Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 6: Kesaktian Putri Serigala


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


Sebegitu gembiranya Joko Tenang melihat kemunculan Sandaria di saat pertempuran itu, ia segera berjalan mendekati serigala hitam yang bernama Satria. Getara Cinta mendampingi dengan seyum yang mekar pula.


Sementara itu, Renggong Walu alias Celurit Kembar yang mulai ketar-ketir, bergerak bersiaga bersama kelima rekannya. Dengan tetap mengepung posisi Joko Tenang dan Getara Cinta, mereka mengiringi.


Joko Tenang dan istrinya tidak begitu mengindahkan pergerakan Renggong Walu dan kelima rekannya. Kehadiran Sandaria seolah menghipnotis Joko Tenang. Cinta Joko Tenang kepada Sandaria bukan lagi dilandasi oleh “spirit of Bini Delapan”, tetapi karena memang Joko Tenang jatuh cinta sejak pandangan pertama.


“Selamat datang, Cintaku!” ucap Joko Tenang, seolah sedang menyambut Sandaria di acara resepsi kawinan.


Kengerian medan tarung yang mempertaruhkan nyawa itu pudar seketika, saat Sandaria menyikapi sapaan calon suaminya dengan tersipu malu. Satu hal yang membuat Joko Tenang harus cepat-cepat menikahi Sandaria adalah ketika melihat gadis mungil itu mulai mengeluarkan sedikit ujung lidahnya ke samping, lalu menggigitnya dengan gigitan yang lembut. Gaya reaksi Sandaria semodel itu yang membuat Joko Tenang jadi mengerti tentang perihal “ngebet kawin”.


“Apakah aku telat membantu, Kakang?” tanya Sandaria dengan suara khasnya yang serak-serak asik. Ia tetap duduk di punggung serigalanya. Dalam kondisi bertarung, ia lebih suka berada di punggung Satria daripada harus turun lalu bertarung seperti orang buta.


“Tidak, kedatanganmu tepat waktu. Sangat membuat aku dan istri-istriku gembira,” jawab Joko Tenang santai, seolah dia lupa bahwa mereka dalam kondisi pertempuran.


Seet! Tes!


Terkejut Joko Tenang dan Getara Cinta saat tiba-tiba seberkas sinar kuning melesat dari jauh samping kanan. Sinar kuning berwujud anak panah itu melesat menargetkan diri Sandaria.


Namun, dengan tenangnya Sandaria menggerakkan tongkat biru kecilnya seperti orang menepis lalat belaka. Sinar kuning itu ditepis oleh tongkat tepat hanya dua jengkal dari leher Sandaria. Sinar kuning itu terpental dan tahu-tahu menancap di dada seorang pendekar yang mengeroyok Rara Sutri.


Rara Sutri yang dikeroyok oleh tiga orang pendekar jadi terkejut dengan kematian satu orang pengeroyoknya. Ia sejenak memandang kepada gadis mungil yang terlihat penuh aura kesaktian di atas punggung serigala hitamnya yang menyeramkan. Selanjutnya Rara Sutri kembali bertarung dengan cemetinya yang sudah bersinar kuning, layaknya sebuah cemeti api.


“Siapa pengecut yang berani membokong sehina itu?!” teriak Joko Tenang gusar yang mengandung tenaga dalam.


Teriak Joko Tenang membuat semua terkejut dan pertarungan kompak berhenti sejenak. Mereka semua memandang kepada Joko Tenang. Namun kemudian, mereka kembali bertarung.


“Biar aku yang mengurusnya, Kakang,” kata Sandaria seraya tersenyum manis. Ia senang mengetahui reaksi kemarahan calon suaminya itu.


Senyum Sandaria seketika menyejukkan hati Joko Tenang. Kristal kemarahannya seketika meleleh cair terbias oleh senyuman gadis mungil itu.


“Satria, kejar orang itu!” perintah Sandaria dengan nada tegas dan galak.


Grrr!


Sambil menggeram marah, Satria berbelok arah lalu langsung berlari kencang menuju rumah kediaman Adipati Tambak Ruso yang jaraknya cukup jauh. Di pucuk atap rumah, telah berdiri sosok Siluman Panah Setan.


Perginya Satria bersama Sandaria menjauhi medan pertempuran, membuat keempat serigala lainnya segera menengok ke arah tuannya. Keempatnya lalu berlari kencang meninggalkan mangsanya masing-masing yang sudah tewas mengenaskan.


Melihat kedatangan lima ekor serigala ke arah rumah, Siluman Panah Setan cepat menarik senar busurnya. Tiba-tiba lima sinar kuning berwujud anak panah telah terpasang di busur itu.


Seets! Wussz!


Lima anak panah sinar kuning dilesatkan oleh Siluman Panah Setan, menargetkan kelima serigala yang sedang berlari kencang mendekat. Cepat pula Sandaria menusukkan ke depan tongkat biru kecilnya.

__ADS_1


Selarik sinar merah kecil melesat ke depan. Namun, ketika melesat, sinar itu mengembang cepat membentuk sinar lebar seperti ujung payung yang baru dibuka.


Sinar merah itu menahan kelima anak panah di tengah jarak.


“Gila!” teriak Siluman Panah Setan terkejut bukan main melihat kelima sinarnya musnah, tetapi sinar merah besar lawan terus melesat ke arahnya.


Buru-buru Siluman Panah Setan melejit tinggi naik ke langit.


Broasrk!


Sinar merah besar seperti ujung payung itu menghancurkan seluruh bagian atas kediaman Adipati Tambak Ruso.


Di puncak lompatannya ke udara, Siluman Panah Setan kembali menarik senar busurnya. Kali ini anak panah yang muncul adalah sinar biru terang. Ukuran anak panahnya pun lebih besar. Dengan wajah yang mengerenyit, Siluman Panah Setan melepas senjatanya.


