Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
151. Misi Suci Sang Pangeran


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


“Hihihi!”


Tiba-tiba terdengar suara tawa khas Puspa.


Joko Tenang, Putri Yuo Kai dan lainnya segera menengok memandang ke arah kedatangan Puspa. Wanita berpakaian merah itu datang bersama Tirana dan Su Ntai yang dipandu oleh seorang kasim.


Puspa tertawa-tawa karena senang membawa senampan besar makanan. Berbagai macam makanan ada di nampan itu.


“Waaah!” desah Puspa terperangah saat melihat pohon permaisuri yang sedang mekar.


Puspa berjalan cepat, tetapi tidak menuju ke gazebo tempat Joko dan Putri berada, ia pergi menuju ke satu pohon permaisuri yang indah dengan warna ungu bunga-bunganya.


“Kau boleh pergi, Kasim!” perintah Tirana kepada sang kasim.


Su Ntai mengulang perintah Tirana dalam bahasa negeri itu. Kasim yang menuntun mereka lalu menjura hormat dan segera pergi.


Joko Tenang tersenyum menyambut kedatangan Tirana yang dilihatnya begitu anggun dan jelita dengan pakaian baru berwarna hijau muda berpadu warna putih.


“Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Putri,” ucap Tirana seraya menjura hormat.


Agak terkejut Su Mai mendengar ucapan penghormatan Tirana.


“Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran dan Yang Mulia Putri,” kata Su Mai menerjemahkan ucapan Tirana.


Mendengar itu, terkejutlah Putri Yuo Kai, Bo Fei, Mai Cui, dan Yi Liun.


“Pangeran?” sebut ulang Putri Yuo Kai dengan nada bertanya.


Joko Tenang hanya membelalakkan sepasang matanya. Ia beralih memandang Tirana yang masih berlutut menjura hormat.


“Berdirilah, Sayang!” perintah Joko dengan menyebut “sayang” kepada Tirana.


Mendengar sebutan itu, bahagia perasaan Tirana, tapi hanya ia tunjukkan dengan senyum manis. Tirana kembali berdiri.


“Duduklah, Tirana,” kata sang putri, tetap berusaha bersikap ramah kepada Tirana, orang yang telah menyelamatkan nyawanya di saat Joko Tenang tidak bisa berbuat banyak.


Tirana duduk di sisi kanan meja. Putri Yuo Kai menuangkan secawan teh hangat nan harum. Cawan itu lalu diberikan kepada Tirana.


“Terima kasih, Yang Mulia,” ucap Tirana seraya tersenyum cukup lebar, yang kemudian diterjemahkan oleh Su Ntai.

__ADS_1


Joko Tenang pun tersenyum lebar melihat keakuran kedua wanita jelita itu. Seolah-olah ada bening-bening embun di wajah mereka. Namun, Joko paham bahwa wajah yang ditunjukkan oleh Putri Yuo Kai tidak selaras dengan wajah hatinya saat ini.


“Aku adalah seorang pangeran yang terbuang. Tirana yang menemukanku dan mengungkapkan bahwa aku adalah seorang pangeran. Namun kenyataannya, aku tetaplah seorang pengembara.” Joko menjawab pertanyaan Putri Yuo Kai tadi yang kemudian diterjemahkan oleh Su Mai.


“Kenapa kau tidak mengungkapkan kepadaku sejak awal?” tanya Putri Yuo Kai. Menurutnya, jika Joko Tenang memang seorang pangeran, tentu status itu akan mengurangi penilaian buruk Kelurga Istana dan para pejabat Negeri Jang.


Di belakang Kaisar dan Putri memang sempat terjadi kehebohan saat sang putri memutuskan memilih calon suami seorang asing serta tidak jelas status dan latar belakangnya. Namun, jasa kependekaran Joko terhadap Istana Jang membuat Keluarga Istana dan kaum bangsawan kemudian tidak mempermasalahkan status Joko.


“Aku sendiri tidak yakin bahwa aku adalah seorang pangeran. Bagaimana mungkin aku mau sesumbar tentang hal yang tidak aku yakini. Hanya Tirana yang meyakini bahwa aku adalah seorang pangeran.”


“Benarkah Joko adalah seorang pangeran, Tirana?” tanya Putri Yuo Kai.


“Benar, Yang Mulia. Kakang Joko adalah pangeran Kerajaan Sanggana yang lahir di luar istana dan belum pernah memasuki istana. Nama kepangeranan Kakang Joko adalah Pangeran Dira Pratakarsa Diwana,” jelas Tirana yang kemudian diterjemahkan oleh Su Ntai.


Dalam percakapan itu, Su Mai bertugas menerjemahkan perkataan Joko Tenang dan Putri Yuo Kai. Sedangkan Su Ntai bertugas menerjemahkan perkataan Tirana saja.


“Apakah kehadiran hamba mengganggu suasana Yang Mulia berdua?” tanya Tirana sopan. “Hamba akan pergi jika hamba mengganggu, Yang Mulia Putri.”


“Tidak,” jawab Putri Yuo Kai seraya tersenyum. “Kita nanti akan menjadi saudara satu suami. Aku harus terbiasa menerima kehadiran calon istri atau istri Joko yang lain.”


“Maafkan hamba, Yang Mulia. Jika Yang Mulia Putri berkenan, aku bisa kembali memberikan Kecupan Malaikat agar luka Yang Mulia benar-benar sembuh,” kata Tirana.


