Pendekar Sanggana

Pendekar Sanggana
Kersak 12: Permohonan Perlindungan


__ADS_3

*Kerajaan Sanggana Kecil (Kersak)*


Adi Manukbumi, Luring dan Asih Marang berhasil keluar dari Hutan Malam Abadi. Kini mereka berlari di daerah berbatu. Di sisi utara mereka adalah jurang yang dasarnya air Telaga Fatara. Sementara di sisi selatan adalah tebing batu yang merupakan kaki Gunung Prabu. Sementara arah timur adalah hutan yang termasuk wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.


Tidak ada jalan lain selain pergi masuk ke dalam hutan baru, demi terhindar dari pengejaran Kawanan Cakar Hutan pimpinan Gebang Batra. Namun, untuk sampai ke hutan itu, mereka harus berlari cukup jauh. Mereka tidak tahu bahwa hutan baru di depan sana sudah masuk wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.


Sejak mereka keluar dari Hutan Malam Abadi, mereka sudah terpantau oleh telik sandi yang disebar oleh Kusuma Dewi hari itu.


Tiba-tiba Luring berhenti berlari. Dia membungkuk sambil memegang kedua lututnya. Napasnya terengah-engah.


“Luring! Apa yang kau lakukan?!” teriak Adi Manukbumi saat menengok ke belakang dan melihat sahabatnya berhenti.


“Aaa…!” teriak Luring kencang. Ia menangis. “Gara-gara aku Mumu mati!”


Asih Marang juga jadi berhenti melihat tindakan Luring tersebut. Adi Manukbumi cepat berlari menjemput sahabatnya.


“Tidak ada waktu untuk meratap dan menyesal, Luring. Mereka masih mengejar kita!” kata Adi Manukbumi kencang lalu menarik paksa tangan Luring agar melanjutkan larinya.


Namun, Luring menarik lepas tangannya dari tarikan Adi Manukbumi.


“Tidak! Aku harus membalas kematian Mumu!” teriak Luring yang kedua matanya merah oleh emosi.


“Jangan bodoh, Luring! Kita tidak bisa melawan mereka! Kita harus lolos dulu lalu memikirkan cara untuk membalas dendam!” teriak Adi Manukbumi marah.


Dari dalam Hutan Malam Abadi kini bemunculan para lelaki berpakaian serba merah.


“Ayo pergi!” sentak Adi Manukbumi sambil menarik paksa kembali tangan kanan Luring.


Kali ini Luring mau ikut berlari pergi mengikuti sahabat gendutnya itu.


Seeet!


Asih Marang cepat melepaskan dua anak panah sekaligus ke arah Gebang Batra dan para anak buahnya yang berjumlah dua belas orang. Jarak yang jauh membuat kedua anak panah Asih Marang mudah dihindari.


Asih Marang dan kedua teman lelakinya terus berlari di atas medan berbatu menuju hutan wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.

__ADS_1


Gebang Batra dan para anak buahnya memilih untuk terus mengejar, meski mereka sadar bahwa hutan di seberang sana bukanlah wilayah kekuasaan mereka.


Jarak antara Luring yang paling belakang dengan Kawanan Cakar Hutan sekitar sepuluh tombak. Hingga akhirnya, kejar-kejaran itu tiba di pinggir hutan Kerajaan Sanggana Kecil.


Seet! Teb!


Tiba-tiba sebuah tombak melesat dari dalam hutan dan menancap tepat beberapa langkah di depan kaki Asih Marang. Spontan gadis cantik itu berhenti mendadak. Demikian pula dengan Adi Manukbumi dan Luring. Mereka bertiga dibuat terkejut.


Set! Teb!


Namun, satu batang tombak juga melesat jauh melewati atas kepala mereka bertiga. Tombak itu jatuh menancap lima langkah di depan Gebang Batra, memaksa lelaki itu berhenti pula. Demikian pula dengan seluruh anak buahnya.


Mereka semua memandang ke arah dalam hutan. Dari dalam hutan bergerak sejumlah orang bersenjatakan tombak dan tameng. Sebanyak lima belas prajurit berseragam hitam-hitam bergerak keluar dari hutan. Mereka lalu berjejer membentuk pagar pendek dengan berjarak-jarak.


“Siapa kalian yang ingin memasuki hutan wilayah kekuasaan Kerajaan Sanggana Kecil?!” teriak seorang pemimpin prajurit yang tampil maju paling depan.


“Manuk, ternyata bangunan yang ingin kita serang adalah sebuah kerajaan!” kata Luring yang bisa langsung menyimpulkan.


