
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
“Bebaskan, Kakang Joko!” seru Kerling Sukma kepada wanita bercadar biru yang berdiri di ujung dedaunan pohon.
“Kakang Joko milikku! Untuk apa aku memberikanmu?” ketus wanita berpakaian biru yang adalah Ginari.
“Siapa kau sehingga berani mengakui milikku?” tanya Kerling Sukma.
“Hihihi! Milikmu? Huh! Kakang Joko adalah orang pertama yang menikmati kehormatanku, jadi Kakang Joko adalah milikku!” tegas Ginari.
“Oh, karena alasan itu dengan seenaknya kau mengaku Kakang Joko adalah milikmu? Dengarkan, Perempuan Siluman! Aku sudah lebih dulu merenggut kehormatan Kakang Joko dari masa kami kecil. Apakah itu cukup bagiku untuk mengakui bahwa Kakang Joko adalah milikku?” debat Kerling Sukma.
“Perempuan murah!” maki Ginari gusar.
Joko Tenang yang terkulai di panggulan Ginari sebenarnya ingin berteriak memberi tahu Kerling Sukma agar tidak menyerang Ginari. Namun, Joko tidak bisa berteriak.
Wuss! Sess! Blaam!
Kemarahannya membuat Ginari menghentakkan tinju kengan kirinya. Ilmu Tinju Menembus Gunung melesat cepat ke arah Kerling Sukma. Namun, gadis bermata hijau itu juga melesatkan ilmu Api Putih. Satu bola sinar putih berselimut lidah api berwarna putih melesat cepat, beradu di tengah jarak melawan tenaga tinggi yang tidak terlihat. Bola api putih meledak di udara seiring gelombang kejut pecahan tenaga menyebar ke segala arah.
Ginari terdorong keras dari tempatnya berdiri, tetapi ia masih sanggup mendarat pada bumi, meski agak terhuyung. Sementara Kerling Sukma hanya terjajar beberapa tindak.
Clap!
Laksana menghilang, Kerling Sukma maju menyerang Ginari. Gadis bercadar itu agak terkejut menghadapi serangan Kerling Sukma yang begitu cepat dan mengandung tenaga dalam tinggi dalam setiap geraknya.
Ginari hanya bisa menangkis dengan tangan kiri yang juga mengandung tenaga dalam tinggi. Ia pun hanya bergerak mundur selangkah demi selangkah menghindari serangan. Keberadaan Joko Tenang dalam panggulannya membuat ia tidak begitu bebas dalam menghadapi serangan brutal Kerling Sukma.
“Sukma, hentikan!” ucap Joko Tenang, berharap suaranya didengar oleh Kerling Sukma.
Namun, kesibukannya dalam menyerang berusaha melukai Ginari, membuat Kerling Sukma tidak mendengar ucapan Joko yang begitu lemah.
Baks!
Pada satu kesempatan, pukulan telapak tangan Kerling Sukma berhasil masuk ke perut Ginari.
“Hukh!” keluh Ginari dengan tubuh terjajar cepat dan nyaris jatuh bersama tubuh Joko Tenang.
Melihat lawan terdesak, Kerling Sukma cepat maju lagi.
Sets!
Namun, Ginari tidak kalah cepat melepaskan jaring sinar biru yang tidak bisa dielaki oleh Kerling Sukma.
Gadis bermata hijau itu jadi tertahan dengan tubuh terlilit kuat oleh jaring sinar biru dari ilmu Jala Ringkus Penjahat. Dipastikan Kerling Sukma tidak akan bisa lepas dari jeratan itu. Joko Tenang saja memerlukan ilmu Surya Langit Jagad untuk memusnahkan ilmu jeratan tersebut.
Zress!
__ADS_1
Ginari harus terkejut, ternyata Kerling Sukma dengan mudahnya memusnahkan jaring sinar biru itu. Dari dalam tubuh Kerling Sukma menyala kobaran api besar berwarna hijau. Api itu bahkan menyala pada rambut si gadis. Seiring munculnya api hijau dari ilmu Raga Berlindung Api itu, jerat sinar biru musnah seperti api membakar tali kertas.
Sebebasnya dari jeratan, Kerling Sukma langsung melesat kembali menyerang dengan bola Api Putih siap di tangan kanan, sementara api hijaunya telah padam. Namun, Ginari sudah melesat naik ke udara dengan cara melesat mundur.
Sess! Ctar!
Kerling Sukma memburu Ginari dengan melesatkan Api Putih ke udara. Namun, dengan mudah Ginari mengelaki serangan itu, sehingga terus melesat ke angkasa gelap lalu meledak sendiri di kejauhan, menciptakan kembang api putih yang indah.
Ginari kemudian memilih membuang tubuh Joko Tenang dari atas.
Sets!
Saat tubuh Joko Tenang meluncur ke bawah, jala sinar biru melesat menjerat tubuh Joko.
Wuss!
Kerling Sukma cepat mengirimkan segelombang angin yang berfungsi menyambut jatuh tubuh Joko untuk mengurangi hantaman ke bumi.
Wuss wuss wuss…!
Bamm bamm bamm…!
Hujan serangan Tinju Menembus Gunung datang dari Ginari yang melayang di udara. Kerling Sukma yang sudah menjajal kehebatan ilmu pukulan jarak jauh itu, cepat keluarkan ilmu perisai yang bernama Benteng Tiga Lapis.
Dalam waktu sekejap, tiga lapis sinar kuning melengkung melindungi keberadaan tubuh depan Kerling Sukma, membuat semua tenaga dahsyat pukulan Tinju Menembus Gunung tertahan oleh ilmu perisai itu. Ginari hanya bisa terkejut, biasanya pukulan itu mampu menembus ilmu perisai sehebat apa pun.
