
*Pertarungan Atas Cinta (PAC)*
Tiba-tiba Joko Tenang muncul di hadapan ketiga calon istrinya dengan wajah yang panik.
“Ginari! Pil yang kau makan bukanlah obat penawar, tetapi racun ganas!” kata Joko Tenang.
“Tapi, aku baik-baik saja, Kakang,” kata Ginari. Ia bingung melihat Joko sepanik itu.
“Ini racun yang lain!” tandas Joko. “Cepat duduklah, biar aku menyerap racunnya!”
Melihat kepanikan Joko, Ginari hanya menuruti perintah Joko. Ia lalu duduk bersila menghadap kepada suaminya.
Joko Tenang yang berdiri dalam jarak empat langkah dari Ginari, mulai memejamkan matanya untuk menciptakan sugesti. Namun, baru saja Joko Tenang memejamkan mata, ....
“Hekh! Fruuut!” keluh Ginari tiba-tiba dengan mata bening yang mendelik memerah akibat sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang jantungnya. Tidak hanya itu, sambil tangannya memegangi dada sebelah kiri, Ginari menyemburkan darah kental warnah hitam. Darah itu bahkan sampai ke wajah dan pakaian Joko.
“Ginari!” teriak Joko kencang.
Refleks Joko Tenang maju dan memeluk tubuh Ginari. Akibatnya, Joko pun jatuh terkulai barsamaan dengan Ginari yang juga jatuh.
Tirana cepat bergerak menahan tubuh Joko dan Ginari bersamaan.
“Tirana, selamatkan Ginari,” ucap Joko Tenang lemah. Ada air mata keluar dari mata Joko Tenang.
“Hoekh!” Getara Cinta memuntahkan Permata Darah Suci dari dalam tubuhnya.
Ia cepat mendekati Ginari yang sudah terkulai tidak bergerak di dalam sandaran tubuh Tirana.
“Permata Darah Suci pasti bisa menyelamatkannya,” ucap Getara Cinta sambil mendekatkan permata di tangannya ke mulut Ginari.
“Ginari sudah mati, Ratu,” ucap Tirana dengan suara bergetar dan air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Terdiamlah Getara Cinta mendengar kata-kata Tirana. Tangannya berhenti di dekat bibir Ginari yang kotor oleh darah yang berbau racun. Ditatapnya wajah jelita yang kini memucat putih dengan mata terbuka tanpa cahaya kehidupan lagi.
“Ginariii!” ratap Joko Tenang. Dalam kondisi lemahnya, Joko Tenang benar-benar menangis. Banyak air mata yang ia keluarkan. Tubuhnya terguncang-guncang karena menangis.
Tirana lalu memberikan tubuh Ginari kepada Getara Cinta. Ia lalu memasukkan wajah Joko Tenang ke dalam pelukannya. Tirana memeluk erat calon suaminya yang menangis dengan sepasang tangan terkulai tanpa tenaga.
“Ginariii!” ratap Joko lemah.
__ADS_1
Tirana tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun larut dalam tangisannya.
Getara Cinta tidak bisa menahan kesedihannya pula. Ia pun meneteskan air mata. Terpaksa ia menelan kembali Permata Darah Suci-nya.
Serangan racun yang bernama Racun Tanpa Rasa di dalam tubuh Ginari begitu cepat, tanpa memberi kesempatan kepada siapa pun untuk menolongnya.
Kembang Buangi dan Hujabayat hanya bisa terpaku dan turut meneteskan air mata. Hujabayat sebagai pemuda yang pernah menyimpan rasa terhadap seorang Pendekar Tikus Langit, tidak bisa menahan kesedihannya.
Demikian pula dengan Kembang Buangi. Saat mereka datang ke Rimba Berbatu, ia dan Ginari sama-sama menjadi wanita yang tidak mungkin bisa ditolong dari kematian. Namun, Joko mengabaikan kepastian itu. Joko Tenang tetap berjuang membawa mereka ke Rimba Berbatu meski secara logika mereka tidak mungkin diselamatkan dari racunnya masing-masing.
Namun, apa yang terjadi kini? Ginari benar-benar telah mati di depan mereka semua, di depan orang-orang yang menyayanginya.
Dengan berurai air mata dan terisak, Kembang Buangi menghampiri jasad Ginari. Ia turun berlutut di dekat Ratu Getara. Ia menatap wajah jelita murid Setan Genggam Jiwa itu. Tubuh itu lalu ia raih dari Getara Cinta dan memeluknya kuat. Setelah itu, meledaklah tangis Kembang Buangi. Sementara kepala Ginari hanya terkulai tanpa kekuatan apa pun.
Joko Tenang berubah seperti anak kecil yang tidak berdaya, menangis di dalam pelukan Tirana.
Suasana sedih itu menular, membuat Ratu Alifa Homar juga terbawa sedih. Demikian pula dengan Dewi Bayang Kematian yang perasaannya jadi begitu tersentuh melihat adegan penuh emosional itu.
Putri Sri Rahayu hanya memandang dari kejauhan. Ia hanya mengutus Siluman Mata Setan yang tidak terlihat untuk melihat jelas apa yang sedang dialami oleh Joko Tenang.
