
*Pendekar Gila Mabuk (PMG)*
Uang terakhir miliknya ia letakkan dengan keyakinan pasti di lingkaran bergambar tengkorak kepala manusia. Bukan hanya uangnya yang berada di gambar itu, tetapi ada juga uang milik pemasang lain.
“Kali ini pasti rezekiku!” desis pemuda tampan berpakaian tidak rapi itu. Rambutnya yang gondrong tampak kusut. Ikat kepalanya malah diikatkan di lehernya. Lelaki berpakaian abu-abu lusuh itu bernama Surya Kasyara, tapi akrab dipanggil dengan nama Sontoloyo. Ia terkenal miskin, tetapi gila judi dan mabok.
Kali ini matanya tertuju pada tiga mangkuk yang terbalik menutup sesuatu. Seorang lelaki bertubuh besar dan berotot menonjol menguasai tiga mangkok permainan di atas meja itu. Tangan kanan lelaki bernama Josok itu mulai memegang mangkok sebelah kanan. Semua mata pemasang permainan koprok itu tertuju tegang pada mangkuk yang sedang dipegang oleh Josok.
“Tengkorak! Tengkorak! Tengkorak!” sebut Surya Kasyara sambil mengepal-ngepal tangan kanannya, berharap gambar yang ada di bawah mangkok sebelah kanan adalah gambar tengkorak.
“Ular! Ular! Ular!” ucap yang lainnya.
“Pedang! Pedang! Pedang!” ucap pemasang lainnya juga seperti membaca mantera.
Josok mulai mengangkat mangkok.
“Ular!” teriak beberapa pemain yang memasang gambar ular.
Ketika mangkok kanan diangkat, maka terlihatlah dadu kayu di atas wadah piring yang lebih lebar dari mangkok, bergambar ular yang berdiri di atas lingkaran tubuhnya.
Surya Kasyara menunjukkan wajah kecewa. Namun kemudian, ia cepat memasang wajah semangat lagi.
“Kali ini pasti tengkorak. Bisa gantung kaki aku kalau bukan tengkorak!” yakin Surya Kasyara.
“Gantung saja celanamu, Loyo! Jual di pasar bebek!” teriak Gowo Tungga, seorang pemuda lain yang sedikit lebih tua dari Surya Kasyara. Ia adalah sahabat, tapi saingan dalam berjudi. Berbeda dengan Surya Kasyara, Gowo Tungga tidak suka mabuk.
“Hahaha!” tawa para pemain lainnya.
“Diam diam diam! Kalau tengkorak yang keluar, aku buka celana!” seru Surya Kasyara kepada teman-teman seperjudiannya.
Josok si bandar mulai mengangkat mangkok sebelah kiri.
“Tengkorak!” teriak girang Surya Kasyara dan beberapa pemain yang memasang tengkorak.
“Buka celanamu, Sontoloyo!” teriak para pemain lain sasmbil menunjuk Surya Kasyara.
“Tapi bohong! Hahaha!” kata Surya Kasyara lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
“Buka! Buka celananya!” teriak teman-temannya sambil bergerak hendak membuka paksa celana Surya Kasyara.
“Eh eh eh!” teriak Surya Kasyara panik sambil buru-buru turun berjongkok agar celananya tidak dilucuti.
“Hei, hentikan! Waktunya judi, bukan waktunya lihat sesama jenis!” seru Gowo Tungga, bermaksud menyelamatkan sahabatnya.
“Hahaha!” tawa mereka, lalu kembali fokus kepada mangkok yang tersisa.
Josok mengangkat mangkok terakhir.
“Tengkoraaak! Hahaha!” teriak Surya Kasyara begitu girang lalu tertawa merasa menang.
Bandar lalu mengambil semua uang yang dipasang di gambar selain ular dan tengkorak. Uang yang berada di gambar ular mendapat uang satu kali lipat dari jumlah yang dipertaruhkan. Sementara Surya Kasyara dan beberapa pemain lainnya mendapat dua kali lipat dari jumlah taruhan.
“Mungkin ini awal dari keberuntunganmu, Sontoloyo!” kata Josok saat membayar uang kemenangan kepada Surya Kasyara.
“Hahaha! Pasti, pasti aku hari ini dinaungi oleh keberuntungan. Aku pasang semua!” tawa Surya Kasyara lalu memasang untuk putaran baru. Ia meletakkan semua uangnya tanpa sisa ke gambar burung rajawali.
Gowo Tungga lalu mengikuti pasangan Surya Kasyara, tetapi dengan taruhan yang sama seperti sebelumnya.
Josok kembali menutup ketiga dadu dengan mangkuk masing-masing. Lalu mengguncangnya tiga kali kocokan setiap mangkok.
“Pedang!” sorak pemain yang memasang uangnya pada gambar pedang.
“Tengkorak!” teriak yang lain.
“Yaaa, mawar!” kata para pemain yang pasangannya tidak ada yang keluar. Termasuk Surya Kasyara dan Gowo Tungga.
“Habis sudah, gak jadi buka celana aku,” ucap Surya Kasyara kecewa. Ia memukul udara sebagai bentuk kekesalannya.
“Istirahatlah dulu, Loyo,” kata Gowo sambil menepuk bahu sahabatnya. “Cobalah istirahat beberapa hari, aku yakin, kesialanmu akan terputus. Kau bisa memulai lagi dengan keberuntungan baru, Loyo.”
