Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
128. Duel Joko Lawan Putri Yuo Kai


__ADS_3

*Cincin Darah Suci*


Pagi itu, Kaisar Tutsi Long Tsaw telah duduk gagah di sebuah kursi besar bersama Permaisuri Fouwai di atas tribun utama menghadap ke Lapangan Kaisar. Pangeran Han Tsun duduk di sisi ibunya, Selir Ni. Sedangkan Putri Ling Mei duduk di sisi ibunya, Selir Yim.


Semua anggota keluarga Istana dan para pejabat tingkat atas telah hadir. Mereka semua telah duduk di kursi-kursi yang telah disediakan. Pasukan Naga Hitam yang menjaga keamanan Istana telah ramai membentuk formasi di sekeliling lapangan.


Berita acara pertandingan bertarung antara Putri Yuo Kai dengan Joko Tenang dari negeri asing memiliki daya tarik yang tinggi. Melihat Putri Yuo Kai bertarung di muka umum adalah suatu peristiwa yang sangat langka. Maka pertandingan di pagi itu menjadi hal yang sangat ingin disaksikan seluruh warga Istana, terutama para pejabat.


Lapangan Kaisar adalah sebuah area luas terbuka berlantai batu. Di empat sisi lapangan itu tegak berdiri empat patung orang yang tinggi besar. Keempat patung itu adalah perwujudan dari empat mendiang kaisar pertama Negeri Jang.


Tribun tempat Kaisar Long Tsaw bersama keluarga Istana dan para pejabat tinggi duduk berada di sisi utara Lapangan Kaisar.


Sementara Bo Fei, Mai Cui dan Yi Liun berdiri satu paket di ujung tribun bersama Pengawal Angsa Merah.


Lapangan itu sering digunakan untuk latihan memanah sang kaisar atau keluarga Istana, biasa pula digunakan untuk latih tanding dan pertunjukan tarian atau acara-acara tertentu yang sifatnya besar.


Kini, di depan tangga yang menuju tribun utama berdiri sosok Putri Yuo Kai dan Joko Tenang. Di samping belakang kanan Joko berdiri Su Mai sebagai penerjemah setia agar Joko bisa memahami perkataan yang ditujukan kepadanya.


Kaisar Long Tsaw kemudian berdiri gagah dengan pakaian kebesarannya yang berwarna merah, lengkap dengan mahkotanya.


“Para pejabatku yang terhormat dan seluruh rakyatku yang aku cintai, pertandingan tunggal ini adalah satu peristiwa penting, tidak hanya bagi putriku Tutsi Yuo Kai, tetapi juga sangat penting bagiku dan Negeri Jang. Dan kalian akan menjadi saksi dari maklumatku!” seru Kaisar Long Tsaw kepada khalayak.


Su Mai segera menerjemahkan perkataan sang kaisar kepada Joko. Pemuda berbibir merah itu tetap memandang kepada Kaisar sambil mendengarkan terjemahan Su Mai.


“Wahai putriku Kai’er dan Pendekar Joko Tenang!” seru Kaisar Long Tsaw kepada kedua petarung.


“Hamba, Yang Mulia Ayahanda,” jawab Putri Yuo Kai.


Sementara Joko Tenang tidak menjawab. Ia hanya tersenyum samar memandang sang kaisar.


“Apakah kalian akan mematuhi maklumatku dan aturanku untuk pertandingan ini?” tanya Kaisar Long Tsaw.


“Hamba akan mematuhinya, Yang Mulia Ayahanda,” jawab Putri Yuo Kai.


“Aku akan mematuhinya dan menerimanya apa pun hasilnya,” jawab Joko pula setelah Su Mai menerjemahkan pertanyaan sang kaisar.


Su Mai kemudian menerjemahkan kata-kata Joko teruntuk Kaisar Long Tsaw.


“Dengarkanlah! Aturan dalam pertandingan ini adalah dilarang keras membuat lawan kehilangan nyawa. Jika Pendekar Joko menang atas putriku, maka dia akan mendapatkan satu berita penting dari Putri Yuo Kai dan hadiah besar dariku!”


Su Mai kembali menerjemahkan maklumat sang kaisar. Joko hanya manggut-manggut tanda mengerti.

__ADS_1


“Namun, jika Pendekar Joko kalah, dia tetap akan mendapat berita penting dari putriku dan harus menikahi putriku!”


Mendengar maklumat terakhir dari sang kaisar, seketika terdengar suara ramai banyak orang berkomentar terkejut. Pasalnya, Joko Tenang adalah pendekar dari negeri asing yang baru mereka ketahui keberadaannya sejak kemarin atau bahkan baru pagi itu.


“Jika Pendekar Joko kalah, Pendekar Joko harus menikahi Yang Mulia Putri,” kata Su Mai menerjemahkan untuk Joko.


“Apa?!” kejut Joko Tenang. Ia seketika itu juga memandang kepada Putri Yuo Kai.


Merasa dipandangi oleh Joko, Putri Yuo Kai sedikit menoleh hingga mereka bertemu pandang. Namun, sang putri hanya tersenyum manis. Seolah memberi isyarat bahwa aturan itu adalah ide dari dirinya.


“Baiklah,” kata Joko akhirnya, seraya tersenyum pula.


Sebagai seorang pendekar yang sedang mencari banyak istri, Joko Tenang akan senang bisa menambah calon istrinya. Namun yang menjadi permasalahan, Yuo Kai adalah seorang putri di negeri itu, tidak mungkin akan meninggalkan istananya demi ikut suaminya kembali ke Tanah Jawi. Karena alasan itulah Joko akan menghindari kekalahan agar terhindar untuk menikahi Putri Yuo Kai.