Di lokasi itu, telah berdiri Tiga Malaikat Kipas. Mereka hanya diam turut berduka. Mereka tidak berani bertingkah nyeleneh dengan kebiasaan tertawanya. Mereka merasa wajib menghormati orang-orang yang sedang berduka.
“Maaf, tidak ada salahnya untuk mencoba,” kata Raja Kera yang juga telah hadir di tempat duka itu bersama Satria Gagah.
Mendengar perkataan Raja Kera, Joko Tenang menghentikan tangisnya. Dibantu oleh Tirana, ia bergerak menghadap ke arah Ginari yang kembali disandarkan kepada Getara Cinta.
“Cobalah, Raja Kera,” kata Tirana dengan suara serak karena pengaruh tangisnya.
Raja Kera yang memegang kalung mutiara hijau bernama Kalung Tujuh Roh, melakukan gerakan tangan khusus dan bertenaga dalam.
Selanjutnya, Kalung Tujuh Roh bersinar hijau, terkadang terang, terkadang redup. Demikian bergantian. Kalung itu lalu dipasangkan di leher Ginari.
Dari kalung itu kemudian menjalar sinar hijau ke seluruh bagian tubuh Ginari. Jalaran sinar hijau itu muncul sebanyak sepuluh kali.
Cress!
Tiba-tiba kalung mutiara itu hancur berubah ke dalam wujud butiran-butiran sinar hijau kecil. Butiran-butiran itu lalu meresap masuk ke dalam tubuh Ginari. Setelah itu selesai sudah.
Semua memandang serius dan penuh harap kepada jasad Ginari. Setelah menunggu hingga tiga puluh hitungan, Ginari tidak kunjung ada tanda-tanda kehidupan. Kondisi tetap sama seperti semula.
“Maafkan aku, Joko. Ternyata Kalung Tuju Roh tidak bisa menolong,” ucap Raja Kera sedih. “Kami turut bersedih dan mohon izin.”
__ADS_1
Joko Tenang hanya terdiam. Ia tidak menjawab perkataan Raja Kera.
“Hiduplah, Ginari. Kita belum menikah. Kita belum melaksanakan wasiat Kakek Pengemis Maling,” ucap Joko lemah.
Kata-kata Joko itu justru membuat Tirana kian menangis.
“Inilah kehidupan, Muridku. Hidup tidak selalu akan sesuai mau kita. Karena itu, kita dituntut untuk belajar menerima dengan ikhlas,” kata Ewit Kurnawa kepada Joko.
“Akan selalu ada yang lahir dan akan selalu ada yang mati. Lahir dan mati adalah perkara yang biasa terjadi. Maka persiapkanlah hati untuk menerima pahitnya kematian,” kata Iblis Timur alias Malaikat Kipas Hijau.
“Kita semua hanya pelakon dunia, Muridku. Pencipta alam semesta telah menentukan kuasa-Nya. Kau harus pandai menghitung, berapa banyak orang yang datang menyayangimu dibandingkan orang yang pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Dengan begitu, kau akan menjadi seorang yang berterima kasih,” ujar Minati Sekar Arum.
“Kami hanya bisa menyatakan turut berduka. Sampai bertemu lagi di Jurang Lolongan, Muridku!” kata Ewit Kurnawa.
Setelah itu, Tiga Malaikat Kipas menghilang begitu saja dari tempat berdiri.
“Ayam Ganteng, jika sudah mati maka kuburlah. Itu adalah haknya orang mati. Jangan tangisi terus!” kata Puspa, wanita yang tidak terlarut dalam suasana duka itu.
“Pendekar Joko!” sebut Kepala Desa Wongawet Mak Gandur. “Kami turut berduka atas apa yang kau alami. Izinkan kami pamit diri!”
“Terima kasih, Mak Gandur,” ucap Tirana. Ia lalu menyeka air matanya.
Mak Gandur dan rombongan segera berbalik pergi.
“Sudahlah, Kakang. Melarutkan kesedihan tidak ada gunanya. Kita harus segera memakamkan Ginari atau membawanya pulang kepada gurunya,” kata Getara Cinta.
“Biarkan aku sejenak,” ucap Joko Tenang kepada Tirana.
Tirana lalu mengatur posisi Joko sejauh empat langkah dari mayat Ginari yang berada dalam sandaran di tubuh Getara Cinta. Tirana menjauhi Joko.
Joko memulihkan dirinya.
Tidak berapa lama, Joko Telah pulih. Ia menatap tanpa berkedip wajah jelita Ginari yang telah dibersihkan oleh Getara Cinta dari kotoran darah. Agak lama Joko Tenang menatap mematung.
Hingga akhirnya, Joko Tenang bangkit berdiri. Ia melangkah pergi ke tempat lapang seorang diri.
“Kaaakkk...!”
Joko Tenang berkoak sangat keras membahana karena didukung oleh tenaga dalam yang begitu tinggi. Joko Tenang telah memanggil Gimba, burung rajawali raksasa dari Alam Kahyangan.
“Hewa Alam Kahyangan!” ucap Putri Sri Rahayu lirih terpukau, saat ia melihat ada sesosok makhluk terbang jauh di langit sana. Ia pun tersenyum senang. (RH)
__ADS_1