Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Padi Ragi 30: Senopati Duri Manggala


__ADS_3

*Pangeran Dira VS Ratu Ginari (Padi Ragi)* 


 


Secara perlahan, rombongan Joko Tenang bergerak maju dengan kecepatan orang berjalan uber setoran. Bertambahnya orang yang bergabung dalam rombongan itu membuat formasi berubah.


Orang terdepan adalah Turung Gali dengan kudanya. Di belakangnya adalah Joko Tenang yang menunggangi serigala bernama Kemilau. Di belakang Joko Tenang adalah empat serigala yang ditunggangi oleh Getara Cinta, Kerling Sukma, Sandaria, dan Kusuma Dewi. Di belakang lagi adalah dua kereta kuda yang di saisi oleh Surya Kasyara. Kali ini Surya Kasyara didampingi oleh Manyo Pute, ia tidak berlompatan lagi di pepohonan mengikuti rombongan.


Di dalam bilik kereta kuda ada Tirana yang harus beristirahat. Di dekatnya ada Senandung Senja dan Nyai Kisut. Di samping kuda kereta berjalan kuda yang ditunggangi oleh Garis Merak. Itu adalah kuda yang awalnya di tunggangi oleh Reksa Dipa.


Sementara Reksa Dipa berjalan kaki di paling belakang bersama Kurna Sagepa, Swara Sesat, Gowo Tungga dan Gembulayu. Gembulayu tidak jadi bertelanjang bawah, sebab ia mengambil celana mayat prajurit sebagai ganti.


Mata Samudera dan Ikan Kecil sudah tidak terlihat di antara mereka. Keduanya memilih pulang ke laut, bukan ke kampung. Raja Kera juga tidak terlihat, sebab ia ditugaskan untuk pergi memantau daerah yang akan rombongan itu lalui di depan.


Drap drap drap…!


Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara ramai kuda berlari. Rombongan Joko Tenang berhenti dan segera menengok ke belakang.


Mereka melihat satu pasukan berkuda yang ditunggangi oleh para prajurit berseragam biru putih. Itu adalah pasukan berkuda Kerajaan Baturaharja yang dipimpin oleh Senopati Duri Manggala.


Melihat kedatangan pasukan itu, Reksa Dipa dan Kurna Sagepa cepat memasang kuda-kuda siap tarung. Terlebih pasukan yang terdiri dari lima puluh kuda itu terus berlari tanpa menunjukkan tanda mau berhenti. Sementara Gowo Tungga dan Gembulayu sudah berlindung di belakang punggung para pendekar.


Kerling Sukma berkelebat mundur dan mendarat di depan para pria. Ia ulurkan tangan kanannya ke depan dengan jari-jari tegak ke atas. Sebuah dinding sinar merah bening tipis tapi luas, tercipta satu tombak di depan mereka.


Kemunculan dinding sinar itu mengejutkan Senopati Duri Manggala dan pasukannya. Buru-buru mereka menarik tali kekang kudanya kuat-kuat, sehingga para kuda di depan mengerem dengan kaki depan diangkat-tinggi.


Barisan kuda yang berlari di belakang banyak yang menabrak bokong kuda temannya dan pasukan itu menjadi kacau. Sejumlah prajurit harus terjatuh.


Joko Tenang segera datang ke belakang dengan menunggang Kemilau. Kerling Sukma melenyapkan kembali ilmu perisai Payung Kebajikan-nya.


Kini, Joko Tenang dan Senopati Duri Manggala saling berhadapan. Namun, terlihat jelas bahwa Senopati kalah pamor. Posisi Joko Tenang lebih tinggi dari sang senopati. Postur tubuh Kemilau yang lebih besar dari kuda Senopati Duri Manggala, membuat sang kuda dan penunggangnya merasa terintimidasi.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan, Senopati?” tanya Joko Tenang datar tapi berwibawa.


“Kalian telah melakukan perang di wilayah Baturaharja, Pangeran!” tukas Senopati Duri Manggala marah.


“Kami membela diri, Senopati,” kilah Joko Tenang.


Sementara itu, di dalam bilik kereta, Senandung Senja tiba-tiba berubah ketakutan ketika mendengar suara Senopati Duri Manggala. Ia buru-buru memeluk Nyai Kisut dengan wajah yang pucat.


“Apakah senopati itu termasuk orang yang memburumu?” tanya Tirana.


“Benar,” jawab Nyai Kisut. “Tapi, dia salah satu orang yang tahu bahwa Senandung Senja adalah pewaris sah Kerajaan Baturaharja. Dia hanya menjalankan perintah Menak Ujung.”


