
*Asmara Segel Sakti (Assesa)*
Ketua Perguruan Tiga Tapak Jaga Manta menggebah pelan dua kuda yang menarik pedati saat mereka melalui keramaian desa. Mereka memasuki kawasan pasar Desa Cipanggang. Mereka hanya sekedar lewat lalu akan menempuh perjalanan cukup jauh untuk tiba di Kadipaten Waroksupit, tempat Perguruan Tiga Tapak berada.
Di sisi Jaga Manta duduk manis Helai Sejengkal, meski penampilannya kurang manis gegara potongan rambutnya yang seperti lelaki. Di gerobak pedati duduk mantan ratu Getara Cinta yang cantik jelita, si bidadari bermata hijau Kerling Sukma dan Nyi Lampingiwa, guru Hujabayat yang kini menjadi orang biasa.
Gerobak pedati itu dilengkapi dengan geribik yang dilengkungkan di atas gerobak sebagai atap, melindungi mereka dari sengatan matahari siang.
Di dalam perjalanan itu, Kerling Sukma menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Joko Tenang yang begitu tiba-tiba, tanpa disengaja dan tidak pernah terbetik di dalam pikiran sedikit pun.
Hingga adegan memalukan di dalam perangkap jala milik Dewi Mata Hati pun diceritakan. Dan yang lucu pula, ia dan Joko Tenang kompak menjadi cadel. Meski kebersamaan mereka berdua hanya berlangsung sebentar saja, tetapi kebersamaan itu begitu membumi di dalam memori cinta Kerling Sukma di hari-hari ke depannya.
Mereka ramai tertawa mendengar kocaknya kisah percintaan Kerling Sukma dengan Joko Tenang.
Namun, ketika mendengar cerita Kerling Sukma itu, ada hikmah yang dipetik oleh Getara Cinta, hikmah yang membuatnya semakin cinta kepada calon suaminya, yaitu semangat pengorbanan yang memang tertanam dalam diri Joko sejak usia belia.
“Pantas saja Kakang Joko rela mengorbankan nyawanya demi Ginari dan Kembang Buangi, ternyata sifat pengorbanan itu sudah mengakar sejak kecil. Wajar jika ia berkorban demi Ginari yang sudah dikenalnya, tetapi berkorban untuk gadis yang tidak dikenalnya sepertimu sungguh luar biasa, Sukma,” kata Getara Cinta.
“Karakter seperti itu pula yang dimiliki oleh seorang Ki Ageng Kunsa Pari waktu muda. Namun bedanya, Kunsa Pari itu orangnya suka marah-marah. Meski ia pemarah, tetapi kami suka dengan sifat pengorbanannya. Hanya sayang, ia gagal dalam urusan cinta, sama sepertimu, Ratu,” kata Nyi Lampingiwa.
Kerling Sukma sudah pernah mendengar kisah cinta Ki Ageng Kuns Pari guru Joko Tenang dengan Dewi Mata Hati, gurunya. Kisah itu diceritakan langsung oleh Dewi Mata Hati sendiri kepada muridnya secara lengkap.
“Setidaknya kisah cintamu lebih manis dari kami, Sukma. Meski aku seorang ratu yang cantik dan dihormati oleh rakyat dan para pembesarku, tetapi aku gagal dalam urusan cinta. Belasan tahun aku menjadi wanita yang kesepian dalam ramainya pelayanan para abdi. Karenanya, ketika aku menemukan pintu cinta pada diri Joko Tenang, aku tidak menyia-nyiakannya, meski harus berkorban dan berbagi cinta dengan Tirana. Menurutku, keputusanmu untuk ikhlas menerima sesuatu yang tidak bisa diubah dari Joko adalah tepat,” kata Getara Cinta.
“Aku masih terlalu muda, Kak. Tolong jangan marahi aku jika berbuat salah nantinya,” kata Kerling Sukma.
“Jika aku masih seorang ratu, mungkin aku akan menghukummu demi keadilan dan persamaan derajat di mata hukum. Namun sekarang, aku akan menjadi istri tua, meski bukan aku yang pertama dinikahi oleh Joko,” kata Getara Cinta sambil tertawa berseloroh.
__ADS_1
“Kakak Getara sudah pernah bertemu dengan istri Kakang Joko?” tanya Kerling Sukma.
“Belum. Hanya Tirana yang ikut ke negeri seberang samudera saat mencari Permata Darah Suci untuk menyelamatkan nyawaku. Hampir-hampir saja mereka terbunuh di sana,” jawab Getara Cinta.
