
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Kerling Sukma menengok ke belakang. Dilihatnya seorang wanita berjubah kuning, tetapi berambut pendek seperti lelaki, duduk di kursi batu menghadapi meja batu. Wanita yang terlihat masih gadis itu memiliki bentuk hidung dan bibir yang bisa disebut sempurna. Jika mata fokus memandang hidung dan bibirnya saja, akan membuat betah dan seolah tidak ingin beralih. Namun, gadis cantik jelita itu memiliki sepasang bola mata yang berwarnah hitam kusam tanpa cahaya. Dialah wanita yang bernama Nara atau Dewi Mata Hati.
Dewi Mata Hati hakikatnya adalah seorang wanita buta yang berusia sekitar seratus tahun. Namun, ketinggian ilmunya membuatnya bisa melihat dengan mata hatinya. Bahkan ia bisa mendeteksi warna. Gerakannya pun tidak seperti orang buta. Seperti ketika ia menuangkan air ke dalam gelas, tidak terlihat ada kekakuan. Hanya saja pandangannya sering menatap lurus, bukan kepada apa yang sedang dikerjakan oleh tangannya.
Kerling Sukma segera bangkit dan mengeluarkan kakinya dari air. Ujung celana dan rok hijaunya basah oleh air kolam. Namun, itu tidak mengganggunya.
“Hormat murid kepada Guru,” ucap Kerling Sukma sambil turun berlutut menjura hormat.
“Duduklah di hadapanku,” kata Nara lembut.
Kerling Sukma patuh. Ia bangkit dan beranjak duduk berseberangan meja dengan gurunya.
“Bagaimana ilmu Jari Surga-mu?” tanya Nara.
“Sudah rampung, Guru,” jawab Kerling Sukma yang sudah berhenti menangis dan kering air matanya.
“Sempurna?” tanya Nara lagi.
“Iya, Guru.”
“Bagus,” puji Nara. “Lalu apa yang membuatmu menangis?”
“Joko, Guru. Kata Kakang Sobenta dan Kakang Robenta….”
“Sobenta! Robenta! Ke mari!” teriak Nara tiba-tiba, memotong perkataan Kerling Sukma. Nada suara Nara terdengar marah.
Panggilan bertenaga dalam itu membuat Sobenta dan Robenta terkejut. Dalam hitungan detik, mereka berdua sudah berada di dekat Nara dan Kerling Sukma.
“Murid memberi hormat kepada Guru!” ucap Sobenta dan Robenta sambil turun berlutut memberi hormat.
“Berdirilah!” perintah Nara berwibawa. “Ceritakan, apa urusan kalian dengan Joko Tenang sehingga datang memberi kabar kepada Mata Hijau!”
“Kakang Sobenta yang punya urusan, Guru. Aku tidak berurusan dengan pemuda itu,” kata Robenta, memilih aman. Dari nada suara gurunya, ia bisa menebak bahwa Dewi Mata Hati sedang marah, mungkin karena mendapati Kerling Sukma menangis.
“Awal ceritanya, aku mau mencarikan jodoh untuk Kumala Rimbayu. Aku bertaruh dengan memaku Kumala di bawah pohon dan menutup wajahnya dengan topeng daun. Siapa lelaki pertama yang membukanya, maka dia harus menjadi suami Kumala….”
__ADS_1
Tak! Bdukk!
“Hukh!” keluh Sobenta setelah kata-katanya terpotong oleh satu tenaga besar yang menekan tubuhnya dari atas. Ia jatuh berlutut dua kaki ke lantai batu. Padahal gurunya hanya menepukkan jari telunjuknya ke meja batu.
“Muridmu sudah banyak di Perguruan Seruling Sakti, tetapi kau masih saja bertingkah bodoh. Jika bukan Joko yang membuka topeng Kumala, apakah kau juga akan memaksa orang lain untuk menikahi Kumala?” Nara memarahi Sobenta yang berlutut dengan wajah menunduk dan keringat telah jatuh menetes dari keningnya.
“Aku….”
“Kau mau berdalih bahwa kau tidak tahu bahwa Joko adalah calon suami Mata Hijau? Hentikan urusan perjodohanmu dengan Joko. Kau masih bisa mencari pemuda lain untuk Kumala. Jangan pakai cara aneh-aneh!”
“I… iya, Guru!” ucap Sobenta patuh.
“Berdirilah!” perintah Nara seiring ia hentikan tenaga yang menekan tubuh Sobenta.
“Terima kasih, Guru!” ucap Sobenta lalu segera bangkit berdiri.
“Jika hanya seperti itu, tidak mungkin Mata Hijau sampai menangis,” kata Nara yang masih meminta penjelasan. Selama ini Kerling Sukma sangat jarang keluar dari gua atau pergi dari Jurang Patah Hati, sudah pasti tangisnya karena mendapat kabar dari kedua kakak seperguruannya itu.
“Saat kami bertemu dengan Joko, dia bersama tiga orang wanita cantik. Yang satu adalah Helai Sejengkal, gadis yang dibawa Robenta ke sini. Kami menuduhnya sebagai orang yang membunuh Adik Mayilayi. Dua wanita cantik lainnya diakui Joko sebagai calon istrinya. Satu di antaranya lebih dewasa dari Joko,” tutur Sobenta.
