara pendekar yang diamuk Macan Penakluk harus berakhir dengan tragis. Wajah dan badannya hancur dikoyak dan dicakar.
Di posisi yang lain, Lima Guguk Rembulan dengan riang gembira mengepung posisi Tirana yang hanya tersenyum manis melihat kecentilan para lelaki itu. Mereka semua mengeluarkan sebuah senjata yang sama, yaitu tongkat pendek dengan ujungnya memiliki replika tangan menggaruk yang terbuat dari tembaga. Senjata itu sangat tepat untuk menggaruk punggung yang gatal.
“Hahaha! Kita lucuti saja langsung pakaiannya!” seru salah satu dari pengeroyok itu.
“Serang!” teriak satu yang lain mengomandoi.
Wuss!
Namun, baru saja dua langkah maju hendak menggaruk tubuh Tirana, tepatnya bermaksud menggaruk pakaiannya, satu gelombang angin halus menerpa mereka. Kelima lelaki bercambang model Elvis Presley itu, mendadak berhenti mematung dengan pose masing-masing.
“Lelaki-lelaki cabul!” maki Tirana lalu menghempaskan kelima lelaki mesum itu dengan sekali hentakan angin tenaga dalam.
Lima Guguk Rembulan terlemparan tidak karuan. Namun, dengan demikian, keterpatungan mereka kembali hilang. Mereka buru-buru bangkit. Tawa gembira mereka ketika memandang Tirana kini berubah dengan tatapan buas, seolah berniat ingin membunuh Tirana saat itu juga.
Lima Guguk Rembulan kali ini benar-benar serius mau bertarung, bukan mau bermain perempuan. Malu rasanya jika harus berpentalan sekali gebrak oleh seorang wanita saja.
Di arena yang lain, Kerling Sukma mendapat pengeroyokan yang sengit dari tiga orang wanita yang berbeda usia dan senjata.
Wanita berpakaian jingga melakukan gerakan memutar kedua lengannya yang terentang lurus seperti baling-baling. Pada kedua tangan Wanita muda itu terikat dua pedang kecil. Ia mengincar tubuh Kerling Sukma.
Dengan gerakan tubuh yang luwes dan gesit, Kerling Sukma berjumpalitan menghindarinya.
Blets! Das! Tak!
Dari sisi lain, satu selendang merah melesat di saat Kerling Sukma menghindar. Serangan selendang itu sudah pasti akan mengenai Dewi Mata Hijau. Karenanya Kerling Sukma lebih memilih berhenti dan menghantam ujung selendang dengan satu pukulan telapak tangan. Pada saat yang sama, ia harus menangkis satu tangan pedang lawannya.
Wanita berpakaian biru pemilik selendang harus terjajar tiga tindak karena kalah tingkat tenaga dari Kerling Sukma. Sementara gadis berbaju jingga meneruskan serangannya dengan sabetan tangannya yang lain. Mudah bagi kerling Sukma melompat mundur menghindari sabetan pedang,
Namun, lesatan satu caping berwarna hitam telah datang menyambut hindaran Kerling Sukma. Tidak sempat melompat menghindar, Kerling Sukma langsung jatuhkan tubuh ke belakang melakukan kayang, membuat caping hitam milik wanita berpakaian putih melesat lewat di atas perutnya.
Posisi Kerling Sukma itu dinilai peluang bagi wanita berbaju jingga. Namun, ketika serangan pedang datang, Kerling Sukma justru menaikkan kedua kakinya ke atas, membuat gadis bertubuh lentur itu berdiri terbalik dengan kedua tangannya. Lalu ia tolakkan tangannya membuat tubuhnya melenting ke udara dan bersalto tepat di atas wanita berpakaian jingga.
Blet!
Baru saja Kerling Sukma mau mengirimkan pukulan jarak jauh dari atas, selendang merah telah melesat menyerang Kerling Sukma di udara.
Das!
“Hukh!”
__ADS_1
Kerling Sukma terpaksa mengurungkan niatnya dan berganti dengan menapak ujung selendang yang kerasnya sekeras benda padat.
