Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Assesa 35: Kesaktian yang Kalah


__ADS_3

*Asmara Segel Sakti (Assesa)*


 


“Bersiap!” teriak Getara Cinta memberi aba-aba. Ia dalam keadaan diselimuti oleh kobaran api hijau. Di kedua genggamannya sudah bercokol sinar hijau berpijar.


Bola sinar dua warna dari ilmu Bola Dua Maut sudah bercokol di tangan kanan Tirana. Tatapannya tajam dan tegang. Adapun Kerling Sukma menyiapkan ilmu Jari Surga di dua jari tangan kanannya.


Turung Gali pun terlihat tegang dengan kedua lengan yang telah diselimuti oleh gulungan sinar merah bergelombang.


Jauh di dalam sana, Dewi Mata Hati masih duduk bersila dengan tenang. Entah, apakah dia sedang terjaga atau tidur, tidak ada yang tahu.


“Serang!” teriak Getara Cinta.


Tum tum tum!


Broasss!


Sess!


Zruzzz!


Maka, secara bersamaan Getara Cinta melepaskan dua sinar hijau berpijar dari tinjunya, Tirana melempar sinar Bola Dua Maut, Kerling Sukma melesatkan tiga sinar putih menyilaukan, dan Turung Gali melesatkan dua spiral sinar merah Lengan Merah-nya.


Secara bersamaan keempat ilmu itu menghantam dinding sinar kuning di hadapan mereka. Akibatnya, gua besar itu berguncang cukup keras seperti terjadi gempa. Sejumlah pecahan keping-keping batu gua berjatuhan dari langit-langit.


Namun, apa yang terjadi pada Dinding Seribu Baja? Ternyata dia baik-baik saja.


“Apa?!” kejut Turung Gali.


Tirana, Getara Cinta dan Kerling Sukma jatuh terduduk serentak. Mereka merasa lemas dan kehilangan akal. Untuk saat ini, pikiran mereka buntu.


Dengan kesal, Tirana bangkit berdiri kembali.


Bress!


Tirana melempar sebuah sinar merah berbentuk jaring laba-laba besar yang kemudian menempel pada dinding sinar. Tirana melesat masuk menghilang ke dalam ilmu Lorong Laba-Laba-nya.


Detik berikutnya, sinar merah jaring laba-laba lain muncul di atas pinggir kolam di seberang sana, tidak jauh di depan posisi Dewi Mata Hati. Dari dalam sinar merah itu keluar sosok Tirana.


Tes tes tes…!


Pcrak pcrak pcrak…!


Mengetahui ada yang menerobos masuk, Dewi Mata Hati menghentakkan kesepuluh jari tangannya. Maka puluhan butiran-butiran kecil sinar biru kusam berlesatan menghujani tubuh Tirana.


Tirana memiliki ilmu perisai Kulit Dewi Gaib. Ilmu perisai itu tidak terlihat yang melindungi seluruh tubuhnya sejauh dua jengkal dari kulitnya. Biasanya, ilmu sehebat apa pun akan hancur dan sirna ketika menyentuh Kulit Dewi Gaib.


Namun, kali ini berbeda. Puluhan butir sinar biru kusam itu tidak musnah. Mereka justru menemplok seperti butiran cat yang dilempar. Puluhan sinar biru itu menempel pada dinding gaib Kulit Dewi Gaib, membuat dinding itu jadi terlihat membentuk dinding warna biru kusam.


Hal itu membuat Tirana terkejut, sebab tidak hanya menempel, sinar-sinar itu juga melebarkan diri dan menggerogoti kekuatan Kulit Dewi Mata Gaib. Dalam waktu singkat, tampaklah dinding Kulit Dewi Gaib yang berwarna biru kusam.


Tes tes tes…!


Dewi Mata Hati kembali melepaskan puluhan butir kecil sinar sejenis, tetapi kali ini berwarna merah kusam. Puluhan sinar merah itu tidak bisa dihindari oleh Tirana. Berbeda dengan sinar-sinar biru sebelumnya, sinar-sinar merah ini menempel di dinding perisai Tirana tanpa pecah.

