Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo18: Penghakiman Wiro Abang


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Wiro Abang terjengkang keras ketika sebuah terjangan keras Sudarka menghantam dadanya. Wiro Abang tergeletak meringis kesakitan di depan kaki para warga yang berkumpul di jalan utama, tempat Wiro Abang dihakimi.


“Uhukh!” Wiro Abang terbatuk darah.


“Apa yang kau lakukan di daerah wanita, Wiro Abang?!” tanya Ki Daraki membentak. “Siapa yang kau temui?”


“Aku hanya menyusup,” jawab Wiro Abang sambil bangkit dengan mengerenyit menahan rasa sakit pada seluruh tubuhnya, terutama pada dadanya.


“Bohong!” tukas Ki Daraki marah.


Tampak di sisi yang gelap, Riri Liwet berdiri gemetar di belakang kelompok wanita lain yang berkerumun menyaksikan penghakiman bagi Wiro Abang. Riri Liwet takut jika pemuda itu menyebut namanya.


“Aku hanya mengintip para wanita tidur,” kata Wiro Abang. Demi cintanya kepada Riri Liwet, ia tidak akan membawa gadis cantik itu ke dalam celaka.


Seketika hebohlah para wanita mendengar pengakuan Wiro Abang. Masing-masing menduga bahwa mereka pernah menjadi korban intipan Wiro Abang.


“Manusia mesum! Jika itu yang dia lakukan, dia layak mati!” teriak seorang wanita di dalam kegelapan, karena jumlah obor yang menyala di tempat itu tidak begitu banyak.


“Benar!” teriak sejumlah wanita.


“Ya benar!” teriak lebih banyak wanita.


Riri Liwet terkejut dan berubah takut. Tanpa ada yang mengetahuinya, ia menangis, menangis melihat kondisi Wiro Abang yang sudah babak belur dan menangisi bahwa pemuda itu akan berakhir tragis.


“Kau dengar itu, Wiro Abang. Jika memang kau bersikeras mengakui itu perbuatanmu, maka kau akan dihukum mati. Namun, jika ternyata kau memiliki kekasih di daerah wanita, sebutkan siapa dia, maka kau masih punya peluang untuk hidup,” kata Ki Daraki.


Wiro Abang menatap tajam kepada Ki Daraki dan Sudarka bergantian. Tatapannya tajam penuh amarah.


“Aku tidak akan membawamu, Riri Liwet. Lebih baik aku mati menjagamu dari pada disiksa cacat seumur hidup bersamamu,” ucap Wiro Abang dalam hati.


Wiro Abang sebelumnya sudah pernah mendengar cerita tentang sepasang kekasih Desa Wongawet yang ketahuan menjalin asmara. Pasangan itu dihakimi dengan ditelanjangi di depan umum, lalu disiksa hingga cacat, kemudian diusir dalam kondisi yang sudah tidak berdaya.


Wiro Abang tidak mau memilih hidup, tetapi harus menanggung malu dan cacat seumur hidup. Ia lebih baik memilih mati dengan tetap membuat aman Riri Liwet. Terlebih bahwa dirinyalah yang datang kepada Riri Liwet, bukan Riri Liwet yang mengundangnya datang.


“Aku mengakui, hampir separuh dari wanita Desa Wongawet sudah pernah aku lihat tubuh mulusnya,” kata Wiro Abang mengarang cerita. “Bahkan aku pun pernah melihat tubuh Sedap Malu!”


Pengakuan dusta Wiro Abang itu seketika menaikkan darah emosi Sudarka ke ubun-ubun. Sebab, Sedap Malu yang merupakan gadis tercantik di desa itu adalah kekasih barunya.


“Sungguh mesum kau, Wiro Abang! Aku bunuh kau!” teriak Sudarka murka,


Bak bak!

__ADS_1


Belum lagi Sudarka bertindak, tiba-tiba berkelebat cepat satu bayangan yang tahu-tahu telah menerjang dada Sudarka. Pemuda tampan itu terjengkang keras.


“Jangankan kau, Sudarka, Ki Daraki pun aku tantang menuju maut jika kalian berani menyentuh adikku!” seru orang yang menerjang Sudarka, ia tidak lain adalah Wiro Keling.


“Kang Mas Keling, pergilah! Biarkan aku yang menanggung kesalahan ini sendiri!” kata Wiro Abang kepada kakaknya yang berdiri memunggunginya.


Terkejutlah Riri Liwet mengetahui bahwa Wiro Abang ternyata adik pemuda yang dicintainya. Kondisi ini membuatnya berpikir bahwa ia akan kehilangan orang yang dicintainya, yaitu Wiro Keling. Diam-diam ia mundur perlahan sambil menahan tangisnya agar tidak menimbulkan perhatian.


“Tidak, Dimas! Kita datang bersama ke desa ini dengan cita-cita yang sama. Jika harus pergi dari desa ini, maka kita harus pergi bersama!” tandas Wiro Keling.


“Jangan, Kang Mas. Lebih baik satu mati daripada musnah semua. Pergilah!” teriak Wiro Abang keras.


