Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 2: Hadangan Tiga Cebol Aneh


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*


Di kala fajar baru menyingsing dan suasana pagi masih dingin, kereta kuda yang disaisi oleh Turung Gali sudah melaju kencang. Di sisi kanannya duduk tenang Joko Tenang. Di atas atap bilik kereta duduk bersila Tirana. Sementara di dalam bilik, duduk hening Getara Cinta dan Kerling Sukma.


Di depan dua kuda kereta, berlari kuda cokelat yang ditunggangi oleh pemuda berpakaian biru gelap berlapis jubah hitam tanpa lengan. Ia adalah Reksa Dipa, mantan anggota Gerombolan Kuda Biru yang banting hati kini setia mengabdi kepada Joko Tenang.


Baik kuda dan kereta kuda berlari kencang, seolah sedang memburu sesuatu yang sangat penting.


Ternyata tidak hanya mereka. Di belakang, ada lima kuda lain yang juga berlari kencang mengikuti. Kelima kuda itu ditunggangi oleh Arya Permana, Lanang Jagad, Surya Kasyara, Rara Sutri, dan Kayuni Larasati.


Kedelapan kuda  itu berlari kencang menerobos kedinginan pagi yang seolah tidak mengganggu semangat tempur mereka.


Dipimpin oleh Pangeran Dira Pratakarsa Diwana alias Joko Tenang, pagi itu mereka akan menyerang Gerombolan Kuda Biru yang kini berpusat di Kadipaten Surosoh.


Padepokan Hati Putih menyumbangkan sejumlah kudanya untuk digunakan di dalam perang antarpendekar ini. Kondisi Surya Kasyara alias Pendekar Gila Mabuk dan Kayuni Larasati sudah sembuh dari lukanya. Mereka semua berangkat siap bertempur dalam kondisi yang prima.


Mereka sadar bahwa jumlah mereka kalah banyak dua atau tiga kali lipat dari jumlah Gerombolan Kuda Biru. Namun, ada yang tidak diketahui oleh para pendekar dalam gerombolan, yaitu kesaktian ketiga istri Joko Tenang.


Joko Tenang dan ketiga istrinya sudah saling diskusi mengatur strategi. Sehubungan kesaktian Joko Tenang adalah kesaktian Permata Darah Suci, jadi dia harus dekat dengan pasangan Permata Darah Suci lainnya. Maka, nanti Joko Tenang akan bertarung berdampingan dengan Getara Cinta.


Semakin jauh mereka berpacu, maka langit semakin terang jua. Jarak mereka dengan Kadipaten Surosoh juga semakin dekat.


Namun, ketika rombongan berkuda itu baru saja memasuki jalan batas Kadipaten Surosoh, rombongan itu melihat ada tiga sosok makhluk berdiri jauh di tengah jalan. Tiga sosok itu adalah dua anak kecil dan seorang lelaki tinggi besar seperti raksasa. Dua anak kecil itu berpakaian merah menyala dan kuning. Sementara orang yang tinggi besar berbaju putih dan bercelana hijau gombrong.


Set set!


Ctar ctar!


Bocah berbaju merah menyala melemparkan dua batu ke tengah jalan, tidak begitu jauh di depan laju kuda Reksa Pati. Batu itu menciptakan ledakan di tanah tengah jalan, membuat kuda yang ditunggangi oleh Reksa Dipa terkejut dan menjadi cukup liar.


Namun, Reksa Dipa bisa mengendalikan kudanya.

__ADS_1


“Reksa Dipa!” teriak bocah berbaju merah itu terkejut. Dia adalah Buntet, lelaki cebol berjenggot, bukan seorang anak kecil.


Demikian pula dengan orang cebol di sebelahnya yang adalah seorang perempuan dewasa yang bertubuh katai. Ia bernama Bintit.


“Kenapa kau bersama mereka?!” teriak Bintit dengan suara cemprengnya.


Wess!


Tiba-tiba satu kelebatan tubuh telah berdiri satu tombak hadapan ketiga orang yang dikenal dengan nama Tiga Cebol Aneh. Seiring itu, satu gelombang halus menerpa tubuh ketiganya.


Buntet, Bintit, dan Buntut yang bertubuh besar, seketika terdiam tidak bisa bergerak bersamaan dengan munculnya seorang gadis cantik jelita di depan mereka.


Tirana telah menggunakan ilmu Pemutus Waktu untuk membuat Tiga Cebol Aneh tidak bisa bergerak.


Tanpa menjawab pertanyaan Bintit tadi, Reksa Dipa terus membawa kudanya melewati posisi penghadangan Tiga Cebol Aneh. Menyusul pula berlalunya kereta kuda.