__ADS_1


Ctar!


“Hukrr!”


Jburr!


Tiba-tiba semua butiran sinar merah kecil itu meledak bersamaan. Saat itu pula, ilmu perisai Kulit Dewi Gaib hancur. Seiring mulut menyemburkan darah kental, tubuh Tirana terlempar keras ke belakang lalu jatuh ke dalam kolam.


“Tirana!” teriak Turung Gali, Getara Cinta dan Kerling Sukma bersamaan.


“Guruuu! Hentikaaan!” teriak Kerling Sukma saat melihat di kedua tangan gurunya sudah muncul ilmu Api Putih.


Sess sess sess!


Namun, seperti tidak mendengar teriakan murid kesayangannya, Dewi Mata Hati melesatkan tiga bola api putih sekaligus ke dalam kolam, tepat pada posisi terjeburnya tubuh Tirana.


“Tirana!” teriak Turung Gali panik luar biasa tanpa bisa berbuat apa-apa.


Bruarr!


Ledakan dahsyat terjadi di air kolam. Air dalam jumlah besar berlompatan menjulang tinggi ke atas dan ke mana-mana. Namun, Tirana telah lenyap di dalam air.


Bress!


Jaring laba-laba sinar merah tiba-tiba muncul di lantai belakang posisi Kerling Sukma. Getara Cinta dan Kerling Sukma terkejut dan cepat melihat ke belakang. Dari dalam sinar merah berbentuk jaring laba-laba itu melompat ke luar tubuh Tirana yang basah kuyup.


Tirana mendarat dengan terhuyung. Turung Gali cepat menangkap tubuh putrinya.


“Ini benar-benar gila!” ucap Tirana sambil menangis halus. Kini ia merasakan putus asa seperti yang dirasakan oleh Kerling Sukma sejak tadi.


“Ayah! Ayah yang membawa Cincin Mata Langit. Apakah Ayah tahu kekuatan cincin ini?” tanya Tirana, lemah. Ia mengalami luka dalam.


“Gusti Mulia Raja Anjas hanya mengatakan, ‘ini untuk perlindungan’. Mungkin seperti yang terjadi pada Pangeran Dira,” kata Turung gali.


“Berarti tidak bisa kita gunakan untuk dinding ini,” ucap Kerling Sukma.


“Ratu, waktu kedua Permata Darah Suci bertemu saat di kamar asmara, bukankah Ratu mendapatkan kekuatan baru?” tanya Tirana.


“Benar. Tenaga dingin. Bisa membuat tempat sekitar menjadi sangat dingin, bahkan membeku menjadi es,” jawab Getara Cinta.


“Tidak ada harapan,” ucap Tirana lemah.


“Tidak, itu bisa dicoba!” kata Turung Gali cepat.


Ketiga wanita jelita itu segera memandang Turung Gali.


“Setahuku, dingin yang begitu kuat bisa mengubah unsur benda lain menjadi es. Itu akan membuat benda lain menjadi mudah dihancurkan. Apakah kekuatan Permata Darah Suci itu bisa membekukan kekuatan Dinding Seribu Baja?” tutur Turung Gali.


“Baik, aku akan coba. Tapi kalian semua harus berada di luar,” kata Getara Cinta. “Jika seandainya dinding itu membeku, cobalah kalian hancurkan.”


“Baik,” ucap Tirana dan Kerling Sukma bersamaan.


Mereka lalu meninggalkan Getara Cinta sendiri. Turung Gali mengangkat tubuh Joko Tenang.


Kini, Getara Cinta berdiri seorang diri menghadap kepada Dinding Seribu Baja. Sementara Tirana, Kerling Sukma dan Turung Gali menunggu di lorong, tempat mereka tadi menghancurkan pintu batu.

