
*Pusaka Serap Sakti (Pusesa)*
Robenta akhirnya tiba di sebuah bibir jurang. Bibir jurang itu menghadap ke sebuah tebing batu yang tinggi seolah menjulang ke langit. Sementara di bawah sana, dasar jurang tidak terlihat karena tertutup oleh tebalnya kabut. Saat itu Robenta membawa tubuh Helai Sejengkal dalam panggulannya.
Di dinding tebing tampak ada sebuah mulut gua cukup besar. Pada bagian depannya ada lahan batu datar yang menjorok ke depan, menjadi teras mulut gua yang cukup lebar. Posisi mulut gua lebih tinggi dari bibir jurang. Jaraknya pun cukup jauh.
Ada sebuah jembatan anyaman tambang yang membentang dari bibir jurang ke teras gua. Jembatan itu tidak memiliki bagian untuk berpegangan bagi tangan.
Namun, Robenta tidak melalui jembatang tambang itu. Ia berkelebat dengan gerakan kaki seperti menjejak sesuatu yang tidak terlihat di atas jurang. Hingga akhirnya ia mendarat di teras gua yang berupa batu tebing datar yang menjorok tanpa ada pagar pengaman.
Setibanya di mulut gua, Robenta tidak langsung masuk. Namun, ia mengulurkan tangan kanannya seperti menyentuh sesuatu yang tidak tampak pada lubang gua.
Sweets!
Tiba-tiba dari telapak tangan itu muncul sinar biru yang kemudian seperti membakar satu lapisan udara yang menutupi lubang gua, melebar hingga ke pinggirannya.
Setelah membuka lapisan gaib yang menutupi mulut gua, Robenta melangkah masuk. Semasuknya Robenta, ternyata dalam gua adalah sebuah ruang batu yang luas dan besar. Langit-langitnya tinggi memiliki seni alam yang sangat indah dengan gantungan batu stalaktit berwarna kuning indah seperti lapisan emas. Ujung lancipnya tajam mengarah lurus ke bawah. Di bagian bawah juga ada bebatuan semodel itu tapi lancipnya menjulang tinggi ke atas, biasa disebut stalagmit dalam istilah modern.
Robenta membaringkan tubuh Helai Sejengkal di atas sebongkah batu. Untuk mencegah mampunya Helai Sejengkal bebas dari totokan, maka Robenta menambah Totokan Sejengkal pada tubuh Helai Sejengkal.
Robenta lalu melangkah pergi dan memasuki salah satu lorong, yang ketika ditelusuri ternyata sampai kepada sebuah ruangan yang lebih kecil.
Ruangan gua itu terlihat seperti sebuah kamar besar berdinding kemerahan. Di sana ada pembaringan batu berlapis tilam hijau, lengkap dengan bantal dan gulingnya. Di tengah-tengah ada pula sebuah meja batu, lengkap dengan kursi batunya dan satu set perlengkapan minum. Di sepanjang pinggiran ruangan ada tanaman bunga anggrek berwarna putih, memperindah suasana ruangan. Di atas langit-langitnya menggantung dua stalagmit berwarna kemerahan seolah berlumur darah.
Di salah satu sudut ruangan ada air terjun kecil yang keluar dari lubang dinding. Air jatuh ke sebuah kolam kecil yang airnya memiliki saluran ke tempat lain. Di tengah-tengah kolam ada sebuah batu pualam berwarna hijau yang jika dilihat dari jauh maka batu itu seperti bersinar.
Di atas batu pualam hijau berdiri seorang wanita muda cantik jelita berpakaian serba hijau tua. Hidungnya bangir mungil dengan bibir bawah dan dagu memiliki model belahan yang indah, begitu cantik. Kulit wajahnya putih bersih, yang jika dipandang akan membuat mata terpaku. Sepasang matanya terpejam tenang dengan sepasang alis yang hitam berketebalan sedang. Rambutnya hitam panjang tertata rapi dengan jepit rambut emas di sisi kanan dan kiri kepala. Selain cantik jelita, wanita itu juga memiliki bentuk tubuh yang indah.
Saat ini, wanita itu sedang berdiri dengan kaki kanan saja, sementara kaki kirinya diangkat lurus keatas, bahkan dipeluk sendiri oleh tangan kirinya. Adapun tangan kanan diangkat lurus ke atas dengan dua jari tegak dan jari lainnya menggenggam. Di ujung dua jari itulah kini bercokol satu sinar putih menyilaukan, yang jika dilihat lama, akan menyisakan bayangan gangguan pada mata.
“Adik Sukma sedang merampungkan ilmu Jari Surga. Lebih baik aku tunggu saja,” kata Robenta dalam hati.
__ADS_1
Robenta lalu berbalik pergi keluar dari ruangan yang merupakan kamar pribadi si gadis jelita berpakaian hijau itu.
Waktu terus berjalan. Setelah dua jam kemudian, dalam posisi tubuh tetap berdiri satu kaki dan ujung jari bersinar menyilaukan, akhirnya gadis itu membuka sepasang kelopak matanya. Ternyata, si gadis memiliki sepasang pupil mata yang hijau terang, seperti permata yang ditanam.
Jika dilihat dari sepasang mata itu, maka bisa diterka bahwa gadis ini adalah murid termuda Dewi Mata Hati yang bernama Kerling Sukma.
Sejak diangkat sebagai murid, Kerling Sukma menjadi murid kesayangan Dewi Mata Hati. Ia menjadi murid yang diistimewakan dengan diberi julukan Dewi Mata Hijau. Menjadi murid yang diistimewakan tidak membuat Kerling Sukma menjadi manja, tetapi ia menjadi murid yang pekerja keras dalam menuntut ilmu. Semangat dan kegigihannya sangat tinggi. Karena itulah, ia mampu menguasasi sejumlah ilmu yang tinggi dan sulit dikuasai oleh para kakak seperguruannya, seperti ilmu Jari Surga.
