Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
149. Rindu dan Cemburu


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Tirana!” seru Joko Tenang memanggil.


“Iya, Kakang?” sahut Tirana setelah berpaling ke arah Joko.


“Bunuh orang itu, dia sangat berbahaya!” perintah Joko.


“Baik, Yang Mulia!” sahut Tirana patuh.


“Hah!” sentak Biksu Hitam sambil menghentakkan kedua lengan gemuknya ke bawah.


Bleps!


Tiba-tiba sekeliling kaki Biksu Hitam muncul api yang menyala membentuk lingkaran. Kedua lengan Biksu Hitam bersinar merah. Sepasang matanya menyala merah seperti mata setan. Tampaknya Biksu Hitam akan mengeluarkan ilmu tertingginya.


“Heaaat!” teriak Biksu Hitam keras sambil kedua lengannya menghentak ke depan.


Wursss!


Dua sinar merah berbentuk batangan bulat melesat cepat ke arah Tirana yang melangkah tenang.


Bress!


Dengan tenangnya, Tirana memercikkan jari-jari tangan kanannya. Sinar merah berbentuk jaring laba-laba raksasa membentang menghadang kedua sinar merah kiriman Biksu Hitam. Betapa terkejutnya Biksu Hitam dan para penonton. Dua sinar merah Biksu Hitam masuk ke dalam jaring laba-laba dan menghilang seperti masuk ke alam lain.


Bluarr!


Seiring hilangnya ilmu Lorong Laba-Laba di udara, dinding pelataran Istana hancur hebat oleh dua sinar merah yang tahu-tahu muncul begitu saja di sana. Dua sinar merah milik Biksu Hitam itu ternyata dialihkan oleh ilmu Lorong Laba-Laba.


Biksu Hitam terkejut tidak habis pikir. Kenapa serangannya bisa pindah ke dinding pagar Istana.


Keterkejutan itu membuat Biksu Hitam lengah. Tubuh Tirana tahu-tahu sudah melompat maju dengan tangan kiri berbekal bola sinar berwarna kuning dan hijau.


Bross!


Sinar dua warna itu dibanting menghantam tubuh Biksu Hitam yang memang tidak sempat menghindar atau mengerahkan ilmu perisainya.


Semua hanya bisa terperangah menyaksikan kengerian ledakan dahsyat yang tercipta. Debu tebal melesat ke segala arah bersama angin keras yang tercipta.


Tirana berkelebat keluar dari bukit debu dan asap. Dia langsung berkelebat ke hadapan Joko Tenang. Pemuda berbibir merah itu tersenyum.


“Ampuni hamba, Yang Mulia Pangeran!” ucap Tirana sambil berlutut kaki kanan, seraya menempelkan kedua telapak tangannya di depan kepalanya yang menunduk dalam.


“Apa yang kau lakukan, Tirana?” tanya Joko seraya tersenyum.


“Hamba patut dihukum karena membiarkan Yang Mulia Pangeran lepas dari pegangan hamba saat berada di langit!” jawab Tirana, ia benar-benar merasa bersalah.


“Kau lihat, aku baik-baik saja. Bangunlah, banyak orang yang melihatmu!” kata Joko Tenang.


“Maafkan hamba, Yang Mulia,” ucap Tirana lalu segera bangun berdiri. Ia masih menunduk, merasa bersalah.


“Aku pikir kau rindu padaku, tapi ternyata tidak,” ucap Joko Tenang. Senyumnya hilang.

__ADS_1


“Tidak tidak tidak!” ucap Tirana cepat lalu tiba-tiba menghambur memeluk Joko Tenang.


Joko Tenang terkejut bukan main dengan mata mendelik. Sergapan Tirana begitu cepat dan tidak terduga. Wanita itu memeluk erat tubuh Joko Tenang yang hanya pasrah melayu lemas kehilangan tenaga. Ini pertama kalinya Tirana sampai memeluk calon suaminya itu.