“Tenang semuanya!” seru Kaisar Long Tsaw menenangkan suara bising keramaian yang seperti sarang lebah. “Aturan dan maklumat ini sudah berdasarkan pertimbangan yang matang, maka itu tidak ada yang boleh menolaknya!”


Suasana di Lapangan Kaisar itupun akhirnya kembali tenang, setenang pagi yang tanpa angin.


“Pertarungan ini akan diwasiti oleh Jenderal Wae Yie!” seru sang kaisar lagi.


“Siap, Yang Mulia Kaisar!” seru Kepala Pasukan Naga Hitam Jenderal Wae Yie sambil membungkuk menghormat.


Selanjutnya Jenderal Wae Yie menolakkan kakinya. Tubuh besarnya yang semakin berat oleh zirahnya melesat terbang di udara lalu mendarat kokoh di tengah-tengah Lapangan Kaisar.


Putri Yuo Kai menjura hormat kepada ayahnya. Joko pun melakukan hal yang sama. Keduanya lalu berbalik dan melangkah pergi ke tengah arena, titik tempat Jenderal Wae Yie telah menunggu.


Keduanya berjalan sambil saling memandang. Gara-gara hadiah wajib nikah jika kalah, hati Joko Tenang jadi diserang desiran indah kala memandang wajah cantik Putri Yuo Kai, terlebih ketika mereka bertemu pandang. Selain cantik dari segi fisik dan rupa, balutan pakaian yang indah dan mewah semakin membuat Putri Yuo Kai menjadi gadis yang bernilai sangat tinggi.


Jika bukan karena kelak akan berpisah, mungkin Joko memilih kalah dalam pertarungan pagi ini. Jelas Putri Yuo Kai adalah calon istri yang berkualitas.


Sementara itu, Su Mai tidak ikut ke tengah lapangan, ia pergi menepi dan berdiri di sisi Bo Fei.


Kini, Joko Tenang dan Putri Yuo Kai berdiri saling berhadapan dalam jarak 12 langkah. Di tengah-tengah berdiri Jenderal Wae Yie tanpa menghalangi bertemunya pandangan antara kedua petarung.


Ketegangan tercipta di bawah hangatnya pancaran sang surya pagi. Kategangan juga melanda diri Kaisar Long Tsaw dan istrinya.


“Yang Mulia Putri! Kau harus menang!” teriak Pangeran Han Tsun tiba-tiba, memecah keheningan.


Namun, Putri Yuo Kai tidak mengindahkan teriakan dukungan dari adiknya.


Setelah berteriak seperti itu, Pangeran Han Tsun justru bangun dari duduknya dan melangkah pergi. Selir Ni dan Yim memperhatikan kepergian sang pangeran. Ternyata, Pangeran Han Tsun pergi berdiri tidak jauh di sisi Su Mai.

__ADS_1


“Yang Mulia,” ucap Su Mai sambil menghormat kepada Pangeran Han Tsun yang mendekat dengan tersenyum.


Sang pangeran berdiri menghadap ke arah tengah lapangan, sama halnya dengan Su Mai dan yang lainnya.


“Apakah kau yakin Joko akan menang?” tanya Pangeran Han Tsun basa-basi.


“Aku yakin,” jawab Su Mai singkat.


“Bagaimana jika kita bertaruh?” tawar Pangeran Han Tsun.


Su Mai mendelik mendengar tawaran itu. Ia sejenak memandang sang pangeran, tidak langsung menjawab.


“Ayolah, jika kau kalah pun itu tidak akan merugikanmu,” bujuk Pangeran Han Tsun karena Su Mai tidak kunjung menjawab.


“Katakan dulu apa taruhannya!” kata Su Mai.


“Jika kau menang, kau boleh minta hadiah apa saja kepadaku. Tapi jika aku yang menang, kau harus makan berdua denganku di Liong Sue. Hanya kita berdua. Bagaimana?” ujar Pangeran Han Tsun.


“Baik,” jawab Su Mai cepat, membuat pemuda tampan itu tersenyum lebar.


“Tapi aku memilih Joko yang menang!” tandas Pangeran Han Tsun.


“Hah! Kau mengambil jagoanku!” protes Su Mai.


“Aku tidak suka jika kakakku selalu menang, jadi aku tidak mau memilihnya. Kau harus menepati kata-katamu, Nona Su!” kata sang pangeran.


“Baiklah,” kata Su Mai akhirnya, meski dengan berat hati. Namun, ia pun punya analisa bahwa mengunggulkan sang putri tidak sepenuhnya salah.


Keduanya kembali fokus ke tengah lapangan.


“Pada hitungan ketiga, pertarungan dimulai. Yang Mulia Putri mengerti?” tanya Jenderal Wae Yie kepada Putri Yuo Kai.


“Baik,” jawab Putri Yuo Kai.


“Mengerti, Pendekar Joko?” tanya sang jenderal sambil memberi isyarat tiga jarinya.


Joko Tenang mengangguk.


“Baik. Satu!” teriak Jenderal Wae Yie sambil mengangkat tinggi tangannya dan menegakkan jari telunjuknya. Lalu menegakkan pula jari tengahnya sambil berteriak, “Duaaa!”


Suasana semakin tegang. Mereka semua bertanya-tanya, serangan seperti apa yang akan membuka pertarungan itu.

__ADS_1


“Tigaaa!” teriak Jenderal Wae Yie panjang sambil berkelebat mundur. (RH)


__ADS_2