
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
“Tidak aku sangka, aku berurusan dengan pendekar-pendekar sakti mandraguna,” ucap Nila Mawangi, Gadis Kuda Biru, kepada Joko Tenang dan para istrinya.
“Apa yang sebenarnya kalian inginkan?” tanya Joko Tenang.
“Hihihi!” Nila Mawangi tertawa. Lalu katanya, “Kekuasaan. Namun, bukan sekedar kekuasaan untuk seorang Gadis Kuda Biru semata, tetapi kekuasaan untuk golongan aliran hitam.”
“Berhentilah menjadi orang jahat, ikutlah dengan kami,” kata Joko Tenang.
“Siapa yang jahat? Aku tidak merasa menjadi orang jahat. Aku membunuh orang-orang sesuai kebutuhan, sama seperti kalian membunuhi seluruh anak buahku. Aku lebih menghormati para pendekar yang mati membela kelompoknya dari pada mencari hidup dan menjadi seorang pengkhianat!” ujar Nila Mawangi menyindir Kusuma Dewi.
Kusuma Dewi menatap tajam wanita berusia empat puluh tahun itu.
“Kami memberimu pilihan, tinggalkan jalan jahatmu dan bergabunglah bersama kami. Atau, kami akan membunuhmu!” tandas Joko Tenang.
“Terima kasih atas tawaranmu, Tampan,” ucap Nila Mawangi seraya tersenyum kecil. “Apa yang perlu ditakutkan dari kematian. Lebih baik aku mati terhormat sebagai Ketua Gerombolan Kuda Biru daripada aku hidup terhina!”
Joko Tenang lalu bertanya kepada para istrinya, “Siapa yang ingin melawannya?”
“Bukan aku, aku sepertinya harus membantu Surya dan Arya melawan nenek merah itu,” kata Tirana lalu berkelebat pergi, sebelum Surya Kasyara dan Arya Permana jadi korban Nenek Haus Jantung berikutnya.
Sementara itu, pertarungan antara Reksa Dipa dengan sahabatnya, Terakak alias Pendekar Penyu Merah, terlihat berlangsung alot.
“Biarkan aku yang menghadapinya, Kakang dan Ratu beristirahatlah,” kata Kerling Sukma sambil maju beberapa langkah ke hadapan Nila Mawangi.
“Baiklah, bersihkan dengan serapi mungkin!” kata Joko Tenang lalu mundur bersama Getara Cinta dan Kusuma Dewi.
Kini berhadapanlah antara Dewi Mata Hijau dengan Gadis Kuda Biru.
Namun, kita tengok dulu suasana pertarungan si Nenek Haus Jantung.
Surya Kasyara dan Arya Permana mengamuki Nenek Haus Jantung.
Zerzz!
Arya Permana mengerahkan ilmu Sengat Kematian kepada Nenek Haus Jantung. Lima aliran sinar merah seperti listrik menyergap lengan kiri Nenek Haus Jantung.
Namun, yang terjadi justru di luar perkiraan Arya Permana. Nenek Haus Jantung seolah menggunakan ilmu itu untuk menyedot Arya Permana.
Secara perlahan tubuh Arya Permana tertarik mendekat ke tangan kiri Nenek Haus Jantung yang juga mengulur. Arya Permana terus berusaha bertahan dan mengerahkan tenaga saktinya.
Sementara itu, Surya Kasyara memberikan tendangan-tendangan bertenaga dalam tinggi kepada si nenek.
Dengan tangan kiri tetap menyedot tubuh Arya Permana, si nenek tampil tenang menangkis semua serangan Surya Kasyara menggunakan tongkat merahnya.
“Fruuut!”
Gagal dengan tendang dan pukulan mabuknya, Surya Kasyara mencoba dengan Semburan Ular Mabuk-nya. Ia ingin merusak wajah Nenek Haus Jantung yang sudah keriput.
“Fuuuf!”
Namun, cepat pula Nenek Haus Jantung meniup. Angin yang keluar dari tiupannya bukan sekedar angin untuk mengademkan mie rebus panas, tetapi angin kencang bertenaga dalam yang membuat air semburan terhempas balik ke arah wajah Surya Kasyara.
Surya Kasyara cepat membalikkan wajahnya ke belakang.
