Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
26. Akhir Berbuntut Kebingungan


__ADS_3

Joko lalu duduk bersila. Ia melakukan gerakan tangan perlahan seraya mengatur pernapasannya. Beberapa hentakan kecil dilakukan kedua tangannya. Lalu diam dengan mata tertutup dan napas teratur. Kedua lengannya lurus di sisi tubuh dengan telapak menapak bumi kanan-kiri.


Tak berapa lama, sekilas muncul sinar biru yang sangat tipis dari kedua telapak tangan Joko yang terus menjalar menyelimuti tubuh dan hilang masuk ke kepala. Usai hembuskan napas perlahan, Joko pun selesai. Tampak wajah dan gerak tubuhnya segar tanpa masalah. Seperti itulah cara Joko untuk memulihkan tubuh dan mengobati lukanya. Cara penyembuhan seperti itu bernama Cuci Raga.


Sementara itu, dengan tongkat yang bersinar hijau pula, Nenek Kerdil Raga melemparkan tongkat besarnya. Tongkat itu berputar-putar sendiri ke sana dan ke mari menghancurkan sosok-sosok duplikat Hujabayat. Kecepatan tongkat tersebut membuat sosok-sosok Hujabayat sulit menghindar.


Bukk!


“Hukk!” keluh sosok asli Hujabayat saat perutnya ditusuk kepala tongkat dengan kerasnya, membuatnya terjengkang jauh.


Sosok asli Hujabayat yang terkena serangan membuat empat sosok duplikat lainnya seketika lenyap dengan sendirinya.


Nenek Kerdil Raga berkelebat menyambar tongkatnya lalu menusukkannya ke arah Hujabayat yang agak jauh di sana.


Jress!


Dari ujung tongkat Nenek Kerdil Raga keluar lingkaran-lingkaran sinar hijau berbentuk cincin yang berlesatan secara beruntun kepada tubuh Hujabayat. Si pemuda yang sudah terluka parah, tidak bisa mengelak saat tubuhnya dijerat beramai-ramai oleh sinar hijau.


Jebs jebs jebs!


“Akk...!” jerit Hujabayat kesakitan, karena rasa sakit dan panas bercampur menyiksa dirinya dalam cekikan cincin-cincin sinar yang terus berdatangan melilit tubuhnya.


Sess! Blarr!


Joko melesatkan sinar ungu berbentuk bulan sabit. Ilmu Bulan Pecah Karang itu menghantam tongkat Nenek Kerdil Raga hingga hancur. Nenek Kerdil Raga bahkan terpental dan jatuh terduduk. Dengan demikian pula, Hujabayat terbebas dari jerat sinar-sinar hijau yang menghilang dengan sendirinya.


“Bocah setaaan!” teriak Nenek Kerdil Raga panjang seraya memandang buas kepada Joko.


Sess!


Joko membalas kemarahan Nenek Kerdil Raga dengan melesatkan sinar ungu Bulan Pecah Karang. Nenek Kerdil Raga melompat mengelak sambil lesatkan pula sinar hijau bulat pipih. Joko pun melompat menghindar. Kedua sinar mereka sama-sama menghancurkan tempat kosong.


Joko Tenang maju mendekat, tapi ia jaga jarak lebih dari empat langkah.


Bak bak!


“Hukh!” pekik Nenek Kerdil Raga terjengkang bergulingan di dekat kobaran api rumah Ki Demang. “Hoekh!”


Nenek Kerdil tidak menyangka bahwa hentakkan tangan Joko dari jarak jauh begitu cepat menghantam dada kecilnya. Dua cap jejak kaki kucing hitam berasap membekas di dada si nenek. Berbeda dengan pukulan jarak jauh, pukulan Tapak Kucing akan langsung sampai ke sasaran saat ia dihentakkan, tidak ada masa merambah jarak. Kelebihan itu yang membuat pukulan Tapak Kucing selalu mengenai lawan.


Nenek Kerdil Raga masih bangkit dengan wajah yang sudah belepotan darah kental. Ia meludah darah.


Bug!


“Rasakan Jejak Mautku!” teriak Nenek Kerdil Raga setelah kaki kanannya menjejak bumi.

__ADS_1


Hasilnya, Joko tidak bisa mengangkat kakinya lepas dari tanah.


Dalam kondisi itu, Nenek Kerdil Raga membuka lebar-lebar mulut tuanya. Dari dalam mulut itu muncul pusaran air kecil yang kemudian melesat menyerang Joko.


Wuss!


Tidak ada jalan lain bagi Joko selain melepaskan angin Langit Membakar Bumi. Karakter ilmu angin ini adalah menelan musnah ilmu lawan, seperti yang terjadi dengan pusaran air kecil Nenek Kerdil Raga.


“Hah!” kejut Nenek Kerdil Raga yang sekaligus membuatnya telat menghindar dari angin panas yang terus menderu dan menerpa tubuhnya.


Tubuh kecil itu pun terbang dengan tubuh diselimuti api yang berkobar.


“Aaa ...!” jerit Nenek Kerdil Raga kepanasan dalam keterbakarannya.


Sess! Blarr!


Joko memutuskan untuk mengakhiri penderitaan Nenek Kerdil Raga dengan melesatkan sinar ungu Bulan Pecah Karang. Tubuh Nenek Kerdil Raga pun hancur dan berakhirlah riwayat si nenek.