“Maksudmu, tempat yang kita tuju itu bukan sarang dedemit?” tanya Adi Manukbumi.


“Kau benar-benar keterlaluan, Luring!” teriak Adi Manukbumi, tapi sekuat tenaga berusaha meredam kemarahannya. Ingin rasanya dia langsung menghajar Luring, tetapi ia masih memandang bahwa Luring adalah sahabatnya. Ia tidak mau harus kehilangan satu lagi sahabat, meski menurutnya Luring melakukan kesalahan besar.


“Maafkan aku, Manuk,” ucap Luring pelan, sambil menangisi kecerobohannya. “Gara-gara kecerobohanku menerka istana itu adalah sarang dedemit, Mumu jadi mati!”


“Kami adalah warga Desa Gatalangot yang ada di seberang telaga. Kami berlari ke hutan ini karena kami ingin dibunuh oleh para penghuni Hutan Malam Abadi!” seru Asih Marang, menjawab pertanyaan pemimpin prajurit penjaga perbatasan barat wilayah Kerajaan Sanggana Kecil.


“Kalian tetap dilarang memasuki wilayah Kerajaan Sanggana Kecil!” tandas pemimpin prajurit itu.


Namun, otak Asih Marang cepat bekerja. Ia pun berkata kepada pemimpin prajurit, “Kami memohon perlindungan dari Penguasa Kerajaan Sanggana Kecil!”


“Aku harus menyampaikan lebih dulu permohonan kalian kepada atasanku. Jadi kalian harus menunggu!” kata pemimpin prajurit.


“Tapi orang-orang Hutan Malam Abadi tidak mungkin menunggu, Tuan Prajurit!” tandas Asih Marang.


“Terima permohonan mereka, Prajurit!” seru satu suara wanita tiba-tiba dari dalam hutan.

__ADS_1


Pemimpin prajurit dan pasukannya segera menengok ke belakang. Asih Marang dan kedua teman lelakinya melemparkan pandangannya ke dalam hutan. Suara wanita tadi sepertinya mengandung tenaga dalam, sehingga terdengar jelas meski jaraknya cukup jauh.


Dari dalam hutan berkelebat seorang wanita berbusana cantik biru muda. Ia menyandang sebuah katana atau pedang samurai.


“Hormat kami, Gusti!” ucap para prajurit itu, mereka mengenali gadis cantik jelita yang baru mendarat itu. Mereka tahu bahwa Kusuma Dewi adalah calon permaisuri yang besok akan dinikahi oleh Prabu Dira.


“Bangunlah!” perintah Kusuma Dewi. Lalu serunya kepada Asih Marang dan kedua rekannya, “Permohonan kalian kami terima!”


Tersenyum gembiralah Asih Marang dan Adi Manukbumi. Sementara Luring masih menangisi keteledorannya.


“Ayo!” ajak Asih Marang kepada Adi Manukbumi dan Luring. Ia lalu melangkah pergi ke belakang barisan para prajurit.


Meski marah kepada Luring, Adi Manukbumi tetap menarik tangan Luring agar berjalan maju.


Dari dalam hutan, ternyata muncul lagi lima belas prajurit yang membentuk barisan sendiri.


“Serahkan senjata kalian!” perintah pemimpin prajurit kepada Asih Marang dan kedua temannya.


Asih Marang dan Luring lalu menyerahkan panah dan golok panjangnya kepada prajurit.


Kusuma Dewi lalu berkelebat maju lebih dekat kepada Kawanan Cakar Hutan. Dengan majunya Kusuma Dewi ke depan, pasukan terdepan segera ikut maju mengikuti junjungan mereka.


“Ketiga orang itu sudah berada dalam lindungan Kerajaan Sanggana Kecil!” ujar Kusuma Dewi.


“Serahkan ketiga orang itu! Atau ratusan penghuni Hutan Malam Abadi datang menyerang kalian!” tentang Gebang Batra.


“Seribu pasukan pun tidak akan membuat kami menyerahkan orang yang meminta perlindungan dari kami!” tegas Kusuma Dewi.


“Sejak kapan di wilayah ini ada kerajaan?!” tanya Gebang Batra dengan berteriak.


“Sejak hari ini!” jawab Kusuma Dewi. “Kembalilah! Jangan sampai kalian memilih mati sia-sia hari ini!”


“Baiklah. Namun mulai hari ini, kalian harus waspada, karena Penagih Nyawa tidak akan tinggal diam!” ancam Gebang Batra.


Ia lalu berbalik dan melangkah pergi dengan membawa kemarahan. Selusin anak buahnya terpaksa mengikuti. (RH)

__ADS_1


__ADS_2