
*Cincin Darah Suci*
Ular Buta adalah Ketua Jaringan Ular Tanah, sebuah kelompok gelap yang bekerja untuk urusan-urusan yang bermasalah dengan hukum Negeri Jang.
Mengetahui siapa dalang pembunuhan Hakim Tertinggi Kerajaan adalah hal yang membuat Ular Buta diburu oleh Kelompok Hutan Timur, kelompok gelap yang menerima bayaran dari tugas membunuh.
Putri Yuo Kai tidak pernah mengungkapkan jati dirinya kepada Ular Buta. Setiap ia menemui Ular Buta, ia selalu menutupi wajahnya dengan cadar. Ular Buta hanya tahu bahwa Putri Yuo Kai adalah seorang penting di dalam Istana.
Pejabat dalang pembunuhan Hakim Tertinggi Kerajaan tidak akan pernah berhenti memburunya selama ia masih hidup. Pertimbangan itulah yang kemudian membuat Ular Buta menceritakan rahasia itu kepada Putri Yuo Kai.
Informasi penting itulah yang kemudian membuat Putri Yuo Kai mengungkap kasus pembunuhan Hakim Tertinggi Kerajaan. Pejabat dan seluruh orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan tersebut ditangkap dan dijatuhi hukuman mati semua, termasuk Kelompok Hutan Timur dimusnahkan.
Sebaliknya, Putri Yuo Kai memelihara Ular Buta dengan membiarkannya membesarkan kelompoknya, meski bisnis yang dijalaninya adalah terlarang menurut hukum Negeri Jang.
“Jika Nona Besar suatu saat nanti membutuhkan bantuanku, gunakan Lencana Ular ini untuk memanggilku,” kata Ular Buta sembari menyodorkan sebuah lempengan logam berwarna hitam mengkilap berbentuk lingkaran ular hitam yang berpola angka delapan.
Putri Yuo Kai menerima lencana pemberian Ular Buta.
“Mulai hari ini, aku akan melepaskanmu dan kau bebas menjalankan bisnismu, Ular Buta. Kau tidak perlu tahu siapa aku, tetapi aku akan terus mengawasi kau dan kelompokmu,” kata Putri Yuo Kai.
“Baik, Nona Besar,” ucap Ular Buta seraya membungkuk hormat dengan kedua tangan bertemu di depan dada. Ia berdiri dengan bantuan sebatang tongkat penyanggah, karena luka berat pada kakinya membuatnya cacat kaki.
Putri Yuo Kai lalu melangkah pergi meninggalkan Ular Buta di kamar perawatannya.
Sejak hari itu hingga sepuluh tahun kemudian, Ular Buta tidak pernah didatangi lagi oleh wanita bercadar yang disebutnya “Nona Besar”. Selama itu pula, Ular Buta tidak pernah tahu siapa sebenarnya Nona Besar itu.
Kini, Ular Buta bertahta secara rahasia di sebuah rumah bordil mewah bernama Teratai Nirwana. Sudah menjadi rahasia umum di ibu kota He bahwa kelompok Jaringan Ular Tanah adalah kelompok terbesar dan paling disegani di dunia bawah tanah Ibu Kota. Anggotanya pun konon mengalahkan jumlah prajurit Ibu Kota.
Komitmen demi menjaga nama baik Nona Besar karena telah melnolongnya, Ular Buta membesarkan Jaringan Ular Tanah menjadi kelompok gelap elit yang bekerja dengan cara-cara profesional dan ketat dalam prinsip.
Sangat jarang orang yang mengenal atau mengetahui nama pemimpin Jaringan Ular Buta, hanya orang-orang tertenu saja. Setiap pelanggan yang meminta jasa Jaringan Ular Tanah hampir tidak pernah bisa bertemu dengan pemimpin puncak kelompok itu. Pemilik orderan yang ingin bertemu dengan pemimpin Jaringan Ular Tanah hanya bisa tembus hingga Wakil Ketua yang bernama Su Rai atau nama lainnya “Ular Putih”.
Sementara itu, wanita berusia 50 tahun bernama Linsi Mee harus memanggil semua wanita penghibur yang bekerja padanya di rumah bordil Teratai Nirwana. Para wanita muda yang cantik-cantik, berpakaian indah-indah, dan sebagian besar berkarakter genit dan menggoda, berkumpul membentuk barisan di ruang depan. Jumlah mereka bahkan lebih dari seratus orang perempuan, termasuk juru masak dan pelayan.
Ada pula sejumlah lelaki berbadan besar-besar yang mengenakan seragam berwarna putih bergaris merah. Mereka adalah keamanan di rumah hiburan biologis itu.
