
*Cincin Darah Suci*
Wanita bermantel hitam itu berjalan di dalam kesepian gang yang ada di sela-sela kepadatan Ibu Kota He. Ia menutupi kepalanya dengan tudung dari mantelnya. Wajahnya ia tutupi dengan cadar hitam pula. Tampak di tangan kirinya ternggenggam pedang bagus berwarangka biru hitam.
Ketika ia tiba di sebuah tempat, tepatnya di dekat tembok sebuah bangunan yang ada di gang sempit itu, wanita misterius itu berhenti. Sejenak ia melirik sekitar lokasi. Setelah ia berkeyakinan tidak ada mata yang melihatnya, ia lalu melentingkan tubuhnya naik ke udara lalu mendarat di atas genting rumah. Setelah berjalan sebentar di puncak genteng, ia lalu melompat turut.
Kemunculannya mengejutkan seorang lelaki yang sedang duduk di dekat pintu belakang rumah itu. Lelaki berpakain warga biasa itu segera menarik pedangnya yang dia geletakkan di meja dapur dekatnya.
“Aku ingin bertemu dengan Ketua,” kata wanita itu sambil membuka cadarnya, menunjukkan wajahnya. Ia sedikit pun tidak bereaksi atas tindakan pencabutan pedang itu.
“Oh, Nona Tu. Maafkan aku, Nona!” ucap lelaki itu cepat seraya menghormat, setelah mengenali wajah wanita yang tidak lain adalah Tu Xie Yua, putri dari Menteri Kehakiman Tu Hua.
Lelaki itu lalu membuka pintu.
“Silakan, Nona!”
Xie Yua segera masuk meninggalkan lelaki itu. Sebelumnya ia sudah pernah masuk ke rumah itu, jadi sudah tahu arah langkahnya. Dia berhenti saat tiba di depan ambang pintu sebuah ruangan yang tidak tertutup. Kali ini ada dua orang lelaki yang berjaga di pintu masuknya. Mereka berpakaian serba hitam. Seluruh kepalanya ditutupi oleh kain hitam, kecuali sepasang matanya.
“Aku ingin bertemu Ketua,” kata Xie Yua.
“Tunggu sebentar.” Seorang dari keduanya lalu bergerak masuk.
Tak berapa lama, ia kembali keluar.
“Nona Tu silakan masuk.”
Tanpa kata lagi, Xie Yua melangkah masuk. Di dalam ia mendapati Ushang La tengah duduk dengan wajah yang tidak enak dilihat. Ketua Kelompok Hutan Timur itu seolah sedang memendam kemarahan. Namun, Xie Yua dapat memahaminya, karena ia pun tahu tentang hasil pertarungan hebat di parit selatan.
Tidak jauh dari posisi duduk Ushang La, duduk Bangsawan Sushan yang sudah berada di rumah itu sejak pagi.
Kedua lelaki itu segera bangun berdiri dan menjura hormat yang dibalas hormat oleh Xie Yua.
“Silakan, Nona Tu!” kata Ushang La mempersilakan duduk di kursi yang kosong.
“Apa rencana kalian berikutnya?” tanya Xie Yua sambil duduk di kursinya.
__ADS_1
“Aku tidak menyangka, si gurita besar itu begitu kuat,” desis Bangsawan Sushan.
“Kegagalan ini tidak akan terjadi jika Bangsawan Sushan membiarkan orang-orangku membunuh Putri Ling Mei,” kata Ushang La.
“Tidak perlu kau menyalahkan penyanderaan Putri Ling Mei, Ketua. Jikapun ia dibunuh, tetap saja itu tidak akan mengubah hasil. Namun, telah aku katakan kepada Bangsawan Sushan untuk tidak pelit. Yang ingin kau ambil adalah sebuah negeri kaya, mengeluarkan biaya mahal pun tidak akan rugi jika nantinya menjamin tercapainya tujuan. Jikapun sampai Negeri Ci Cin bangkrut karena perang ini, aku rasa tidak masalah, asalkan kemenangan bisa diraih,” ujar Xie Yua.
Bangsawan Sushan menatap tajam kepada wanita cantik itu. Di hari kemarin, Xie Yua memang mememberi masukan kepadanya saat di Biro Naga Besi. Namun, pertanyaan darinya kemudian bukan tentang saran itu.
“Nona Tu sudah tahu bahwa aku bukan orang Lor We?”
Pertanyaan itu juga membuat Ushang La agak terkejut. Sebelumnya, mereka hanya tahu bahwa Bangsawan Sushan adalah pejabat dari Negeri Lor We.
Xie Yua tertawa pendek.
“Aku pun tahu bahwa Bangsawan Sushan adalah bagian dari keluarga Istana Ci Cin. Namun, aku hanya bisa menebak hal dibalik perang yang dibangun oleh Negeri Ci Cin. Setahuku, Putra Mahkota Ci Cin pernah pulang dengan terhina setelah pinangannya terhadap Putri Yuo Kai gagal total.”
“Aku tidak peduli Bangsawan Sushan dari negeri mana. Ini sudah berjalan dan kerugian Kelompok Hutan Timur yang besar harus terbayar atau hancur musnah sekalian!” tandas Ushang La.