Berbeda dengan yang tadi, kali ini pukulan telapak tangan Kerling Sukma jauh lebih bertenaga dalam tinggi. Wanita berpakaian biru itu sampai terjengkang dan mengeluh sambil pegangi dadanya yang terasa sesak.
Di sisi lain, Turung Gali dikeroyok oleh lima pendekar. Ternyata Turung Gali memiliki metode tarung yang agak berbeda. Ia memilih satu lawan tanpa mempedulikan empat lainnya. Keempat lainnya hanya diserang sekaligus secara umum.
Turung Gali memilih seorang lelaki berusia empat puluhan dan bersenjata tongkat bambu berwarna natural. Meski Turung Gali tanpa senjata, tetapi kecepatan gerakannya membuat lawannya yang bersenjata tongkat tidak dapat berbuat banyak.
Turung Gali memepet lawannya dengan serangan tangan beritme tinggi mengincar wajah.
“Hiaat!” teriak dua lelaki bertubuh gempal dan bertampang garang menyerang Turung Gali dari belakang dengan sabetan golok pesarnya.
Wess!
Tanpa berpaling ke belakang lagi, Turung Gali mengibaskan lengan kanannya ke belakang.
Segulung angin menderu menerbangkan kedua pendekar pengeroyok itu.
Bug! Bug!
“Hukh!”
Turung Gali melanjutkan serangan tangan kosongnya kepada lelaki yang bersenjata tongkat. Begitu cepatnya gerak tangan itu, membuat dua tinju keras mendarat di dada lawan. Pendekar itu terjengkang dengan mulut berdarah.
Cring!
Tiba-tiba terdengar suara lonceng gelang yang keras menggema dan didengar oleh semua pendekar yang sedang bertarung, termasuk penghuni lain di kadipaten itu.
Mendengar suara lonceng gelang itu, terkejutlah Joko Tenang, Getara Cinta, Tirana, dan Kerling Sukma. Mereka bahkan menyempatkan diri untuk berhenti bertarung demi melihat ke sekitar.
“Sandaria!” sebut Joko Tenang tersenyum.
Jeda yang tercipta membuat lawan Joko Tenang dan Getara Cinta ambil kesempatan. Satu orang lelaki bertubuh jangkung dan kurus melompat tinggi ke udara dengan kedua tangan telah bersinar hitam mengerikan.
Graurm!
“Akk….!”
Tiba-tiba, seolah seperti keluar dari balik alam gaib, seekor serigala besar berbulu kuning kemerahan muncul menerkam begitu saja di udara. Serigala bernama Kemilau itu menerkam tubuh lelaki kurus yang hendak menyerang Joko Tenang.
Graurm!
Satu serigala berbulu abu-abu bermata ungu juga tahu-tahu muncul begitu saja dan langsung menerkam satu lawan Tirana. Salah satu anggota Lima Guguk Rembulan yang diterkam, menjerit meronta-ronta berusaha melawan si serigala yang bernama Bintang.
Grakrr!
Serigala berbulu putih bersih bernama Bulan juga muncul dan menerkam menyambar satu orang lawan Turung Gali.
Di saat yang sama, serigala bernama Belang juga muncul menyambar tubuh wanita bersenjata pedang di tangan.
Kemunculan empat serigala berbadan besar yang tiba-tiba tanpa jelas arah kedatangannya, mengejutkan semua pendekar. Hal itu membuat mereka terhenti bertarung karena ingin melihat jelas apa yang terjadi.
__ADS_1
Kejap berikutnya, di saat keempat serigala besar menggigiti dan mencabiki korbannya tanpa kenal ampun, satu serigala berbulu hitam pekat muncul di tengah arena. Di atas punggung serigala itu duduk seorang gadis cantik jelita lagi mungil. Rambutnya yang keriting mekar seolah lebih besar dari tubuhnya. Gadis bermata tertutup itu tidak lain adalah Sandaria yang duduk di punggung Satria.
“Sandaria!” sebut ketiga istri Joko Tenang bersamaan, senyum mereka menunjukkan kegembiraan. (RH)