Sets! Wussz! Cess! Duar!


Sandaria yang telah berhenti berlari, kembali melepaskan ilmu Payung Kegelapan. Sinar merah dari ujung tongkat itu melesat ke langit, kembali menahan serangan panah yang tampaknya lebih tinggi levelnya dari sebelumnya.


Namun, ternyata anak panah sinar biru itu mampu menembus sinar merah Sandaria. Panahnya terus melesat menyerang tepat kepala si gadis mungil.


Tepat sekali Sandaria mengadu ujung tongkatnya yang bersinar biru kecil dengan mata panah sinar biru yang datang dari atas. Ledakan tenaga sakti terjadi. Sandaria dan Satria terpental. Satria sampai terguling di tanah satu kali. Sementara Sandaria terpental di udara.


Serigala bernama Kemilau segera melompat menyambar tubuh Sandaria dengan punggungnya, membuat gadis mungil itu bisa duduk dengan baik di punggung Kemilau.


Sementara itu, Siluman Panah Setan terlempar di udara dan busurnya lepas dari tangan. Serigala bernama Bintang dan Bulan berlari kencang memburu arah jatuh tubuh Siluman Panah Setan, seperti mereka sedang mengejar tulang berdaging yang dilempar.


Wuss!


Aik!


Namun, dalam kondisi terlempar seperti itu, Siluman Panah Setan masih bisa melepaskan satu angin pukulan yang menghantam tubuh Bintang. Serigala itu terlempar menghantam tanah.


Graurr!


Namun, pada saat itu pula, serigala berbulu putih bersih juga melesat menerkam ke udara dan berhasil menangkap tubuh Siluman Panah Setan.


“Aakk!” jerita Siluman Panah Setan sambil berusaha melawan amukan Bulan di tanah.


Aikk!


Tiba-tiba tubuh Bulan terpental bersama dengkingannya. Ia berhasil ditendang kuat oleh Siluman Panah Setan.


Pemuda tampan berpakaian serba hijau itu segera bangkit dengan bibir berlumuran darah akibat luka dalamnya. Ada luka cakaran serigala yang merobek dadanya, membuatnya pakaiannya rusak dan darah berlumuran.


Kini, Satria, Bintang, Bulan dan Belang berdiri menggeram di hadapan Siluman Panah Setan. Mereka menunjukkan taring-taring berliurnya kepada pemuda utusan dari Kerajaan Siluman itu.

__ADS_1


Meski gentar, tetapi Siluman Panah Setan masih memiliki satu ilmu pamungkas.


Bruzz!


Setelah menghentakkan sepasang lengannya ke bawah, tiba-tiba kedua batang tangan dan kedua batang kaki Siluman Panah Setan bersinar ungu.


“Mundur!” perintah Sandaria yang datang di belakang para serigalanya.


Keempat serigala itu segera berbalik dan bergerak membentuk formasi di belakang serigala yang bernama Kemilau.


Sandaria lalu melompat turun dari punggung Kemilau. Ia mendarat lembut di tanah seperti mendaratnya seekor merpati.


“Luar biasa, pendekar sakti membokong gadis buta!” puji Sandaria menyindir. Lalu katanya lagi, “Orang sepertimu sangat tidak bisa dibiarkan hidup. Kau hanya akan selalu membahayakan orang lain.”


“Tidak usah banyak bicara, Perempuan Buta!” teriak Siluman Panah Setan lalu menghentakkan sepasang lengannya.


Blus blus! Tas tas!


Dua sinar hijau seperti ubur-ubur melesat menyerang Sandaria.


Namun, cukup dengan kibasan tongkat mungilnya yang cepat, Sandaria bisa menepis kedua sinar itu hingga musnah.


Blus blus blus…! Tas tas tas…!


Seperti prajurit dari planet masa depan, Siluman Panah Setan menembakkan sinar-sinar hijau dari tinjunya secara beruntun. Namun, lagi-lagi, tanpa bosan-bosan, Sandaria melakukan hal yang sama dengan tongkat birunya. Semua sinar itu ia pukul dengan tongkatnya. Gerakannya sangat cepat. Bahkan ia tidak bergeser sedikit pun dari tempat berdirinya.


Hal itu membuat Siluman Panah Setan jadi frustasi.


Akhinrya Sandaria melesat maju kepada Siluman Panah Setan, seolah ia bisa melihat keberadaan pemuda itu.


Siluman Panah Setan langsung menyambut kedatangan Sandaria dengan tendangan bersinar hijaunya. Tubuh Sandaria yang kecil mungil seolah begitu enak untuk disepak.


Tas tas tas…!


Seperti seorang guru sedang mengajari muridnya berlatih, dengan tenang dan mudahnya Sandaria memukul semua serangan kaki dan tangan yang ditujukan kepadanya. Gerakan tongkat kecilnya begitu cepat dibandingkan gerakan tongkat sulap.


Daks! Daks!


Pada akhirnya, Sandaria mementung kepala Siluman Panah Setan. Pemuda itu seketika jatuh terlutut ke tanah. Ia merasakan kepalanya seperti tertimpa jatuhan bintang. Pandangannya seketika berubah gelap.


Selanjutnya, satu sabetan menghajar wajah kiri Siluman Panah Setan. Melempar tubuh pemuda itu tanpa daya ke samping. Saat itu juga, pengerahan ilmu Siluman Panah Setan padam.


“Habisi!” perintah Sandaria.


Maka, kelima serigala besar itu berlomba-lomba untuk mendapati tubuh Siluman Panah Setan sebagai makanan.

__ADS_1


Habislah riwayat utusan dari Kerajaan Siluman itu. (RH)


__ADS_2