Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo20: Pemimpin Pemberontak


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo)*


Ternyata di tengah malam itu tidak semua penghuni Desa Wongawet tidur. Biasanya, hanya penjaga yang berjaga, tetapi kali ini tidak. Ada sejumlah pemuda yang ditugaskan untuk menjaga tawanan yang telah menjalani penyiksaan sebelumnya.


Di alun-alun, Riri Liwet digantung di sebuah tiang kayu besar yang tinggi. Kedua tangannya diikat satu dengan seutas tali yang menggantung di pucuk tiang. Kakinya yang tidak menyentuh tanah diikat satu pula menyatu dengan sisi bawah tiang.


Pakaian Riri Liwet sudah robek-robek penuh darah akibat seratus cambukan yang diterapkan ke tubuhnya. Kepalanya terkulai tanpa tenaga sedikit pun. Darah kental menggantung di bibirnya yang terbuka pasrah.


Tempat itu hanya diterangi oleh empat suluh bambu yang tinggi dan dijaga oleh Tungkur Wagi dan lima temannya, termasuk Satikwa.


Ada beberapa pasang mata yang memandangi kondisi Riri Liwet dari tempat yang gelap di pinggir alun-alun. Mereka merasakan kesedihan melihat kondisi kekasih Wiro Keling itu. Ingin rasanya mereka keluar saat itu juga dan membebaskan Riri Liwet, tetapi mereka harus menunggu adanya tanda perintah untuk bergerak.


“Jika kalian melihat terjadi sesuatu pada rumah Ki Daraki, maka bergeraklah!” pesan Tirana kepada Bangirayu.


Meski ada tawanan yang disiksa di alun-alun, tetapi ketika malam telah tiba, mayoritas warga lebih memilih tidur seperti malam-malam biasanya. Penyiksaan bagi seorang warga yang dituding melanggar adalah hal yang biasa, intinya mereka tidak mau ikut campur dan pada dasarnya tidak setuju dengan model-model hukuman yang diterapkan oleh Ki Daraki.


Jadi, aktivitas yang terlihat ada hanya di alun-alun, pintu gerbang dan gua terlarang, tempat Kemuning disiksa. Sebagian besar desa itu tetap sepi dan gelap.


Satu sosok lelaki berpakaian hitam juga bergerak senyap. Samar-samar terlihat ketika mendapat penerangan cahaya obor, wajahnya ditutupi topeng kucing berwarna merah. Dialah Si Kucing Merah yang bernama asli Wiro Keling. Sebenarnya dia dalam kondisi terluka setelah adu ilmu dengan Joko Tenang tadi siang. Namun, ia harus datang karena malam ini akan ada pergerakan. Ia menangis melihat kondisi kekasihnya, tetapi ia harus menahan diri agar tidak merusak rencana. Sebab, belum ada tanda resmi bahwa Joko telah setuju membantu.


Joko Tenang dengan tenang berkelebat pergi menuju ke tempat tumbuhnya pohon randu yang besar dan tinggi di daerah lelaki.


Namun, sebelum ia tiba di tempat perjanjian oleh orang misterius yang mengirim pesan di kebun jagung, Joko menghentikan langkahnya. Indra pendengarannya yang begitu tajam menangkap suara detak jantung. Dua suara ada di dalam kegelapan di balik semak belukar, satu lagi ada di atas pohon.


Tiba-tiba Joko Tenang menghilang dari tempatnya berdiri, mengejutkan ketiga orang yang mengintainya.


“Hah!” kejut pemuda yang mengintai dari atas pohon, ketika ia menyadari bahwa Joko sudah berdiri di sisinya di atas pohon.


Dengan tenaga yang besar, Joko mencengkeram tengkuk dan lengan pemuda itu. Mudah bagi Joko melempar tubuh pemuda itu.


“Aaa!” jerit pemuda itu saat tubuhnya meluncur ke arah semak belukar.


Bsruk!

__ADS_1


Seiring tubuh si pemuda jatuh ke semak belukar yang gelap, dua bayangan sosok lelaki lain belompatan keluar seperti belalang disergap.


Tutuk! Tutuk!


Namun, ketika kedua orang yang melompat dari balik semak belukar masih berada di udara, tubuh Joko berkelebat cepat langsung menotok keduanya dengan gerakan tangan yang sangat cepat. Dalam setengah detik saja keduanya jatuh ke tanah dalam kondisi tertotok.


Joko Tenang lalu menyeret keduanya dan menyembunyikannya di dalam semak belukar. Tidak lupa ia menotok pemuda sebelumnya yang saat itu dalam kondisi pingsan.


Joko Tenang melanjutkan tujuannya, yaitu memenuhi undangan di bawah pohon randu.


Tidak berapa lama, Joko Tenang tiba di bawah pohon randu. Meski ia seorang pendekar berkesaktian tinggi, tetapi Joko Tenang tetap memasang kewaspadaan tinggi.


Deg deg!


