
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Untuk kedua kalinya, orang-orang Perguruan Tiga Tapak berkumpul di depan gerbang utama ketiga, gerbang di depan benteng bambu perguruan. Kali ini Kerling Sukma dan para tamu turut menunggu.
Setelah murid perguruan yang bernama Sigangga memberi kabar ketibaan calon pengantin lelaki, mereka semua bergegas pergi ke depan untuk menyambut.
Memang tidak memerlukan waktu lama. Empat ekor kuda lengkap dengan penunggangnya telah terlihat di kejauhan. Keempat kuda yang awalnya berlari kencang, jadi memperlambat laju kudanya.
Rasa penasaran yang tinggi meliputi jiwa-jiwa orang Perguruan Tiga Tapak. Sebagian mungkin pernah melihat Joko Tenang ketika berada di perguruan itu di masa remaja, tetapi mereka tetap sangat penasaran, mereka ingin tahu setampan apa pendekar yang bernama Joko Tenang sehingga dalam sekali rengkuh, dua tiga gadis berada dalam pelukan. Apalagi bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan murid Ki Ageng Kunsa Pari itu.
Namun, yang lebih membuat mereka penasaran adalah kecantikan calon istri yang bernama Tirana, calon istri yang wajib menikah lebih dulu dengan Joko Tenang dibandingkan dengan Kerling Sukma yang menurut mereka cantiknya sudah paling ter. Khususnya kaum batangan, merekalah yang paling bernafsu ingin menyaksikan secantik apa Tirana.
“Bidadarinya ada tiga!” bisik salah seorang murid yang berdiri di barisan depan. Ia senyum-senyum, girang sendiri.
“Adik Sukma, Ratu Getara, tambah tiga. Wow, lima istri!” ucap murid lelaki yang lain sambil menghitung dan terpukau tidak percaya.
“Yang di depan jangan dihitung, yang depan itu adalah Pendekar Joko!” ralat murid yang berdiri di belakang, meluruskan pandangan rabun temannya.
“Hah!” kejut mereka.
Setelah mereka melihat lebih teliti lagi, ternyata sosok berpakaian hitam dan berompi merah adalah seorang lelaki. Rambut panjang Joko Tenang dan bibir merahnya membuat ia seperti sosok wanita jika dilihat dari jarak yang melampaui batas kejelasan.
Orang kedua adalah lelaki tua berpakaian putih yang tidak lain adalah Ki Ranggasewa.
Semakin dekat rombongan membuat mereka semakin jelas melihat wajah-wajah para penunggang kuda. Dan semua lelaki, baik yang masih bujang atau yang sudah berbini, terkhusus yang masih jomblo akut, terdiam terpukau ketika melihat dua gadis jelita yang bersama kedua lelaki itu.
Tirana yang tampil dalam pakaian serba putih indah terlihat begitu cantik cemerlang dengan warna kulitnya yang putih bersih. Salah satu kelebihan dari kejelitaan Tirana adalah kesejukan. Orang yang pertama kali memandang parasnya akan langsung menemukan kecantikan yang sejuk yang bisa mempengaruhi suasana hati orang yang memandangnya. Maka tidak heran jika para calon madunya mudah luluh jika diajak berbagi cinta dan suami. Ketika semakin dekat, maka semakin jelaslah tingkat dewi kecantikan Tirana. Tidak hanya indah dipandang di kala jauh, tetapi juga begitu cantik di kala dekat, seolah merayu untuk minta dikecup sayang.
Getara Cinta dan Kerling Sukma yang awalnya tersenyum lebar sumringah hingga gigi-gigi mereka terlihat, jadi berubah heran. Mereka tidak mengenali satu wanita cantik lainnya. Penampilan wanita itu adalah Putri Sri Rahayu, tetapi wajahnya asing, bukan Putri Sri Rahayu.
Gadis lain selain Tirana adalah seorang wanita nan cantik jelita berhidung mancung lagi mungil. Dan yang paling menggoda adalah kecantikan bibir dan dagunya. Bibir bawahnya yang agak tebal memiliki bentuk belahan, sama seperti dagu mulusnya yang berbelah indah, satu poin kecantikan yang jarang dimiliki oleh gadis-gadis lain. Teapi model itu sama dengan yang dimiliki oleh Kerling Sukma, bibir bawah dan dagu yang belah. Bedanya, wanita ini lebih jelas terlihat belahannya. Namun, gadis jelita itu memiliki ciri tubuh dan rambut yang sama dengan Putri Sri Rahayu. Sepasang tangannya sama, bersarung tangan warna merah. Dan faktanya, gadis itu memang Putri Sri Rahayu.
“Kakak Ratu, siapa wanita cantik seperti Putri Sri Rahayu itu?” tanya Kerling Sukma setengah berbisik kepada Getara Cinta.
“Entahlah, tapi itu Putri Sri Rahayu,” jawab Getara Cinta tidak pasti.
“Wow, bidadari!” desah para murid Perguruan Tiga Tapak terpukau terpesona.
__ADS_1
Tidak terasa bahwa wajah-wajah mereka terlihat jelas terpana hingga sepasang bibir mereka merenggang terbuka.
Akhirnya semua pun tersenyum menyambut ketika keempat kuda tamu itu berhenti tidak jauh di depan mereka.
Sejak masih berada di atas kuda, Joko Tenang dan Tirana sudah mengembangkan senyum manis dan ramah. Agak berbeda dengan Putri Sri Rahayu yang senyumnya agak mahal.
Karena begitu gembiranya, Joko Tenang menepati janjinya menyusul ke perguruan, Kerling Sukma ingin sekali berlari memeluk calon suaminya.
“Kakak!” teriak Kerling Sukma sambil berlari kecil kepada Tirana, bukan kepada Joko Tenang. Ia tidak mau membuat calon suaminya jatuh lemas di hadapan banyak orang.