Zurss!


Di depan, Sudarka telah menghentakkan sepasang lengannya yang sudah bersinar biru.


Tiba-tiba Wiro Abang maju ke depan kakaknya dan mengerahkan ilmu perisainya. Wiro Abang memunculkan sinar biru terang berbentuk perisai yang kemudian menahan laju dua gelombang sinar biru Sudarka.


Alangkah terkejutnya Wiro Keling dengan perbuatan adiknya.


“Aaarr!” teriak Wiro Abang dengan darah terus mengalir keluar dari dalam mulutnya, berusaha sekuat tenaga menahan tenaga ilmu Sudarka.


“Dimas Abang!’ teriak Wiro Keling lalu buru-buru untuk bertindak.


Oaarss! Brass!


“Akh!” pekik Wiro Keling dengan tubuh terlempar jauh.


Ketika tubuh Wiro Keling terlempar, para warga yang berkerumun cepat menghindar dari tabrakan tubuh itu, membuatnya jatuh pada jarak yang jauh.


Wiro Keling buru-buru bangkit.


“Hukr!” Tiba-tiba ia memnyemburkan darah gelap dari dalam mulutnya. Kedua kakinya mendadak gemetar dalam berdiri.


Bibir Wiro Keling bergetar hebat, sepasang matanya menangis. Ia terbelalak murka melihat tubuh adiknya sudah terkapar di tengah jalan besar itu. Wiro Abang yang terkena langsung oleh ilmu Hantu Murka Ki Daraki, seketika tewas di tempat.


Sementara Wiro Keling yang saat terkena serangan berada di belakang tubuh adiknya, masih bisa selamat, tetapi ia tetap harus menderita luka yang parah.


“Wiro Abaaang!” teriak Wiro Keling histeris.


Sejenak ia bingung. Apakah harus menyelamatkan diri sendiri atau berusaha mengambil jasad adiknya lebih dulu? Namun, rasanya mustahil untuk bisa membawa jasad Wiro Abang.


“Cepat tangkap Wiro Keling!” teriak Sudarka.

__ADS_1


Palang Segi bertindak sigap. Ia orang pertama yang berkelebat ke hadapan Wiro Keling untuk menangkap. Di belakangnya, sejumlah pemuda berlari datang menyusul.


“Keling, cepat serang aku, lalu lari!” desis Palang Segi berbisik.


Mendelik Wiro Keling mendengar itu. Waktunya begitu kritis, karena pemuda yang lain telah mendekat.


Palang Segi cepat maju menyerang Wiro Keling. Baru saja Wiro Keling hendak menyerang, Palang Segi tahu-tahu telah melempar tubuhnya jauh ke belakang, seolah-olah ia terlempar oleh serangan Wiro Keling.


Tubuh Palang Segi menghantam beberapa pemuda yang maju, sehingga menciptakan sedikit hambatan.


Wiro Keling cepat berbalik dan berkelebat pergi menuju pintu gerbang dengan tenaga yang tersisa.


“Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus membalas nyawa Wiro Abang,” tekad Wiro Keling.


Tungkur Wagi dan beberapa rekannya cepat mengejar Wiro Keling tanpa memakai penerangan.


“Jikapun dia bisa lolos, dia akan mati oleh racun Hantu Murka,” kata Ki Daraki kepada Sudarka.


Wiro Keling berlari menuju gerbang desa yang tertutup. Ada dua penjaga di gerbang desa.


“Jika aku tidak bisa lolos dari dua penjaga itu, maka tamatlah aku bersama dendamku,” membatin Wiro Keling.


Dua pemuda penjaga gerbang berdiri menantang di tengah jalan dekat gerbang desa.


“Jika ini gagal, maka habislah sudah!” desis Wiro Keling.


Meski berbahaya bagi dirinya yang sedang terluka parah, Wiro Keling harus mengeluarkan ilmu Hantam Guntur-nya.


Berzz!


Sambil berlari, Wiro Keling menyalurkan tenaga dalamnya yang terakhir ke lengan kanannya. Wiro Keling menghentakkan lengan kanannya ke depan dengan jari-jari lurus ke depan. Satu gelombang seperti petir berwarna merah melesat menyerang kedua pemuda penjaga gerbang.


Kedua pemuda penjaga terkejut. Secepat mungkin keduanya melompat menghindar, membuat aliran petir merah itu menyengat pintu gerbang yang tertutup.


Bluar!


Pintu gerbang yang terbuat dari kayu tebal itu hancur berantakan.


“Hoekh!” Wiro Keling kembali muntah darah gelap. Lukanya kian parah.


Beruntung, ia masih punya tenaga tersisa untuk melarikan sepasang kakinya melewati gerbang.


Tungkur Wagi dan teman-temannya cepat menyusul mengejar ke luar, tetapi gelapnya alam membuat mereka mudah kehilangan buruan. (RH)

__ADS_1


**********


Bagi yang suka karya Om ini, silakan beri like, vote, komen, dan gift terbaikmu. Terima kasih selalu untukmu, Readers. 😁🙏🙏


__ADS_2