“Ya sudah, aku duluan. Semoga beruntung kau, Gowo,” kata Surya Kasyara tanpa senyum. Ia lalu keluar dari kerumunan para penjudi.
Sementara Gowo melanjutkan pertaruhannya.
Surya Kasyara berjalan pelan menjauhi titik perjudian sambil berpikir.
__ADS_1
“Lagi-lagi uang hasil penjualan cincin Ruwaiti habis. Harus cari uang dari mana lagi? Utang terus membukit, mau utang lagi pasti tidak bakal dikasih. Tapi, kekalahanku harus aku bayar. Aku tidak percaya kalau aku itu kalah terus…” pikir Surya Kasyara.
Tempat perjudian itu terdapat di sebuah bangunan berdinding papan jarang-jarang. Sebagian dari bangunan itu adalah sebuah kedai makan yang cukup luas berlantai tanah, menggunakan meja kursi sebagai tempat makan pelanggannya.
“Aku rasa Rawaiti masih punya perhiasan. Eh, tapi aku coba dulu pinjam ke Ki Lugas. Siapa tahu dia mau meminjamkan lagi,” pikir Surya Kasyara di dekat pintu tempat judi itu.
Dari tempatnya berdiri, ia celingak-celinguk memandang ke dalam kedai makan. Biasanya Ki Lugas berada di sana dengan dua perempuan peliharaannya.
“Nah, itu dia Ki Lugas. Pucuk kelapa bulan pun tiba, usaha dicoba rezeki pun menyapa. Hihihik!” ucap Surya Kasyara bersemangat ketika melihat keberadaan Ki Lugas, lalu tertawa cekikikan sendiri seperti orang berwatak licik.
Surya Kasyara lalu masuk ke dalam kedai makan. Ia melangkah ke sudut kedai, tempat terdapatnya sebuah balai bambu yang dilapisi tilam tipis warna merah, lengkap dua buah bantal empuk. Di atasnya duduk seorang lelaki separuh baya berkulit sawo matang. Ia mengenakan baju hitam yang rapi dan bagus. Belangkon putihnya selalu setia di kepala. Ia memelihara kumis tebal yang bagus, membuat wajah tuanya sedikit lebih enak dipandang. Ialah yang bernama Ki Lugas, penguasa uang di kadipaten itu, meski ia masih memiliki atasan, yaitu Adipati Tambak Ruso.
Ki Lugas selalu didampingi dan dilayani oleh dua wanita seksi. Dua wanita yang berpakaian sealakadarnya itu selalu membuat Ki Lugas tertawa, karena dua wanita yang berkulit bersih dan terang itu selalu dicandai oleh Ki Lugas. Semuanya bebas untuk dicolek, dipegang, hingga diusap-usap oleh Ki Lugas, meski itu dilakukan di depan enam centeng yang berpenampilan beringas-beringas.
Keenam centeng itu berseragam hitam-hitam dan menyandang golok di pinggangnya.
Melihat kedatangan Surya Kasyara yang jauh-jauh jarak sudah cengengesan, Ki Lugas menghentikan aktifitas nakalnya terhadap kedua perempuannya. Ia sangat mengenal Surya Kasyara, karena pemuda miskin itu adalah salah satu pengutang yang paling rajin berutang daripada membayar utangnnya. Utang Surya Kasyara sudah menggunung, bukan lagi membukit. Dan ia sudah dapat menduga apa niatan Surya Kasyara saat itu karena tidak terlihat pemuda itu membawa sesuatu pun di tangannya.
Seperti biasa, setiap orang yang datang untuk meminta bantuan kepada Ki Lugas, dia harus berlutut di depan balai-balai, tepatnya di depan kaki Ki Lugas.
“Ada apa, Sontoloyo? Apakah kali ini kau akan membayar utangmu?” tanya Ki Lugas setelah menarik tangannya dari paha perempuannya yang terbuka lebar. Ia tahu bahwa Surya Kasyara tidak akan membayar utangnya kali ini.
“Sebaliknya, Ki. Hehehe!” jawab Surya Kasyara sambil cengengesan. “Mungkin Ki Lugas masih mau berbaik hati untuk meminjankan aku uang. Mungkin setelah ini, keberuntungan akan terbang berputar-putar di atas kepalaku. Hehehe!”
“Jadi, mau menambah utang lagi ya?” tanya Ki Lugas sambil tersenyum.
“Benar, Ki!” jawab Surya Kasyara cepat dan sumringah. Senyum Ki Lugas seolah memberi tanda keberuntungan.
“Beri pelajaran!” perintah Ki Lugas tiba-tiba dengan mimik yang juga tiba-tiba berubah marah.
Dak!
“Akh!” jerit Surya Kasyara saat hidungnya dihantam oleh tulang kering seorang centeng Ki Lugas.
Surya Kasyara jatuh terjengkang dengan hidung patah mengucurkan darah yang deras.
Bak buk bak buk…!
__ADS_1
Dua orang centeng menendangi kepala dan wajah Surya Kasyara. Dua centeng lagi menendangi tangan dan badan, sementara dua lagi menendangi kaki dan pinggul. Wajah Surya Kasyara bengkak, memar dan berdarah.
“Sudah, cukup!” seru Ki Lugas. (RH)