“Tahan, Sukma!” teriak Joko Tenang yang sudah terbebas dari jeratan Jala Ringkus Penjahat dengan cara ilmu Hijau Raga.
Set! Baks!
Namun, Kerling Sukma sudah terlanjur menyerang Ginari.
Maka, tepat ketika serangan Tinju Menembus Gunung berhenti menyerang, tiba-tiba Kerling Sukma menolakkan kedua tangan dan kedua kakinya. Gerakan seperti kodok hendak melompat itu membuat Kerling Sukma menghilang karena tubuhnya terlalu cepat melesat ke atas.
Ginari tidak bisa melihat lesatan tubuh Kerling Sukma. Tahu-tahu satu pukulan telapak tangan bertenaga dalam tinggi telah menghantam dada gadis bercadar itu di udara.
“Huksr!” keluh Ginari seiring semburan darah kental di balik cadarnya. Tubuhnya terdorong keras di udara.
Clap!
Tiba-tiba sosok Ginari menghilang di udara.
Awalnya Kerling Sukma hendak menghantam Ginari dengan ilmu Api Putih. Namun, teriakan sang calon suami membuatnya mengubah menjadi pukulan bertenaga dalam tinggi biasa.
Kerling Sukma jarang menggunakan ilmu Lompatan Ratu Belalang warisan ibunya, tetapi belum pernah ada yang bisa menghindari serangan yang secepat pukulan Tapak Kucing milik Joko itu.
Kerling Sukma yang telah mendarat di tanah, langsung waspada. Ia tahu bahwa lawannya masih ada di tempat itu, hanya saja tidak terlihat. Sebagai murid dari seorang guru buta yang sakti, Kerling Sukma juga dibekali ilmu peraba dan perasa yang tinggi.
__ADS_1
Sess! Wuss! Blaam!
Sebelum ada serangan membokong atau tidak terlihat dari Ginari, Kerling Sukma lebih dulu melesatkan bola api putih ke arah belakangnya. Ternyata benar, ada serangan tenaga tidak terlihat yang mencoba membokong. Sinar Api Putih pecah di tengah jalan saat bertemu dengan tenaga Tinju Menembus Gunung.
Kerling Sukma terjajar beberapa langkah. Namun di sisi lain, terdengar suara tubuh jatuh keras di tanah. Di saat yang bersamaan, wujud Ginari muncul dengan sendirinya dalam kondisi jatuh dan cadar birunya tersingkap. Kondisi yang sudah terluka sebelumnya membuat Ginari kalah telak dan makin terluka.
Ginari cepat bangkit berdiri sambil memegangi dadanya.
“Ginari!” panggil Joko Tenang sambil berlari kecil mendekati gadis bermata indah itu. Ia berdiri lima langkah di depan Ginari.
Di dalam gelapnya malam, Joko Tenang bisa mengenali bahwa wajah cantik itu adalah Ginari, jelas-jelas Ginari murid Ki Ranggasewa.
Ginari menatap tajam kepada Joko Tenang dengan wajah mengerenyit. Ia menyeka darah kental yang mengotori dagunya.
Clap! Clap! Clap! Clap!
Tiba-tiba muncul tiga sosok jelita dan seorang lelaki begitu saja dan berdiri mengepung posisi Ginari. Mereka adalah Tirana, Getara Cinta, Putri Sri Rahayu dan Turung Gali.
“Ginari!” sebut Tirana sumringah sambil melangkah hendak mendekati Ginari.
Wuss!
Namun, Tirana harus terkejut ketika Ginari menyerangnya dengan serangkum angin pukulan. Tirana cepat mengelak.
Clap!
Tiba-tiba Ginari kembali menghilangkan diri. Getara Cinta dan Putri Sri Rahayu bergerak hendak bertindak mencegah kepergian Ginari, karena mereka bisa tahu pergerakan gadis berpakaian biru itu.
“Biarkan Ginari pergi!” seru Joko Tenang cepat dengan wajah dingin, tapi mengandung kesedihan.
Maka para gadis Joko Tenang mengurungkan niatnya. Mereka akhirnya membiarkan Ginari pergi dari tempat itu.
Joko Tenang berdiri terdiam, terpaku. Hatinya dilanda kesedihan yang membisu. Menurutnya, akan percuma menahan keberadaan Ginari, sebab gadis itu sedang lupa diri.
“Apa yang terjadi, Kakang?” tanya Getara Cinta lebih dulu saat melihat calon suaminya meneteskan satu aliran air mata.
“Jelas-jelas Ginari masih hidup, Kakang, kenapa melukainya dan membiarkannya pergi?” tanya Tirana bingung.
“Raganya memang Ginari, tetapi sifatnya bukan Ginari. Saat ini dia bukan Ginari yang kita kenal,” jawab Joko Tenang.
“Aku tidak mengerti, Kakang,” kata Tirana.
“Aku curiga, Kalung Tujuh Roh memang berhasil menghidupkan Ginari, tetapi ia bangkit sebagai Ginari yang ingatan dan sifatnya berbeda. Aku juga tidak mengerti. Mungkin hanya Raja Kera yang bisa menjawabnya,” kata Joko Tenang.
“Siapa sebenarnya wanita itu, Kakang?” tanya Kerling Sukma yang memang belum pernah bertemu dan kenal dengan Ginari sebelumnya.
“Nanti aku ceritakan tentang Ginari, Sukma. Lebih baik kita cepat kembali ke perguruan, agar orang-orang di sana tidak cemas!” kata Tirana. (RH)
__ADS_1