Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Dewo14: Kekacauan di Acara Makan


__ADS_3

*Desa Wongawet (Dewo) *


“Kepala Desa datang!” teriak seorang pemuda lantang.


Semua mata pun melemparkan pandangannya ke arah pinggir panggung.


Seorang pemuda tampan berpostur tubuh tinggi ideal baru saja menaiki panggung. Pamuda itu gagah dengan pakain bagusnya yang berwarna kuning emas. Kepalanya dibalut oleh lingkaran kain sutera berwarna merah terang. Ia memelihara kumis tipis. Sepasang alis tebalnya sungguh menawan laksana bentangan dua sayap burung. Ialah yang bernama Ki Daraki, Kepala Desa Wongawet.


Di sisi kirinya berjalan dua gadis cantik yang Joko dan Tirana sudah kenal, yaitu Kemuning dan Karani. Kemuning tampil cantik dengan balutan busana putih, sementara Karani berpakaian merah muda.


Di sisi kanan Ki Daraki berjalan dua wanita muda lainnya yang tidak kalah cantik. Wanita berpostur tubuh tinggi yang mengimbangi postur Ki Daraki bernama Sumirah. Wanita berpakaian kuning itu memiliki hidung mancung yang kokoh dengan sepasang mata agak lebar. Wanita lainnya bernama Titin Susina. Meski agak pendek, tetapi memiliki kesekalan tubuh yang menggiurkan mata lelaki, terlebih pakaian hijau mudanya berukuran pas tanpa ruang.


Itulah Ki Daraki dengan keempat kekasihnya. Kedatangan mereka berlima pada setiap acara makan bersama selalu membuat iri dan justru menumbuhkan rasa ketidakadilan. Bagaimana tidak, pemimpinnya bebas memiliki kekasih, bahkan kekasih sefungsi istri, tetapi semua warga dilarang jatuh cinta dan memiliki kekasih, kecuali Sudarka.


Kedatangan Ki Daraki dan para kekasihnya itu justru membuat para warganya merasa muak. Namun, tidak ada yang berani unjuk wajah asam di depan Ki Daraki. Bertahun-tahun, bahkan berpuluh tahun dipimpin oleh Ki Daraki, membuat mereka kenal baik dan buruknya orang yang mata keranjang itu.


Ki Daraki datang dengan langkah gagah berhias senyuman lebar. Demikian pula dengan keempat kekasihnya, datang berhias senyum manis, semakin mempermanis kecantikan mereka.


Ki Daraki pun tiba di anara mereka. Ia duduk bersila di belakang meja pendek yang sejak tadi kosong. Sementara keempat kekasihnya duduk di kanan dan kirinya, bukan di belakang seperti wanita lain.


“Hahaha!” Ki Daraki tertawa setelah ia duduk cantik di posisinya sebagai pemimpin. Ia lalu memandang kepada Joko Tenang yang dilihatnya asing, “Apakah Kisanak yang bernama Joko Tenang?”


“Benar,” jawab Joko.


“Wah wah wah! Begitu tampan. Sungguh aku khawatir bahwa warga perempuanku akan jatuh hati kepadamu, Joko. Jika aku bertemu denganmu sejak awal, mungkin aku akan menolakmu masuk. Hahaha!” kata Ki Daraki bernada canda lalu tertawa terbahak, karena merasa lucu terlebih dahulu oleh guyonannya.


“Hahaha!” Sebagian besar warga tertawa rendah merespon canda Ki Daraki.


Joko Tenang hanya tersenyum.


“Jika kau tinggal lama di desa ini, bisa-bisa aku terancam, karena kekasihku justru bisa jatuh hati kepadamu. Bukan begitu, Kemuning?” kata Ki Daraki lalu bertanya kepada Kekasih Sementara-nya yang bertubuh mungil.


Ditanya seperti itu, membuat Kemuning agak terkejut. Pertanyaan itu seperti tudingan tidak langsung terhadap dirinya di depan umum. Wajah Kemuning seketika terlihat tidak tenang, karena semua mata beralih memusat kepadanya.


“Hahaha! Aku hanya bercanda, Sayang. Jangan panik seperti itu, hahaha!” kata Ki Daraki lalu tertawa terbahak lagi, seolah saat itu memang adalah momen bahagia.


Kemuning hanya tersenyum getir. Tampak para warga tertawa rendah menyikapi candaan Ki Daraki yang menurut mereka tidak enak dicerna.


“Aku dengar juga, bahwa Joko memiliki istri yang sangat cantik. Bolehkan aku melihatnya?” tanya Ki Daraki.


Tirana tanpa berat hati berdiri dari duduknya dan melemparkan senyum mempesona kepada Ki Daraki.


Deg!

__ADS_1


Benar saja, senyuman Tirana membuat Ki Daraki terperangah terpesona, bahkan sampai menusuk jantung. Bagi mata penikmat kecantikan, cantik level sedang saja sudah bisa membuat terpesona, apalagi jika melihat kecantikan level tinggi. Hingga tak terasa, kedua bibir Ki Daraki ternganga sejenak, seolah tersirep oleh kecantikan Tirana.


Pemandangan itu sebenarnya membuat panas hati Joko, tetapi ia harus menahan diri.


Tersadar bahwa saat ini semua mata memandang kearahnya, Ki Daraki langsung tertawa.


“Hahaha! Kecantikan di antara yang tercantik membuatku agak sulit mencarinya. Sungguh kecantikan yang sangat memberi mimpi siang dan malam. Sungguh beruntung kau, Joko. Aku tiba-tiba merasa iri. Hahaha!” kata Ki Daraki yang saat itu menjadi pelawak tunggal.


