
*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*
“Lapooor!” teriak seorang prajurit Kerajaan Sanggana Kecil sambil berlari kencang, hingga sesekali tubuhnya melayang tanpa menyentuh tanah.
Prajurit yang datang dari luar benteng Istana itu, segera berlutut menjura hormat di depan panggung tempat Prabu Dira dan para permaisuri berada.
“Sampaikan!” perintah Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
“Ada penyusup berhasil lolos masuk ke arah Istana, Gusti Prabu!” lapor prajurit itu.
“Lihatlah ke atas panggung arena!” perintah Prabu Dira.
Prajurit itu lalu berpaling menengok ke arah atas panggung arena. Dilihatnya keberadaan seorang lelaki berpakaian hijau gelap tanpa lengan, membuat lengan kekarnya yang bertato merah terlihat.
“Hahaha!” tawa lelaki berusia empat puluh tahun di atas arena.
“Penyusupnya sudah siap bertarung,” kata Prabu Dira.
Prajurit pembawa pesan itu hanya terkejut, ternyata penyusupnya sudah tiba lebih dulu di depan sang raja.
“Sebuah kerajaan tapi begitu mudah ditembus, hahaha!” kata lelaki asing itu meremehkan, membuat Senopati Batik Mida gusar, karena dialah yang bertanggung jawab di bidang keamanan kerajaan baru itu.
“Sebutkan namamu, Kisanak. Agar aku tahu siapa yang datang mengusik hari pernikahanku!” kata Prabu Dira.
“Aku Tangpa Sanding, pendekar tingkat empat dari Manusia-Manusia Sakti yang menguasai Gunung Prabu!” koar tamu tidak diundang itu.
Prabu Dira lalu berdiri dari duduknya. Ia ulurkan tangan kepada pengantinnya agar Sandaria ikut berdiri.
“Ini adalah hari pernikahanku. Aku tidak mau semangat cintaku terganggu oleh ulah orang seperti ini. Aku menunggu beritanya bahwa dia telah berada di dalam penjara!” seru Prabu Dira.
“Baik, Gusti Prabu. Hamba sendiri yang akan meringkus tamu kurang ajar ini!” seru Senopati Batik Mida sambil menjura hormat.
“Jangan kecewakan aku!” pesan Prabu Dira.
Prabu Dira lalu menuntun Permaisuri Sandaria untuk pergi meninggalkan panggung kebesaran itu. Prabu Dira pergi membawa istri keenamnya menuju kamar asmara, yaitu kamar Permaisuri Sandaria sendiri.
Ratu Getara Cinta bersama sejumlah dayang segera mengawal di belakang Prabu Dira dan Permaisuri Sandaria. Mereka akan mengawal hingga ke pintu kamar Permaisuri Sandaria.
“Beraninya kau mencoba mempermalukan anggota Pasukan Seratus Bintang!” teriak Senopati Batik Mida lalu melompat bersalto di udara tinggi.
Jleg!
Karena tamu tidak diundang itu telah pamer kesaktian di atas panggung, maka senopati yang bergelar Panglima Dada Perkasa itu juga melakukan hal serupa. Pendaratan kedua kakinya di lantai arena menyebarkan gelombang tenaga sakti yang membuat Tangpa Sanding terjajar tiga tindak.
Hal itu membuat Tanpa Sanding mendelik terkejut. Ia segera memasang kuda-kuda. Kini kedua orang sakti itu berdiri berhadapan di atas satu arena, tanpa kehadiran seorang pun wasit.
“Aku adalah orang yang bertanggung jawab atas keamanan di kerajaan ini. Keusilanmu menyusup pada hari ini adalah perkara konyol, Kisanak. Kau datang di saat orang-orang terbaik Kerajaan Sanggana Kecil berkumpul!” seru Senopati Batik Mida.
__ADS_1
“Hahaha! Jangan hanya berkoar. Jika sampai aku tidak kembali menjelang matahari terbenam, maka lima pendekar tingkat lima Manusia-Manusia Sakti akan menggempur ke istana ini!” seru Tangpa Sanding yang didahului dengan tawa yang dipaksakan, guna menutupi keterkejutannya tadi saat merasakan gelombang tenaga sakti lawannya.
“Jangankan pendekar tingkat lima, seratus pendekar tingkat seratus pun akan menyesal jika menyerang kerajaan ini! Buktikan koaranmu!” seru Senopati Batik Mida, lalu pada akhir kalimatnya dia berteriak sambil melesat ke depan.
“Hah! Terlalu cepat!” kejut Tangpa Sanding.
Dak dak dak! Buks!
Dengan gerakan yang cepat tapi kelabakan, Tangpa Sanding menangkis tiga serangan pukulan bertenaga dalam tinggi. Namun, serangan keempat Senopati Batik Mida dapat lolos meninju dada Tangpa Sanding.
“Jempol!” teriak Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat bersorak bersama.
Tubuh Tangpa Sanding terjengkang hingga ke pinggir arena.
“Jangan kasih napas!” teriak Swara Sesat penuh semangat mendukung Senopati Batik Mida.
“Jangan kasih napas! Jangan kasih napas!” teriak Garis Merak dan Kurna Sagepa mengikuti teriakan Swara Sesat.
Melihat tindakan ketiga bajak laut itu, Surya Kasyara, Gowo Tungga, Gembulayu dan Senandung Senja ikut meneriakkan kalimat yang sama berulang-ulang, membuat pertarungan itu memiliki suasana yang ramai.
Sebelum Tangpa Sanding bangkit, Senopati Batik Mida sudah berada di udara, tepat di atasnya.
Bugk bugk bugk!
