Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 23: Janji Suci


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


Dua hari sebelum akad suci diucap, para tamu undangan mulai berdatangan. Para pejabat tingkat kadipaten hingga pejabat kerajaan lewat jalur Pangeran Arya Duduwani mulai berdatangan. Tamu undangan dari kalangan orang persilatan yang berasal dari wilayah terdekat pun mulai berdatangan. Khusus hari itu, para tamu diperkenalkan oleh keempat calon pengantin.


Tidak sedikit tamu yang terkejut dengan formasi kawinan kali ini, yaitu satu lawan tiga. Apalagi pengantin diperkenalkan kepada tamu justru sebelum akad nikah. Namun pada akhirnya, mereka semua bergembira, apalagi yang menikah bukan orang sembarangan.


Sehari semalam para tamu disuguhkan hiburan gamelan dan para penari yang cantik-cantik. Demi menjaga kontinuitas kemeriahan dan kebahagian sohibul hajat dan para tamu, Pangeran Arya Duduwani sampai menyewa dua kelompok gamelan ternama dan penari agar ada rotasi.


Pelayanan terbaik dari Perguruan Tiga Tapak diberikan kepada para tamu. Tidak sedikit yang memilih untuk bermalam karena ingin larut dalam pesta hingga tamat.


Hari pengenalan calon pengantin kepada para tamu berlangsung lancar dan aman. Semua berbahagia. Tawa pecah di mana-mana. Jika ada konflik dari gesekan-gesekan kecil sesama orang persilatan, itu semua bisa diredam, terlebih di tempat itu ada Dewi Mata Hati yang bisa disebut sebagai orang tersakti di tempat itu.


Keesokannya, acara ritual siraman dan lain-lainya juga berjalan lancar dan aman. Hingga akhirnya hari puncak pun tiba. Hari dan acara yang telah ditunggu-tunggu. Acara yang akan menjadi peresmian ikatan cinta para pengantin sehingga statusnya berubah dari calon menjadi suami dan istri yang sah.


Di atas panggung pelaminan yang dibuat di dalam balairung dengan lapisan kain berwarna emas, kini Joko Tenang duduk bersimpuh di atas kedua kakinya. Ia mengenakan pakaian pengantin berwarna putih-putih. Rompi pusakanya tetap ia kenakan sebagai lapisan luar.


Joko Tenang duduk berhadapan dengan Turung Gali yang juga sudah gagah dan ganteng dengan pakaian berwarna biru terang. Di samping kanan Turung Gali, tapi sedikit lebih ke belakang, duduk bersimpuh pula Tirana dengan pakaian putih yang begitu anggun. Ia menunduk menahan malu bahagia. Bahkan jantungnya berdebar asik.


Getara Cinta dan Kerling Sukma yang akan mendapat giliran di hari esok, terlihat senyum-senyum melihat Tirana yang sakti bisa duduk diam dalam ketertundukan.


“Yang Mulia Pangeran Dira Pratakarsa Diwana! Dengan disaksikan oleh para tokoh persilatan aliran putih, para pejabat pemerintahan, dan seluruh mata yang menyaksikan, aku kawinkan Yang Mulia dengan putriku tercinta, Tirana. Maka terimalah Tirana sebagai istrimu!” ucap Turung Gali lantang, seperti menitahkan prajurit yang siap terjun ke medan tempur yang sudah ada di depan mata.


“Aku terima sepenuh hati, Tirana putri dari Turung Gali sebagai istriku!” jawab Joko Tenang.


“Berjanjilah!” seru Turung Gali.


“Aku bersumpah disaksikan oleh para guru, orangtua, dan semua mata, akan memperlakukan Tirana sebagai istriku dengan penuh kasih dan cinta. Dan aku berjanji, akan berusaha sekuat tenaga memberikan kebahagiaan di medan tarung hingga di atas ranjang!”


“Hahaha…!” Meledaklah tawa para pemirsa sekalian mendengar janji Joko Tenang yang akhir.


Joko Tenang dan Tirana jadi terkejut sendiri lalu tersenyum malu.


“Sah!” teriak Pendekar Seribu Tapak keras.

__ADS_1


Saat itu juga, para penyaksi menaburkan beras dan berbagai bunga-bunga kepada kedua pengantin, plus kepada Turung Gali yang sejak saat itu menjadi seorang mertua. Beras dan berbagai bunga harum itu sudah mereka siapkan pada keranjang dan nampan.


Suara hiruk pikuk kebahagiaan terdengar semarak. Tawa kebahagiaan plus kelucuan meledak tidak habis-habisnya. Pada momentum itu, kedua pengantin hanya bisa pasrah jadi obyek godaan dan bahan tertawaan yang sifatnya gembira dan bahagia.


Getara Cinta, Kerling Sukma dan Helai Sejengkal tidak henti-hentinya menggoda Tirana dengan tawa-tawa genit mereka dan candaan yang menjurus kepada adegan belah durian dan kupas pisang. Tirana hanya tertawa malu-malu. Dia benar-benar jadi bulan-bulanan oleh para calon madunya, ditambah Helai Sejengkal yang rada-rada liar genitnya.


Setelah melakukan sujud sungkeman kedua mempelai kepada Turung Gali sebagai satu-satunya orangtua mereka yang hadir, mereka juga sujud sungkem kepada Dewi Mata Hati sebagai tokoh tersakti dan tertua di antara mereka. Inisiatif itu membuat Dewi Mata Hati tersentuh dan terenyuh bahagia.


“Bahagialah kalian berdua!” Hanya itu kata-kata doa Dewi Mata Hati kepada Joko Tenang dan Tirana.


