Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
36. Rajawali Raksasa dari Langit


__ADS_3

"Apa bunyi sulaman itu?” tanya Ginari yang kusyuk mendengar Tirana bercerita mengenai asal mula dirinya mendapat tugas untuk menjadi abdi, pengawal, hingga istri Joko Tenang.


Tirana bercerita sambil berjalan menggendong Ginari di punggungnya. Kedua gadis jelita itu laksana dua kakak beradik yang begitu akrab.


“Aku harus menjadi istri Pangeran Sanggana. Itu bunyi sulamanku. Karena itulah, akhirnya Gusti Mulia Raja menghukumku untuk menjadi istri Pageran Dira,” jawab Tirana mengakhiri ceritanya kepada Ginari.


Tirana terus berjalan mendaki menuju puncak bukit yang lapang. Udara pagi begitu segar untuk dinikmati seiring sang surya mulai memunculkan sinarnya di timur sana.


Ginari pagi ini tampil lebih segar dengan pakaian pun lebih rapi.


Tampak pula Hujabayat sudah sampai di puncak dengan menggendong tubuh Kembang Buangi. Gadis itu pun tampil lebih segar.


Joko Tenang sibuk mengikat tali pada gerobak yang tadi mereka bertiga naikkan dari bawah ke atas bukit dengan sedikit kerja keras. Kuda mereka tinggalkan. Belum ada yang tahu untuk apa yang Joko perbuat.


“Apakah Joko berpikiran untuk meluncurkan kita dari atas bukit ini?” tanya Ginari.


“Entahlah, tapi aku lihat dia serius untuk membawa kita pergi,” kata Tirana. “Ginari, apakah kau bersedia berbagi suami denganku?”


Pertanyaan Tirana itu menjadi satu sentakan keras di dalam dada Ginari. Ia terdiam tidak menjawab, sebab ia memang tidak bisa menjawab.


“Aku akan sangat senang berbagi suami denganmu,” kata Tirana.


“Kau benar-benar wanita yang aneh, Tirana,” kata Ginari.


Tirana hanya tertawa kecil atas tanggapan Ginari.


“Tirana! Letakkan Ginari di atas gerobak!” teriak Joko.


Tirana segera mendekat ke gerobak. Hujabayat lebih dulu membaringkan Kembang Buangi di bak gerobak.


Keempat sudut gerobak itu diikat kencang dengan tali panjang dan kuat.


“Apa yang akan kita lakukan, Joko?” tanya Hujabayat.


“Kalian hanya bisa menurut,” kata Joko.


Pendekar bercaping berbibir merah itu lalu pergi ke tanah rumput yang lapang. Ia berdiri dengan kaki sedikit terbuka. Dengan gagah ia menatap tajam ke awan di timur sana yang silau oleh sinar sang surya. Joko lalu melakukan gerakan tangan bertenaga. Selanjutnya, tenaga itu berkumpul di rongga dada.

__ADS_1


“Kaaakkk...!”


Joko Tenang berteriak berkoak nyaring membahana yang didukung oleh tenaga dalam tinggi. Koakan itu menggema luas ke alam lepas seakan ingin memperdengarkannya kepada para penghuni langit. Kerasnya volume suara itu membuat Tirana, Hujabayat, Ginari dan Kembang Buangi terkejut, karena mereka merasakan sakit pada gendang telinganya. Tirana dan Hujabayat segera menutup telinga dengan tangannya, sementara Ginari dan Kembang Buangi hanya bisa mengerenyit menahan sakit. Namun itu hanya sesaat, setelahnya keheningan yang tercipta.


Joko Tenang tetap berdiri menghadap alam luas seraya menatap awan putih terang di atas sana.


Kaak!


Tiba-tiba terdengar suara koakan burung dari tempat yang jauh tapi terdengar sampai kepada mereka semua.


Tak berapa lama, sesosok benda kecil keemasan muncul dari balik awan terang dan melesat menuju ke arah bukit tersebut. Tirana dan Hujabayat terdiam fokus memandang ke langit memperhatikan makhluk apa yang datang.


Sebentar saja benda keemasan itu sudah jelas wujudnya sebagai sesosok burung besar yang begitu indah.


Kaak!


Koakan burung berjenis rajawali itu kembali terdengar nyaring, tapi tidak menyakitkan telinga. Selain Joko, yang lainnya hanya bisa terperangah takjub. Bulu kuning kecokelatannya jadi terlihat bersinar keemasan karena memantulkan cahaya matahari yang mulai menyingsing. Tidak hanya itu, besar wujudnya juga membuat terkejut, karena itu adalah seekor burung rajawali raksasa.


“Kaaakkk! Hahaha!”


