Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 39: Matinya Sahabat


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*  


 


“Hentikan perlawananmu, Raja Kera!” teriak Satria Gagah setelah tendangan bertenaga dalamnya menjengkangkan sahabatnya.


“Kau yang harus menghentikan dirimu dari mengabdi kepada wanita jahat itu! Kau harus membunuh dirimu sendiri jika kau ingin menjadi orang baik, Satria!” balas Raja Kera yang sudah bangkit dari jatuhnya.


“Permintaanmu tidak masuk akal. Anak-anakku saja aku bunuh, apalagi kau, orang yang selalu berlindung di balik sahabatnya. Kau orang tidak berguna, Raja Kera. Mati adalah yang terbaik bagimu!” seru Satria Gagah.


“Memang harus ada yang mati di antara kita! Hiat!” teriak Raja Kera, lalu ia menghantamkan telapak tangan kirinya yang bersinar hijau ke tanah.


Bresst!


Tiba-tiba dari dalam tanah keluar tiga sinar hijau berwujud belalai, laksana tunas tanaman yang tumbuh super cepat. Ketiga sinar hijau itu melilit kaki, tubuh hingga leher Satria Gagah.


“Ilmu Jalar Pembunuh-mu sudah tidak ada apa-apanya bagiku! Aku adalah Roh Langit Enam! Hahaha!” koar Satria Gagah lalu tertawa, seolah ia tidak terganggu oleh ilmu Raja Kera.


Bruss!


Sekali hentak lengan kanannya ke bawah, ke tanah yang ia pijak, Satria Gagah menghancurkan tanah tempat berdirinya. Tiga belalai menjalar yang melilit tubuhnya, seketika lenyap. Hal itu membuat Raja Kera mendelik.


Raja Kera melanjutkan serangannya berupa lima lingkaran sinar hijau yang melesat dari tasbih yang ada di tangan kanan Raja Kera.


Bresss! Bdruk!


Tanpa menunggu serangan sampai, Satria Gagah cepat melesat maju menabrak kedatangan kelima sinar hijau itu. Demikian cepatnya lesatan Satria Gagah yang bertubuh jangkung, ditambah Raja Kera dibuat terkejut, membuat lelaki katai itu tidak bisa menghindar dari tabrakan.


Tubuh bonsai itu terpental lalu jatuh bergulingan di tanah bukit yang miring, seperti buah kelapa jatuh.


“Hahaha…!” tawa Satria Gagah melihat Raja Kera menggelinding dari atas ke bawah.


Ia kemudian berkelebat di angkasa.


“Matilah kau, Kera!” teriak Satria Gagah sambil menghentakkan kesepuluh jari tangannya ke bawah.


Sresss! Bluar blar!


Sepuluh sinar ungu berekor menyilaukan melesat berjamaah menghujani luncuran tubuh Raja Kera. Namun secara mengejutkan, tubuh Raja Kera yang menggelinding tidak karuan itu tiba-tiba melesat naik ke angkasa, menargetkan sosok Satria Gagah yang mengambang di udara.

__ADS_1


Sementara kesepuluh sinar ungu menghancurkan tanah bukit dengan dahsyat, membuat bukit itu terguncang sejenak. Lubang-lubang besar tercipta oleh ledakan kesepuluh sinar ungu itu.


Dalam perjalanannya, tubuh Raja Kera berselimut api sinar merah. Namun, Satria Gagah hanya memilih menunggu. Tinju kecil Raja Kera diselimuti kobaran api sinar merah yang besar.


“Heaaat!” teriak Raja Kera keras.


Buokss!


Ketika tinju kecil tapi ganas milik Raja Kera datang, Satria Gagah dengan tenang menahan tinju itu dengan telapak tangan besarnya yang bersinar ungu menyilaukan.


Peraduan dua tenaga sakti tingkat tinggi menggema jelas di wilayah berbukit itu. Ketika Raja Kera terpental keras, seuntai darah kental terlontar dari dalam mulutnya. Ia menjerit kesakitan. Tubuh Raja Kera terlempar meluncur jatuh dalam kondisi lemah dan sudah tidak berselimut kesaktiannya.


Sementara Satria Gagah hanya terdorong beberapa tombak di udara, lalu diam berdiri melayang lagi.


Pada saat itu, dari arah kaki bukit, di mana peperangan telah berhenti, lima serigala besar berlari kencang mendaki bukit. Memperdengarkan ramainya suara lonceng pada gelang leher serigala. Tampak si mungil jelita yang menggemaskan duduk penuh wibawa di punggung serigala hitam tanpa tali kekang.


Zersss!


Dari dalam tubuh si mungil berambut lebat itu melesat keluar penghuni Cincin Mata Langit. Sosok kuda bersayap lebar dari sinar ungu melesat terbang menyambar tubuh Raja Kera lalu membawanya terbang.


Cess! Ctarr!


