
*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)*
“Para pendekar Kerajaan Sanggana Kecil! Waktunya menegakkan kebenaran dan menumbangkan kejahatan! Berperanglah kalian sampai tetes darah penghabisan! Serang!” teriak Joko Tenang keras dan berapi-api.
Zersss!
Graurrr!
Macan raksasa sinar hijau bersayap dari Cincin Mata Langit menyambar tubuh Joko Tenang dan Getara Cinta, membawanya terbang menuju posisi Ratu Ginari yang mengambang tinggi di angkasa.
Zersss!
Kerling Sukma juga mengeluarkan penghuni Cincin Mata Langit-nya. Sinar kuning berwujud ular raksasa bersayap kalelawar melesat keluar dari dalam tubuh Gadis Mata Hijau.
“Kerahkan tenaga saktimu ke cincin itu, Kusuma!” seru Kerling Sukma kepada Kusuma, karena ia melihat gadis berpedang itu agak kebingungan cara mengerjakan cincin saktinya.
Kerling Sukma lalu melesat tinggi ke atas. Ular sinar kuning bersayap kalong langsung menyambarnya.
“Hancurkan pasukan musuh, Kerling Emas!” teriak Kerling Sukma dengan menyebut makhluk tunggangannya “Kerling Emas”.
Kerling Emas melesat terbang cepat ke arah pasukan yang berlarian turun di bukit kiri sambil berteriak seperti orang tawuran.
Bruss!
“Aaak…!” jejeritan para prajurit yang tersambar dan tertabrak ular sinar itu.
Puluhan prajurit langsung berpentalan. Mereka bertewasan dengan cara seperti orang kehabisan napas atau tersumbat pernapasannya. Hasil yang diberikan oleh Kerling Emas sangat berbeda dengan burung Tirana yang sifatnya membakar.
Zersss!
Setelah berusaha, akhirnya wujud sinar hitam berwujud naga keluar dari dalam tubuh Kusuma Dewi. Calon istri Joko Tenang itu buru-buru melompat tinggi ke udara. Naga hitam melakukan gerakan melingkar ke bawah untuk menyambar tubuh tuannya. Terlihat bahwa Kusuma Dewi tidak begitu luwes berinteraksi dengan naganya karena faktor tingkat kesaktiannya.
Namun kemudian, Kusuma Dewi dengan cepat bisa menyatukan diri dengan naga hitamnya. Ia bisa mengarahkan naga hitamnya menyerang ke arah serbuan ribuan pasukan yang menuruni bukin kanan.
Bruss!
“Aaak…!”
Sama seperti burung Tirana dan ular Kerling Sukma, ular naga Kusuma Dewi juga menerabas dan mementalkan puluhan prajurit yang disambarnya. Hasilnya, para prajurit yang terkena langsung tewas dengan kulit tubuh menghitam dan mulut mengeluarkan busa, seperti usai minum diterjen. Mungkin naga hitam mengandung racun diterjen.
Buks!
“Hugk!”
Ketika Kusuma Dewi telah berbalik lagi bersama naga hitamnya, tiba-tiba di udara melesat sangat cepat sosok berpakaian merah. Tahu-tahu menghantam tubuh Kusuma Dewi di atas punggung naganya. Kusuma Dewi yang melihat serangan itu, hanya bisa mencoba menyambut dengan pukulan tangan kiri.
__ADS_1
Namun, serangan itu sangat kuat menabraknya. Pukulannya tidak berarti apa-apa. Kusuma Dewi terlempar jatuh dari atas punggung naganya.
Orang yang baru saja menyerang itu tidak lain adalah Raja Galang Madra, yang marah pasukannya diserang. Ia kini berdiri mengambang di angkasa.
Sejak Ginari dan keenam pengikutnya menerima ilmu Roh Tujuh Langit, mereka semua bisa mengambang di udara.
Sebelum tubuh Kusuma Dewi hancur menghantam tanah bukit yang keras, naga hitam datang cepat menyambar tuannya.
