Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 21: Penghadang Tangguh


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Setelah melanjutkan perjalanan selama setengah hari hingga malam pun tiba, Joko Tenang memerintahkan untuk beristirahat dan bermalam.


Mereka bermalam di sebuah kaki bukit batu. Meski terang bulan, mereka tetap membuat dua buah api unggun. Satu api unggun dibuat di sisi atas, di sebuah bidang batu yang cukup luas untuk berkumpul. Di sana Joko Tenang berkumpul bersama para istri, calon istri dan dua wanita yang sedang mereka tanggung keselamatannya, yaitu Senandung Senja dan Nyai Kisut.


Sementara api unggun kedua dibuat di sisi bawah, tempat Turung Gali berkumpul bersama Reksa Dipa, Surya Kasyara, Gowo Tungga, dan Gembulayu. Kondisi Reksa Dipa jauh lebih baik, setelah berulang kali meminum tuak obat Surya Kasyara.


Di sisi lain, kondisi Nyai Kisut sudah pulih setelah mendapat pengobatan dari dua orang sakti, yaitu Getara Cinta dan Tirana. Dalam kondisi normalnya, terlihatlah karakter Senandung Senja dan Nyai Kisut yang sebenarnya.


Senandung Senja sebenarnya adalah seorang gadis yang gampang tertawa, periang, sangat kekanakan, dan cengeng. Itu terjadi jika ia benar-benar tidak merasa terancam. Sementara Nyai Kisut adalah wanita yang cerewet dan banyak bicara, sampai-sampai para istri Joko Tenang nyaris tidak memiliki jatah bicara.


Namun, dengan suasana seperti itu, mereka menjadi lebih akrab.


“Tunggu tunggu tunggu!” seru Nyai Kisut sambil mengulurkan tangannya menghentikan perkataan Joko Tenang. Ia langsung berbicara cepat lagi, “Pangeran sudah mempunyai lima orang istri dan akan terus menambah? Apakah tidak membahayakan kesejahteraan istana tangga dengan berbagai pertengkaran? Apalagi istri-istri ini sakti-sakti, marah sedikit nyawa bisa melayang. Sepertinya otakku tidak bisa mencerna apa yang terjadi denganmu, Pangeran.”


“Hahaha!” Joko Tenang tertawa rendah mendengar cara bicara Nyai Kisut yang cepat repot. Lalu katanya khusus kepada wanita muda beraga tua itu, “Pertama, jangan suka menyela perkataanku!”


“Iya,” jawab Nyai Kisut jadi tertunduk bersalah. Namun kemudian, dia langsung protes lagi, “Tapi aku menyelah karena aku sangat penasaran dan aku tidak bisa menunggu jawabannya setarikan napas saja. Itu akan sangat mengganggu pikiranku yang membuat rambutku akan semakin banyak memutih. Jika seperti itu kondisiku, aku bisa cepat mati!”


“Yang kedua, jangan pikirkan perihal bagaimana aku mengatur para istriku!” tekan Joko Tenang.


“Tidak bisa demikian dong, Pangeran. Aku ini manusia yang punya mata dan pikiran. Aku tidak bisa pura-pura buta seperti Sandaria….”


Tuk!


“Akk!” pekik Nyai Kisut saat kepalanya dipukul oleh Sandaria yang duduk di seberang api unggun. Sandaria hanya menggerakkan tongkatnya, tetapi tenaganya sampai ke kepala Nyai Kisut, menghentikan bicara cepat wanita pelindung Senandung Senja itu.


“Hihihi…!” tawa Senandung Senja melihat Nyai Kisut kesakitan.


“Beraninya kau menuding aku pura-pura buta!” kata Sandaria datar, tetapi menunjukkan wajah yang merengut menggemaskan.


“Wajar aku curiga, sebab kau bukan seperti orang buta. Matamu tertutup, tetapi langkahmu yakin. Jadi jangan salahkan aku jika mencurigaimu,” kilah Nyai Kisut.


“Jangan memukul orang tua,” ucap Tirana yang duduk di sisi Sandaria. Tangannya sambil menyentuh tangan Sandaria yang memegang tongkat.

__ADS_1


“Dia hanya tua beberapa tahun dariku, raganya saja yang menipu!” kilah Sandaria.


“Untuk sementara aku minta Nyai Kisut tidak bicara, karena bisa-bisa hanya kau yang berbicara jika kau bicara!” tandas Joko Tenang.


“Tapi aku….”


“Eeeh!” sergah wanita-wanita lain menghentikan perkataan Nyai Kisut, membuat wanita itu jadi berhenti dengan wajah tua yang merengut, sehinggu terlihat lucu.


“Hihihi…!” tawa Senandung Senja lagi, menertawakan Nyai Kisut.


“Rencanaku sudah tetap. Setibanya di Kerajaan, aku akan langsung menikahi Kusuma Dewi dan Sandaria. Namun, Kusuma Dewi tidak masuk dalam hitungan Dewi Bunga karena memang tingkat tenaga dalamnya masih jauh. Aku harap kau bisa mengerti kondisinya, Kusuma,” kata Joko Tenang.


“Iya, Kakang,” jawab Kusuma Dewi. Ia sudah beralih menyebut Joko Tenang dengan sebutan “Kakang”, sama seperti yang lainnya. “Meski aku harus kecewa dengan keadaanku.”


Joko Tenang hanya memberi senyuman manis kepada cinta pertamanya itu.


