Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 21: Cerita Gunung Prabu


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


 


“Gusti Prabu Dira sedang menjalani hari pernikahannya dengan Permaisuri Ketujuh. Apakah tidak cukup jika aku sebagai ratu dan dua permaisuri yang menerima kedatangan kalian, Pangeran Kubur?” tanya Ratu Getara Cinta.


Dua Permaisuri yang mendampingi sang ratu adalah Permaisuri Nara dan Permaisuri Sandaria.


Pangeran Kubur dan keempat pengikut utamanya duduk di kursi, dua tombak jauhnya dari tangga singgasana di Ruang Jamuan tersebut. Sementara enam belas orang lainnya duduk bersila di lantai.


“Kami merasa sangat tersanjung, Yang Mulia Ratu,” jawab Pangeran Kubur dengan nada yang merendah. Sebagai orang sakti yang mengaku pemimpin dari orang-orang sakti Gunung Prabu, ia sangat bisa merasakan aura kesaktian ketiga permaisuri di depan mereka, terlebih permaisuri yang berambut pendek.


“Adikku Permaisuri Serigala sudah menyampaikan tawaran Gusti Prabu Dira kepadamu tadi pagi. Apakah kedatangan kalian saat ini untuk menyampaikan pilihan kalian?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Benar, Yang Mulia. Aku sudah berunding dengan orang-orangku. Namun, sebelum aku memberikan jawaban kami, kami ingin tahu nasib kelima pendekar kami yang dipenjara,” ujar Pangeran Kubur.


“Kelima pendekar itu dalam keadaan lumpuh oleh ilmu Pengunci Paha milik Senopati Batik Mida. Jika kalian bergabung bersama kami, mereka berlima akan kami bebaskan dan kelumpuhannya akan dipulihkan,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Kami semua sepakat untuk bergabung di bawah pemerintahan Kerajaan Sanggana Kecil. Semua wilayah Gunung Prabu yang menjadi wilayah kekuasaanku, aku serahkan kepada Kerajaan, Yang Mulia. Semoga pilihan kami tepat dan tidak merugikan kami,” ujar Pangeran Kubur.


“Dengan demikian, aku ucapkan kepada kalian semua, selamat datang di Kerajaan Sanggana Kecil!” seru Ratu Getara Cinta.


“Ucapkanlah kalimat janji setia kalian kepada Gusti Prabu Dira dan para permaisurinya!” perintah Permaisuri Nara penuh wibawa.


Pangeran Kubur lalu turun berlutut dan menghormat dalam kepada Ratu Getara Cinta dan kedua permaisuri lainnya.


“Kami, orang-orang Gunung Prabu, menyatakan berjanji akan setia kepada Yang Mulia Prabu Dira dan para permaisurinya!” teriak Pangeran Kubur lantang.


“Kami, orang-orang Gunung Prabu, menyatakan berjanji akan setia kepada Yang Mulia Prabu Dira dan para permaisurinya!” teriak para pengikut Pangeran Kubur bersamaan dalam penghormatannya.


“Aku terima janji setia kalian. Bangkitlah!”


Pangeran Kubur dan kedua puluh pengikutnya bergerak naik, kembali duduk seperti semula.

__ADS_1


“Dengan demikian, kau telah kehilangan semua pengikutmu, Pangeran Kubur, karena kau dan mereka kini menjadi abdi Gusti Prabu Dira!” tandas Ratu Getara Cinta.


“Hamba mengerti, Yang Mulia Ratu,” ucap Pangeran Kubur.


“Sudah berapa lama kalian menguasai Gunung Prabu?” tanya sang ratu.


“Lima belas tahun.”


“Hmm, keputusan besar untuk membuang usaha selama lima belas tahun dalam waktu sehari saja. Namun, kami akan berusaha membuat kalian tidak akan kecewa,” kata Ratu Getara Cinta. “Ceritakanlah tentang Gunung Prabu dan kehidupan kalian selama ini di gunung tersebut!”


“Meski kami adalah kalangan pendekar, tetapi kami hidup layaknya penduduk warga biasa. Kami pun berkebun kacang dan lainnya. Selama ini kami hanya menjaga wilayah gunung agar tidak ada kelompok lain yang bermukim. Ketika para pekerja pembangunan istana ini menggunakan Gunung Prabu sebagai jalur angkut bahan-bahan pembangunan, kami tidak berani mengganggu karena para pekerja itu jumlahnya ribuan dan dikawal oleh orang-orang sakti yang banyak. Orang-orang yang aku pimpin, mereka juga hidup beranak pinak. Selain Kampung Kubur yang didatangi oleh Yang Mulia Permaisuri Keenam, kami masih memiliki satu kampung yang merupakan tempat tinggal istri dan anak-anak kami. Namun, meski kami mengaku adalah penguasa Gunung Prabu, tetapi masih ada penghuni gunung yang jauh lebih kuat dariku….”


“Siapa?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Seorang petapa tua di Gua Api. Petapa itu sudah ada lebih dulu sebelum kami. Sudah sebanyak belasan orang pendekarku yang dibunuhnya karena mencoba mengusiknya. Aku pun tidak sanggup melawannya. Namun, petapa tua tidak pernah keluar dari gua untuk menyerang kami….”