“Biar kami bertiga yang menghadapi ketiga orang aneh itu!” seru Arya Permana sambil menarik tali kekang kudanya untuk berhenti.


Rara Sutri hanya memandangi keberhentian Surya Kasyara. Setelah itu, ia tidak peduli lagi dengan adik seperguruannya itu. Surya Kasyara telah menemukan cintanya, dia ingin selalu bersama Kayuni Larasati.


Rara Sutri terus memacu kudanya kencang berlari beriringan dengan kuda Lanang Jagad. Pemuda berjuluk Si Tampan Sakti itu hanya tersenyum manis kepada Rara Sutri. Ia senang bisa berkuda bersama dengan gadis secantik Rara Sutri.


“Aku serahkan mereka kepada kalian! Berhati-hatilah!” seru Tirana kepada ketiga penunggang kuda itu. Ia lalu menghilang dari tempat berdirinya. Tahu-tahu Tirana sudah duduk bersila di atas atap bilik kereta.


Seperginya Tirana, Tiga Cebol Aneh sudah bisa bergerak kembali. Arya Permana, Surya Kasyara dan Kayuni Larasati sudah turun dari kuda-kudanya. Kini mereka berenam saling berhadapan.


Kayuni Larasati dan kedua lelaki yang bersamanya merasa perlu untuk membalas dendam atas penghandangan terhadap mereka tadi malam.


“Tadi malam kalian bisa lolos selamat, tapi tidak pagi ini!” seru Bintit.


“Jangan biarkan si pendek jenggotan itu melempar!” teriak Surya Kasyara sambil berkelebat menerjang ke arah dada Buntut.

__ADS_1


Teriakan Surya Kasyara diikuti berkelebatnya tubuh Arya Permana menyerang Buntet. Kayuni Larasati yang mendapat pedang baru, juga merangsek masuk dengan serangan pedangnya terhadap Bintit.


Buntut menyambut terjangan Surya Kasyara dengan tinju menyamping dari tangan kanan besarnya. Surya Kasyara tidak bisa menghindar, tetapi ia berinsiatif berubah menyambut tinju dengan memeluk lengan besar itu.


Dak!


Ketika Surya Kasyara berhasil memeluk tangan kanan Buntut, kedua kakinya secara bersama menghentak ke wajah lelaki besar itu. Buntut terdorong dua tindak, tetapi tangan kirinya cepat melesat hendak menghajar Surya Kasyara yang bergantungan di tangan kanannya.


Dak! Dak!


Namun, tahu-tahu tubuh Surya Kasyara bersalto naik ke udara, tendangan kapak dari atas ke bawah langsung mendarat di pucuk kepala Buntut. Lelaki besar itu jatuh terlutut satu kaki. Selanjutnya, satu hantaman bumbung tuak menghajar pelipis.


Buntut jatuh ke samping dengan tangan satu tangan menahan tubuhnya.


Di sisi sebelah, Arya Permana main kucing-kucingan dengan Buntet. Lelaki pendek itu mencoba untuk menjaga jarak dari Arya Permana agar memiliki kesempatan memungut batu di jalanan. Namun, Arya Permana juga berusaha tidak memberi waktu longgar bagi Buntet untuk memungut batu. Jika dia sempat memungut batu, akan cukup berbahaya.


Set! Ctar!


Pada satu kesempatan, Buntet melompat menghindari sabetan pedang Arya Permana. Dalam lompatannya itu ia sempatkan diri menyambar sebuah batu yang langsung dia lemparkan. Gerakan langsung itu membuat lemparan Buntet tidak akurat. Mudah bagi Arya Permana mengelak dengan memiringkan tubuh atasnya, membuat batu itu meledak di belakang.


Lain halnya pula dengan Kayuni Larasati. Ia mendapat perlawanan hebat dari Bintit. Wanita cebol yang menjadi lawannya ternyata memiliki kelincahan yang baik.


Buk!


Ketika Kayuni Larasati memburu dengan pedangnya yang menusuk dan menebas ke sana  ke mari, Bintit gesit mengelaki dan berhasil menyarangkan satu tinjunya ke perut Kayuni, membuat putri Adipati itu terjajar beberapa tindak.


Wuss!


Terciptanya jarak cepat dimanfaatkan oleh Bintit untuk melepas angin pukulan yang tidak bisa dihindari oleh Kayuni. Gadis itu terlempar lalu jatuh bergulingan di tanah.


Bintit tidak mau melepaskan dan Kayuni Larasati pun tidak sudi tumbang duluan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2