“Selagi orang itu ada di sini, kalian jangan keluar!” pesan Tirana.


Kembali kepada perdebatan Joko Tenang dan Senopati Duri Manggala.


“Seharusnya Senopati memerangi pasukan pembuat onar itu, mereka ada di depan sana,” kata Joko Tenang. “Apakah kau akan memerangi kami, sedangkan pembuat onar sebenarnya sedang menunggu di depan sana?”


“Dan satu hal yang harus kau tahu, Senopati,” kata Joko Tenang.


“Apa?” tanya Senopati Duri Manggala.


“Orang yang kau cari bernama Laga Patra, bergabung bersama pasukan musuh,” ujar Joko Tenang. Ia masih ingat tentang Laga Patra yang mengaku sebagai Roh Langit Satu.


“Apa?!” pekik Senopati Duri Manggala. Lalu tukasnya, “Kau jangan mencoba mendustaiku, Pangeran!”


“Setelah pertemuan pertama kita, pemuda bernama Laga Patra muncul menghadang rombonganku dan menyerang kami,” kata Joko Tenang.


Tiba-tiba sesosok tubuh pendek muncul berkelebat di udara. Sosok yang adalah Raja Kera itu, mendarat di pertengahan antara serigala dan kuda. Meski wajahnya ada di bawah moncong serigala, tetapi sedikit pun Raja Kera tidak khawatir. Ia mendongak kepada Joko Tenang.


“Apa yang kau dapatkan, Raja Kera?” tanya Joko Tenang.

__ADS_1


“Pasukan serupa telah menunggu kita di jalan yang diapit oleh dua bukit. Jumlah mereka sekitar seribu orang,” jawab Raja Kera melaporkan temuannya.


“Itu jumlah yang sangat sedikit!” kata Senopati Duri Manggala. Ia lalu memberi komando kepada pasukannya, “Pasukan! Ayo kita hancurkan pasukan pengacau itu di Jalur Bukit!”


Senopati Duri Manggala lebih dulu menggebah kudanya dengan sedikit membelokkannya lalu berlari melewati rombongan Joko Tenang. Pasukannya yang sudah normal kembali setelah sempat kocar-kacir, segera mengikuti.


Joko Tenang dan rombongannya hanya memandangi kepergian Senopati Duri Manggala dan pasukannnya.


“Apakah kau hanya melihat seribu pasukan, Raja Kera?” tanya Joko Tenang.


“Benar. Justru aku melihat ada pergerakan sekitar dua ribu pasukan Baturaharja dari arah lain yang juga menuju daerah yang bernama Jalur Bukit itu,” jelas Raja Kera.


“Kemarin kami sempat melihat pasukan berbaju kuning melintas di depan kami, jumlahnya sekitar sepuluh ribu orang,” kata Joko Tenang.


“Sebisa mungkin kita harus menghindari pertumpahan darah besar-besaran, Kakang,” kata Getara Cinta yang datang mendekat dengan serigala tunggangannya.


“Jika hanya kita dan pasukan Ginari yang berperang, kita bisa langsung mengincar ratunya untuk meredam barisan prajurit. Namun, aku rasa itu sulit jika pasukan Baturaharja juga berperang,” kata Joko Tenang. “Kita baru bisa mengambil keputusan jika kita melihat kondisinya. Ayo!”


Joko Tenang kembali ke depan rombongan yang kemudian bergerak melanjutkan perjalanan menuju daerah yang bernama Jalur Bukit.


“Bagaimana ini, Gowo? Kita akan ikut berperang,” keluh Gembulayu panik dan cemas.


“Diamlah! Nanti kalau Pangeran mendengarmu, kau bisa diperintahkan buka celana lagi!” kata Gowo Tungga.


“Seharusnya tadi kita memilih pergi ke laut daripada menjemput maut,” sesal Gembulayu.


“Di laut kau mau berbuat apa? Tenggelam? Sudah, tenang saja, aku akan melindungimu dari serangan musuh. Kau lakukan saja tugasmu, jaga burungmu agar tidak kencing lagi!” kata Gowo Tungga.


“Hahaha!” tertawa Kurna Sagepa. Semantara Reksa Dipa dingin tanpa eksresi. Swara Sesat tetap diam karena ia tidak mendengar apa yang Gembulayu dan Gowo Tungga obrolkan.


Tidak berapa lama, rombongan itu sudah bisa melihat keberadaan dua bukit yang tidak kembar tetapi sama-sama mengapit satu jalan besar yang akan mereka lalui. (RH)

__ADS_1


__ADS_2