
*Cincin Darah Suci*
Tirana melangkah dengan angker. Keangkerannya bukan pada wajahnya, tetapi pada bola sinar biru yang bercokol di kedua telapak tangannya. Ilmu itu bernama Bola Kulit Langit. Angin bertiup ke segala arah yang bersumber dari tubuhnya. Dan efek dari kesaktian Tirana itu, membuat Biksu Hitam tidak bisa mengangkat lepas kakinya dari lantai yang dipijaknya.
Kondisi itu yang cukup membuat panik Biksu Hitam.
“Wanita sakti dari mana ini? Aku bisa merasakan kedahsyatan tenaga saktinya,” membatin Biksu Hitam.
Bless! Bless!
Karena tidak bisa berpindah tempat, Biksu Hitam memilih menyambut kedatangan Tirana dengan melesatkan dua Tapak Buddha Hitam. Namun, hasilnya tetap sama. Kedua bayangan telapak tangan hitam besar itu lenyap saat tiba dua jengkal di depan tubuh Tirana.
Sebelum gadis jelita itu semakin dekat, Biksu Hitam cepat mengeluarkan tasbih besarnya yang sejak tadi melingkar di leher gemuknya.
Tasbih itu menyala biru. Lalu dilemparkan ke arah Tirana.
Sess!
Untuk pertama kalinya, Tirana melepaskan bola sinar biru Bola Kulit Langitnya. Selama ini, ilmu itu dimunculkan hanya untuk mengancam. Baru kali ini ia lepaskan sejak mendapat tugas dari Raja Kerajaan Sanggana.
Bluar!
Sinar biru itu menghantam tasbih milik Biksu Hitam dan menciptakan ledakan dahsyat. Tasbih hancur putus berantakan lalu jatuh berserakan dalam wujud sudah menjadi arang berasap.
“Hukr!”
Akibat pertemuan itu, gelombang tenaganya yang begitu besar berbalik menghantam tubuh Biksu Hitam. Mulutnya menyemburkan darah dalam kondisi tetap berdiri di tempatnya.
Sess!
Tirana melepaskan bola sinar biru keduanya. Langsung kepada Biksu Hitam. Tidak ada cara lain selain mencoba menahan bola sinar itu dengan ilmu perisainya yang berwarna bening.
Bluarr!
“Aakk!” jerit Biksu Hitam kencang dengan tubuh terpental deras jauh ke belakang, setelah sinar Bola Kulit Langit meledak di perisai beningnya.
Tubuh besar Biksu Hitam jatuh keras lalu masih terseret cukup jauh.
“Hoekh!” Biksu Hitam muntah darah hitam. Wajahnya melepuh terbakar. Jenggot, kumis dan alis putihnya habis terbakar. Pakaiannya berantakan rusak oleh api yang tidak tampak. Yang mengenaskan, tangan kanannya telah tidak ada karena hancur saat ledakan tadi. Kini tinggal lengan kanan sebatas siku.
Tirana lalu berbalik. Ia hentikan pengerahan ilmu dan tenaga dalamnya. Anginnya pun menghilang. Seraya tersenyum, ia berjalan mendatangi Putri Yuo Kai yang kini berdiri dipegangi oleh Bo Fei yang sudah turun ke lapangan.
__ADS_1
Bo Fei agak waspada, karena mereka tidak mengenal wanita asing itu. Namun, senyum ramah Tirana mengendurkan kecurigaan Putri Yuo Kai dan Bo Fei.
“Biar kuobati,” kata Tirana lembut sambil tersenyum.
Putri Yuo Kai tidak mengerti kata-kata Tirana, tetapi mereka segera sadar bahwa bahasanya mirip dengan bahasa Joko Tenang.
“Apakah kau Tirana?” terka Putri Yuo Kai saat Tirana tiba di hadapannya.
“Ah, kau mengenalku?” tanya Tirana yang seketika tertawa kecil karena namanya disebut. Ia lalu mengangguk dan berkata sambil menepuk sekali dadanya, “Ya, aku Tirana.”
“Tidak aku sangka calon istri Joko secantik ini,” kata Putri Yuo Kai kepada Bo Fei.
Tirana tersenyum sambil terus mendekat dan menyentuh sisi kiri wajah sang putri.
“Apa yang akan dia lakukan, Yang Mulia?” tanya Bo Fei agak curiga.
“Biarkan saja,” kata Putri Yuo Kai pelan.
Sambil tetap tersenyum, Tirana mendekatkan wajahnya ke wajah Putri Yuo Kai. Sang putri membiarkannya.
Cup!
Seiring bibir Tirana mencium dahi Putri Yuo Kai, muncul segelombang sinar kuning tipis yang kemudian masuk ke dalam wajah sang putri. Setelah itu, Tirana kembali menarik kepalanya menjauh dari wajah Putri Yuo Kai.
Sepasang mata Putri Yuo Kai melebar saat merasakan ada gelombang hawa sejuk memasuki kepalanya, lalu berproses menjalar ke seluruh anggota tubuh. Dalam waktu singkat, Putri Yuo Kai dapat merasakan bahwa rasa sakit pada seluruh tubuhnya berkurang drastis, tenaga dalamnya pun seolah kembali terkumpul dan bisa dikeluarkan. Kini wajah Putri Yuo Kai tampak lebih segar.
