
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
Ketika Joko Tenang dan kelompoknya merasa lega karena pertempuran akhirnya berhenti dengan menyerahnya Bajak Laut Elang Biru dan pasukannya, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh satu teriakan keras yang membahana.
“Para pengkhianat harus dihukum mati!”
Alangkah terkejutnya seluruh anggota Bajak Laut Elang Biru mendengar itu. Mereka sangat kenal suara milik ketua mereka, yaitu Biru Segara yang kini punya julukan baru, yakni Roh Langit Dua.
Susrr!
Selintas bayangan biru hitam melintas di udara. Dari lintasan itu melesat selarik sinar merah yang menderu menyerang Garis Merak yang sedang lengah.
Prakr!
“Akk!”
Sogok Karang, ayah dari Garis Merak, yang melihat ketidaksiapan putrinya dalam menghadapi serangan, cepat melesat berdiri di depan tubuh Garis Merak. Ia pasang pedang besarnya yang dialiri listrik biru di depan badan, menangkis serangan sinar merah.
Maka, pedang besar itu hancur pecah seiring pekik kesakitan Sogok Karang. Tubuhnya terdorong keras ke belakang menabrak tubuh putrinya. Anak bapak itu jatuh bersamaan di tanah.
“Ayah!” pekik Garis Merak terkejut bukan main melihat kondisi ayahnya.
Sogok Karang terbaring dengan dua kepingan pedang yang menancap dalam pada dada dan lehernya.
“Sogok Karaaang!” teriak Mata Samudera, orang yang paling dekat dengan Sogok Karang.
Ikan Kecil yang juga sahabat kental Sogok Karang, hanya bisa memandang terkejut tanpa bisa bersuara karena parahnya luka pada dirinya.
“Ayah! Ayaaah!” teriak Garis Merak seperti orang kesetanan. Buru-buru dia bangkit dan mendapati tubuh ayahnya yang sekarat bersimbah darah.
“Merak…” ucap Sogok Karang lemah dan bergetar.
“Ayah, jangan mati. Ayah, bertahanlah!” teriak Garis Merak sambil menangis dan membekap leher ayahnya, yang mengeluarkan darah dari garis besi pedang yang masih menancap.
“Berjanjilah…. Berhentilah menjadi… bajak laaak….”
Ucapan Sogok Karang yang lemah akhirnya terputus oleh kematian. Meski kalimatnya tidak tuntas, tetapi maksudnya jelas.
“Ayaaah…!” teriak Garis Merak histeris sambil wajahnya mendongak ke langit dengan mata terpejam.
“Sogok Karang sahabatku!” ucap Mata Samudera lirih dengan suara bergetar. Ia tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi terluka sepaerti itu.
__ADS_1
Namun, kesedihan itu dirusak oleh koaran seseorang yang telah berdiri di depan pasukan yang tersisa, tidak jauh dari posisi Cukik Aking yang juga terkapar tidak berdaya karena luka parahnya.
“Menyerah bukanlah tindakan para bajak laut sejati! Kita telah bersumpah, biarpun gulungan ombak memenuhi dada kita hingga mati, tidak ada kegentaran untuk mengarungi samudera. Tapi lihat hari ini, kalian menjadi sampah lautan dengan menyerah!” teriak sosok tinggi besar berbaju biru muda dan bercelana hitam. Orang kekar berotot itu tidak lain adalah Biru Segara, Ketua Elang Biru alias Roh Langit Dua.
Biru Segara menatap liar kepada Joko Tenang dan yang lainnya. Terlihat jelas kemarahan dan kebenciannya ketika memandang para anak buahnya yang terluka.
“Bajak laut tidak berguna!” maki Biru Segara sambil menghentakkan lengan kanan besarnya ke samping dengan pandangan tetap memandang kepada Joko Tenang dan para wanitanya.
Susrr! Bross!
Dari hentakan tangan itu melesat selarik sinar merah yang langsung menembus dada Cukik Aking. Lelaki kurus kerempeng itu langsung tewas tanpa jeritan.
Alangkah terkejutnya para anggota Bajak Laut Elang Biru melihat ketua mereka membunuh anak buahnya sendiri.
“Cukiiik!” teriak Swara Sesat dan Mata Samudera bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Bagaimana mungkin ketua mereka membunuh anak buah sendiri.
Garis Merak yang sudah diliputi oleh kesedihan dan kemarahan, sudah tidak bisa menahan kegusarannya.
“Biru Segara!” teriak Garis Merak sambil berdiri menatap tajam kepada ketuanya. Ia membiarkan jasad ayahnya. Dadanya tampat naik turun. Tangan kanannya memegang kayu kailnya dengan kuat.
“Kaulah yang menghasut mereka untuk menyerah, Merak!” tukas Biru Segara.
“Aku tidak akan memaafkanmu, Biru Segara!” teriak Garis Merak sambil berlari maju melewati mayat-mayat yang bergelimpangan. Sinar putih menjalar dari genggamannya ke seluruh kailnya.