“Bawa kedua pengantin ke kamar asmaranya!” teriak Pendekar Seribu Tapak.


Maka, Turun Gali mengangkat putrinya dengan cara mendudukkan Tirana di bahu kanannya. Sementara Joko Tenang diangkat dengan cara yang sama oleh Tembas Rawa.


Sementara massa pendukung kedua pengantin ramai bersorak-sorang mengiringi di belakang, ketika kedua pengantin dipanggul menuju rumah pengantin.


Rumah pengantin adalah sebuah rumah panggung sederhana yang berdiri terpisah, tetapi berada di tengah-tengah kompleks dalam perguruan. Rumah yang kokoh itu sudah dihias dengan berbagai hiasan janur dan kain-kain berwarna terang. Bahkan tangga papannya pun diselimuti dengan kain berwarna kuning.


Karena merasa begitu pentingnya pernikahan ini, terutama untuk urusan ranjangnya, maka berbagai ritual setelah akad suci ditiadakan. Para tokoh tua mencoba memahami kedua pengantin yang sudah tidak sabar untuk meluapkan birahinya, yang sejak kemarin-kemarin diblok oleh berbagai macam ritual prakawin.


“Sik asik asik!” teriak sekelompok murid perguruan sambil tertawa-tawa.


“Hihihi!” tawa Tirana malu lalu buru-buru masuk ke dalam kamar asmara.


“Hahaha!”


Tertawalah mereka semua melihat reaksi Tirana.


Giliran Joko Tenang yang dibawa naik tangga lalu diturunkan di pintu.


“Nikmati dengan ikhlas, Pangeran!” kata Tembas Rawa kepada Joko Tenang.


“Hahaha!” tawa mereka semua.

__ADS_1


“Hayyo! Yang bukan pengantin, bubar semua! Nikmati pesta, jangan ganggu ranjang pengantin!” teriak Pendekar Seribu Tapak.


“Hahaha…!”


Tawa mereka tidak henti-hentinya meledak. Sambil bubar menuju pesta yang tergelar di sisi depan, mereka selalu tertawa karena tidak henti-hentinya mereka bercanda dan membahas kedua pengantin. Bahkan mereka berusaha untuk membayangkan apa yang sekarang sedang dilakukan oleh kedua pengantin.


Ini adalah pernikahan kedua Joko Tenang. Sama-sama menikah, tetapi berbeda suasana dari pernikahannya dengan Putri Yuo Kai.


Ini bukan lagi malam pertama, tapi siang pertama. Tidak perlu menunggu alam gelap untuk menyelami samudera cinta, berpanas terang pun tidak akan lelah untuk mendaki gunung birahi dan mengarungi lautan asmara. Toh, semua yang ada pada diri Tirana kini telah halal untuk disentuh, dibelai hingga dimasuki gerbang sucinya.


Namun, apa yang sedang terjadi di atas rumah perkawinan yang sudah tertutup rapat pintu dan jendelanya?


Di dalam kamar asmara yang sudah terhias indah penuh bebungaan dan aroma wewangian yang menggugah selera nafsu cinta, Joko Tenang dan Tirana saling tersudut. Mereka tidak berada di atas ranjang bertilam empuk dengan pilihan warna kuning, tetapi Joko Tenang berdiri tegang di sudut kamar. Ia benar-benar tegang. Tegang dalam kepala, jantung, hingga tegang yang di bawah.


Perasaan seperti ini pernah Joko Tenang rasakan sebelumnya, yaitu ketika berhadapan langsung dengan Dewi Bayang Kematian.


Sedemikian tegangnya Joko Tenang di saat ini, bahkan tidak ada senyum di bibirnya yang biasanya supel untuk mekar manis.


Di sudut yang berlawanan, Tirana berdiri bersandar. Ia juga tegang, tapi lebih santai. Bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum, antara malu dan senang.


Biasanya, dalam adegan ranjang pertama setelah pernikahan, pihak yang berlakon sebagai pemangsa adalah pengantin lelaki, tapi kali ini berbeda, pengantin perempuanlah yang jadi pemangsa. Mau tidak mau, Joko Tenang harus siap dimangsa.


Setelah diam saling tatap tanpa kata, mereka menyempatkan diri melihat situasi kamar. Ternyata kamar itu memang telah dimodifikasi khusus sebagai kamar pengantin. Ukuran kamarnya bisa disebut luas, sangat nyaman untuk adegan asmara model liar, sehingga bisa berpindah-pindah dengan nyaman.


Air minum dan makanan telah disiapkan untuk porsi sehari semalam, sehingga pasangan tidak perlu keluar rumah mencari makanan jika butuh pasokan energi untuk pergulatan ekstra. Disediakan pula bak mandi dan air yang cukup agar prosesi asmara tidak terganggu oleh hal-hal kotor yang sifatnya ringan. Demikian pula bahan-bahan pengharum tubuh telah tersedia lengkap.


Tirana bergerak menggenjot tubuhnya tanpa ada lompatan. Ia hanya ingin tahu tingkat kekuatan dari bangunan kayu itu. Ia tidak ingin ada suara derit papan atau kayu ketika mereka berdua mulai menari di panggung kenikmatan.


“Rumahnya kuat. Bagaimana, Kakang?” kata Tirana seraya tersenyum lalu bertanya.


Joko Tenang hanya mengangguk.


“Kakang sudah siap?” tanya Tirana lagi dengan tatapan yang dalam, seolah ingin menyelami apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu.

__ADS_1


“Aku siap!” jawab Joko Tenang mantap, kali ini ia tersenyum. (RH)


__ADS_2