Tirana telah kembali duduk. Kecantikan Tirana bukan sekedar pujian untuk menghangatkan suasana di malam itu, tetapi kecantikannya memang dikagumi oleh seluruh pemuda yang ada di tempat itu.


“Joko, setelah acara ini, aku akan mendengarkan permintaanmu,” kata Ki Daraki kepada Joko.


“Terima kasih, Ki,” ucap Joko.


“Baiklah, acara makan, dimulai!” seru Ki Daraki.


Gong!


Seseorang memukul sebuah gong saat mendengar seruan Ki Daraki.


Setelah itu, muncullah barisan wanita muda dan cantik-cantik, berjalan berurutan. Masing-masing membawa nampan berisi bakul nasi lengkap dengan lauk pauknya. Para gadis itu bergiliran meletakkan apa yang mereka bawa di hadapan para hadirin.


Untuk jatah makanan kaum pemuda, gadis-gadis pembawa makanan akan masuk ke tengah lingkaran dan turun meletakkan makanannya di depan para lelaki. Momen seperti inilah yang paling mereka suka, karena para lelaki bisa melihat dengan dekat dan puas wajah-wajah ayu gadis yang meletakkan makanan di depan mereka. Terlebih hidangan itu diturunkan dengan iringan senyum manis.


Berbeda dengan kaum wanita, mereka sesama jenis. Hidangan bagi mereka pun diletakkan di depannya.


Kondisi itu jelas mengancam Joko. Sudah pasti gadis penyaji makanan akan datang ke dekatnya. Maka, sebelum itu terjadi, Joko Tenang tiba-tiba melompat bersalto beberapa putaran ke belakang. Joko agak jauh ke belakang, sebab ia juga harus jauh dari barisan wanita di sisi belakang yang berjarak dua depa dari barisan lelaki.


Hal itu mengejutkan Ki Daraki dan semua orang , kecuali Tirana.


“Ada apa, Joko?” tanya Ki Daraki dengan tatapan serius.


“Aku akan bermasalah jika didekati wanita,” jawab Joko.


“Oh, baru kali ini aku mengetahui ada hal seperti itu,” kata Ki Daraki.


“Joko akan merasakan marah tidak terkendali jika berdekatan dengan wanita, Ki” kata Sudarka menjelaskan.


“Menarik,” ucap Ki Daraki. Lalu ia mulai berlelucon lagi, “Jika begitu, alangkah baiknya jika istrimu ditinggal di desa ini saja. Hahaha!”


“Dia adalah nyawaku, jadi tidak bisa berpisah dariku,” kata Joko, membuat Tirana mendelik bahagia mendengarnya.


Ia tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu dari mulut Joko, terlebih saat ini kondisi batinnya sedang terguncang.

__ADS_1


Bukan hanya Tirana, hampir semua orang yang ada di tempat itu merasa tersentuh hatinya oleh parnyataan Joko. Menurut mereka, jelas kalimat itu adalah ungkapan rasa cinta yang sangat tinggi, yang tidak seorang pun dari warga desa itu miliki.


“Sungguh luar biasa, aku terkejut. Kali ini aku kedatangan tamu yang hebat,” puji Ki Daraki. “Baiklah, lanjutkan acaranya!”


Kaum wanita banyak yang tersenyum-senyum mengetahui kondisi Joko.


Acara kembali berlanjut. Seorang gadis meletakkan hidangan di tempat Joko yang kosong.


Setelah tahapan penyajian makanan sudah selesai, barulah Ki Daraki mempersilakan Joko kembali ke tempatnya. Joko melompat anggun dan langsung mendarat di tempatnya tadi ia duduk.


“Maaf,” ucapnya kepada Sudarka setelah ia duduk kembali dengan sempurna.


“Tidak mengapa,” kata Sudarka seraya tersenyum.


“Silakan!” seru Ki Daraki.


Acara menyantap pun dimulai. Terlihat, rasa keakraban warga Desa Wongawet begitu kental.


“Hekk!” tiba-tiba seorang pemuda yang duduk berseberangan dengan Joko tersentak tubuhnya dengan mata mendelik merah dan berair. Tangan kanannya cepat memegangi lehernya yang tiba-tiba membiru, seiring wajahnya juga berubah warna jadi kehitaman.


Semua jadi terkejut, terutama Ki Daraki.


Pemuda itu ambruk ke depan, ke atas makanannya. Mulutnya mengeluarkan cairan berupa buih berwarna biru gelap.


“Racun!” sebut seorang wanita yang cepat menyimpulkan.


“Hekhr!”


Dua detik kemudian, dua gadis di belakang Joko dan Sudarka mengalami hal yang sama. Mereka kejang lalu memegangi lehernya yang terasa sangat panas dan mencekik, kemudian tumbang dengan mulut berbusa.


Tidak hanya itu, tujuh pemuda dan tiga gadis juga mengalami hal yang serupa.


Kejadian itu seketika membuat gempar. Kemarahan seketika merasuki jiwa Ki Daraki.


Semua menghentikan aktivitas makannya. Mereka takut ada racun di dalam makanan mereka. Namun, tidak bagi Joko. Meski ia dalam kondisi marah atas pembantaian di Kerajaan Tabir Angin, tetapi dia benar-benar lapar. Dia tetap makan.


Dalam kondisi kacau seperti itu, ada satu orang yang sangat terkejut karena melihat ciri-ciri kematian karena racun tersebut, yaitu Sudarka.


“Ini Racun Ulat Api!” kata Palang Segi.


“Sudarkaaa!” teriak Ki Daraki keras.


Sudarka semakin terkejut. Ia sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa, sebab hanya dia seorang yang memiliki Racun Ulat Api. (RH)

__ADS_1


__ADS_2