Joko kembali berkoak, tapi tidak sekeras pertama. Seolah ia membalas koakan burung rajawali yang datang. Bahkan Joko tertawa senang sambil melambai kepadanya.


“Makhluk yang indah tapi menakutkan,” ucap Tirana pula.


Kaak!


Rajawali raksasa itu kembali berkoak dan terbang berputar di atas bukit. Posisinya yang rendah membuat koakannya terdengar keras, cukup menusuk gendang telinga.


Sementara itu Joko Tenang belum berhenti dari tertawanya, menunjukkan kebahagiaan yang tidak pernah rekan-rekannya saksikan sebelumnya.


Selanjutnya, burung rajawali raksasa itu turun mendarat, tepat di depan Joko Tenang. Sosoknya yang berbulu indah tampak lebih angker ketika Hujabayat dan ketiga gadis melihat besar satu kaki burung itu sebesar tubuh Joko. Terlebih jika melihat cekernya yang berkuku runcing melengkung. Tinggi Joko hanya mencapai lutut si burung.


“Gimbaaa!” teriak Joko seraya tertawa mendatangi si burung.


Burung raksasa itu bergerak duduk merata ke tanah dan menundukkan kepalanya ke bumi serendah-rendahnya. Joko Tenang dengan penuh bahagia memeluk paruh besar si burung yang tertutup. Joko bahkan tidak sungkan-sungkan mencium paruh burung yang tadi disebutnya “Gimba”. Joko kemudian membelai-belai bulu di leher burung.


“Kau tambah gagah, Gimba! Hahaha!” kata Joko.

__ADS_1


Kaak!


Si burung berkoak pelan, seakan mengerti perkataan Joko.


“Saat ini aku sangat membutuhkanmu, Gimba. Aku harus mendapatkan obat untuk calon istriku di daerah yang jauh. Jika tidak terkejar hari, maka calon istriku akan meninggal. Hei, kau percaya aku sudah punya calon istri?” ujar Joko lalu bertanya.


Terlihat jelas bahwa Gimba menggerakkan kepalanya seperti isyarat menggeleng.


“Hahaha!” Joko tertawa kepada Gimba. Lalu katanya dengan agak keras, “Aku pun tidak pernah bermimpi akan sudah punya calon istri sekarang. Bukan hanya satu, Gimba, tapi dua wanita, hahaha!”


“Sepertinya Joko sudah mengakui kita sebagai calon istrinya,” kata Tirana seraya tersenyum kepada Ginari.


“Aku masih meragukannya,” kata Ginari pelan.


“Hujabayat!” panggil Joko. “Bawa gerobak itu mendekat ke mari!”


“Baik!”


Gerobak yang masih memiliki roda kayu itu dengan mudah didorong oleh Hujabayat mendekat kepada Joko dan burung rajawali bernama Gimba.


“Dia adalah Hujabayat, sahabatku,” kata Joko memperkenalkan Hujabayat kepada Gimba. “Gadis berbaju hitam adalah Ginari, calon istriku. Yang berbaju putih adalah Kembang Buangi, calon istri Hujabayat. Dan yang berbaju merah cantik itu bernama Tirana, calon istriku juga.”


Kaak!


Gimba berkoak pelan dengan kepala bergerak naik turun seolah tanda mengerti.


“Perkenalkan, sahabat terdekatku, namanya Gimba,” kata Joko memperkenalkan Gimba kepada mereka.


Sambil tetap menjaga jarak dari para gadis cantik itu, Joko bergerak mengambil tali yang sudah diikatkan di gerobak. Ujung lain dari tali-tali itu lalu diikatkan di kaki keras Gimba. Sementara Hujabayat dan ketiga gadis lainnya cukup berdebar-debar berada sangat dekat dengan Gimba, makhluk raksasa yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, apalagi sampai berinteraksi.


“Maafkan aku, dengan sangat terpaksa para gadis harus ada di bawah. Aku dan Hujabayat akan duduk di atas Gimba,” kata Joko.


“Aku akan menjaga mereka berdua, Kakang,” kata Tirana.


“Baik, kita berangkat ke Rimba Berbatu!” kata Joko Tenang.


Tanpa diperintah, Gimba bergerak duduk merapat ke tanah, merendahkan tubuhnya. Joko lalu melompat naik dan duduk di pangkal leher Gimba. Ia langsung memeluk leher besar yang tidak terjangkau oleh kedua tangannya, menunjukkan sayangnya kepada makhluk besar itu. Hujabayat lalu menyusul naik dan duduk di belakang Joko.

__ADS_1


“Gimba! Ayo kita terbang ke timur!” seru Joko.


Kaak! (RH)


__ADS_2