Tirana hanya tersenyum melihat perubahan pada diri Putri Yuo Kai yang telah merasakan kehebatan Kecupan Malaikat, ilmu penyembuh Tirana yang unik.
Bam!
Joko Tenang yang terkurung mencoba menghantam dinding kurungannya dengan satu Pukulan Tapak Kucing. Tapi kurungan itu bergeming.
“Tidak ada cara lain,” ucap Joko lirih.
Press!
Joko Tenang terpaksa mengeluarkan ilmu tertingginya, yakni Surya Langit Jagad. Sinar putih menyilaukan mata muncul di tangan kanan Joko. Ia akan menghantam Genta Kaca dengan ilmu dahsyat itu.
Semuan orang terperangah melihat sinar putih menyilaukan mata yang keluar di tangan kanan Joko.
“Hihihi! Kucing Hutan! Hihihi!”
__ADS_1
Alangkah terkejutnya Joko mendengar suara tawa nyaring melengking. Sebutan “Kucing Hutan” adalah sebutan khas yang diucapkan oleh hanya satu orang, yaitu Puspa. Joko membatalkan pukulannya. Sinar ilmu Surya Langit Jagad padam.
Joko segera berbalik dan mencari Puspa. Namun, Joko mengerutkan keningnya. Orang yang ditemuinya di luar kurungan adalah seorang wanita cantik berpakaian merah basah kuyup, bukan Puspa. Dilihatnya wanita cantik itu tertawa, menertawakannya.
“Hihihi! Kucing Hutan jadi ayam kaki dua, dikurung!” kata wanita itu, jelas-jelas pandangan dan tawanya mengejek Joko Tenang.
“Puspa?” tanya Joko Tenang ragu, tapi senyumnya mulai mekar.
“Kenapa, hah?! Aaah, Kucing Hutan pasti tidak mengenali Puspa karena Puspa sekarang lebih cantik dari Tirana. Hihihi!”
“Hahaha!” tawa Joko Tenang mendengar kegembiraan Puspa.
“Kucing Hutan! Eh, bukan, harusnya Ayam Pingit. Hehehe!” kata Puspa. “Kalau Ayam Pingit bisa keluar dari kurungan ini, Puspa tidak akan mau jadi calon istri Ayam Pingit!”
“Hahaha!”
Kembali tertawa Joko mendengar taruhan konyol Puspa.
Setelah para pejabat dan pasukan Istana Jang disuguhkan satu kondisi yang menakutkan dan menegangkan, kini mereka justru disuguhkan situasi yang aneh dengan kemunculan dua wanita muda lagi cantik. Yang satu cantik jelita tapi sakti luar biasa, sementara yang satunya lagi cantik jelita tetapi bertingkah seperti orang kurang waras.
“Hei, Nona! Pergi dari sini!” teriak Mong Tsing yang keberadaannya seolah diabaikan oleh Joko dan Puspa, padahal dia sedang mengeluarkan kesaktian tingkat tertingginya. Ia merasa sangat diremehkan. Lalu teriaknya, “Persiaplah!”
Press! Press!
Mendengar seruan Mong Tsing, Joko Tenang bersiap dengan serius. Kedua tangannya menyala sinar putih menyilaukan mata. Joko ingin melihat sehebat apa Mong Tsing, apakah bisa menahan kedahsyatan Surya Langit Jagad.
Sezz!
Mong Tsing menebaskan kedua pedangnya dari atas ke bawah. Maka dari tebasan itu berkiblat dua sinar ungu menyerang kurungan lonceng raksasa miliknya sendiri.
Press! Bluarrr!
Dua kiblatan sinar ungu itu membelah tiga Genta Kaca. Pada saat yang bersamaan pula, Joko melepas dua sinar Surya Langit Jagat, mengadunya dengan kedua kibalatan sinar ungu.
Hasilnya, ledakan dahsyat terjadi di depan Joko Tenang. Seiring lenyapnya Genta Kaca, tubuh Joko terlempar keras.
“Ciuuut! Brak! Hihihi...!” teriak Puspa sambil wajahnya mengikuti lemparan tubuh Joko sampai jatuh menghantam lantai keras. Ia lalu tertawa cekikikan menertawakan pemuda itu.
Namun, nasib Mong Tsing tidak seberuntung Joko. Orang tua itu terlempar jauh pula dalam kondisi tubuh depan sudah hangus menghitam. Sinar kuning yang menyelimuti tubuhnya telah hilang seiring hilang pula nyawanya.
Lantai di lokasi peraduan ilmu tadi juga dalam kondisi berlubang cukup dalam karena hancur hebat.
__ADS_1
Tirana hanya tersenyum melihat Joko masih bisa bergerak bangkit. Ia sendiri harus kembali berhadapan dengan Biksu Hitam yang telah bersiap kembali, meski sudah mengalami luka dalam. (RH)