
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Kondisi yang dihadapi tanpa sengaja oleh Joko Tenang benar-benar serius. Jika ia tahu bahwa situasinya akan seperti itu, pasti ia akan memilih cara lain atau mengutus Tirana.
Berhadapan dengan Dewi Bayang Kematian bukan sekedar berhadapan dengan seorang wanita cantik, tetapi juga berhadapan dengan godaan birahi yang tinggi. Karena itulah, Joko merasa menyesal.
“Apakah kuburan yang ditunjukkan kepadamu itu ada di dekat persimpangan jalan, di dekat hutan bambu dan sungai?” tanya Joko Tenang kepada Dewi Bayang Kematian, sementara pada saat yang sama jantungnya berdetak cepat.
“Benar,” jawab Dewi Bayang Kematian seraya tersenyum manis.
Joko Tenang yang tenang, diam-diam merasa terkejut. Ada yang aneh, bertepatan ketika gadis montok itu tersenyum.
“Apa yang terjadi?” tanya Joko Tenang agak tegang, tetapi itu di dalam hati. Pikirannya menjadi tegang karena ada yang bergerak di dalam celananya. Gerakan menegang yang dialiri gelombang denyutan yang tidak bisa ia gambarkan rasanya.
Joko Tenang kini tegang atas dan bawah.
“Jika kau yang mengubur kakakku, berarti kau tahu siapa yang membunuhnya, Kisanak?” tanya Dewi Bayang Kematian menerka.
Joko Tenang tidak langsung menjawab. Ia justru tiba-tiba berbalik. Alasannya hanya satu, ia tidak ingin Dewi Bayang Kematian melihat hal yang ganjil dan menonjol di bawah perutnya.
Tindakan Joko itu membuat Dewi Bayang Kematian kerutkan kening. Ia heran.
“Kenapa kau berbalik, Kisanak?” tanya Dewi Bayang Kematian, ia memiliki firasat buruk atas tindakan Joko tersebut.
“Tidak. Aku tidak bisa lama-lama memandangmu. Lebih baik aku pergi,” kata Joko.
“Tunggu, Kisanak!” seru Dewi Bayang Kematian cepat, membuat Joko menahan langkahnya.
“Sikapmu membuatku tersinggung. Lagi pula kau belum menjawab pertanyaanku. Aku bersumpah akan mengejarmu terus, jika kau tidak tuntas berurusan denganku!” kata Dewi Bayang Kematian agak keras.
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa lama-lama melihatmu,” kata Joko, sambil tangan kirinya diam-diam meraba celananya. Ia terkesiap. Seingatnya, beberapa kali “Joko Kecil” pernah menegang, tetapi tidak setegang kali ini.
“Kenapa?!” tanya Dewi Bayang Kematian membentak.
__ADS_1
“Kau terlalu cantik bagiku,” jawab Joko Tenang dengan masih memunggungi gadis itu. Ia bermaksud meredakan emosi wanita itu.
Melebar sepasang lingkar mata Dewi Bayang Kematian mendengar pujian yang membuatnya terkesima itu. Karena Joko tidak memandangnya, maka ia pun berani tersenyum lebar. Pujian itu membuatnya merasa begitu bahagia dan mengagumi dirinya sendiri.
“Kau berdusta, tidak ada lelaki yang pernah bilang seperti itu kepadaku!” tukas Dewi Bayang Kematian, berniat menggoda Joko. Ia melangkah mendekat.
“Jangan mendekat!” seru Joko pelan. Ia bisa merasakan pergerakan kaki Dewi Bayang Kematian.
Gadis berpakaian hijau itu berhenti mendekati Joko.
“Aku memiliki penyakit buruk jika dekat dengan wanita, itu bisa membahayakanmu,” kata Joko berbohong.
Namun, Dewi Bayang Kematian menganggap itu serius. Jelas, pemuda gondrong dan gagah di depannya itu ia nilai bisa berbahaya. Terbukti, Joko tidak terpengaruh sedikit pun katika tubuhnya terkena ilmu Tarian Dewi Kematian beberapa saat yang lalu. Maka ia pun menuruti larangan Joko.
“Baik. Siapa yang membunuh kakakku?” tanya Dewi Bayang Kematian, akhirnya membatalkan niatnya ingin menggoda Joko.
“Aku agak lupa namanya. Yang aku ingat ada nama Suci-nya. Dia mengaku adik dari Ketua Raja Pedang,” jawab Joko apa adanya.
Terkejutlah Dewi Bayang Kematian mendengar jawaban Joko Tenang. Seketika itu juga parasnya yang putih berubah memerah. Ia begitu marah.
“Nisanak, apakah urusan kita sudah usai?” tanya Joko Tenang, yang merasakan bahwa “Joko Kecil” sudah mulai tenang. Namun, tetap ia tidak berani berbalik menghadap kepada gadis itu.
“Belum. Kau belum menyebutkan namamu. Aku tidak mau mendapat petunjuk dari orang asing yang kemudian tidak bisa aku pertanggungjawabkan kebenarannya,” kata Dewi Bayang Kematian.