Bergerak kecil kepala Nara mendengar bahwa Joko Tenang mengaku memiliki dua calon istri. Sementara Kerling Sukma menunjukkan wajah sedihnya.
“Iya. Robenta juga mendengarnya,” jawab Sobenta.
“Tapi Joko juga mengaku bahwa dia adalah calon suami Kerling Sukma,” kata Robenta menambahkan.
“Makanya aku datang ke sini untuk menanyakan kebenarannya kepada Adik Sukma,” kilah Sobenta.
Nara terdiam sejenak, seolah sedang berpikir.
“Keluarlah kalian berdua, tunggu aku di luar!” perintah Nara kepada kedua murid lelakinya.
“Baik, Guru!” jawab keduanya patuh, lalu berbalik pergi.
“Mata Hijau, sebenarnya aku sejak awal mengkhawatirkan ini terjadi terhadapmu. Namun, aku tidak mau membunuh cintamu kepada Joko,” ujar Nara kepada Kerling Sukma.
“Kenapa Guru sudah menduga seperti itu?” tanya Kerling Sukma lirih.
__ADS_1
“Joko adalah seorang pemuda yang sangat tampan. Meski ia memiliki penyakit lemah terhadap wanita, tetapi tidak akan bisa dihindari bahwa akan banyak wanita yang jatuh hati kepadanya. Aku pernah bertanya tentang Joko kepada seorang sahabat yang bernama Malaikat Serba Tahu. Ternyata Joko adalah cicit dari Dewa Kematian dan akan seperti Dewa Kematian. Jika akan seperti Dewa Kematian, berarti Joko akan memiliki delapan orang istri. Dewa Kematian adalah tokoh sakti masa lalu yang memiliki delapan orang istri,” tutur Nara.
“Akankah seperti itu, Guru?” tanya Kerling Sukma, sepasang mata hijaunya mulai berkaca-kaca lagi.
“Itu hanya dugaanku. Malaikat Serba Tahu hanya mengatakan ‘akan seperti Dewa Kematian’. Dia juga mengatakan, siapa pun wanita yang melindungi Joko akan beruntung. Jadi, kau jangan mengedepankan tangismu. Kau harus menemui Joko dan tanyakan. Masih banyak yang jadi pertanyaan tentang murid Kunsa Pari itu. Jika dia masih mengaku sebagai calon suamimu, itu artinya dia masih mencintaimu,” kata Nara lembut.
“Iya, Guru,” ucap Kerling Sukma sambil buru-buru menyeka air matanya. Ia sepakat dengan gurunya bahwa ia tidak boleh mengedepankan air mata sebelum semuanya jelas.
“Temuilah cintamu, Mata Hijau. Bukankah kau sering mengatakan, ‘di hati ini hanya ada satu nama, kusambut pagi dengan senyum Mentari, kusambut malam dengan senyum rembulan’? Kini satu nama itu telah datang, maka pergilah menemui cintamu. Jangan sampai kau seperti aku dulu, selalu mengedepankan rasa cemburu hingga akhirnya berbuah penyesalan belaka,” kata Nara yang memang pernah mengalami masa pahit dalam kisah asmaranya dengan Ki Ageng Kunsa Pari.
“Iya, Guru,” ucap Kerling Sukma seraya tersenyum manis, bahagia. Ia seolah mendapat pencerahan dari gurunya.
“Bersiaplah, pergilah bersama kedua kakak seperguruanmu!” perintah Nara.
Clap!
Tiba-tiba Nara menghilang begitu saja. Kerling Sukma tidak terkejut karena itu sudah biasa. Seraya tersenyum-senyum sendiri, ia segera pergi ke peraduannya untuk berganti pakaian dan merias diri.
Sedetik kemudian. Nara sudah berdiri di antara muridnya. Ia langsung menghampiri keberadaan Helai Sejengkal. Meski ia mendatangi Helai Sejengkal yang tidak bisa bicara, tetapi pandangan Nara lurus ke arah lain.
“Bebaskan gadis ini!” perintah Nara.
“Tapi, Guru…” ucap Robenta terkejut.
“Tidak ada jejak bau tubuhnya pada mayat Mayilayi. Jika bukan murid pelakunya, kalian bisa langsung mendatangi Nenek Haus Darah. Apakah kalian bisa menangani Haus Darah?” ungkap Nara.
“Bisa, Guru.”
Jelas Sobenta dan Robenta tidak berani meragukan kesimpulan guru mereka. Indera perasa dan penciuman Dewi Mata Hati begitu tinggi, bahkan lebih tajam dari insting hewan pemburu.
“Mata Hijau akan pergi bersama kalian untuk menemui Joko. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar Nara.
“Baik, Guru,” ucap Sobenta dan Robenta bersamaan.
Clap!
Tahu-tahu Nara telah menghilang lagi seperti setan.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Kerling Sukma muncul berjalan seraya tersenyum gembira kepada kedua kakak seperguruannya. Ia mengenakan pakaian yang hampir sama dengan sebelumnya, hanya ini warnanya sedikit lebih terang hijaunya. Parasnya yang jelita kini lebih segar dan tambah cantik oleh riasan yang secukupnya.
“Ayo, Kakang, aku sudah tidak sabar!” ajak Kerling Sukma sambil lebih dulu menuju mulut gua. (RH)