“Sebagai orang Jang, tentunya aku tidak mungkin terlibat. Namun, aku bisa memberikan bantuan besar di balik layar dengan syarat, semua rencana Ci Cin dalam peran ini aku tahu. Bagaimana, Bangsawan Sushan?”
“Aku tahu itu berat, karena kau akan bertaruh besar. Kau menolak pun tidak mengapa, tetapi risikonya, jalan yang kalian tempuh sangat sulit. Pertanyaan dasarnya adalah bagaimana caranya kalian akan mengalahkan Putri Yuo Kai. Hari ini di parit selatan, kalian bisa melihat hasilnya,” tutur Xie Yua.
“Baiklah, aku akan terbuka, tetapi Nona Tu juga harus menjamin adanya bantuan besar untuk pemberontakan di Ibu Kota He.”
“Baik,” jawab Xie Yua singkat.
“Aku ungkapkan, Ci Cin akan menyerang perbatasan timur Jang,” kata Bangsawan Sushan.
Melebar sepasang mata Xie Yua mendengar itu.
“Berarti memang akan ada perang besar. Dugaanku, ada sekutu Jang yang berkhianat?”
“Bukan berkhianat, tetapi mencari sekutu yang lebih kuat dan menguntungkan,” ralat Bangsawan Sushan. “Kaisar Lor We tidak akan berpaling jika tidak diganti. Sebentar lagi kita akan mendapat kabar bahwa Pangeran Young Tua telah menjadi Kaisar Lor We.”
Terkejut Xie Yua dan Ushang La mendengar informasi itu.
__ADS_1
“Satu kebijakan utama Ci Cin adalah menepati janji yang telah diberikan kepada para sekutu dalam penaklukan ke barat ini. Jadi, Nona Tu dan Ketua tidak perlu khawatir!” tandas Bangsawan Sushan.
“Baiklah. Lalu apa rencana kalian berikutnya untuk mengalahkan Putri Yuo Kai?” tanya Xie Yua.
“Aku sudah mengirim pesan kepada Zo Ro, Pendekar Seribu Naga,” kata Bangsawan Sushan.
“Masih kurang,” sergah Xie Yua. Lalu katanya lagi, “Jika hanya menghadapi pasukan Negeri Jang bersama para jenderalnya, kalian cukup membuat siasat yang sederhana. Putri Yuo Kai mewarisi seluruh kesaktian orang sakti bernama Penebar Mimpi Buruk. Terlebih dia dikawal oleh Pengawal Angsa Merah yang sangat setia. Menghadapi Putri Yuo Kai dan Pengawal Angsa Merah jauh lebih sulit daripada menghadapi ribuan pasukan. Awalnya aku memiliki dua nama yang tingkat kesaktiannya setingkat dengan Penebar Mimpi Buruk. Namun, ada hal yang mengganjal.”
“Apa?” tanya Ushang La.
“Dalam perjalanan pulang dari parit selatan, aku melihat ada satu orang asing dalam rombongan. Penampilannya menunjukkan bahwa dia seorang pendekar. Orang asing bisa berada di sekitar Putri Yuo Kai adalah hal yang tidak mungkin terjadi, terlebih dia adalah lelaki,” kata Xie Yua.
“Jika memang Nona Tu memiliki dua jagoan selevel guru Putri Yuo Kai, sebutkan siapa dia. Aku akan bayar sangat mahal,” kata Bangsawan Sushan.
“Tapi aku juga meminta bayaran,” kata Xie Yua.
“Baiklah. Sebutkan!” kata Bangsawan Sushan.
“Aku ingin, tidak ada biro jasa pengawalan dari barat hingga timur selain dari Biro Naga Besi dan kami bebas pajak selama masih di wilayah kekuasaan Ci Cin dan negeri sekutunya. Sementara hanya itu. Bagaimana?”
“Sepakat,” setuju Bangsawan Sushan.
“Dua orang itu adalah Biksu Hitam dan Jenderal Ujung Langit. Kedua orang ini sangat sulit ditemui, apalagi sampai mau dibeli jasanya. Namun, itu tidak bagiku,” kata Xie Yua.
“Dua orang itu sangat sakti. Aku bisa menaruh harapan tinggi jika mereka mau ikut menumbangkan Kekaisaran Jang,” kata Ushang La.
“Berapa lama keduanya bisa kita gunakan?” tanya Bangsawan Sushan.
“Tidak akan lama, hanya beberapa hari. Aku memegang rahasia keduanya yang akan membuat mereka tidak bisa menolak,” kata Xie Yua.
“Serangan hari ini akan membuat Istana dan keamanan Ibu Kota semakin memperketat pencarian dan pemeriksaan. Lebih baik kita tahan pergerakan hari ini dan beberapa hari,” kata Ushang La, yang sebenarnya merasa sangat terpukul dengan kekalahan dalam pertarungan di parit selatan.
“Saranku, lebih baik kita menunggu kedatangan kedua orang sakti itu. Aku pun akan melakukan sesuatu untuk mencoba melemahkan kekuatan Putri Yuo Kai.”
Bangsawan Sushan manggut-manggut tanda setuju. Menurutnya, memang sangat berisiko jika pergerakan dilakukan terus-menerus di saat pihak keamanan Ibu Kota He dan Istana sedang ketat-ketatnya. (RH)
__ADS_1