Kedatangan puluhan prajurit keamanan Ibu Kota di malam itu membuat Linsi Mee harus mengeluarkan semua pegawainya untuk diabsen dan diperiksa identitasnya. Pemeriksaan itu jelas terkait peristiwa penyergapan kelompok bersenjata terhadap rombongan Putri Kerajaan Jang tadi sore.
Teratai Nirwana adalah rumah bordil terbesar dan termegah di Ibu Kota. Salah satu tempat hiburan yang paling menarik bagi kaum lelaki, terutama bagi lelaki kalangan bangsawan. Hanya lelaki dari keluarga kerajaan yang diharamkan masuk ke tempat itu. Kemegahannya sudah terlihat dari luar. Di bagian dalamnya, keindahan hiasan dan dekorasi setiap sudut ruangan dari lantai bawah hingga lantai tiga terjaga warna dan kecerahannya. Kebersihan dan kerapian terlihat begitu asri. Hiasan lampion warna warni tergantung di berbagai sudut atas. Prinsip yang harus dipegang kuat oleh para wanita yang bekerja sebagai wanita penghibur di tempat itu adalah pantang menghilangkan senyum. “Semua pelanggan adalah pangeran” menjadi motto bisnis rumah bordil kelas satu itu.
Selain semua identitas orang yang bekerja di rumah bordil itu diperiksa, semua ruangan dan kamar di bangunan besar itu juga diperiksa oleh para prajurit tanpa membuat ruangan rusak atau berantakan sedikit pun.
__ADS_1
Semua pelanggan yang kebetulan berada di sana saat itu, juga diperiksa. Semua pelanggan dinyatakan tidak ada yang bermasalah dan mencurigakan. Teratai Nirwana memang tidak mau menerima tamu atau pelanggan yang tidak jelas identitasnya.
“Teratai Nirwana bersih!” teriak kepala prajurit yang memimpin pasukan pemeriksa itu. Ia lalu berbalik pergi yang segera diikuti oleh puluhan anak buahnya.
Seiring keluarnya para prajurit dari dalam rumah Teratai Nirwana, melangkah masuk Bo Fei, pengawal tangan kanan Putri Yuo Kai. Prajurit wanita itu tetap dalam tampilan berpakaian seperti lelaki warna biru gelap bercorak batik warna perak. Tangan kirinya membawa pedang bagus berwarna merah. Meski berpenampilan seperti pria, tetap saja kekhasannya sebagai seorang wanita tetap jelas terlihat.
“Ayo ayo! Semuanya kembali bertugas dengan baik, layani semua tamu dengan senyuman manis dan sebaik-baiknya!” seru Linsi Mee kepada semua anak asuhnya seraya tersenyum riang. Ia senang karena para prajurit itu tidak menemukan masalah di tempat usahanya.
Sejenak Linsi Mee terdiam saat matanya melihat kedatangan Bo Fei. Melihat penampilan Bo Fei, ia langsung menerka bahwa tamunya itu adalah prajurit dari lingkungan kerajaan. Dengan langkah gemulai dan senyum yang lebar, ia melangkah menyongsong kedatangan Bo Fei yang pandangannya memandang ke seantero ruangan besar yang memiliki dua tangga besar menuju lantai dua dan tiga.
“Selamat datang, Nona Pendekar!” sambut Linsi Mee dengan penuh keramahan dan senyum selalu mekar.
Bo Fei tidak langsung berkata, tetapi ia berhenti. Pandangannya masih beredar, seolah membaca seluruh apa yang ada di tempat megah banyak wanita cantik itu.
Mendapati kata sambutannya tidak digubris, Linsi Mee mengajukan pertanyaan dengan senyum tetap mengembang.
“Apa yang bisa aku bantu untuk Nona Pendekar?” tanyanya.
“Aku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini,” jawab Bo Fei seraya menatap Linsi Mee dengan dingin, tanpa ekspresi keakraban.
“Aku pemilik tempat ini,” jawab wanita separuh abad yang tetap terlihat cantik dan lebih muda oleh riasannya.
“Aku ingin bertemu dengan Ular Buta,” kata Bo Fei, langsung ungkapkan maksudnya.
“Maaf, Nona Pendekar. Di sini tempat hiburan kaum lelaki, kami tidak menyediakan hewan ular atau hidangan ular,” kata Linsi Mee.
“Sampaikan ke Ular Buta, aku membawa Lencana Ular,” kata Bo Fei sambil menunjukkan Lencana Ular pemberian Putri Yuo Kai. Ia tidak menggubris perkataan Linsi Mee.
Melihat lencana berwarna hitam itu, Linsi Mee kembali terdiam dan hilang senyumnya.
“Siapa Nona Pendekar adanya?” tanya Linsi Mee dengan senyuman yang lebih irit.
“Aku pengawal salah satu keluarga kerajaan.”