“Apakah istri Kakang yang bernama Putri You Kai itu akan berkumpul juga bersama kita?” tanya Kerling Sukma lagi.
“Pasti, tetapi mungkin sekitar satu purnama lagi ia akan dijemput,” jawab Getara Cinta.
“Siapa yang menjemputnya?” tanya Kerling Sukma penasaran.
“Burung Kakang Joko.”
“Hihihi…!” Meledaklah tawa Kerling Sukma mendengar jawaban Getara Cinta.
Bukan hanya Kerling Sukma yang tertawa, tetapi Jaga Manta dan Helai Sejengkal juga tertawa. Itu karena persepsi yang tergambar dalam benak mereka adalah burung yang tidak punya paruh.
“Kakak Getara bercanda. Mana bisa burung Kakang Joko terbang menjemput tanpa bawa bapaknya? Hihihi!” kata Kerling Sukma lalu kembali tertawa kencang.
“Kalian ini pikirannya selalu ke arah burung itu,” keluh Getara Cinta. “Aku bicara tentang burung rajawali raksasa milik Kakang Joko, bukan burung yang mungil.”
“Hah! Kakang Joko punya burung raksasa?” terkejut Kerling Sukma, tawanya seketika hilang.
Sementara Jaga Manta dan Helai Sejengkal masih saja tertawa genit di depan.
“Burung itu namanya Gimba. Ketika kami pulang ke Bukit Gluguk membawa mayat Ginari, kami naik terbang naik Gimba, rajawali raksasa milik Kakang Joko,” jelas Getara Cinta.
“Waah, aku jadi penasaran,” desah Kerling Sukma.
__ADS_1
Cring!
Tiba-tiba mereka semua mendengar suara gemerincing seperti suara gelang lonceng berbunyi. Namun suaranya kencang, tidak seperti suara gelang lonceng biasa.
“Anjing siluman! Anjing siluman!”
“Lariii! Lariii! Ada anjing siluman!”
“Bubar! Bubar! Ada siluman!”
“Aaa! Ada anjing besar!”
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan warga desa yang panik sambil berlarian kocar-kacir menjauhi satu titik area di pasar desa itu. Bahkan ada pedagang yang berlari meninggalkan barang dagangannya karena saking takutnya.
Jaga Manta menghentikan langkah kuda pedatinya. Mereka semua memusatkan perhatian ke arah depan.
Dalam waktu yang singkat, jalan pasar di depan sana sudah sepi dari keramaian. Warga desa dan para pedagang memilih bersembunyi sambil mengintip dari kejauhan. Ini pertama kalinya desa mereka kedatangan makhluk yang tidak biasa.
Kini, pedati yang dikusiri oleh Jaga Manta berhadapan dengan serombongan hewan besar seperti anjing, tetapi mereka memiliki bulu yang tebal dan panjang. Postur tubuhnya pun jauh lebih besar dibandingkan anjing. Jumlahnya ada lima ekor.
Hewan pertama dan yang berdiri paling depan adalah yang terbesar, lebih besar dari kuda dan kerbau dewasa. Ia memiliki warna bulu yang sangat hitam. Semuanya hitam, kecuali sepasang matanya yang berwarna kuning dengan pupil berwarna hitam. Pada lehernya terkalung sebuah lonceng gelang besar berwarna hitam pula. Ia bernama Satria.
Di belakang sisi kanan adalah hewan berbulu kuning, tepatnya berbulu kuning kemerahan. Ia memiliki dahi yang berwarna putih dengan mata berwarna putih berpupil merah. Ekornya yang berbulu lebat berwarna sangat merah, cenderung berwarna merah darah. Di lehernya terkalung lonceng gelang berwarna emas. Besarnya seperti sapi dewasa yang gemuk. Ia bernama Kemilau.
Hewan yang paling belakang di sisi kanan berbulu abu-abu dengan mata berwarna ungu. Di lehernya hanya terkalung gelang kulit tebal yang memiliki bandulan perak berbentuk bintang bermata lima. Ia bernama Bintang.
Hewan yang di sisi kiri berwarna putih bersih, tetapi memiliki mata yang merah. Hanya ada sedikit warna hitam pada bagian atas moncongnya. Di lehernya juga melingkar gelang kulit tebal berbandul perak berbentuk bulan sabit. Ia bernama Bulan.
__ADS_1
Yang terakhir adalah yang terkecil, besarnya seperti kuda dewasa. Bulunya berwarna hitam pada bagian kepala, tetapi putih pada bagian tubuh dan kakinya. Di lehernya melingkar gelang kulit berbandul perak berbentuk ikan kecil. Ia bernama Belang. (RH)