“Serahkan orang itu padaku, Kusuma! Kau hancurkan saja pasukannya!” teriak Turung Gali yang berkelebat cepat di udara, sambil mengirimkan pukulan jarak jauh kepada Raja Galang Madra sebagai serangan pemancing belaka.
Serangan Turung Gali membuat Roh Langit Tiga itu memfokuskan perhatiannya pada ayah dari Tirana tersebut.
Sementara itu, dua manusia monyet tidak menyambut pasukan Kerajaan Balilitan yang datang, mereka melesat laksana angin berhembus naik ke puncak bukit sebelah kanan. Dalam waktu singkat, Raja Kera dan Si Monyet Putih sudah berhadapan dengan Satria Gagah dan Suginowo. Di belakang Suginowo ada para muridnya sebanyak dua puluh sembilan orang.
“Aku terkejut kau bergabung bersama musuh untuk melawanku, Raja Kera!” ujar Satria Gagah yang sudah mengenali keberadaan sahabatnya itu sejak tadi.
“Kau harus dibunuh Satria Gagah. Aku harus mengorbankan persahabatan kita demi kebaikan dunia persilatan!” tandas Raja Kera.
“Berani kau, Raja Kera! Apakah kau tidak tahu bahwa kesaktianku sudah sangat jauh di atasmu? Kau akan mati di tanganku jika kau tidak menyerah!” kata Satria Gagah.
“Aku bertanggung jawab atas kehidupan jahatmu saat ini. Mati pun aku tidak akan menyesal!” kata Raja Kera. Dialah yang meminjamkan Kalung Tujuh Roh untuk menghidupkan kembali Satria Gagah. Karenanya, ketika Satria Gagah menjadi orang jahat, Raja Kera merasa bersalah dan bertanggung jawab.
“Jika begitu, matilah!” teriak Satria Gagah sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah bukit.
Blar!
Raja Kera cepat melompat pindah dari tempatnya yang kemudian tanahnya meledak. Setelah mendarat di tanah, Raja Kera langsung melesat menyerang dengan tasbih yang menyala hijau. Pertarungan pun terjadi.
Di bawah sana, tinggallah Sandaria yang menunggangi serigala. Empat serigalanya telah kosong dari penunggang.
“Satria dan kalian! Kita jebol jalan bukit itu!” teriak Sandaria kepada kelima serigalanya.
Meski Sandaria buta, tetapi jangan tanya kesaktiannya dalam membaca medan, meski dalam kesehariannya ia benar-benar seperti seorang gadis buta.
“Maju!” seru Sandaria. Saat itu, kemanjaannya telah hilang berubah menjadi gadis berdarah dingin, gadis yang haus nyawa.
Seiring dua pasukan dari dua bukit bertemu bersatu menyerang musuh yang sama, kelima serigala serentak berlari kencang dalam satu formasi. Para prajurit berdatangan dari sisi kanan dan kiri, mencoba menyerang para serigala dan Sandaria.
Grrr…!
“Akk! Ak! Akh…!” para prajurit yang menghalangi lari para serigala harus mendapat terkaman mematikan.
Sementara Satria dan Sandaria terus melaju menuju ke medan pertempuran antara pasukan berkuda Kerajaan Baturaharja dan pasukan pimpinan Laga Patra. Keempat serigala lain bertindak sebagai pelancar jalan. Segala ancaman yang mencoba menyerang Satria, akan diterkam oleh Kemilau, Bintang, Bulan, dan Belang bergantian.
Para serigala hanya sebentar dalam melukai para prajurit yang menjadi korbannya, sebab mereka harus buru-buru kembali ke dalam formasi kesatuan. Hal itu membuat para prajurit tidak sampai mati, tetapi mereka harus mengalami luka cakar dan gigit yang parah.
Hingga akhirnya, Sandaria dan kelima serigalanya masuk ke dalam pertempuran, membantu pasukan berkuda pimpinan Senopati Duri Manggala. Sementara Senopati Duri Manggala larut dalam pertarungannya melawan putranya, Laga Patra.
__ADS_1
“Majuuu!” teriak pemimpin prajurit bawahan Laga Patra saat melihat Sandaria dan para serigalanya mengobrak-abrik pasukan yang bertempur.