__ADS_1
Dak!
Surya Kasyara memang terhindar dari semburannya sendiri, tetapi ia tidak terhindar dari sodokan ujung tongkat Nenek Haus Jantung. Pemuda tampan itu terjengkang. Memang satu tusukan saja, tetapi sakitnya menyebar merata.
Sejenak Surya Syakara tidak bisa bangkit.
Set! Duar!
Dari kepala tongkat kayu merah si nenek melesat sinar biru kecil berekor kepada Surya Kasyara. Beruntung Surya Kasyara melihatnya, sehingga ia yang tidak bisa menghindar bisa menggeser bumbung tuaknya guna menangkis serangan.
Ledakan terjadi pada bumbung tuak, mementalkan Surya Kasyara lalu jatuh berguling-guling. Surya Kasyara terdiam dalam posisi tengkurap.
“Akk!” erang Arya Permana saat lehernya tersedot ke dalam cengkeraman tangan kiri Nenek Haus Jantung yang berkuku panjang.
Ilmu Sengat Kematian Arya Permana sudah tidak berfungsi. Ia justru mengerahkan tenaganya untuk mempertahankan lehernya. Wajah putih Arya Permana memerah dan ia kelabakan untuk bernapas.
Buk!
Tiba-tiba, sesosok tubuh melesat cepat menabrak tubuh depan Nenek Haus Jantung. Tubuh tua berjubah merah itu terpental jauh sampai terguling-guling seperti terenggiling. Tubuh Arya Permana yang sempat terbawa juga terseret setengah jalan hingga cengkeraman pada lehernya lepas sendiri.
Seberhentinya tubuh Nenek Haus Jantung berguling, wanita tua itu buru-buru bangkit bersama makiannya.
“Cecurut Ingusan! Siapa berani menyerangku tanpa permisi, hah?!” teriak Nenek Haus Jantung menggeragap. Matanya liar memandang ke arah depan.
Dilihatnya sosok si cantik jelita Tirana sedang berjalan lurus bak model busana mendekati si nenek. Dialah yang barusan menabrak si nenek dengan hantaman lutut.
Set! Tap!
Tongkat kayu merah yang terpisah dari genggaman, segera Nenek Haus Jantung sedot dengan tenaga dalamnya. Tongkat itu melesat kembali ke genggaman tangan kanan si nenek.
Melihat kedatangan Tirana, Nenek Haus Jantung mengerahkan ilmu Renggut Jantung.
Nenek Haus Jantung menghentakkan lengan kirinya ke depan. Namun, Nenek Haus Jantung mendelik terkejut. Ia hanya mendengar suara hantaman bergema tanpa melihat ada sesuatu terjadi pada Tirana. Wanita cantik itu tetap melangkah mendekat dengan tenang.
Tirana sendiri merasakan ada tenaga yang menghantam ilmu perisai Kulit Dewi Gaib pada bagian dada.
Merasa ada kesalahan teknis, Nenek Haus Jantung kembali menghentakkan tangannya, mencoba merenggut jantung Tirana dari jarak jauh. Namun, dua kali percobaan, tetap tidak ada hasil. Terjadi demikian karena Tirana terlindungi oleh ilmu Kulit Dewi Gaib.
Set set set!
Ces ces ces!
Tidak berhasil dengan ilmu Renggut Jantung, Nenek Haus Jantung melesatkan tiga kali sinar biru kecil berekor dari kepala tongkatnya. Hasilnya, ketiga sinar ilmu itu seperti tertelan begitu saja oleh udara saat tiba dua jengkal dari kulit Tirana.
“Kutu mencret!” maki Nenek Haus Jantung makin terkejut.
Tirana semakin mendekat.
Bress!
Kali ini, Nenek Haus Jantung menyalurkan tenaga saktinya kepada tongkatnya. Tongkat kayu itu bersinar merah.
“Mampuslah kau, Cecurut Ingusan!” teriak Nenek Haus Jantung penuh kekesalan sambil melemparkan tongkatnya.
Cesss!
__ADS_1
Tongkat kayu itu melesat cepat menghantam Tirana yang hanya membiarkan tubuhnya menerima hantaman.