Sambil tertawa-tawa, Kerling Sukma memeluk Tirana yang menyambutnya dengan senyum kehangatan.
“Lihat!” kata Tirana sambil tersenyum menunjuk Putri Sri Rahayu dengan lirikannya.
Kerling Sukma memandang serius kepada Putri Sri Rahayu yang hanya tersenyum tipis melihat reaksi Kerling Sukma yang ragu.
“Kalian memiliki model bibir dan dagu yang sama, tetapi milik Putri Sri Rahayu beracun,” kata Tirana.
“Ini Putri Sri Rahayu?” tanya Kerling Sukma terkesiap tidak menyangka.
“Luar biasa!” puji Kerling Sukma sambil tertawa senang.
“Aku tidak menyembunyikan kecantikanku, tetapi menutupi racunku,” kilah Putri Sri Rahayu.
“Aku jadi tidak berani peluk,” ucap Kerling Sukma.
Akhirnya Putri Sri Rahayu tersenyum lebar.
“Hormatku, Kakek Seribu Tapak, Ketua Jaga!” ucap Joko Tenang sambil menjura hormat kepada Pendekar Seribu Tapak dan Jaga Manta.
“Selamat datang, Joko!” ucap Jaga Manta lebih dulu, dengan senyum ramah.
“Selamat datang, calon pemimpin dunia persilatan!” ucap Pendekar Seribu Tapak yang membuat Joko agak terkejut dengan sebutan itu.
“Kakek begitu melebihkan, hahaha!” ucap Joko sambil tertawa karena menduga itu adalah kelakaran belaka.
“Bagaimana kabarmu, Ranggasewa?” tanya Pendekar Seribu Tapak sambil merentangkan tangannya.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa Ki Ranggasewa sambil maju memeluk Pendekar Seribu Tapak.
“Uhuk uhuk uhuk!” batuk Pendekar Seribu Tapak karena Ki Ranggasewa cukup kencang memeluknya.
“Oh, kau sedang terluka, Seribu Tapak?” tanya Ki Ranggasewa agak terkejut dan buru-buru melonggarkan pelukannya. “Siapa yang bisa membuatmu terluka seperti ini?”
“Murid Dewi Mata Hati. Aku terlalu angkuh sehingga menantang kesaktian murid nenek cantik itu,” jawab Pendekar Seribu Tapak.
“Mungkin aku bisa menyembuhkan lukamu, Kek,” ujar Joko Tenang.
“Jika bisa, maka aku akan sangat mendukung kau menikahi Kerling Sukma,” kata Pendekar Seribu Tapak.
“Hahaha!” tertawa hangatlah mereka.
Joko Tenang lalu pergi menyapa Lili Angkir dan Gatri Yandana dengan tetap menjaga jarak.
Tirana dan Putri Sri Rahayu lebih dulu menemui Getara Cinta dan memberi penghormatan layaknya menghormat kepada seorang ratu.
“Hormat kami, Ratu!” ucap Tirana dan Putri Sri Rahayu bersamaan.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Getara Cinta setengah berbisik, ia agak terkejut melihat tindakan kedua gadis jelita itu.
Tirana hanya menggerakkan kedua alisnya sebanyak dua kali sambil tersenyum, memberi isyarat yang sebenarnya Getara Cinta juga tidak mengerti apa maksudnya.
“Di Perguruan Tiga Tapak kita akan bertemu dengan banyak orang. Penilaian orang sangat berpengaruh. Jika salah menilai dan menjadi perbincangan liar di masyarakat umum, khawatir akan menciptakan pemahaman yang salah dan pastinya itu buruk. Karena itu, aku berharap Putri mau tampil dengan wajah asli,” ujar Tirana kepada Putri Sri Rahayu saat mereka masih dalam perjalanan menuju Perguruan Tiga Tapak. Tirana yakin bahwa Putri Sri Rahayu sebagai seorang putri tentu memiliki kecantikan yang tidak biasa saja.
Apa yang dimintakan oleh Tirana disetujui oleh Joko Tenang. Awalnya Putri Sri Rahayu menolak, ia ingin mempertahankan penampilan wajah buruknya yang adalah topeng belaka.
“Aku tidak ingin jika semua calon istri Kakang dipuji dan dikagumi kecantikannya oleh semua orang, tetapi putri tersayangku harus terabaikan karena topengnya. Awalnya aku tidak mempermasalahkan hal itu karena aku kira wajah Putri Sri adalah asli. Namun, jika itu topeng, tentu aku tidak nyaman kondisi yang akan dialami oleh Putri nantinya, meski Putri merasa tidak apa-apa,” kilah Tirana.
“Bagaimana, Putri?” tanya Joko Tenang lembut. “Namun, jika kau memang tetap berkeras hati untuk tidak memperlihatkan wajah aslimu, baiklah. Kami tidak bisa memaksa.”
“Baiklah, Kakang,” jawab Putri Sri Rahayu akhirnya.
Maka, Putri Sri Rahayu mulai saat itu membuka topeng kulitnya. Joko Tenang dan Tirana pun bergembira, terlebih ketika melihat kejelitaan wajah asli Putri Sri Rahayu yang bukan kaleng-kaleng.
Selain itu, Tirana pun memiliki rencana untuk menjaga ketinggian martabat status Getara Cinta sebagai seorang ratu. Meski ia kini sudah tidak memiliki kerajaan dan balatentara, tetapi maruahnya harus tetap dipelihara. Karenanya, Tirana dan Putri Sri Rahayu tetap memperlakukan Getara Cinta sebagai seorang ratu dengan menjura hormat kepadanya ketika bertemu di depan Perguruan Tiga Tapak. (RH)
__ADS_1