Agak melebar sepasang mata Linsi Mee mendengar status Bo Fei.
“Baiklah jika Nona Pendekar memaksa, aku akan tanyakan lebih dulu apakah ular yang Nona cari memang ada di istanaku ini,” kata Linsi Mee.
Ia lalu memanggil seorang wanita penghiburnya yang sedang mengerumuni seorang tamu lelaki bersama wanita penghibur lainnya.
“Ning Ling!” panggilnya.
__ADS_1
Wanita muda nan cantik berpakaian indah warna kuning berpaling kepada Linsi Mee, lalu segera pergi menghadap kepada mucikarinya.
“Kau ambilkan arak untuk Nona Pendekar ini. Layani dan temani!” perintah Linsi Mee.
“Baik, Ibu Besar,” ucap wanita cantik bernama Ning Ling seraya tersenyum manis. Lalu katanya kepada Bo Fei, “Silakan, Nona Pendekar!”
Bo Fei pun mengikuti arahan Ning Ling. Bo Fei ditempatkan di sebuah meja untuk tamu. Sementara Linsi Mee segera pergi menuju tangga dan naik ke lantai dua. Ia terus melangkah hingga tiba di depan pintu kamar yang berada di ujung koridor.
Tuktuk! Tuktuk! Tuktuktuk!
Tulang jari halus Linsi Mee mengetuk pintu dengan irama ketukan khusus, yang merupakan ketukan kode.
“Siapa?” tanya satu suara wanita dari dalam kamar.
“Pemilik kamar,” jawab Linsi Mee. Jawabannya adalah jawaban sandi.
Sejenak tidak ada balasan lagi dari dalam kamar. Namun tidak lama kemudian, pintu kamar dibuka. Muncullah sosok seorang wanita berkulit putih dan cantik berpakaian hijau gelap dengan bordiran luas berwarna hijau muda. Sabuk kainnya berwarna hitam. Linsi Mee mengenalnya bernama Su Mai.
Su Mai bergeser memberi jalan bagi Linsi Mee untuk masuk. Setelah pemilik Teratai Nirwana itu masuk, pintu kembali ditutup rapat. Ketika Su Mai berbalik mengikuti Linsi Mee, terlihat di balik pinggangnya terselip dua senjata tajam sejenis pisau melengkung.
Linsi Mee berjalan mendatangi meja besar yang ada di sudut kamar besar dan megah itu. Di belakang meja duduk seorang wanita muda dan cantik. Parasnya mirip dengan Su Mai, tetapi dia memiliki tahi lalat kecil di dagu kirinya yang membuatnya terlihat manis. Sebagian rambutnya terurai lurus panjang, sebagian lagi dikepang kecil-kecil sehingga seperti untaian tali-tali kecil. Ia mengenakan pakaian serba putih berlapis jubah putih. Di sabuk kain putihnya ada sulaman benang emas berbentuk gambar ular. Wanita cantik itu sedang menekuni setumpuk buku-buku tipis. Terlihat jelas di punggung tangah kanannya yang putih halus ada tato mulut ular dengan lidah bercabangnya. Ia adalah Su Rai yang dijuluki “Ular Putih”.
Meski belum lama prajurit Ibu Kota memeriksa seluruh kamar di gedung itu, Su Rai dan Su Mai memiliki cara sendiri untuk tidak ditemukan oleh para prajurit.
Linsi Mee membungkuk sedikit seraya mempertemukan kedua tangannya di depan dada, menjura hormat. Su Rai hanya mengangguk, tetapi pandangannya masih tertuju kepada tulisan-tulisan yang sedang dibacanya. Sementara Su Mai yang adalah adik dari Su Rai, berdiri di sisi kanan meja.
“Ada wanita berpedang datang mencari Ular Buta,” ujar Linsi Mee.
Seketika Su Rai berhenti membaca dan langsung memandang kepada Linsi Mee.
“Dia mengaku pengawal salah satu keluarga kerajaan. Dia menunjukkan plakat yang dia sebut Lencana Ular,” lapor Linsi Mee lebih lengkap.
“Lencana Ular?” sebut ulang Su Rai dengan kening agak berkerut. Ia ingat, beberapa tahun lalu, Ular Buta pernah berpesan kepadanya tentang Lencana Ular. Ia lalu bertanya kepada Linsi Mee, “Seperti apa bentuk Lencana Ular itu?”
“Logam hitam. Ada gambar ular seperti dua lingkaran bersambung.”
Su Rai menutup buku di tangannya dan meletakkannya. Ia lalu berdiri.
“Bawa orang itu menunggu di Kamar Ular!” perintah Su Rai.
“Baik.”
__ADS_1
Linsi Mee menjura hormat lalu berbalik pergi. Su Mai mengiringi hingga ke pintu. (RH)