“Seraaang!” teriak lima ratus prajurit yang sejak tadi menyumpal jalan Jalur Bukit itu.
Pertempuran pada sisi ini pun semakin ramai.
Di titik kumpul para pendekar pengikut Joko Tenang. Dengan jantung berdebar-debar, mereka menunggu datangnya dua gelombang ribuan prajurit Balilitan yang turun seperti banjir bah dari punggung bukit kanan dan kiri.
Reksa Dipa, Surya Kasyara, Nyai Kisut, Garis Merak, Kurna Sagepa, dan Swara Sesat, mereka semua telah memasang kuda-kuda, siap menerima gelombang serangan yang pastinya membutuhkan kerja ekstra keras.
Dan akhirnya, gelombang ribuan pasukan itu sampai kepada mereka berenam.
Wus wus wus…!
Reksa Dipa langsung mengerahkan ilmu Sukma Bayang Wujud. Lima bayangan dirinya melompat keluar dari dalam tubuhnya dengan kedua tangan masing-masing berbekal sinar merah.
Zess zess zess…!
Blar blar blar…!
Kelima bayangan itu melesatkan sepuluh sinar merah ke sepuluh titik berbeda. Sepuluh ledakan terjadi keras membunuhi dan melukai puluhan prajurit Balilitan. Setelah menyerang, kelima bayangan itu akan menghilang dengan sendirinya. Selanjutnya, Reksa Dipa maju bertempur seperti orang kesetanan.
Surya Kasyara yang sudah menenggak tuaknya separuh bumbung, langsung mengamuk dengan jurus Pemabuk Buta. Ia yang benar-benar mabuk, bertarung membabi buta, seperti orang yang tidak mengenal rasa sakit. Tenaga pukulan, tendangan dan sundulan kepalanya tidak tanggung-tanggung, bisa membuat prajurit yang diamuknya langsung kritis pada hantaman pertama dan tewas pada hantaman kedua.
Nyai Kisut berlari kencang menyambut datangnya para prajurit. Selanjutnya, laksana pembunuh profesional, Nyai Kisut menghabisi para prajurit dengan gerakan yang begitu gesit dan lincah. Hebatnya, setiap tangannya menyentuh lawan, ada darah yang termuncrat. Ternyata pada kedua genggaman tangan Nyai Kisut ada sepasang kujang kecil. Meski senjata itu kecil, tetapi kelincahan Nyai Kisut membuatnya bisa banyak membunuh prajurit, sebab serangannya selalu menargetkan leher guna memutus urat.
Seet!
Garis Merak melesatkan mata kailnya dan mengait leher satu orang prajurit Balilitan yang menuju ke arahnya. Selanjutnya, dia berlari menghajari satu demi satu prajurit yang mengeroyoknya. Senjata kailnya berulang kali ia gunakan untuk menarik keluar nyawa prajurit Balilitan.
“Hiaaat!” teriak Kurna Sagepa sangar sambil melompat jauh ke depan. Sementara kedua tangannya membacok ke depan.
Ceb!
Secara bersamaan, kedua pengait besinya menancap dalam pada dada dua orang prajurit bertombak.
Selanjutnya, Kurna Sagepa pun mengamuk, seolah-olah ia tidak sedang terluka dalam.
Seet! Tus tus!
Swara Sesat juga menyambut serangan yang datang dengan melesatkan dua senarnya yang melilit di pergelangan tangan. Dua besi kecil pada ujung senar melesat menembus jantung dua orang prajurit.
Selanjutnya ia menarik balik senarnya, seolah ada sistem yang bekerja menggulung ajaib di kedua pergelangan tangannya. Setelah itu, ia melesatkan kembali kedua senjatanya sambil menghindari serangan para prajurit.
Kini, semua pihak Joko Tenang sudah mendapatkan lawannya masing-masing. Lalu bagaimana hasilnya? (RH)
__ADS_1
***********
AYO! Jangan lupa ekspresikan emosimu dengan komentar setelah membaca chapter ini!