“Aku begitu merindukan Kakang, sampai aku menangis,” bisik Tirana.


Perkataan Tirana itu begitu indah bagi Joko. Namun masalahnya, kini ia berdiri dalam kondisi terkulai di dalam pelukan Tirana. Kedua tangannya menggantung tanpa tenaga.


“Hihihi! Ayam Pingit jadi ayam sayur!” tawa Puspa mengejek lagi melihat kondisi Joko.


“Maafkan hamba, Yang Mulia!” ucap Tirana cepat setelah tersadar akan apa yang dia lakukan terhadap calon suaminya itu.


Sementara di sisi lain, Putri Yuo Kai merasakan rasa sakit di dalam hatinya melihat kemesraan Joko dan Tirana. Ada rasa iri di dalam perasaannya. Rasa sakit itu seakan ingin membuatnya menangis. Seolah Joko Tenang melupakannya saat itu.


“Mereka begitu akrab,” ucap Putri Yuo Kai lirih, yang didengar oleh Bo Fei.


“Hidup Negeri Jang! Hidup Yang Mulia Kaisar! Hidup Yang Mulia Putri! Hidup Pendekar Joko!”


Tiba-tiba Perdana Menteri La Gonho berteriak lantang yang diikuti oleh teriakan seluruh pejabat dan prajurit yang ada di Istana Naga Langit dan pelatarannya.


Perdana Menteri La Gonho berteriak setelah melihat sosok Biksu Hitam sudah tidak ada. Sirnanya bukit asap dan debu yang membumbung tadi memperlihatkan kawah kering yang dalam. Hilangnya sosok Biksu Hitam karena tubuhnya telah menjadi serpihan daging yang hancur kecil-kecil.


Putri Yuo Kai, Joko Tenang dan Tirana terkejut mendengar teriakan kemenangan itu.


Joko Tenang yang terduduk di lantai mulai kembali sehat setelah Tirana menjauhinya sejauh empat langkah.


Joko berdiri dan tersenyum memandang Tirana. Sang gadis hanya tersenyum malu dalam kondisi yang kotor oleh debu.


“Mari, aku perkenalkan kau dengan calon istriku yang baru!” ajak Joko kepada Tirana.


Joko memberikan senyum manisnya kepada sang putri, demikian pula Tirana.


“Tirana, ini adalah Yang Mulia Putri Yuo Kai. Calon istriku yang ketiga,” kata Joko kepada Tirana.


Su Mai segera berlari datang dan berhenti di sisi Bo Fei. Ia langsung menerjemahkan perkataan Joko untuk sang putri.


“Hormat hamba, Yang Mulia Putri,” ucap Tirana lalu turun berlutut satu kaki dan menghormat ala Kerajaan Sanggana.


“Bangunlah!” perintah Putri Yuo Kai, berusaha untuk tersenyum.


Tirana segera berdiri kembali.


“Yang Mulia Putri, ini adalah Tirana yang sudah aku ceritakan,” kata Joko Tenang.


“Senang mengenalmu, Tirana. Terima kasih atas pertolonganmu yang tepat waktu,” ucap Putri Yuo Kai. “Dan juga terima kasih atas ciuman penyembuhmu.”


“Aku sangat senang jika Yang Mulia Putri mau berbagi kasih Kakang Joko denganku,” kata Tirana.


Putri Yuo Kai hanya tersenyum kecil, bertentangan dengan suasana hatinya saat ini. Ia cemburu.


“Yang Mulia Putri, apakah kau masih mengalami luka dalam?” tanya Joko, ia khawatir.


“Masih, tetapi tidak begitu parah lagi setelah Tirana menciumku,” jawab Putri Yuo Kai. Perasaannya senang karena Joko mengkhawatirkan kondisinya.

__ADS_1


Percakapan mereka semua diterjemahkan oleh Su Mai dengan lancar.