Karena keistimewaan itu, meski Kerling Sukma adalah murid termuda Dewi Mata Hati, tetapi kesaktiannya telah melampaui Sobenta dan Robenta.
Sinar putih di ujung jari tangan kanan Kerling Sukma telah padam. Perlahan-lahan ia turunkan kaki kirinya. Samar terlihat wajahnya mengerenyit, karena persendian yang kaku akibat diam selama berjam-jam.
Kerling Sukma lalu melompat dan tubuhnya melayang terbang di udara seperti burung. Ia mendarat di dekat meja batu lalu duduk. Ia raih kendi tanah liat dan menuangkan air ke gelas tanah liat. Setelah minum sebanyak dua gelas air, Kerling Sukma melangkah ke luar.
Setibanya di ruangan depan yang luas, Kerling Sukma tidak menemukan seseorang, kecuali Helai Sejengkal yang tergeletak di atas batu.
Melihat rupa Helai Sejengkal, Kerling Sukma hanya tersenyum, sebab model rambutnya mirip dengan rambut gurunya.
“Adik Kerling Sukma!” panggil seseorang dari mulut gua.
“Hormatku, Kakang Sobenta,” ucap Kerling Sukma sambil turun berlutut menghormat menyambut kedatangan orang tua yang adalah Sobenta.
“Bangunlah!” kata Sobenta seperti orang yang sedang terburu-buru. Setelah Kerling Sukma berdiri sempurna, ia langsung berkata lagi, “Adik, ada hal serius yang ingin aku tanyakan kepadamu.”
“Apa itu, Kakang?” tanya Kerling Sukma yang sebenarnya tidak pantas menyebut Sobenta dengan sebutan “kakang”. Namun, itulah aturan yang ditetapkan oleh guru mereka. Kerling Sukma sebagai adik seperguruan, ia harus menyebut kedua kakak lelakinya demikian.
“Kau sudah selesai, Sukma?” tanya seseorang dari sisi lain, ia adalah Robenta. “Aku yang menunggumu sejak tadi, tetapi justru Kakang Sobenta yang kau ladeni lebih dahulu.”
“Itu berarti rezekiku, Robenta,” kata Sobenta.
“Sepertinya ada masalah serius yang berhubungan denganku,” kata Kerling Sukma lalu memandang kedua orang tua itu.
“Apakah benar kau adalah calon istri Joko Tenang?” tanya Sobenta langsung.
__ADS_1
Mendengar nama Joko Tenang disebut, seketika sepasang mata indah Kerling Sukma melebar dan bibirnya terbuka, sumringah. Kemudian senyumnya lebar mengembang. Jantungnya mendadak berdebar-debar dengan perasaan berbunga-bunga. Rasa senang yang ada dalam pikirannya begitu tinggi.
“Kakang Sobenta bertemu dengannya?” tanya Kerling Sukma begitu gembira, membuat Sobenta bereaksi pahit, karena itu pertanda bahwa perkataan Joko tidak dusta. “Bertahun-tahun sudah aku lalui untuk menjadi sakti agar bisa sebanding dengannya dan bisa hidup bersama saling mencinta dan melindungi.”
Namun, Kerling Sukma berubah heran melihat ekspresi Sobenta.
“Kenapa Kakang Sobenta sedih begitu?” tanya Kerling Sukma berubah heran.
“Karena harapannya sudah hancur.” Yang menjawab justru Robenta.
“Kenapa? Aku tidak mengerti,” kata Kerling Sukma.
Seraya menghempaskan napas panjang, Sobenta duduk lemas di bongkahan batu gua yang ada.
“Aku ingin memaksa pemuda berbibir merah itu untuk menjadi suami Kumala Rimbayu….”
“Apa?!” kejut Kerling Sukma, memotong perkataan Sobenta.
“Lalu dia mengatakan bahwa kau adalah calon istrinya. Aku kira Joko berbohong karena ingin menolak perjodohan paksaku, tetapi ternyata benar. Tidak mungkin Kumala Rimbayu berbagi suami dengan bibi gurunya,” ujar Sobenta.
“Tidak! Joko Tenang adalah calon suamiku sejak kami masih sama-sama ingusan, tidak akan aku biarkan ada wanita lain yang mencoba memilikinya!” tandas Kerling Sukma.
“Nah itulah masalahnya, Sukma!” sentak Robenta.
“Apa?”
“Joko sudah punya dua calon istri yang cantik-cantik,” kata Sobenta.
“Apa?!” kejut Kerling Sukma. Tiba-tiba ia merasakan sakit pada hatinya. Tiba-tiba ia ingin menangis. “Bagaimana bisa Joko seperti itu? Joko itu tidak bisa didekati oleh wanita, kenapa bisa memiliki dua calon istri?”
Dan akhirnya, sepasang mata hijau Kerling Sukma menangis.
“Bertahun-tahun siang aku harapkan, malam aku rindukan, tidur aku mimpikan, kenapa kabar pertama tentang dirimu yang aku terima justru menghancurkan istana penantianku,” ucap Kerling Sukma. “Hiks…!”
__ADS_1
Kerling Sukma mendadak berlari pergi menuju lorong yang merupakan jalan menuju kamarnya. Ia membawa tangisnya. Sebagai seorang wanita, ia merasa begitu hancur perasaannya.
Sobenta dan Robenta hanya saling berpandangan. (RH)