“Setelah pernikahan, sebelum membantu menyelesaikan masalah Putri Wilasin, aku harus lebih dulu menjemput Putri You Kai. Aku akan berangkat sendiri bersama Gimba. Sekembalinya bersama Putri You Kai, aku akan langsung menjemput Putri Sri Rahayu. Jika aku berhasil memboyong Putri Sri Rahayu, maka barulah kita mengurus masalah Putri Wilasin,” tutur Joko Tenang.


“Tapi, Kakang. Kita jangan melupakan Ginari,” kata Getara Cinta.


“Lihat semuanya!” kata Kerling Sukma kepada semuanya, tetapi pandangannya melihat jauh ke langit barat.


Mereka semua melihat ke arah barat.


“Ceritakan kepadaku, Kakak, apa yang kalian lihat,” kata Sandaria sambil menyentuh tangan Tirana.


“Ada sinar ungu yang terbang tinggi naik ke langit. Mungkin seseorang sedang menguji ilmu kesaktiannya,” kata Tirana.


Apa yang mereka saksikan adalah sinar ungu dari ilmu Roh Tujuh Langit milik Ratu Ginari dan keenam roh lainnya. Namun, mereka tidak tahu sama sekali tentang hal itu.


Sementara itu di api unggu yang lain, Surya Kasyara mengeluh sambil memandang ke atas, tempat Joko Tenang dan para istrinya berkumpul.


“Mengapa Pangeran tidak memberikan satu saja wanitanya kepadaku, padahal Pangeran Tahu aku baru saja kehilangan kekasih? Aku juga tampan,” keluh Surya Kasyara.


“Jangan bicara sembarangan!” Hardik Reksa Dipa. “Turung Gali adalah ayah mertua Pangeran.”


Terkejut Surya Kasyara sambil cepat-cepat membekap bibirnya sendiri. Ia memandang kepada Turung Gali yang menatapnya tajam.

__ADS_1


“Bukankah kau baru ditinggal mati oleh kekasihmu, Surya?” tanya Turung Gali hanya untuk meminta pembenaran.


“Iya, Gusti,” jawab Surya Kasyara, mengandung unsur kekhawatiran.


“Dalam adab kependekaran, jika seorang pendekar ditinggal mati oleh kekasihnya, maka ia harus menjalani masa berkabung seratus hari sebelum memutuskan pindah ke lain hati,” ujar Turung Gali.


Keempat pemuda di sekitar Turung Gali itu jadi mendelik terkejut. Reksa Dipa jadi kerutkan kening. Setahu ia, dirinya tidak pernah mendengar atau mengetahui adab pendekar seperti itu. Sementara Surya Kasyara yang memang miskin jam terbang, hanya manggut-manggut percaya.


“Jadi, jika kau berani macam-macam melirik istri atau calon istri Pangeran Dira, aku akan menguburmu hidup-hidup!” ancam Turung Gali, ancaman yang sebenarnya tidak serius.


“I… iya, Gusti!” ucap Surya Kasyara seraya tersenyum getir.


Dalam hati, Turung Gali tertawa karena mengerjai Surya Kasyara, yang efeknya akan berlangsung selama seratus hari ke depan.


Keesokan paginya, Joko Tenang melanjutkan perjalanan. Formasi rombongannya diubah.


Joko Tenang dan Turung Gali berkuda di depan. Di belakang mereka adalah kelima serigala yang membawa para istri dan calon istri. Setelah itu, barulah kereta kuda yang disaisi oleh Surya Kasyara. Di sisinya duduk Gowo Tungga dan Gembulayu. Di dalam bilik kereta adalah Senandung Senja dan Nyai Kisut. Sementara di paling belakang, berkuda Reksa Dipa. Kondisi yang sudah lebih baik membuatnya bisa berkuda.


Mereka tidak perlu menyembunyikan keberadaan lima serigala dari Senandung Senja yang memiliki trauma terhadap anjing. Mereka cukup menyembunyikan wajah-wajah serigala itu dari Senandung Senja dengan menempatkan mereka di barisan depan.


Sudah dijelaskan pula kepada Senandung Senja bahwa kelima binatang itu bukanlah jenis hewan yang ditakuti olehnya, tetapi itu binatang yang berbeda, karenanya para serigala itu tidak menggonggong. Senandung Senja memang tidak pernah mendengar suara gonggongan, suara yang sangat ia takuti di dalam hidupnya.


Ketika matahari mulai naik dan panas sengatannya mulai terasa di kulit, satu peristiwa mengejutkan terjadi.


Jleg! Swesss!


Set! Sress!


Tiba-tiba seorang lelaki muncul melompat di udara dengan cepat dan mendarat keras di tanah tengah jalan, menghadang rombongan itu. Lelaki yang adalah seorang pemuda berpakaian kuning ema situ, langsung mengibaskan lengan kanannya.


Satu kiblatan sinar merah melesat cepat. Joko Tenang dan Turung Gali yang tidak siap, buru-buru memilih melompat naik ke udara. Hasilnya, leher kedua kuda tertebas putus. Sementara kiblatan sinar itu terus melesat ke arah para serigala.


Namun, kiblatan sinar merah itu terbentur satu dinding sinar merah dari ilmu Payung Kebajikan milik Kerling Sukma. Ilmu perisai itu membuat para wanita dan serigalanya aman.


Mereka semua segera fokus memandang kepada sosok pemuda berpakaian emas, yang tidak lain adalah Laga Patra, Roh Langit Satu.


Joko Tenang dan Turung Gali mendarat turun di tanah dengan kening berkerut. Mereka tidak mengenal pemuda tampan itu adanya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2