Tiba-tiba Puspa mendekati Putri Yuo Kai dan menjulurkan wajahnya ke dekat tubuh sang putri. Ia mengendus-endus tubuh Putri Yuo Kai seperti seekor anjing mencari bau sesuatu. Perbuatan Puspa itu membuat Putri Yuo Kai agak tidak nyaman.


“Puspa!” panggil Joko.


“Hmm!” sahut Puspa sambil berhenti mengendus dan menatap Joko, sementara tangannya diletakkan di bahu sang putri.


Maka tampaklah kuku-kuku panjang Puspa yang panjang dan runcing berada di dekat wajah sang putri. Bo Fei memegang gagang pedangnya, bersiap jika Puspa melakukan sesuatu yang berbahaya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Joko.


“Puspa mencium bau harum, ternyata perempuan ini yang baunya harum seperti ayam panggang. Hihihi!” jawab Puspa seenaknya. Ia lalu menarik tangannya dari bahu Putri Yuo Kai dan mundur menjauh sambil menatapi wajah sang putri tanpa kedip, seolah tatapannya mengandung suatu maksud.


“Joko!” panggil seorang lelaki tiba-tiba.


Mereka melihat Pangeran Han Tsun berlari mendekati mereka. Sang pangeran datang dengan senyum lebar. Ia berhenti di sisi Su Mai, bahkan berdirinya lebih cenderung menempel. Su Mai segera bergeser secara samar.


“Kau sungguh luar biasa. Kau pahlawan bagi Negeri Jang!” puji Pangeran Han Tsun penuh semangat.”


“Yang Mulia Pangeran terlalu melebihkan. Sewajarnya kami membantu,” kata Joko Tenang merendah setelah diterjemahkan oleh Su Mai.


“Wah, tidak aku sangka, pagi ini Istana Jang dipenuhi oleh bunga-bunga cantik jelita,” ucap Pangeran Han Tsun seraya sumringah memandang Tirana dan Puspa.


“Bagaimana bisa kau memuji bunga lain di depan Nona Su?” tanya Putri Yuo Kai dingin kepada adiknya.


Su Mai hanya tersenyum malu. Sementara Pangeran Han Tsun tertawa salah tingkah. Ia masih sempat melirik kepada Su Mai.


“Bagaimana kondisi Ibunda Permaisuri?” tanya Putri Yuo Kai.


“Mereka baik-baik saja, Kak,” jawab Pangeran Han Tsun.


“Kita harus menemui Yang Mulia Kaisar!” kata Putri Yuo Kai lalu berbalik dan melangkah pergi.


Joko dan yang lainnya bergerak mengikuti Putri Yuo Kai. Langkahnya tidak terlihat seperti orang yang sedang terluka dalam.


“Mai’er!” panggil seorang lelaki yang mengejutkan Su Mai.


Su Mai segera menengok ke samping. Dilihatnya Su Ntai berjalan ke arahnya dengan senyum yang lebar.


“Ayah!” sebut Su Mai seraya tersenyum lebar.


Ia segera berlari dan memeluk lelaki yang sudah tidak dijumpainya cukup lama itu.


Melihat Su Mai dan ayahnya berpelukan, Pangeran Han Tsun segera berbelok arah. Ia menghampiri keduanya.


“Siapa lelaki itu?” tanya Joko kepada Tirana.


“Ki Suntai, penerjemah kami dan orang yang membantu kami mencari berita tentangmu, Kakang,” jawab Tirana. “Sejak awal aku sangat yakin bahwa Kakang akan baik-baik saja.”


“Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa selamat, padahal aku jatuh dari langit,” kata Joko.


“Kakang terlepas dari peganganku dan Puspa. Kakang jatuh ke barat, sedangkan kami jatuh ke timur di dekat posisi Permata Darah Suci,” kata Tirana.

__ADS_1


“Berarti Permata Darah Suci ada di timur?” tanya Joko.


“Benar, Puspa bisa melacaknya. Sama seperti bisa melacak posisimu saat kami mencari Kakang.” (RH)


__ADS_2