“Pada intinya, meski kau menyerahkan Gunung Prabu kepada Kerajaan, tetap saja gunung itu tidak bisa menjadi milik Kerajaan sepenuhnya, karena masih ada penguasa tidak terkalahkan di gunung itu?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Benar, Yang Mulia Ratu,” jawab Pangeran Kubur.


Semua dibuat terkejut dengan perkataan Permaisuri Nara, terutama Pangeran Kubur.


“Jika Kakak Permaisuri Mata Hati mengenal petapa itu, apakah Kakak juga tahu siapa yang bisa mengatasinya?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Kau pun sanggup mengatasinya, Yang Mulia Ratu. Namun, izinkan aku yang nanti menemuinya. Dia adalah teman lama,” kata Permaisuri Nara.


Mendeliklah Pangeran Kubur mendengar perkataan Permaisuri Mata Hati. Ia teringat ketika ia menyantroni Gua Api setelah belasan pengikutnya mati di sana, kesaktiannya yang ia klaim tinggi, tidak ada apa-apanya bagi petapa sakti itu. Jika Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara bisa mengatasi petapa itu, ia tidak bisa menerka setinggi apa kesaktian dua wanita jelita itu.


“Lalu, apa pengetahuanmu tentang para penghuni Hutan Malam Abadi?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Hutan itu dipimpin oleh seorang pendekar wanita yang bernama Penagih Nyawa. Kami bermusuhan dengan orang-orang Hutan Malam Abadi, jadi kami tidak mau saling berurusan,” jawab Pangeran Kubur.


“Seperti apa kekuatan mereka?” tanya sang ratu lagi.

__ADS_1


“Jika mereka lebih kuat dari kami, mungkin mereka akan mencoba merebut Gunung Prabu. Namun, jika kami lebih kuat dari mereka, mungkin kami akan mencoba merebut Hutan Malam Abadi,” jelas Pangeran Kubur.


“Aku mengerti maksudmu. Besok pagi kau harus sudah berada di sini kembali, Pangeran Kubur. Gusti Prabu Dira akan memberimu langsung jabatan dan apa tugas serta wewenangmu ke depannya. Bagi semua warga Gunung Prabu, besok datanglah untuk mendaftarkan diri sebagai prajurit atau sebagai warga biasa!” kata Ratu Getara Cinta memutuskan.


“Baik, Yang Mulia Ratu!” ucap mereka serentak.


“Jamuan makanan sudah dihidangkan untuk kalian, maka nikmatilah!” perintah Ratu Getara Cinta sambil melemparkan pandangan ke arah sudut ruangan besar itu.


Pangeran Kubur dan semua pengikutnya menengok memandang ke sudut belakang ruangan. Di sana, ada sebuah meja kayu panjang. Di atasnya telah tergelar berbagai macam hidangan kelas istana.


“Aku akan menemani kalian makan!” sahut Permaisuri Sandaria.


Ratu Getara Cinta dan kedua permaisuri lainnya bangkit dari duduknya. Pangeran Kubur dan warga Kampung Kubur segera turun berlutut menghormat. Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Sementara Permaisuri Sandaria berjalan pelan menuju meja hidangan.


“Bangunlah kalian semua!” perintah Permaisuri Sandaria.


Sementara itu, di halaman Istana. Permaisuri Tirana membawa Ginari untuk menemui Gimba. Dengan membawa Ginari menemui burung rajawali raksasa itu, Permaisuri Tirana mencoba memberikan ingatan kepada murid Setan Genggam Jiwa itu.


Bersama Kembang Buangi, Ginari dan Tirana adalah tiga wanita pertama yang pernah menggunakan jasa terbang Gimba.


“Ginari, apakah kau ingat dengan Gimba, burung rajawali raksasa milik Joko yang membawa kita terbang ke timur, ke Rimba Berbatu?” tanya Tirana kepada Ginari, sambil memberdirikan gadis jelita di depan paruh Gimba.


Kaaak!


Gimba berkoak pelan. Koakan itu ternyata membuat pupil mata Ginari bergerak, dari memandang kosong jauh ke depan menjadi fokus menatap mata Gimba.


“Gi… Ginari!” sebut Permaisuri Tirana tergagap karena melihat ada gerakan mata yang terjadi pada wajah gadis itu. Ia agak terkejut dengan reaksi itu. Lalu katanya dengan bersemangat, “Ayo, Ginari! Kita terbang!”


Permaisuri Tirana lalu menyambar tubuh Ginari dan membawanya naik ke pangkal leher Gimba.


“Gimba, ayo kita terbang menghibur Ginari!” teriak Permaisuri Tirana.


Kaaak!

__ADS_1


Gimba berkoak pelan lalu menolakkan sepasang ceker besarnya dan mengepakkan kedua sayap lebarnya. Angin keras langsung berhembus seiring terbangnya Gimba membawa kedua wanita jelita itu. (RH)


__ADS_2