Selesai sudah pertarungan di tempat itu.


Joko segera menghampiri Hujabayat yang tergeletak dalam kondisi luka parah.


“Biar aku obati,” kata Joko.


Hujabayat sendiri merasa takjub dengan proses penyembuhan Joko yang cepat dan sempurna.


“Kebetulan, Kisanak. Kekasihmu dalam kondisi tidak baik, sementara aku tidak bisa mengobatinya. Maka itu, aku serahkan kepadamu saja,” kata Joko setelah usai mengobati Hujabayat.


“Tidak, biar aku membawa Kembang Buangi saja,” kata Hujabayat.


“Di mana dia?” tanya Joko sambil mencari keberadaan Kembang Buangi di area itu.


Maka Joko melihat keberadaan mantan centeng Ki Demang Rubagaya, yaitu Jagur.


“Pendekar!” teriak Jagur sambil lambaikan tangan kepada Joko dari kejauhan. Di dekatnya ada sebuah tandu kayu yang ditiduri oleh seorang wanita berpakaian serba putih.


“Ikut aku!” kata Joko kepada Hujabayat.


Hujabayat pun mengikuti Joko pergi ke tempat Pendekar Tikus Langit bersandar. Joko berhenti dalam jarak empat langkah dari tubuh Ginari.


Hujabayat berdiri terpukau menatap wajah Ginari yang menunjukkan kepucatan dan kelemahan. Meski demikian, Ginari masih sadar dan bisa melihat kehadiran Joko dan Hujabayat. Inilah kali pertama Hujabayat memandang wajah Pendekar Tikus Langit yang selama ini tertutupi oleh topeng kain hitam. Gadis itu ternyata begitu jelita.


“Apakah kau bisa bicara, Ginari?” tanya Joko dengan menyebut nama asli gadis itu.


Ginari hanya terdiam.

__ADS_1


“Lukanya begitu parah,” kata Joko lirih.


Ses!


Joko lalu melesatkan sinar biru bening dan masuk ke tubuh Ginari. Gadis itu agak mendelik saat merasakan hawa sejuk merasuki seluruh bagian tubuhnya, lalu lenyap kembali.


“Apakah kau sudah bisa bicara, Ginari?” tanya Joko.


“Iya,” jawab Ginari yang bahkan bisa menggerakkan kepalanya, tapi tetap tidak bisa menggerakkan tangan tubuhnya yang lain.


“Ini ada kekasihmu, lebih baik dia yang mengurusmu,” kata Joko kepada Ginari.


Mendelik Hujabayat disebut “kekasih” oleh Joko. Ia jadi salah tingkah, ingin bicara tapi bingung bicara apa, terlebih Ginari menatapnya dengan tatapan tidak mesra.


“Meski kakekmu berpesan agar aku menikahimu, tapi alangkah baiknya kau bersama kekasihmu ini. Terlebih, mana mungkin aku menikahimu, mendekatimu saja aku tidak bisa dan....”


“Dia bukan kekasihku,” ucap Ginari dengan wajah dingin.


“Kau, kau salah paham, Joko,” kata Hujabayat agak tergagap.


“Tapi, bukankah kau tadi sangat ingin menghajarku....”


“Biar aku memastikan kondisi Kembang Buangi,” kata Hujabayat cepat memotong perkataan Joko lalu segera pergi meninggalkan Joko dan Ginari.


“Hei!” seru Joko tertahan, tapi tidak bisa mencegah Hujabayat. Lalu katanya kepada Ginari, “Dia tadi sangat bernafsu menghajarku, karena aku dia fitnah telah memperkosa kekasihnya, yaitu kau. Lalu kenapa dia tidak peduli denganmu dan tidak mengakuimu? Kau pun tidak mengakuinya.”


“Hujabayat memang bukan kekasihku. Aku dan dia tidak akrab. Kau masih menyangkal bahwa kau telah memperkosaku?” kata Ginari.


“Apakah kita harus berdebat lagi tentang itu dalam kondisimu seperti ini, Ginari? Aku tegaskan untuk terakhir kalinya, aku tidak pernah memperkosamu atau melecehkanmu!”


Joko lalu duduk empat langkah di depan Ginari.


“Kenapa kau malah duduk? Jika tidak ingin menolongku, tinggalkan aku. Biarkan aku mati dalam kondisi menyesal,” kata Ginari.


“Menyesal kenapa?” tanya Joko.


“Karena tidak bisa membunuhmu!” desis Ginari.


Joko hanya menghempaskan napas mendengar jawaban Ginari yang masih menaruh dendam kepada Joko.


“Bantu aku berpikir,” kata Joko tanpa mengindahkan kemarahan Ginari kepadanya.


“Pergilah, tinggalkan aku!” tandas Ginari.


“Aku sudah berjanji kepada kakekmu, aku tidak akan meninggalkanmu. Yang harus kita pikirkan, bagaimana caranya harus terus membawamu, tanpa membuatku lemah, sampai kita mendapatkan Arak Kahyangan untuk mengobatimu. Aku akan menjadi lemah tidak bertenaga jika mendekatimu atau menyentuhmu dalam kondisi sadar, kau harus mengerti itu,” ujar Joko. (RH)

__ADS_1


__ADS_2