Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
136. Pendekar Seribu Naga


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Pendekar Seribu Naga telah masuk ke ibu kota He. Pemeriksaan di pintu gerbang utama benteng Ibu Kota begitu ketat. Hanya orang-orang yang jelas identitasnya yang boleh masuk.


Meski Pendekar Seribu Naga adalah orang yang jelas identitasnya karena nama aslinya adalah Zo Ro, tetapi ia tidak mau berurusan hal yang dianggapnya remeh temeh itu. Maka Pendekar Seribu Naga memilih masuk secara ilegal.


Hebatnya, ia masuk dengan cara memanjat tingginya benteng Ibu Kota dengan mudah dan tanpa diketahui oleh prajurit penjaga.


Zo Ro adalah seorang lelaki berusia 48 tahun. Ia mengenakan baju hitam tanpa lengan, memperlihatkan kekarnya otot dan sejumlah bekas luka sayatan benda tajam. Bekas luka sodetan benda tajam juga ada membekas di pipi kirinya, membuat wajahnya terliha cukup menakutkan. Rambutnya gondrong sebahu dan terkesan tidak rapi.


Saat ini Zo Ro berjalan di salah satu jalan lebar Ibu Kota, tetapi bukan di Jalan Liong Sue, tepatnya di bagian utara.


“Hahaha!”


Saat pada satu titik, Zo Ro mendengar sejumlah prajurit berseragam hitam-hitam sedang tertawa terbahak tanpa beban utang. Keempat prajurit itu sedang beristirahat dari tugasnya dan memilih makan di situ.


Zo Ro berhenti di depan warung makan dan berdiri menatap tajam ke dalam, tepatnya kepada keempat prajurit yang duduk di satu meja.


“Hei, lihat!” kata prajurit yang duduknya menghadap ke luar warung makan, seraya menghentikan tawanya. Ia menunjuk dengan satu dongakan kecil pada wajahnya.


Ketiga temannya segera menghentikan tawa dan menengok. Satu prajurit bahkan sampai membalikkan tubuh atasnya demi melihat apa yang ditunjuk oleh teman mereka.


“Wow! Sepertinya dia bukan gembel,” ucap salah satu dari mereka, lirih.


“Lihat, dia tidak memiliki tanda pengenal!” kata satu prajurit lagi agak keras.


Brakr!


Mengejutkan. Tiba-tiba Zo Ro menendang punggung prajurit yang membelakanginya. Begitu keras. Prajurit itu sampai tersungkur menabrak meja. Makanan yang ada di mulutnya tersembur bersama darah menghujani wajah dan tubuh temannya.


Meja patah dua dan dua prajurit itu saling tindih. Prajurit yang ditendang Zo Ro langsung tewas. Dua lainnya masih duduk di kursinya dalam kondisi terkejut dan cukup syok tanpa meja lagi. Satu tangan mereka masih memegang dua batang sumpit.


“Aaa!” jerit para pengunjung lain. Mereka berhamburan keluar demi menyelamatkan diri. Pemilik dan pelayan warung makan segera bersembunyi.


Bukr! Bukr! Seb!


Tindakan Zo Ro berlanjut dengan cepat meninju dada dua prajurit yang duduk bergantian. Keduanya langsung tewas dengan dada remuk dan mulut penuh darah. Setengah detik kemudian, dua sumpit dilesatkan menancep di dua titik pada leher prajurit yang tertindih tadi.


Empat prajurit Pasukan Naga Merah Utara tewas dalam waktu yang begitu singkat.

__ADS_1


Dengan tenang Zo Ro berbalik dan pergi, tanpa pengindahkan tatapan-tatapan takut dari warga sekitar.


“Berhenti!” teriak seorang pemimpin prajurit dari belakang Zo Ro.


Zo Ro menengok ke belakang. Sepuluh prajurit berpedang datang berlari dari jarak lima belas langkah.


West!


Zo Ro berbalik lalu mengibaskan tangan kanannya. Selengkungan angin yang lebih tajam dari pedang melesat dan memotong rata tubuh kesepuluh prajurit itu. Semuanya tewas tanpa sisa.


Warga yang melihat kengerian itu jadi berjeritan ngeri.


Cuss! Ctar!


Tiba-tiba sebuah suar warna merah melesat ke angkasa dan meledak tepat jauh di atas posisi Zo Ro. Suar yang memberitahukan bahwa ada pembunuh itu, dilepaskan oleh seorang prajurit yang muncul berdua saja dengan rekannya.


Dum dum dum, drum dum...!


Suar itu membuat prajurit penjaga menara utara menabuh genderangnya dan menuliskan bahasa sandinya di dinding menaranya. Penjaga menara memberi tahu bahwa ada pembunuh di Ibu Kota bagian utara.


Pesan itu kemudian disampaikan secara estafet hingga laporan pun sampai kepada Kaisar Long Tsaw dan Permaisuri Fouwai yang sedang menjamu minum putrinya dan Joko Tenang.