Tiga pukulan jarak jauh melesat dari atas mengincar tubuh Tangpa Sanding. Lelaki bertato itu buru-buru bergulingan menghindari ketiga pukulan jarak jauh yang memecahkan lapisan atas lantai.
“Jangan kasih napas! Jangan kasih napas!” teriak para suporter yang kini yel-yel itu diteriakkan pula oleh para prajurit, sehingga terdengar begitu ramai.
Suasana ramai tapi tegang itu membuat para permaisuri tersenyum.
Namun, upaya Tangpa Sanding untuk menjauhi Senopati Batik Mida agar bisa melakukan serangan balasan, tidak mendapat waktu kosong. Sebab, Senopati Batik Mida telah melesat begitu cepat, nyaris tidak terlihat.
Dak! Baks!
“Hukr!”
Tangpa Sanding hanya mampu menangkis satu tendangan Senopati Batik Mida. Selanjutnya, dua hantaman telapak tangan sekaligus menghajar dada Tangpa Sanding.
“Jempol!” teriak ketiga bajak laut yang kemudian diikuti oleh teriakan para prajurit.
Tangpa Sanding terpental keluar dari arena pertarungan dengan mulut menyemburkan darah. Rupanya Senopati Batik Mida bertarung tidak setengah-setengah, karena dalam waktu singkat dia sudah membuat lawannya muntah darah.
Blugk!
Tangpa Sanding jatuh berdebam di tanah pelataran yang keras. Lagi-lagi Panglima Dada Perkasa telah berada di udara, tepat di atas tubuh Tangpa Sanding.
“Tenggelamkan! Tenggelamkan!” teriak Swara Sesat penuh emosional, seolah ia berteriak kepada Senopati Batik Mida. Teriakannya diiringi oleh goyangan bokongnya yang aduhai.
__ADS_1
“Tenggelamkan! Tenggelamkan!” teriak Garis Merak dan Kurna Sagepa serta timnya Surya Kasyara.
“Tenggelamkan! Tenggelamkan!” teriak Senandung Senja pula tidak mau kalah heboh.
Bruss!
“Hekh!”
Senopati Batik Mida yang sudah barada di atas Tangpa Sanding, melesatkan tinjunya dari jarak jauh. Satu sinar merah berbentuk jaring laba-laba mungil melesat cepat. Kali ini Tangpa Sanding yang sudah terluka parah tidak bisa berbuat banyak. Sinar merah itu melesat masuk ke dalam tubuhnya, membuatnya mengeluh kesakitan.
“Jempoool!” teriak semua prajurit serentak.
Senopati Batik Mida mendarat di sisi tubuh Tangpa Sanding seraya tersenyum menang. Ilmu Pengunci Paha itu cukup untuk melumpuhkan Tangpa Sanding.
Tangpa Sanding tidak mati, tetapi ia merasakan rasa sakit pada tubuhnya, terutama pada bagian pahanya yang terasa lumpuh. Ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya, meski masih mampu menggerakkan badan dan kedua tangannya.
“Kakimu akan lumpuh selama dua purnama. Dan kami akan menunggu teman-temanmu yang lain!” kata Senopati Batik Mida kepada Tangpa Sanding. “Kalian seharusnya mengirim utusan, bukan mengirim penyusup.”
“Kalian akan menyesal jika membuat marah Pangeran Kubur!” desis Tangpa Sanding.
“Prajurit! Kurung orang ini di Penjara Pasir Api!” perintah Senopati Batik Mida.
Dua orang prajurit segera datang. Kedua tangan Tangpa Sanding diborgol dengan sebuah tali khusus seperti berbahan karet berwarna hitam. Kedua prajurit lalu menarik menyeret tubuh Tangpa Sanding karena orang itu sudah tidak bisa berjalan.
Sementara itu, di dalam kamar Sandaria.
Percumbuan sedang berlangsung antara Prabu Dira dengan Sandaria. Ternyata Prabu Dira yang sudah tidak bisa menahan nafsu birahinya, harus bekerja keras untuk menaklukkan gadis mungil itu.
Meski bahagia dengan resminya ia menjadi istri Prabu Dira, tetapi Sandaria terlalu malu untuk melakukan sentuhan-sentuhan dengan suaminya. Ia banyak melakukan pengelakan sambil tertawa-tawa cekikikan.
Beberapa kali Sandaria memilih main tikus-tikusan menghindari kejaran cinta Prabu Dira. Kekesalan bercokol di dalam dada Prabu Dira menghadapi tingkah istri mungilnya itu. Namun, ia harus bersabar.
“Ayolah, Sandaria Sayang!” bujuk Prabu Dira.
“Hihihi! Aku malu, Kakang Prabu. Aku terlalu malu!” kilah Sandaria.
“Baiklah, jika kau memang tidak mau, lebih baik aku keluar dan menyaksikan pertandingan para prajurit di luar,” kata Prabu Dira lemah.
“Eh!” kejut Sandaria. Hal buruk langsung terpikirkan di dalam kepalanya. Buru-buru dia melesat memeluk pinggang suaminya dari belakang sebelum berjalan ke pintu.
Sandaria memeluk erat tubuh suaminya.
“Maafkan aku, Kakang Prabu,” ucap Sandaria sedih. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat suaminya mengambil sikap seperti itu.
Prabu Dira tersenyum tipis. Taktiknya berhasil. Ia lalu berbalik dan balas memeluk erat Sandaria yang tubuhnya begitu harum, membuat nafsu birahinya kian menggebu-gebu.
“Kali ini tidak akan aku lepaskan!” bisik Prabu Dira di telinga kanan Sandaria.
__ADS_1
“Hihihi…!” Sandaria tertawa cekikikan saat Joko Tenang mulai menciumi area telinga dan lehernya. (RH)