“Appaaa?!” pekik Nenek Haus Jantung syok dan frustasi, setelah melihat tongkat saktinya musnah menjadi butiran debu yang kemudian berterbangan ditiup angin pagi yang sepoi-sepoi sentosa.
Si nenek yang pembawaannya biasa tenang, kali ini terlihat panik dan bingung cara menghadapi gadis muda itu. Ia memang masih memiliki ilmu tinggi yang lain, tapi jika melihat seperti itu, ia jadi ragu bahwa ilmu saktinya akan berfungsi terhadap ilmu kebal Tirana.
Tirana berhenti maju. Kini jaraknya tinggal tujuh langkah dari si nenek.
“Masih adakah ilmu kesaktian yang kau simpan, Nek?” tanya Tirana santun dengan senyum ramahnya.
“Masih!” jawab Nenek Haus Jantung lantang.
“Silakan keluarkan!” kata Tirana.
“Jangan besar kepala dulu!” kata Nenek Haus Jantung, tetapi tidak terlihat bibirnya berbicara.
Tirana agak terkejut, sebab suara yang berkata terdengar datang dari belakangnya, bukan dari nenek yang berdiri di depannya.
Ternyata, di belakang Tirana muncul sosok Nenek Haus Jantung yang lain. Sosok nenek di belakang Tirana itu telah menciptakan bola sinar kuning berpijar raksasa, sepuluh kali lebih besar dari kepala manusia.
Bruss!
Bola sinar besar itu Nenek Haus Jantung hantamkan ke tubuh Tirana dari belakang.
Hasilnya, tubuh Tirana terpental beberapa tombak ke depan. Tanah tempatnya berpijak berkubang besar. Namun, Tirana tidak terluka sedikit pun. Ia hanya bergerak bangun dari jatuhnya.
Sementara sosok Nenek Haus Jantung yang pertama telah hilang.
“Apakah masih ada, Nek?” tanya Tirana. Sambil melangkah kembali mendekati Nenek Haus Jantung, Tirana mengeluarkan satu benda kecil dari selipan sabuk pakaiannya.
Jika dilihat dari jarak jauh, tidak akan terlihat benda apa yang ada di tangan Tirana. Jika dilihat dari dekat, maka akan diketahui bahwa itu adalah sebuah jarum emas berekor benang putih sepanjang dua jengkal.
Ini untuk pertama kalinya Tirana mengeluarkan senjata rahasia miliknya yang bernama Jarum Bernyawa. Sebenarnya Tirana memiliki tiga jenis senjata rahasia yang sangat jarang ia gunakan, salah satunya adalah Jarum Bernyawa.
Set!
Tirana melepas Jarum Bernyawa seperti melepas seekor capung dari tangkapan. Jarum emas berekor benang itu langsung melesat cepat tidak terlihat. Menyerang Nenek Haus jantung.
Nenek Haus Jantung tidak bisa melihat benda apa yang melesat menyerangnya, tetapi bisa merasakan tenaga saktinya.
Sing! Tek!
Buru-buru Nenek Haus Jantung memasang ilmu perisainya berupa dinding tenaga yang juga tidak tampak. Jarum emas Jarum Bernyawa harus berhenti melesat karena tertahan oleh dinding perisai yang tidak tampak. Namun, Jarum Bernyawa tidak jatuh ke tanah, tetapi tetap bertahan, seolah sedang menekan mencoba menembus dinding perisai si nenek.
Pada saat itulah, Nenek Haus Jantung bisa melihat benda apa yang menyerangnya karena jarum itu ada di depan dadanya.
“Mustahil!” teriak Nenek Haus Jantung terkejut.
Tes!
“Hekh!”
Setelah tertahan oleh dinding perisai gaib, Jarum Bernyawa mendadak melesat cepat menembus dinding perisai dan menembus dada Nenek Haus Jantung.
Sepasang mata tua si nenek mendelik seram. Disusul munculnya rembesan darah hitam dari celah bibir tuanya. Selanjutnya dia tumbang dengan jatuh berlutut lebih dulu, lalu wajahnya jatuh menabrak tanah tanpa kompromi.
__ADS_1
Nenek Haus Jantung tewas dengan jantung yang rusak bolong.
Sementara itu, Jarum Bernyawa kembali ke jari Tirana. (RH)