“Menurutku, mereka akan belajar dari kekalahan kemarin di parit selatan. Itu artinya, ini lebih berbahaya. Izinkan aku, Ayahanda, bersama Joko untuk mengatasi masalah itu,” ujar Putri Yuo Kai.


Su Mai pun menerjemahkan teruntuk Joko perkataan sang putri.


“Ah, sebagai calon menantu, aku rasa itu menjadi kewajibanku. Akan malu terhadap gelar pendekarku jika harus membiarkan calon istriku bekerja kasar,” kata Joko Tenang.


“Hahaha!” tawa sang kaisar dan permaisuri bersamaan mendengar terjemahan Su Mai.


Sementara Putri Yuo Kai tersenyum malu mendengar keromantisan Joko.


Kembali ke bagian utara Ibu Kota.


Sejumlah prajurit keamanan yang posisinya terdekat dari titik kejadian, segera berdatangan dipimpin oleh para pemimpin prajuritnya masing-masing.


Ketika Zo Ro mulai melihat kemunculan sejumlah pasukan prajurit, ia memilih berkelebat pergi dengan melompat naik ke atas bangunan lalu menghilang.


Set! Tak!

__ADS_1


Ketika Zo Ro tidak bisa dikejar oleh pasukan keamanan, dari samping tiba-tiba sebatang tombak melesat lebih cepat dari anak panah. Zo Ro yang saat itu berada di udara, dengan tangkas menepiskan tangannya, membuat tombak prajurit itu berbelok dan menancap di tembok jalan.


“Siapa yang berani membuat kacau di wilayah keamanan Komandan Hei Xiong?!” teriak seseorang, seiring berkelebatnya sesosok tubuh tinggi kekar berseragam biru-biru.


Perwira prajurit yang adalah Komandan Hei Xiong itu kini berdiri gagah di tengah-tengah jalan Ibu Kota.


Zo Ro yang juga telah berdiri menghadap Komandan Pasukan Naga Merah Utara itu tersenyum sinis. Tatapannya tajam kepada Komandan Hei Xiong, seolah ia sudah melihat malaikat maut di atas kepala lelaki besar itu.


West!


Selengkungan angin yang lebih tajam dari pedang dilesatkan oleh tangan kanan Zo Ro. Sigap Komandan Hei Xiong melompat seperti harimau dengan tubuh berputar silinder di atas angin tajam itu. Sementara kedua tangannya melesatkan kedua kapak bergagang pendeknya.


Set! Bdar!


Sambil menghindari satu kapak yang mengancam, tinju Zo Ro yang bersinar biru justru meninju datangnya kapak yang lainnya.


Kapak yang ditinju hancur menjadi kepingan logam yang tidak berarti. Sementara satu kapak lagi melesat berputar-putar melewati tubuh Zo Ro.


Terkejut Komandan Hei Xiong menyaksikan satu senjata setianya hancur begitu saja. Kemudian dia menghentakkan kedua lengannya, membuat kedua lengan itu kini dilapisi gelombang tenaga dalam yang tinggi.


“Hiaaat!” teriak Komandan Hei Xiong sangar sambil merangsek maju menyerang dengan tinju-tinjunya, yang jika terkena akan menghancurkan apa yang dihantamnya.


Namun, itu tidak berlaku bagi Zo Ro. Kedua tangannya sama kuat dengan tangan Komandan Hei Xiong.


Tap!


Tangan kiri Komandan Hei Xiong mantap menangkap satu kapaknya yang melesat berbalik seperti bumerang. Lalu langsung dijadikan senjata untuk menebas apa saja bagian tubuh Zo Ro.


Pertarungan itu begitu seru. Entah kapan datangnya? Pasukan berlapis-lapis sudah berdiri menutup dua arah jalan itu. Pasukan pedang bertameng, pasukan tombak bertameng dan pasukan panah sudah siap membidik.


Set!


Dugg! Zress!


Pada satu ketika, Zo Ro menghindari tebasan kapak tangan kiri Komandan Hei Xiong. Sementara tinju kanannya melesat kepada sang komandan. Tinju itu dilapisi sinar biru. Berani ambil risiko, dengan tinju bersinar merah pula, Hei Xiong mengadu tinju kanannya dengan tinju Zo Ro.


Adu tinju terjadi. Namun kedua tinju dahsyat itu seolah menyatu oleh lem. Tiba-tiba muncul aliran sinar merah mengalir dari pangkal lengan kanan Zo Ro. Aliran sinar merah seperti wujud ular itu mengalir cepat melilit tangan, lengan, dan tubuh Komandan Hei Xiong.


“Aaak...!” jerit Komandan Hei Xiong tinggi. Ia merasa seperti dililit ular nyata yang besar dan rasanya sepanas bara api. (RH)

__ADS_1


__ADS_2