__ADS_1


Mulailah tubuh Getara Cinta bersinar hijau terang menyilaukan. Seluruh tubuhnya menyilaukan. Suhu dingin mulai keluar dari dalam tubuh yang bersinar itu. Suhu dingin itu menyebar luas dan kuat. Dewi Mata Hati yang ada jauh di depan bahkan bisa merasakannya.


Tirana dan yang lainnya harus lebih menjauh ketika hawa dingin semakin menggigit.


Getara Cinta yang sudah bisa mengendalikan kekuatan dingin dari Permata Darah Suci, terus meningkatkan tenaganya. Dalam waktu yang tidak lama, mulailah muncul lapisan-lapisan kristal hijau bening yang adalah es berwarna hijau.


Lapisan-lapisan es itu juga bermunculan di dinding sinar kuning. Semakin lama semakin banyak dan menebal, juga membuat ruangan gua yang besar itu semakin dingin.


Setelah setengah jam lamanya, akhirnya ruangan gua itu menjadi ruangan es yang sangat dingin. Lantai, dinding, dan langit-langit, semua membeku oleh lapisan es yang tebal. Termasuk Dinding Seribu Baja. Dinding sinar itu berubah wujud menjadi dinding es.


Air kolam juga membeku menjadi lantai es, termasuk area sekitar Dewi Mata Hati.


“Sekarang hancurkan!” teriak Getara Cinta lantang.


Setelah teriakan itu, satu bayangan hijau berkelebat masuk ke ruangan gua itu.


Tum tum tum!


Tiga sinar putih kecil menyilaukan melesat beruntun dari dua jari Kerling Sukma.


Bbruakr!


Dinding Seribu Baja yang sudah menjadi dinding es, hancur berantakan oleh ilmu Jari Surga milik Kerling Sukma.


Mengetahui Dinding Seribu Baja-nya akhirnya hancur, Dewi Mata Hati hanya diam. Dingin sedingin suasana tempat itu sekarang.


Kerling Sukma segera berkelebat ke hadapan gurunya.


“Guru!” sebut Kerling Sukma sambil turun berlutut sangat dekat di depan batu kristal hijau yang diduduki Dewi Mata Hati.


“Berhentilah menangis dan mengiba. Kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Aku akan mengobati Joko. Tapi aku minta, jika aku berhasil menyelamatkan nyawa Joko, aku harus menikah dengannya!”


“Baik, Guru!” ucap Kerling Sukma begitu gembira sambil buru-buru meraih tangan kanan gurunya, lalu menciumi tangan gurunya itu.


Dewi Mata Hati membiarkan tindakan murid kesayangannya itu.


“Bawa Joko ke ranjangku. Setelah itu, kalian jangan masuk sampai aku keluar menemui kalian!” perintah Dewi Mata Hati.


“Guru, apakah ilmu Lintah Cinta itu tidak bisa kau turunkan kepadaku, agar aku yang mengobati Kakang Joko?” tanya Kerling Sukma. Sebenarnya di dalam hati kecilnya, masih ada rasa yang berat.


“Jika itu bisa dilakukan, untuk apa aku sampai berbuat seperti ini, Mata Hijau. Butuh dua tahun lamanya untuk mempelajari ilmu itu. Apa boleh buat, Mata Hijau. Hal serumit ini tidak bisa kita hindari. Jika nanti aku menjadi istri Joko, anggaplah kita ini sedang berbagi air bersama, berbagi rumah bersama, dan berbagi makanan bersama, seperti yang selama ini kita lakukan di Jurang Patah Hati ini.”


“Iya, Guru,” ucap Kerling Sukma patuh. (RH)


 


*****************


Season Asmara Segel Sakti (Assesa) sebentar lagi akan berakhir dan akan berlanjut ke season yang berjudul Pendekar Gila Mabuk (PGM).


Dicari nama Readers yang klasik untuk nama peran:


1) Pendekar Gila Mabuk


2) Kekasih Pendekar Gila Mabuk

__ADS_1


__ADS_2