Sandaria menusukkan tongkat biru kecilnya ke langit, tepatnya ke arah Satria Gagah. Mudah bagi Satria hanya mengulurkan telapak tangannya yang bersinar ungu menyilaukan. Ledakan terjadi di telapak tangan Satria Gagah. Ledakan itu hanya mendorong sedikit tubuh Satria Gagah di udara. Hasil itu tidak membuat Sandaria terkejut, ia sudah bisa menerka hasilnya.


Sresss! Bluar blar!


Satria Gagah balas menyerang dengan hujanan sepuluh sinar ungu kepada rombongan serigala. Namun, dengan gesit kelima serigala itu mampu menghindari serangan dari atas tersebut. Sepuluh ledakan dahsyat terjadi menghancurkan dan mengguncang tanah bukit.


Bintang, serigala berbulu abu-abu sempat terlempar oleh daya ledakan di tanah, tetapi ia cepat bangun dan bergabung dalam kesatuan formasi.


Sementara, kuda bersayap sinar ungu membawa tubuh Raja Kera ke dekat Nyai Kisut dan Garis Merak. Kedua wanita itu segera membantu Raja Kera turun dari punggung kuda sinar. Namun, Raja Kera langsung ambruk yang cepat di topang oleh tangan Garis Merak.


Sementara kuda ungu pecah menjadi serbuk sinar yang kemudian melesat cepat pergi ke arah puncak bukit.


Tap!


Raja Kera yang kepalanya berbantal batang tangan kiri Garis Merak, cepat memegang telapak tangan kanan si gadis laut. Garis Merak terkejut, karena ia merasakan ada benda yang ditempelkan Raja Kera pada telapak tangannya.


“Ini… ini adalah… Mutiara Hitam. To… tolong, sampaikan ke… kepada… istriku,” ucap Raja Kera tersendat-sendat, seolah napasnya sudah mau habis.

__ADS_1


Terbelalak bingung Garis Merak mendengar permintaan Raja Kera. Lelaki katai itu melepaskan tangannya pada tangan Garis Merak. Maka tampaklah di telapak tangan Garis Merak sebutir benda seperti mutiara, tetapi warnanya hitam.


“Raja Kera, aku… aku tidak bisa….”


Kata-kata Garis Merak terhenti karena ia melihat Raja Kera sudah tidak bergerak dan bernapas. Sepasang bola matanya sudah tidak memiliki cahaya kehidupan.


“Raja Kera sudah mati,” kata Nyai Kisut lirih, membuat Garis Merak semakin terkejut.


“Tapi, benda ini bagaimana?” tanya Geris Merak bingung.


“Itu wasiat, kau berkewajiban memenuhinya,” kata Nyai Kisut.


Tetap saja Garis Merak bingung.


Sementara di atas puncak bukit yang sebelah kanan, kelima serigala sudah berhenti berlari. Kini, Sandaria dan kelima serigalanya menghadap ke Satria Gagah yang melayang jauh di depan. Ketinggian mereka setara. Sepertinya Sandaria benar-benar akan bertarung serius melawan Satria Gagah.


Serbuk sinar ungu dari pecahan kuda terbang melesat beramai-ramai masuk ke dalam tubuh Sandaria.


Siit sit sit!


Sandaria lalu menggunakan tongkat birunya melukis di udara di depannya. Setelah melakukan goresan-goresan di udara, maka muncullah diagram sinar kuning tipis yang berbentuk lingkaran. Di dalam lingkaran yang berdiri tegak itu ada gambar lingkaran-lingkaran kecil. Sandaria sedang mengerahkan ilmu yang bernama Putaran Dewa Perang.


Ilmu itu adalah kesaktian yang berasal dari benua jauh yang dibawa oleh Serigala Perak. Ilmu itu memiliki karakter dan gaya yang berbeda dari banyaknya kesaktian di Tanah Jawi.


Sresss! Wuszz!


Bom bom bom…!


Satria Gagah kembali melesatkan sepuluh sinar ungu berekornya ke arah Sandaria.


Sandaria cepat menusukkan tongkat birunya. Ilmu Payung Kegelapan melesat cepat lalu mengembang seperti payung terbuka tanggung. Ternyata sinar merah berwujud payung itu hancur, tidak seperti biasanya. Sepuluh ledakan pada lapisan sinar merah itu membuat ilmu Payung Kegelapan hancur.


Satria Gagah terdorong mundur dari titik mengambangnya. Sementara Sandaria dan serigala bernama Satria pula, terjungkal ke belakang.


Sandaria cepat bangkit lalu menusukkan ujung tongkatnya kepada diagram sinar kuningnya.


Zeeeng!


Diagram sinar itu tiba-tiba berputar di tempat. Putarannya begitu cepat seperti sebuah mesin sinar. Ilmu Putaran Dewa Perang siap unjuk kehebatan. (RH)

__ADS_1


***********


AYO DUKUNG NOVEL INI! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!


__ADS_2