“Namaku Joko Tenang. Perempuan itu mungkin tidak mengenalku. Namun, jika kau menyebutkan pemuda berbibir merah, aku yakin dia pasti akan marah,” kata Joko. Lalu tanyanya lagi, “Sudah selesai?”
“Belum. Kau harus ikut aku mencari Suci Sari!” tandas Dewi Bayang Kematian. “Mungkin saja kau berbohong.”
“Maaf, tidak bisa, Nisanak. Aku harus segera tiba di Kadipaten Rebaklaga untuk membebaskan calon istriku dari Ketua Raja Pedang,” tolak Joko.
Terkejut Dewi Bayang Kematian mendengar perkataan Joko, sekaligus membuatnya kecewa. Ia terkejut karena Joko menyebut nama Ketua Raja Pedang. Ia kecewa karena ternyata Joko Tenang sudah punya calon istri.
“Joko berurusan dengan kekasihku...” batin Dewi Bayang Kematian.
__ADS_1
“Selamat tinggal, Nisanak!” ucap Joko lalu melangkah pergi.
“Tunggu tunggu tunggu!” seru Dewi Bayang Kematian cepat, lalu buru-buru melompat bersalto melewati atas kepala Joko. Ia lalu mendarat lima langkah di depan Joko, memaksa pemuda itu melihat dua tumpukan bukit di bawah lehernya.
Joko Tenang buru-buru menghadap ke kanan, menyampingi posisi Dewi Bayang Kematian. Gadis itu hanya menarik kedua sudut bibirnya dan hempaskan napas kesal, tapi tidak bisa protes kepada Joko. Ia hanya bisa bertanya.
“Jika aku terlalu cantik bagimu, kenapa kau tidak mau memandangku lama-lama?” tanya Dewi Bayang Kematian.
“Maaf, Nisanak....”
“Namaku Dewi. Dewi Bayang Kematian!” kata gadis itu memotong perkataan Joko, memperkenalkan dirinya.
“Maaf, Dewi. Aku suka lepas kendali jika melihat kecantikan yang begitu indah. Aku khawatir aku akan melecehkanmu,” ucap Joko dengan nada berwibawa.
“Hahaha!” Tertawa Dewi Bayang Kematian mendengar alasan Joko Tenang. Lagi-lagi Joko membuatnya terbang melayang dengan pujian tidak langsung itu. Lalu katanya, “Baik. Aku hanya ingin tahu, kenapa Ketua Raja Pedang menahan calon istrimu?”
“Karena dia tergila-gila dengan calon istriku!” jawab Joko dengan nada suara ditekan yang mengandung amarah.
Seperti mendengar suara geluduk di langit. Dewi Bayang Kematian terkejut.
“Setan alas! Arjuna Tandang jatuh cinta kepada wanita lain? Beraninya dia!” gusar Dewi Bayang Kematian, tetapi hanya di dalam hati. “Lebih baik aku tunda dulu mencari Suci Sari. Perselingkuhan Arjuna lebih penting harus aku urus.”
“Apakah sudah usai, Dewi?” tanya Joko lagi.
“Sudah. Aku berterima kasih kepadamu, Joko,” jawab Dewi Bayang Kematian. Ia memilih selesai karena ia punya rencana selanjutnya.
“Jika demikian, aku pergi,” kata Joko sambil berpaling memandang kepada Dewi Bayang Kematian. Pikiran nakal Joko menuntutnya untuk menikmati keindahan gadis itu sekali lagi sebelum mereka tidak berjumpa lagi.
Joko Tenang tersenyum manis kepada Dewi Bayang Kematian, sebelum akhirnya dia tahu-tahu menghilang. Manisnya senyuman Joko ternyata membuat hati Dewi Bayang Kematian juga menjadi terasa manis. Ada rasa indah yang memanah hatinya ketika Joko tersenyum kepadanya.
“Pemuda yang sungguh menggoda. Sayang, aku sudah terikat hati oleh Arjuna. Namun, jika Arjuna benar tergila-gila dengan gadis lain, aku tidak akan segan kepadanya,” membatin Dewi Bayang Kematian sambil memandang ke seberang sungai.
Joko Tenang sudah berada di seberang, berkumpul kembali bersama Tirana, Kembang Buangi, Hujabayat, dan Raja Kera.
__ADS_1
“Aku jadi penasaran, secantik apa calon istri Joko sehingga kekasihku sampai tergila-gila kepadanya. Padahal Joko sendiri memuji-muji kecantikanku,” kata Dewi Bayang Kematian lirih kepada dirinya sendiri. “Jika memang benar mereka akan pergi ke Rebaklaga, aku akan menunggu mereka di sana.”
Dewi Bayang Kematian lalu berkelebat pergi. Dalam perjalanannya menuju Kadipaten Rebaklaga, pikirannya selalu teringat Joko Tenang, terlebih kata-kata Joko yang memujinya, membuatnya bahagia. (RH)