Joko Tenang mendengar suara debar jantung dari arah selatan yang datang mendekatinya. Gerak mendekatnya seperti orang berjalan biasa. Namun, Joko tidak tahu, apakah pemilik debar jantung itu lelaki atau wanita.


Joko Tenang berdiri menghadap ke arah selatan. Pandangannya yang tajam berusaha menembus kegelepan, menunggu kedatangan orang itu.


Ketika jaraknya tinggal sepuluh langkah, barulah jelas bahwa sosok yang datang itu adalah seorang wanita. Joko membiarkannya mendekat kepadanya.


Sosok wanita itu berhenti empat langkah dari posisi Joko berdiri.


Blep!


Joko Tenang tiba-tiba menyalakan kobaran api hijau di tangannya. Hanya sejenak, tetapi itu cukup untuk melihat sekilas wajah wanita yang kini berdiri di sampingnya.


“Sedap Malu?” sebut Joko. Ia jelas sangat ingat wajah gadis yang berstatus sebagai kekasih Sudarka, yang tadi petang ditangkap oleh Ki Daraki.


Kemunculan Sedap Malu jelas menimbulkan pertanyaan di benak Joko. Bagaimana mungkin gadis itu bisa bebas?


“Bukankah kau ditawan oleh Ki Daraki?” tanya Joko.


“Aku bisa mengelabuhi Ki Daraki. Dia hanya mengincar keindahan tubuhku. Aku adalah pemimpin dari kelompok pemberontak di desa ini. Aku ingin membuat kesepakatan denganmu, Joko,” jelas Sedap Malu.

__ADS_1


“Katakan!”


“Bantu kami membunuh Ki Daraki, karena dia mengancam kehormatan para gadis di desa ini dengan kekuasaannya, dan mengancam nyawa kami semua dengan segala aturannya. Jika ini terwujud, apa pun yang kau minta dari kami, Joko, kami akan berikan,” ujar Sedap Malu.


“Aku hanya ingin cepat melewati Jalan Lubang Cahaya dan pergi dari desa ini secepatnya. Aku tidak memerlukan janji-janji kalian,” tandas Joko.


“Bunuhlah Ki Daraki, maka kami akan membukakan jalan untukmu. Pintu jalan itu hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang ada pada Ki Daraki. Kemuning tahu di mana kunci itu disimpan,” kata Sedap Malu. Ia menambahkan, “Jika kau dan Tirana adalah pendekar aliran putih, tentu kau tidak akan membiarkan kejahatan Ki Daraki terus terpelihara. Aku dengar kau menanyakan tentang tawanan wanita yang dibawa oleh Kelompok Pedang Angin. Mungkin wanita yang akan menjadi budak nafsu birahi Tetua Desa adalah wanita yang kau cari.”


“Apakah kau melihat tawanan wanita yang diserahkan oleh Kelompok Pedang Angin itu?” tanya Joko.


“Tidak, tapi kata Sudarka, wanita itu sangat cantik, berkulit putih bersih,” jawab Sedap Malu.


Melebar sepasang mata Joko Tenang mendengar ciri-ciri itu. Ketiga gadisnya yang hilang memiliki ciri-ciri seperti itu.


Semasa hidupnya, Sudarka banyak bercerita tentang rahasia Ki Daraki dan rahasia di desa itu. Karena itulah, Sedap Malu mempertahankan statusnya sebagai kekasih Sudarka hingga kekasihnya itu dibunuh oleh Ki Daraki tadi petang. Termasuk rahasia tentang kekejian Tetua Desa yang suka menjadikan wanita muda dan cantik sebagai budak nafsu di dalam gua terlarang.


Tiba-tiba seorang wanita lain muncul di sisi Sedap Malu. Kehadiran wanita lain itu begitu mengejutkan Sedap Malu, terlebih wanita itu langsung merangkul bahunya dari belakang.


“Bagaimana, Kakang?” tanya gadis lain yang adalah Tirana.


Mengenali siapa adanya wanita itu, Sedap Malu segera tenang. Meski sebelumnya ia tidak pernah berkomunikasi dengan Tirana, tetapi ia mengenalinya. Saat acara makan malam bersama, ia sengaja duduk di sisi Tirana bersama Bangirayu.


“Selamatkan Kemuning dan wanita yang diserahkan Kelompok Pedang Angin!” perintah Joko.


“Baik, Kakang. Setelah aku keluar dari gua terlarang, Kakang harus hancurkan rumah Ki Daraki sebagai tanda bagi mereka untuk bergerak memberontak.”


“Aku akan menunggumu di depan rumah Ki Daraki,” kata Joko patuh.


Tirana lalu berkata kepada Sedap Malu, “Tunggu aku di depan rumah Ki Daraki!”


“Baik,” kata Sedap Malu.


Bress!

__ADS_1


Tirana melempar sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar ke batang pohon randu yang besar. Ia lalu melompat masuk ke dalam sinar ilmu Lorong Laba-Laba-nya. (RH)


__ADS_2