“Lakukanlah,” jawab Putri Yuo Kai yang mengerti maksud Tirana.


Cup!


Tirana mencium lembut dahi Putri Yuo Kai. Maka sinar kuning tipis muncul dari kecupan itu lalu masuk ke wajah sang putri.


Putri Yuo Kai kembali merasakan hawa sejuk menjalar menyebar ke seluruh tubuhnya hingga ke dalam tulang-tulangnya. Rasa sejuk itu memberi sensasi kebahagiaan tersendiri.


Tirana kembali duduk di kursinya.


Putri Yuo Kai menatap lekat wajah Tirana sejenak. Ia lalu tersenyum kepada gadis yang lebih mudah darinya itu. Yang ditatap hanya tersenyum pula.


“Terima kasih, Tirana,” ucap sang putri.


Tirana hanya tersenyum dan mengangguk sekali.


“Tirana, tiga hari lagi aku dan Yang Mulia Putri....”


“Sebut saja aku Putri, Joko,” kata Putri Yuo Kai memotong perkataan calon suaminya. Tujuannya untuk menyamakan kepantasan derajat mereka berdua.

__ADS_1


Joko Tenang tersenyum. Lalu ia kembali berkata kepada Tirana, “Aku dan Putri Yuo Kai akan menikah tiga hari lagi.”


“Oh ya?” kejut Tirana, tapi wajahnya tersenyum senang. “Aku sangat senang, Kakang. Biarpun aku calon istri yang pertama, tapi aku tidak masalah kau menikah dengan siapa pun terlebih dahulu.”


“Bagaimana gadis ini bisa segembira ini mendengar aku akan menikah lebih dulu dibandingkan dirinya? Padahal, seharusnya dia yang memiliki hak lebih dulu untuk menikah dengan Joko,” membatin Putri Yuo Kai seraya menatap Tirana dengan tatapan heran yang datar.


“Apakah ada yang salah dengan ucapanku, Yang Mulia Putri?” tanya Tirana saat melihat ekspresi Putri Yuo Kai.


“Kenapa kau tidak menolak rencana itu? Bukankah kau yang lebih berhak menikah lebih dulu dengan Joko?” tanya sang putri terbuka.


Tirana tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia kemudian berkata, “Kakang Joko memiliki delapan istri bukanlah untuk kepentingan seorang semata. Bukan untuk kepentingan nafsu cinta Kakang Joko sendiri atau kepentingan hatiku sendiri, tetapi untuk kepentingan umat manusia. Kakang Joko adalah pendekar pembela kebenaran dan penegak kebenaran. Kesaktiannya sangat dibutuhkan bagi orang-orang yang tertindas dan dianiaya di muka bumi ini. Jadi aku mengutamakan untuk menyelesaikan misi suci ini, bukan mengambil untung atau kesenangan dari misi suci ini.”


Terhenyak perasaan Putri Yuo Kai mendengar penuturan Tirana. Meski demikian, sang putri hanya menunjukkan senyum mendengar hal itu.


Joko Tenang sendiri seolah baru mendengar pemikiran Tirana yang seperti itu, terutama pada kata “misi suci”.


“Sebelum misi suci itu tercapai, makan istri-istri inilah yang menjadi benteng pengaman dengan selimut kasih sayang. Tanpa kasih sayang kepada sesama istri, ilmu Delapan Dewi Bunga akan sulit terwujud,” tambah Tirana.


“Ilmu Delapan Dewi Bunga?” tanya Putri Yuo Kai lagi.


“Benar. Penyakit Kakang Joko terkait dengan ilmu Delapan Dewi Bunga. Delapan bunga yang dimaksud adalah delapan istri. Meski nanti sudah ada delapan istri, tetapi jika tidak berkasih sayang di antara sesamanya, maka ilmu itu tidak akan terwujud dan Kakang Joko belum bisa sembuh,” jelas Tirana.


“Itu artinya, jika aku menjadi istri Joko, maka aku harus ikut dirinya ke mana pun itu?” tanya sang putri menyimpulkan.


“Benar, Yang Mulia,” jawab Tirana.


“Tapi kami akan berpisah setelah menikah,” ucap Putri Yuo Kai sedih.


“Kau sudah berjanji untuk menyusulku setelah urusanmu di negeri ini selesai,” timpal Joko Tenang.


“Benar. Aku berharap tidak ada masalah menghadang setelah kepergianmu nanti,” kata Putri Yuo Kai.


“Tirana, alangkah baiknya jika kau pun menikah denganku di hari yang sama,” usul Joko.


“Tidak, Kakang. Aku tidak mau merusak kebahagiaan Yang Mulia Putri. Itu akan sangat mengganggu. Terlebih, kehormatan Yang Mulia Putri dan Keluarga Istana akan tercoreng,” jawab Tirana.


“Tidak aku sangka, Tirana seolah tidak memiliki rasa cemburu sedikit pun. Apakah dia Dewi Welas Asih?” membatin Putri Yuo Kai heran.


Bugk!


Mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara hantaman yang keras. Mereka serentak melihat ke arah tempat Puspa berada.

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Puspa menikmati hujan bunga-bunga pohon permaisuri yang menaburi dirinya.


Ternyata Puspa memukul batang pohon permaisuri untuk menggugurkan bunga-bunganya. (RH)


__ADS_2