Garis Merak melesatkan mata kailnya yang telah bersinar putih. Mata kail itu melesat mengayun cepat.
Dari tubuh Biru Segara melesat ujung tali hitam, menyambut mata kail yang datang lalu bergerak melilitnya seperti ular melilit senar.
Akhirnya, terjadilah saling tarik antara tali dan senar kail. Garis Merak menarik sekuat tenaga kayu kailnya, hingga dua deret giginya saling menekan. Namun, tali hitam yang melingkar miring di badan kekar Biru Segara begitu kuat pula membetot.
Pada kondisi seperti itu, terlihat golok besar Biru Segara bergerak naik sendiri ke udara.
Melihat gerakan golok itu, Garis Merak mendelik. Namun, belum lagi dia berbuat sesuatu, golok besar itu sudah melesat sangat cepat.
Set! Ting!
Golok besar itu melesat cepat kepada Garis Merak. Namun, sosok berpakaian merah kuning putih melesat sambil tebaskan pedangnya kepada golok tersebut. Si golok terpental dan menancap di salah satu tubuh mayat.
Zezz!
Gelombang sinar putih melesat menjalari tali hitam dan kail menuju ke tangan Garis Merak. Buru-buru Garis Merak melepas pegangannya pada senjatanya. Ia memilih mengorbankan senjatanya, membuat kail itu tertarik dan jalaran sinar putih batal menyerang.
Sementara Kusuma Dewi yang baru saja menyelamatkan Garis Merak, telah melompat jauh dengan tebasan pedang samurainya ke udara.
__ADS_1
Bset! Teng!
Sekiblat sinar putih melesat dari tebasan pedang Kusuma Dewi kepada Biru Segara. Namun, kiblatan sinar putih itu terbentur oleh dinding perisai gaib di depan tubuh Biru Segara.
Seet! Ting ting ting…!
Biru Segara balas menyerang dengan ujung tali tambang hitamnya. Dengan gesit Kusuma Dewi menangkis ujung tali dengan tebasan-tebasan pedangnya. Tali itu begitu keras seperti terbuat dari baja.
Di saat Kusuma Dewi sibuk menangkisi serangan tali, Biru Segara justru maju dengan sangat cepat, sementara tangan kanannya sudah berbekal sinar biru berpendar.
Terlalu cepat dan Kusuma Dewi tidak mungkin bisa menghindar.
Burs!
Biru Segara menghantamkan sinar birunya ke tubuh Kusuma Dewi yang hanya bisa terkejut menerima nasibnya. Namun, ketika dua jengkal dari kulit Kusuma Dewi, sinar biru itu justru menghilang seolah masuk ke dalam satu lapisan udara.
Biru Segara terkejut.
Tirana yang tahu-tahu sudah menyentuh bahu Kusuma Dewi dengan tangan kirinya, langsung menghantam tubuh Biru Segara dengan bola sinar biru dari ilmu Bola Kulit Langit.
Boamm!
Sinar biru itu menghantam Biru Segara dan meledak hebat. Namun, sama seperti Tirana, Biru Segara memiliki lapisan perisai gaib di depan tubuhnya, sehingga sinar biru itu tidak bisa menyentuh fisik Biru Segara.
Hantaman ilmu Bola Kulit Langit membuat Biru Segara terpental jauh ke belakang, tetapi ia bisa mendarat kuat di antara para prajurit yang tersisa. Para prajurit segera menjauhkan diri dari titik pertarungan hebat itu.
Biru Segara yang tidak mengalami luka sedikit pun dari serangan Tirana, menatap tajam kepada kedua wanita cantik di depan sana. Ia menyeringai buas.
Set! Baks!
Terlalu cepat Biru Segara melesat maju, seperti berpindah tempat dalam setitik waktu. Kedua telapak tangan besarnya yang bersinar kuning menyilaukan menghantam Tirana dan Kusuma Dewi yang masih menyatu dalam perlindungan ilmu Kulit Dewi Gaib.
Namun, hasilnya mengejutkan. Tubuh Tirana dan Kusuma Dewi sama-sama terlempar keras ke belakang.
Meski pukulan Biru Segara hanya menghantam lapisan ilmu Kulit Dewi Gaib, tetapi kekuatan ilmu pukulan itu bisa masuk dang menghantam Tirana dan Kusuma Dewi.
Getara Cinta berkelebat menangkap tubuh Kusuma Dewi.
“Hoekh!” Kusuma Dewi muntah darah dalam gendongan Getara Cinta.
Sementara Tirana mampu mendarat dengan kuat di tanah. Ia tidak terluka, selain merasakan rasa nyeri di dada yang hanya sebentar.
Joko Tenang dan yang lainnya terkejut melihat Biru Segara mampu membuat Tirana terpental, meski wanita jelita itu tidak sampai terluka.
__ADS_1
“Kuat juga!” puji Biru Segara sambil tersenyum menyeringai. (RH)